Beda Dunia

Beda Dunia
Siapa polisi itu?


__ADS_3

Di kantor polisi, menyedihkannya tidak ada yang menemani Arin sama sekali, entah itu sebagian keluarga atau bahkan Ibunya saja.


Seorang polisi hanya diam saja sambil menghabiskan sebatang rokok yang sudah tanggung di hisapnya.


Mata polisi menatap Arin dengan tajam, detik berikutnya bola matanya berputar ke arah pintu yang tiba-tiba saja pintu itu tertutup dengan sendirinya.


Mendengar pintu tertutup membuat Arin terperanjat dari lamunan. Arin dengan semua ketakutannya, tak pernah membayangkan berada di satu kursi dan diawasi oleh seorang polisi.


Saat terdengar suara sepatu polisi yang mendominasi pikiran Arin, seketika darahnya terasa mendidih mengalir ke setiap nadi. Arin dikuasi dengan ketakutan yang membuatnya tampak menyedihkan.


"Ayah mu Giyan, Oma Ratih dan Rendra. Aku tak pernah berharap bisa berurusan dengan keluarga ini lagi. Itu sudah 4 tahun yang lalu. Sekarang kasusnya masih sama, kematian misterius nyonya Ratih tentu bukan ulah mu kan?" Saat berbicara polisi itu masih berusaha mendekat meski sudah tampak jelas Ratih tidak begitu nyaman. "Kau sudah mengenal wanita ini?" Polisi itu merogoh sesuatu dari dalam saku untuk diperlihatkan pada Arin. Sebuah foto dengan wajah perempuan di dalamnya.


Melihat sosok orang dari dalam foto seketika Arin hanya bisa menahan napasnya dengan kedua mata yang membulat. Saking tak percayanya bahwa gadis itupun sudah diketahui polisi?


Arin langsung memberanikan diri menatap seorang polisi di hadapannya kini, ketika lembar foto itu sudah dia tarik dan disimpannya lagi ke dalam saku jas nya.


Arin menatap dengan penuh tanya, dia ingin sekali tahu mengapa kemunculan wanita itupun diketahui oleh polisi yang menjelaskan jika dia juga menangani kasus kematian Mas Rendra 4 tahun lalu. Tak disangka sebuah spekulasi langsung muncul di pikirannya. Antara harus percaya dan tidak, tapi Arin terlanjur menyimpulkan jika wanita itu pun yang membunuh Mas Rendra.


"Aku anggap kau sudah bertemu dengannya." Ujar polisi itu tampak menarik napas dan melemparkan rokok yang sudah tinggal sedikit.


"Karena Oma yang meninggal aku tak yakin bisa menyelamatkan mu dari jerat hukum negara, kecuali bukti hasil olah TKP membuktikan jika kau tidak terlibat sama sekali." Terangnya.


Sekilas Arin langsung mengerti, tapi dia diam saja karena hatinya masih tidak yakin jika polisi yang ada di hadapannya ada di pihaknya atau bukan.


"Kau akan mati juga akhirnya." Tiba-tiba sebuah pernyataan melayang dari mulut polisi itu dengan enteng dan tampak santai mengatakannya.

__ADS_1


Arin melotot tak mengerti tapi dia tidak terima jika dia harus diramalkan mati oleh orang lain.


"Kau tahu tentang Mas Rendra, kau tahu tentang wanita itu, tapi kau masih bertanya lagi." Ucap Hyerin dengan nada datar, membuat mata polisi itu memutar dan melotot ke arahnya.


"Aku tahu mereka semua ada, aku tahu kau yang melakukan kesalahan, dan aku tahu semuanya lebih dari yang kau ketahui sekarang." Bisik nya ke telinga Hyerin seolah dia tak terima sudah diremehkan.


Tiba-tiba suara pintu terbuka kembali membuat perhatian teralihkan, kini Arin melihat dengan jelas bagaimana pintu itu terbuka dengan sendiri. Saat melihat ke arah polisi itu Arin tak mengatakan apapun dia hanya merasa ada sesuatu yang aneh.


Tak lama seorang petugas polisi masuk.


"Bawa dia dan biarkan pergi, aku sudah tahu semuanya." Ucapnya membuat Hyerin tak percaya.


"Siap Pak." Dengan enteng sebuah pernyataan yang keluar dari mulutnya langsung disetujui.


Arin akhirnya bisa keluar dari kantor polisi itu, dia berjalan canggung melewati beberapa orang polisi yang sama sekali tidak memperhatikannya, harusnya Arin senang karena dia bisa bebas, tapi entah mengapa hatinya berat ketika harus melangkah keluar dan pulang sendirian.


Sarah tidak lagi tinggal di rumah mertua, rumah mewah yang sudah dia tinggalkan. Begitupun Adel dan Viona yang memilih pergi ke rumah kedua, merupakan rumah yang sudah dibuat Rendra 4 tahun lalu.


Sedih sekali rasanya, Sarah hanya melihat Arin yang keluar dari kamar Oma ketika itu, akal sehatnya sudah membuat dia jauh dari anak kandungnya, harusnya Sarah menyesal sekarang karena sudah meninggalkan Arin bersama polisi.


Tak kuasa menahan hatinya yang hancur Sarah berlari memburu pintu.


"Ibu! Ibu mau menemui Arin lagi? Ibu mau menemui pembunuh Oma?" Teriak Adel yang tak sedetik pun membiarkan Sarah lolos dari rumah yang tampak masih berantakan dan perlu dibereskan itu.


Sarah bimbang, tertahan di ambang pintu, dia juga tidak bisa meninggalkan Sarah bersama Viona yang masih kecil sendirian.

__ADS_1


Sarah menangis dalam diam, dia tak berani melangkahkan kaki keluar meski nalurinya sebagai Ibu bisa saja membuat pikirannya tak waras dalam waktu yang singkat.


Hati Sarah tak pernah berhenti berharap jika bukti menguatkan Arin bahkan membuktikannya tak bersalah.


"Nenek! Vio lapar." Rengek Viona yang ketika itu berjalan ke sampingnya dan bergelayut manja pada kaki Sarah.


Viona lebih membutuhkannya lebih dari siapapun.


"Nenek pesen dulu makan ya sekalian nelpon tukang untuk beres-beres." Jawab Sarah pada Viona, matanya bergerak ke arah Adel yang tampak masih diam dan paling berduka.


"Vio ikut ya!" Ajak Sarah, dia tidak mungkin mengganggu Adel dengan kondisinya saat ini.


"Ibu cari makan dulu, sekalian nelpon tukang untuk mencari asisten rumah." Seru Sarah bermaksud memberitahu Adel meski tidak ada ucapan Sarah ya g dijawab.


Sesuai dengan pilihan Viona dia menurut saja dan mengikuti Sarah ke arah grasi mobil. Sarah berpikir untuk tinggal dan bermalam di rumah, karena itu dia perlu pembantu secepatnya.


"Bu!" Seru Adel menghentikan langkah Sarah yang belum jauh. Sarah membalikan badan penasaran.


"Viona tidak bisa ikut. Ibu terserah saja mau pergi atau mau tetap tinggal di sini." Untuk pertama kalinya Adel berbicara dan menyinggung hati. Sarah hanya bisa memandangi kedua pasang mata Adel yang sudah tampak berbeda.


"Cepat sini Vio!" Teriak Sarah berharap Viona agar cepat menurut.


Sayangnya Viona tak langsung melepaskan tangan Sarah, anak kecil saja bisa tahu situasi yang sedang terjadi antara anggota keluarga. Adel mungkin saat ini dia tidak bisa berpikir cukup bijak, dia hanya melihat Arin hang membunuh Oma padahal itu juga belum pasti. Tapi langkah Adel salah.


"Vio sama mama tunggu ya! Biar Nenek aja yang cari makannya. Kasihan Mama sendirian." Sarah begitu sangat lembut mempertahankan perasaan Viona agar lebih menurut pada Adel.

__ADS_1


Viona menatap manik mata Neneknya. "Tante cepet pulang ya!" Ucap Viona yang langsung membuat Sarah mematung. Bahkan anak kecil saja memikirkan anaknya itu, bagaimana bisa dia tega tidak memikirkannya.


Viona berjalan menundukkan wajah, dia tidak bisa menyembunyikan wajah murung ketika Sarah yang mulai canggung pergi dengan maksud untuk mencari makan.


__ADS_2