
"Mau kemana dulu sih? Kita belum aman sampai saat ini, Ibu baru telpon petugas keamanan kesini." Ibunya langsung berdiri dan mendekat ke arah Adel bermaksud untuk mencegah keinginan Adel yang tidak masuk akal bagi semua orang.
"Sebentar ya, tolong!" Rengek Adel bagaikan anak kecil yang tidak bisa menunda lagi, bahkan penjelasan Ibunya tak membuat Adel mengerti juga.
"Jangan lama ya harus pulang lagi!" Tiba-tiba Oma langsung berbicara menyetujuinya, membuat Sarah (Ibunya) hanya bisa menghela napas. Bagaimana lagi Oma memang seperti itu mendidik Adel.
Arin yang masih berdiri di dekat pintu dia tidak ikut bicara seperti yang lainnya, Arin juga tidak membantu Adel membela seperti biasanya.
"Rin, kunci lagi cepat pintunya!" Teriak Oma meminta Arin agar mengikuti Adel.
Arin terperanjat dan langsung mengerti, dia akhirnya terpaksa berjalan mengikuti Adel tidak ada pilihan lain lagi kan.
Entah mengapa Arin begitu jengkel, dia hanya menatap Adel sepanjang perjalanan.
"Aku pergi dulu ya! Jaga Viona!" Ucap Adel singkat saat dia sudah keluar dari pintu. Arin tak menjawab alasannya sudah jelas karena dia tahu kemana Adel pergi sekarang, pasti menemui lelaki yang bernama Andre. Padahal situasinya masih sulit ditebak tapi Adel tetap nekat keluar. Bagaimana dengan dia dan keluarga yang lain sekarang?
Dengan malas Arin kembali memposisikan kunci ke dalam lobang pintu dan menguncinya.
Bukan hanya kepergian Adel yang membuat dia gusar, tapi Arin masih memikirkan Mas Rendra tadi. Apakah kehadiran Mas Rendra berarti menandakan kehadiran yang lain juga?
Perlahan Arin berjalan melewati satu ruangan dan dia hanya butuh satu ruangan lagi menuju kamar. Entah mengapa di sepanjang jalan Arin merasa gugup, seolah setiap sudut ruangan ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, dan seperti ada begitu banyak pasang mata yang menatap lekat ke arahnya.
Dengan gerakan yang gesit Arin berbalik memandangi sesuatu yang tadi sempat terlihat oleh sudut matanya. Seperti seseorang yang sedang berjalan dari arah samping berlari ke belakang. Tapi tidak ada apapun.
Perasaan takut tak bisa dia hindari lagi, perasaan yang langsung menguasai pikirannya lagi. Saat berdiri sekalipun Arin tak merasakan jika kakinya benar-benar menapak lantai, tubuhnya seperti melayang tapi berat sekali saat pikirannya bermaksud untuk lari tapi kakinya masih diam di tempat.
__ADS_1
Arin tak pernah berharap dia harus mengatur napasnya karena dia mulai merasa panik sampai dia harus memejamkan mata. Tapi bayangan yang menakutkan semakin nampak saat dia memejamkan mata.
Sekuat yang dia mampu, tujuannya hanya kembali ke dalam kamar itu saja. Saat sudah siap akan berlari lagi-lagi sudut matanya kembali menangkap bayangan tadi, tapi kali ini berbeda karena yang dia lihat adalah sesuatu yang tampak sepertinya. Seorang wanita berbaju serba hitam, kontras warna kulitnya yang pucat langsung tampak membedakannya antara dia dan Arin. Entah sosok apa, entah hantu apa yang Arin lihat. Wanita yang bahkan bibirnya sangat begitu pucat tiba-tiba tersenyum simpul padanya. Seketika Arin harus kembali merasakan serangan jantungnya lagi karena melihat seorang wanita yang dianggapnya adalah hantu memperhatikannya, hingga saat mengedipkan mata Arin tak melihat lagi keberadaannya.
Tubuh Arin mematung, dia tidak bisa melarikan diri bahkan untuk mengatur kesadarannya pun terasa sulit. Pikiran Arin melayang pada sosok wanita tadi, berbicara tentang makhluk apa tadi apakah memang benar hantu?
Tak sampai 5 menit berpikir sesuatu yang mengejutkan membuat kesadaran Arin kembali. Suara nyaring dari atas plafon rumah.
Arin langsung membulatkan mata, pikirannya melayang pada Oma, Ibu, dan Viona yang berada di dalam kamar. Kini tanpa berpikir panjang dan semua perasaan yang dia abaikan sangat mudah membuat kakinya ringan berlari menuju ke arah kamar.
Saat membuka pintu Arin melihat setiap pasang mata yang ketakutan, bahkan Viona diam saja dan memeluk Ibu dengan erat.
"Darimana saja? Cepat tutup pintunya!" Saking paniknya Oma langsung berteriak pada Arin.
Arin sigap menutup pintu dan menguncinya. Langkahnya mundur mendekat pada Ibu, Oma dan Viona yang diam bersama di sudut ruangan. Sedangkan suara aneh dari atas plafon rumah masih terdengar jelas, menarik bola mata Arin bergerak seiring suara langkah itu yang mondar-mandir di atas plafon rumah, entah apa dia memang penasaran tapi andaikan saja bisa memastikannya.
"Harusnya sudah deh Oma, pasti tak lama lagi cepat sampai." Jawab Sarah (Ibunya Arin)
"Papa!" Suara Viona tiba-tiba memanggil Papa nya lagi.
Mendengarkan ocehan Viona membuat Arin langsung membulatkan matanya, harusnya sekarang dia merasa lega karena mungkin hantu Mas Rendra ada, tapi membayangkan kejadian di villa membuat Arin tak bisa diam saja menunggu.
"Oma, Ibu, kita keluar sekarang!" Ucap Arin berusaha membuat semuanya agar baik-baik saja.
"Ngawur kamu! Kalau ada apa-apa di luar bagaimana? Emangnya kamu tahu kalau di balik pintu itu tidak ada apapun?" Sengit Oma orang yang paling tidak setuju dengan apapun yang dikatakan Arin. Padahal Arin sangat khawatir jika saja benar Mas Rendra kembali sedang mencegah hantu lain untuk mengganggu dan mereka tak lama akan memperlihatkan wujudnya.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa kan, suaranya di atas plafon Oma. Di atas kamar ini." Ucap Arin memberikan alasan. Arin tidak tenang karena ketakutan itu semakin jelas dibayangkan olehnya saat ini.
"Papa!"
"Papa!"
Panggil Viona terus mengoceh tentang Mas Rendra. Viona seperti sedang mencari sosok ayahnya.
Arin memang mendengarkan jelas ucapan Viona, tapi dia berharap Oma dan Ibunya tidak mendengarkan apapun.
"Kok Vio terus manggil Papa?" Celoteh Ibunya menjawab kecemasan Arin yang ternyata apa yang dia cemaskan terjadi juga.
Arin hanya bisa diam saja bersikap seolah tidak tahu apapun.
"Papa!" Ucap lagi Viona yang tak mau berhenti. Tapi kali ini Viona menunjuk ke arah pintu.
Oma rupanya mengamati Viona. Oma memang tidak banyak berkomentar, tapi sikapnya yang hanya diam saja membuat Arin tak bisa tenang.
Melihat Viona menunjuk ke arah pintu spontan semua pasang mata bergerak dan melihat ke arah yang ditunjuk Viona. Tapi tidak ada apapun di sana.
"Papa!" Ucap Viona yang lebih mengejutkan lagi saat Viona tiba-tiba menatap Arin seolah sedang memberitahu Arin.
"Vio kenapa manggil Papa terus?" Tanya Oma nya. Sebuah pertanyaan yang tidak diharapkan Arin, apalagi saat ini mata Viona terus menatapnya.
Oma bergerak menatap Arin, dengan begitu Oma sudah melihat sikap Arin yang salah tingkah.
__ADS_1
Tok...tok...tok...
Tiba-tiba suara ketukan dari arah pintu langsung mengubah suasana, orang-orang dialihkan untuk fokus ke arah pintu. Siapa di sana? Di balik pintu itu?