
Setidaknya banyak pasang mata yang menghakimi, Rendra masih berusaha bangkit dan sekejap kembali memulihkan rasa sakit dari tubuhnya yang terbentur.
Saat kedua matanya terbuka lebar, Rendra menemukan orang-orang berkerumun di depan mata tapi raut wajah mereka memperlihatkan sesuatu yang sangat begitu mengherankan baginya.
Apa yang salah? Batin Rendra.
Tak lama Rendra mendapatkan kesadarannya yang utuh, dia sekarang sadar jika tubuhnya sudah melewati pintu kastil. Apakah memang dari tadi tidak ada batas di sana? Rendra hanya bisa berpikir sampai sana.
Rendra kembali melayangkan pandangannya pada orang-orang di depan mata, diantara mereka masih belum ada yang berani maju apakah mereka masih ragu? Rendra tak peduli, dia masing ingat perlakuan apa yang diterima dari orang-orang. Saat ini Rendra tak ingin berbuat gila dengan melangkah mundur, gila sekali bagaimana jika batas itu sekarang muncul lagi di belakang tubuhnya? Termasuk buku itu, Rendra bertekad akan memikirkannya nanti.
Satu langkah berjalan maju, Rendra cukup waspada dan melihat setiap situasi yang ada di depannya, dia tidak ingin lengah dan melewatkan sedikit saja yang mungkin bisa membuatnya tewas. Sebuah akal kemudian terpikirkan, Rendra akan menggunakan kain bajunya untuk diterbangkan sepanjang dia berjalan maju, dengan begitu Rendra bisa tahu di depannya apakah ada lagi sebuah skat pembatas yang mematikan.
Sangat santai, karena Rendra melakukannya penuh hati-hati dan naluri, dia butuh semuanya untuk tetap fokus apalagi hak itu sangat menentukan hidup atau matinya.
Dan berhasil, sekarang hatinya boleh bersorak jika dia berhasil keluar dari kastil.
Rendra berbalik dan melihat orang-orang masih di dalam kastil. "Apakah mereka masih menunggu?" Batin Rendra sambil dia memperlihatkan wajahnya yang senang karena akhirnya bisa keluar dari kastil itu. Sekarang Rendra selamat itu adalah takdirnya.
Tak lama setelah Rendra berhasil keluar bahkan melewati kastil, tiba-tiba satu persatu seperti orang-orang berlomba untuk melakukan sesuatu yang dilakukan Rendra agar bisa keluar dari kastil. Rendra cukup merasa takjub melihat antusias orang tadi yang membuat Rendra hampir saja celaka.
Tak lama setelah Rendra berdiri dan menunggu di luar kastil, orang-orang tadi yang berlari tiba-tiba langsung mematung tak jauh di hadapannya mungkin hanya terhitung berapa Senti dari tempat Rendra berdiri.
Entah mengapa Rendra langsung memperlihatkan raut wajah panik, dia segera mundur menjauh dari orang-orang yang masih mematung tak berkutik.
Tak sampai dalam hitungan ke sepuluh orang yang berdiri di sana, secara teratur bersamaan tubuhnya terbelah menjadi dua yang simetris dari atas kepala sampai kaki, hingga hitungan detik semua melebur menjadi debu.
__ADS_1
Adegan sama yang semua orang saksikan bersama tadi kini terulang di depan mata. Spontan semua pasang mata melihat dengan syok bahkan tak ada yang berani bicara sedikitpun.
Hanya tertinggal beberapa perempuan dan satu orang laki-laki yang masih menunggu di dalam kastil. Semuanya pasti sangat syok.
"Jangan kesini!" Rendra segera berteriak panik, bagaimanapun jangan ada lagi yang menjadi korban.
"Kalian tetap di sana!" Peringatannya lagi.
Rendra tak bisa menjelaskan jika saja sekarang ada yang bertanya mengapa dia bisa selamat tadi sedangkan yang lainnya sebaliknya. Dia tidak bisa memberikan kejelasan yang dia sendiri tidak tahu mengapa fakta ini terjadi tidak sesuai dengan akal sehatnya.
Tak ada yang berani melangkah, selain laki-laki di sana semua perempuan menangis. Antara ingin keluar dari kurungan kastil itu atau karena ketakutan bisa menjadi korban selanjutnya.
Rendra terdiam saja dia merasa sangat bersalah, tapi bagaimana lagi dia tidak tahu.
"Pokoknya jangan ada yang keluar! Jauhi pintu itu saja." Teriak lagi Rendra berharap semua orang mendengarkan. "Aku akan kembali lagi." Ucap Rendra.
Entah siapa yang membawa Arin, Rendra tidak tahu. Tapi sepertinya dia harus menganggap jika orang yang membawa Arin adalah musuhnya. "Perempuan itu nekat ingin mencelakai Arin dan mengancam dengan percaya dirinya hanya untuk buku itu. Siapa sebenarnya dia?" Batin Rendra yang sedetik saja dia tidak bisa berhenti penasaran. "Aku akan tanya Oma." Tekadnya, sekarang tujuan Rendra adalah pulang ke rumah.
#####
Saat di dunia manusia semua kemampuannya tidak berguna lagi memang, Rendra rentan ketika berada di bawah matahari apalagi harus berpaparan langsung itu tidak mungkin.
Dari kejauhan Rendra melihat di depan rumahnya adalah rumah Oma, dia sedikit heran karena suasana yang tetap sepi seperti sebelumnya. Orang-orang masih bertahan di dalam rumah?
Rendra berpikir sejenak, dia harus masuk ke dalam rumah dan itu mudah memang.
__ADS_1
Secepat kilat Rendra sudah berada di dalam rumah lagi, dia jalan melewati pintu belakang dari dapur yang tidak terkunci. Awalnya dia hanya mengendap saja menerobos masuk ke sana.
"Oma!..." Teriakkan yang bisa terdengar sampai tempat Rendra berdiri. Rendra yakin jika itu adalah suara Arin.
Karena panik tanpa berpikir panjang dia langsung berlari menerobos masuk ke dalam rumah.
"Papa!" Ucap Viona melihat kedatangannya lagi.
Rendra masih terdiam, bahkan sekarang dia tidak tahu apakah selanjutnya masih bisa sabar berdiam diri saja.
Kedua kakinya bergetar, Ibu (Mertua) yang terbaring di atas lantai kamar dan penampakan tubuh Oma yang membuat Rendra langsung diam menatapnya semakin lama.
"Papa kemana saja?" Celoteh Viona dengan polosnya.
Bahkan pembicaraan Viona juga dia abaikan, seolah tak mendengarnya. Sepasang mata Rendra hanya fokus memperhatikan Oma yang sudah terbujur kaku. Dari penampakannya Rendra tahu jika Oma mungkin sengaja dicekik sampai meninggal.
Sedikit sadar, di samping Ibu (Mertua) Rendra melihat Arin, dia cukup terkejut karena ternyata sudah ada Arin. "Apa artinya wanita itu membawa Arin ke rumah? Dan pasti dia yang melakukannya." Batin Rendra. Hatinya seketika menggebu, amarah yang membuatnya sesak, Rendra tak bisa terima jika Oma meninggal gara-gara perempuan itu. "Apa maunya? Dia merenggut Oma?" Ucap Rendra dalam hati. Dengan kepalan tangan gigi gemertuk saling beradu, pikirannya langsung kacau dia hanya berambisi untuk membalasnya.
Tapi tak lama, Rendra segera waspada karena dia merasa ada kedatangan seseorang, pasti itu adalah Adel. Apa boleh buat meski berat hati Rendra juga masih harus bersembunyi dari Adel, dia tidak mau membuat kewarasan Adel dipermainkan karena kedatangannya.
"Ibu!"
"Arin."
"Viona!"
__ADS_1
Sahut Adel setelah masuk ke dalam rumah.
Viona dengan nalurinya segera berlari memburu Adel yang baru saja masuk ke dalam rumah, karena dia masih kecil tidak begitu paham apa yang terjadi di sekitarnya.