
"Viona!" Kata-kata Adel langsung terdiam dengan begitu saja, awalnya dia ingin berteriak tapi pemandangan orang yang bersama Viona membungkam mulut Adel saat itu.
"Papa." Ucap Viona yang masih tersenyum senang karena orang yang ada di sampingnya adalah ayahnya.
Adel bahkan tak sanggup mengedipkan mata meski hanya sekejap saja, apa yang dia lihat sekarang? nalarnya tak bisa menerima kenyataan itu. Perasaan Adel tak begitu senang, meski orang yang berada dekat dengan putrinya tak lain adalah suaminya yang sudah meninggal.
Adel memilih diam saja membiarkan beberapa saat momen itu, dia tak pernah ingin mempercayainya, namun apa yang bisa dia lakukan dengan matanya dan fakta yang terlihat.
"Viona!"
"Viona dimana nak?"
Terdengar suara panggilan orang-orang semakin mendekat, Adel tampak langsung panik dia menyangka jika selain dirinya yang lain pun akan melihat sosok Mas Rendra, dia sangat keberatan dan tidak bisa menerima kenyataan itu.
Dengan panik Adel mulai salah tingkah, dia bingung apa yang akan dilakukannya sedangkan orang-orang terdengar sudah semakin dekat ke tempatnya.
"Aku pergi sekarang!" Tiba-tiba sebuah ucapan terngiang di telinganya. Adel sangat panik dan berbalik lagi sudah tidak menemukan siapapun di sana selain hanya Viona yang sudah duduk sendirian memainkan balok mainan di lantai.
"Adel!" Suara Oma terdengar memanggilnya.
Adel terperanjat kaget dan langsung berbalik melihat Oma yang sudah lebih dulu memperhatikannya.
Adel tak bisa mengatakan apapun bahkan saat Oma berjalan ke arahnya dan melihat Viona yang masih duduk di taman belakang.
"Viona di sini!" Teriak Omanya. Tak lama yang lain menyusul dan kini sudah berhasil menemukan Viona juga dirinya yang masih mematung.
"Loh Viona ada di sini? Kok kamu diam saja sih Adel?" Ibunya langsung menjadi orang pertama yang membuat Adel dag-dig-dug bingung akan menjawab apa.
__ADS_1
"Itu Bu, aku baru masuk ke sini." Jawab Adel terbata.
Padahal tidak ada satupun orang yang memperdulikan alasan Adel karena sekarang orang-orang hanya sibuk menghampiri Viona.
"Adel kok kamu diam saja terus di situ?" Omanya langsung membuat Adel kembali kaget.
"Ia Oma." Adel cukup salah tingkah, dia berlari ke arah Viona dan langsung memangku ke dalam pelukannya.
"Syukur sekali Viona gak kenapa-kenapa. Viona kok bisa sempet lari kesini." Omanya tak berhenti terus mengoceh membuat Adel tak bisa tenang sedikit saja. Adel masih bingung menghadapi pertanyaan orang-orang dia tidak tahu harus menjawab apa nanti.
"Cepat kita bawa masuk ke kamar kamu aja Adel!" Ucap Omanya.
Padahal orang-orang juga bermaksud untuk membawa Viona ke sana.
"Loh Vio!" Ucap Arin saking tak percayanya. Arin adalah orang terakhir yang baru saja dagang dan sudah melihat ada Viona bersama yang lain.
"Jangan banyak nanya dulu, kamu lebih baik sekarang cek semua pintu dan jangan ada yang terlewatkan. Jangan lupa harus dikunci!" Perintah Omanya dengan nada bicara seperti biasa pada Arin. Mendengarnya saja Arin langsung malas.
Padahal Arin juga ingin tahu Viona ditemukan dimana dan ingin menyambut Viona juga, tapi Oma bersikap seenaknya seolah tak ingin memberikan kesempatan sedikitpun. Sebuah perintah yang diucapkan juga cukup membuat Arin tertekan namun sekuat tenaga dia tidak bisa menolaknya.
Dengan malas dan perasaan yang cukup tidak nyaman, Arin berusaha melakukan yang terbaik apapun yang diminta oleh Omanya. Semua pintu harus dia cek sendirian, tentu saja sangat menguras tenaga untuk berjalan ke sana kemari ke setiap pintu di dalam rumah.
Saat berjalan sendirian memasuki satu persatu ruangan menuju pintu paling belakang lalu Arin harus kembali lagi sampai dia selesai mengunnci setiap pintunya. Arin hanya manyun, soal perlakuan Omanya memang tidak ada yang menyenangkan tapi apa artinya Arin sebagai anak atau cucu sambung di rumah. Tempatnya tidak lain dan tidak yang paling utama, setidaknya Arin berharap dia bisa menerima baik perlakuan orang-orang padanya, padahal hanya itu.
"ASTAGA!" Ucap Arin sampai harus mengelus dada. Padahal dari tadi Arin melamun santai dan tiba-tiba melihat seseorang yang tak asing berdiri bersandarkan tembok di ruang dapur.
Yang paling membuat Arin syok saat sebuah mata memutar pandangannya hingga terpaku padanya seorang.
__ADS_1
"Kalau ketemu keluarga jangan sampai takut seperti itu!" Ucapnya pada Arin yang masih mematung.
Arin tak menjawab, dia tidak tahu harus apa dan bagaimana sekarang? Di hadapannya adalah seseorang yang sudah meninggal tepat 5 tahun lalu.
Saat sedikit kesadarannya mulai mengusik Arin sudah bersiap untuk bisa berteriak, tapi tiba-tiba dengan sigap tangan yang kokoh dan tubuh orang di hadapannya tadi sudah mendekap Arin agar tidak berhasil berteriak.
Karena mulut yang dibungkam dan lengan tangannya terkunci, tentu saja Arin hanya bisa diam mematung. Yang terbayangkan saat itu adalah dinginnya kulit tangan dan aura orang yang begitu tak berjarak dengannya, Arin tak pernah bermimpi atau membayangkan dia benar-benar disentuh oleh hantu?
"Rin, jangan bikin repot dong! Udahlah jangan teriak-teriak, lihat Kaka ipar sendiri saja begitu takutnya?" Gerutu Rendra pada adik iparnya itu.
Arin tak melawan ataupun berusaha keras untuk melepaskan tangan Rendra, pikirannya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
"Janji ya! Jangan teriak, pokoknya jangan!" Pinta Rendra dengan hati-hati kembali melepaskan tangannya.
Sekejap mata pun Arin tak bisa berkedip, di depan matanya adalah Rendra kakak ipar yang dia sendiri sudah menyaksikan upacara pemakamannya. Dia masih merasa takut, tidak ada alasan untuk membuat Arin bisa tenang.
Tak disangka dengan sigap Arin langsung berlari ke arah pintu, tapi Rendra sudah berdiri menghalangi tubuhnya secepat kilat. Hampir saja Arin menabrak tubuh Rendra. Perlahan langkah kakinya melangkah mundur, Arin tak bisa berpikir dengan logikanya, yang dia bayangkan bagaimana caranya agar bisa menghindari Rendra.
"Aku Rendra! Masih takut?" Rendra masih berusaha meyakinkan Arin yang ketika itu Arin masih tak memperlihatkan wajah tenangnya, Arin masih setengah mati ketakutan. Bayangkan saja bagaimana rasanya setelah 5 tahun berlalu dipertemukan kembali Dengan orang yang sudah meninggal.
"Rin, tolong ya jaga Viona sama yang lain! Kamu ambil koin dan simpan di rumah harusnya sih setiap orang punya satu dan simpan baik-baik jangan sampai hilang." Terang Rendra.
Saat berkedip dan kembali memutar bola matanya ke arah Arin tampak jelas sekali bahwa Arin tak begitu baik bisa mencerna kata-kata Rendra.
Arin masih berusaha untuk bisa pergi dan lepas dari Rendra, bagaimana pun caranya.
"Sudah ku bilang percuma! Mau kabur kemana lagi?" Ucap Rendra dengan malas.
__ADS_1