
Rendra sedikit bisa bernapas lega, akhirnya dia memiliki teman di dunia fana yang sering didambakan oleh bangsanya. Setidaknya satu langkah menuju masalah sebenarnya sudah berhasil dia lalui.
Saat semua orang tersenyum seolah begitu lega, tiba-tiba orang terakhir yang masuk dalam barisan mematung di antara skat batas tak kasat mata. Spontan semua mata bertanya-tanya, dan senyuman berubah menjadi teriakkan ngeri. Pertama kepalanya yang tiba-tiba terbuka menjadi dua belahan kemudian belahan itu cepat memanjang sampai kini bagian tubuhnya terbelah, tidak sampai 5 detik kemudian semua tubuhnya tercabik menjadi debu diterbangkan angin.
Tidak ada satupun orang yang tahan dengan pemandangan itu, termasuk wanita yang dari tadi membuka jalan ke dalam kastil. Rendra bisa menyimpulkan, jika memang ada masalah yang belum diketahui oleh wanita itu.
Awalnya wanita itu mundur perlahan beberapa langkah, kemudian diikuti oleh semua orang dan kemudian dengan wajah yang panik wanita itu langsung berlari memburu pintu kastil, begitupun dengan orang-orang yang sangat panik apalagi pemandangan terakhir yang dilihat oleh semua orang adalah satu-satunya yang tidak bisa dilupakan sampai langkah ini.
Rendra hanya bisa mengatur napas, dalam batas pintu kastil ini dia dan semua orang memutuskan agar tidak pernah pergi melewatinya.
Siapa yang paling kalut diantara semuanya? Tentu saja Rendra, dia merasa bersalah setelah melihat Isak tangis beberapa orang dari mereka mungkin sebentar lagi semua orang akan meminta untuk kembali. Tapi sayang sekali Rendra belum tahu caranya.
Satu-satunya harapan adalah wanita tadi yang masih mengamankan Arin. Rendra beralih menatapnya penuh tanya, meski mungkin wanita itu sudah bisa menebak bagaimana isi pikiran Rendra tapi dia masih bungkam tidak banyak bicara.
Rendra maju perlahan, dia harus membicarakan semuanya.
"Aku butuh buku itu." Ucapnya tiba-tiba tidak memberikan Rendra untuk bicara lebih dulu.
Rendra menatapnya tajam dia tidak mungkin sembarangan memberikan buku sebagaimana yang diceritakan oleh Oma.
"Serahkan atau wanita ini akan mati!" Ancamnya penuh yakin.
Rendra tak berkutik, dia tak menyangka dengan sikap wanita itu. Termasuk semua orang yang kini menatap ke arah Rendra dan wanita itu.
__ADS_1
Aaaa...
Arin meringis.
Spontan Rendra semakin membulatkan mata tanda takut, hatinya mulai goyah karena dia ingat jika Oma sudah menitipkan Arin padanya.
"Kau mau buku ini? Bahkan aku sendiri tidak yakin bisa menyerahkannya." Ucap Rendra di hadapan semua orang.
"Kalian tidak akan pernah bisa pergi dari tempat ini!" Ucapnya membuat semua pasang mata semakin ketakutan.
Dalam ketidaktahuan Rendra sekarang, dia lengah hingga secepat cahaya wanita itu sudah ada di luar ambang pintu kastil hingga dia semakin menjauh.
Rendra ingin mengejarnya apalagi Arin ikut bersama wanita itu, tapi pintu kastil apakah dia cukup yakin untuk pergi ke sana? Hatinya sangat goyah dan tidak memiliki keyakinan untuk pergi ke sana.
Orang-orang tak ada yang bicara satupun, tidak ada yang berani bahkan sejengkal dekat dengan pintu kastil itu. Rendra bisa menebak jika orang-orang juga berpikiran sama dengannya seperti itu sederhananya kan?
Sekarang di dalam kastil hanya tersisa dia dan beberapa orang lagi, bukan hanya Arin yang terancam hidupnya melainkan dirinya juga.
Rendra langsung terburu-buru pergi ke sudut ruangan paling jauh dari batas pintu kastil itu. Dia bermaksud untuk mengkaji buku yang baru saja diberikan Oma padanya. Tekadnya harus menemukan sebuah informasi dulu mungkin saja segala sesuatu tentang kastil ini semua terlampir dalam lembaran kertas.
Hanya kertas kosong? Mata Rendra membulat tak percaya, bagaimana bisa dia mempertahankan sebuah buku yang tak tergores sedikitpun oleh tinta di dalamnya? Dia tak mengerti sama sekali.
Asyik sendiri memastikan lembaran demi lembaran Rendra sudah melupakan sesuatu uang harusnya dia sadar lebih awal. Tidak lain adalah orang-orang yang ikut dengannya ke tempat ini.
__ADS_1
Rendra berhenti dari aktivitasnya, dia menatap satu persatu wajah mereka dengan seksama. Dalam ingatannya Rendra hanya tahu jika mereka adalah pengikut wanita tadi, dirinya bisa dikatakan seperti itu juga.
"Kita tidak bisa pergi dari tempat ini kan?" Celoteh seseorang yang langsung membuat perhatian Rendra teralihkan.
Seorang lelaki dengan wajah yang tampak lebih dewasa darinya. "Dia sudah mengatakannya, maka kita tidak bisa pergi dari kastil ini." Ucapnya kali.
Rendra tertegun, dia ingin sekali ragu dan membuktikan ekspektasi yang dibayangkan oleh dirinya. Namun Rendra tak bisa mengabaikan keselamatan nya kan.
"Kau masih bocah di sini, mengapa tidak memberikan buku tak berguna seperti itu?" Sengitnya yang mulai memperlihatkan ekspresi tak senang begitupun nada bicaranya membuat Rendra harus menarik napas menahan emosinya.
Alhasil Rendra tak ingin kalah, dia hanya bersikeras tak melepaskan sorot matanya dari seseorang yang tiba-tiba saja membuat hatinya tersinggung.
"Dari pada mati konyol lebih baik kita pikirkan cara bagaimana keluar dari tempat ini." Timpal orang lainnya, seorang lelaki yang lebih tua dari kedua orang.
Rendra bukan tak ingin mendengarkan nasehatnya, tapi untuk menjawab itu dia harus menemukan teka-teki dari buku yang ada di depan matanya sekarang. Lantas itu salah?
"Akan aku ambil buku ini!" Suara yang sama, sebuah tangan tampak bersiap untuk merebut buku miliknya. Rendra langsung menahan tangan itu, kembali mengangkat kepala dan pandangannya semakin bertambah kesal saja.
"Stop!"
"Dengan ke kanak-kanakan seperti ini, aku pasti melihat kematian kalian secepatnya!" Seorang wanita yang histeris tadi mulai bicara.
Rendra langsung terdiam, dia sebenarnya tidak ingin memperpanjang masalah karena yang dia butuhkan sekarang hanya waktu dan sebuah cara untuk buku nya. Batinnya terus saja memikirkan apa yang dikatakan Oma, tak mungkin juga Oma menitipkan sebuah buku cima-cuma, apalagi wanita tadi lebih bersikeras menginginkan buku ini. Hal itu sudah menjadi bukti Kecil kan jika buku ini adalah kunci, bisa saja dari kastil ini maupun dari apa yang ingin diketahui wanita tadi yang sudah melarikan diri.
__ADS_1
Tak begitu lama, suasana kembali tenang. Tentu saja tak ada yang dilakukan oleh orang-orang hanya selain menunggu sampai pintu kastil itu bisa terbuka. Sedikit mengecewakan karena harus membuang waktu dan menunggu sebuah keajaiban Saja.
Di satu sisi Rendra begitu sibuk, dia hanya melamun pada lembaran pertama buku tanpa berkedip satu kali pun. Cukup menguras pikirannya, Rendra sangat penasaran tapi butuh seberapa lama lagi untuk menemukan jawaban dari teka-teki buku yang ada di hadapannya saat ini?