
Langkahnya semakin menjauh dari rumah yang baru pertama kali ini dia datangi. Andre tidak tahu setelah selama 5 tahun mengenal seorang wanita hingga sudah terlalu jauh hubungannya. Saat kesempatan itu datang ternyata banyak kenyataan yang membuat dia kecewa. Bahkan Andre tidak tahu jika Adel wanita yang sering dia kencani adalah kakak dari Arin, anggap saja teman wanita yang berusaha dia dekati.
Sepanjang jalan perasaan Andre masih jauh dari kata tenang, bahkan sekarang dia tidak tahu lagi apakah dia masih bisa berhubungan dengan Adel? Atau bagaimana dia berbicara di hadapan Arin?
Pikirannya semakin gusar, sekarang bukan hanya tentang Adel saja, namun juga tentang Arin. Andre memang begitu egois, tapi apa salahnya jika dirinya yang sekarang tertarik pada Arin? Hubungannya pun dengan Adel hanya sebatas teman kencan kan? Tidak ada yang lebih spesial dari hal itu.
Mobil tak lama sudah sampai di depan rumah bertingkat miliknya yang tidak jauh dari pusat kota. Baru kali ini sebenarnya Andre pulang ke rumah lagi. Sebelumnya dia hanya tinggal di hotel dan tempat lain.
Setidaknya rumahnya yang sepi berharap bisa membuat dia tenang, semoga saja pikirannya bisa sedikit mendingin pada kenyataan yang membuat dia akan sulit menghadapinya.
Jika diingat lagi, sesuatu yang menjadi alasan paling mendalam jika dia tak bisa menerima kenyataan itu adalah Arin, bodoh sekali rasanya sudah terlibat dengan dua saudara itu. Andre tidak pernah merasa serius dengan perasaannya entah dengan Adel ataupun wanita lain, tapi kali ini perasaannya sangat berbeda pada Arin, dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Arin jika tahu tentang hubungannya dengan kakaknya sendiri. Apa yang akan Arin lakukan?
Andre baru sadar jika dari tadi dia masih mematung di luar pintu tanpa masuk ke dalamnya, padahal kunci rumah sudah di tangan. Ketika akan memasukan kunci seorang lelaki tampak tua berjalan memburu ke arahnya.
"Aden tunggu!" Serunya dari kejauhan beberapa kali mencegah Andre agar tidak membuka kunci.
"Nak Andre!" Serunya lagi dengan suara lemah terus memanggil dan langkah yang berusaha dia seret sendiri agar lebih cepat menjangkau Andre.
Mendengar samar sebuah suara yang memanggilnya, Andre membalikan badan dan melihat Pak Warno terpapah berlari ke arahnya. Andree cukup menatap heran karena Pak Warno yang terus memanggilnya.
"Kenapa pak?" Tanya Andre ketika Pak Warno sudah mendekat.
Dengan napas yang masih tersisa Pak Warno berusaha bicara memberikan sebuah kabar untuknya. "Bapak_Tuan besar dirawat. Tuan di rumah sakit." Ucapnya yang cukup jelas ketika Pak Warno bicara dengan napas yang tersengal.
"Apa? Bapak di rumah sakit? Kok gak ngabarin langsung." Protes Andre.
"Sudah 1 Minggu dirawat. Nak Andre ini baru pulang ke rumah." Cerita Pak Warno yang menjelaskan karena dia tak sempat memberitahu karena Andre tidak pulang rumah terus.
__ADS_1
Andre menghela napas dan berdecak kesal. Dia tidak tahu jika kembali ke rumah dia berarti menghadapi masalah lagi. "Baik Pak terima kasih, saya masuk dulu." Ucap Andre pamit. Terburu-buru masuk ke dalam rumah.
Pak Warno juga pamit untuk kembali ke rumahnya.
Sekarang yang tersisa di dalam pikirannya hanya masalah dan masalah.
Sikap Andre memang dingin namun tidak berarti dia tidak memperdulikan beberapa hal penting. Tapi mengapa harus sekarang?
Andre tidak siap dengan segala hal apapun, tentang kabar hubungannya dengan Adel dia tidak ingin terus dihantui oleh kenyataan itu.
#####
Adel masih berdiri memegangi gerbang rumah yang akan dia tutup sendiri, padahal Andre sudah pergi menjauh dengan mobilnya.
Adel masih jelas membayangkan perasaannya ketika Andre bertemu dengan Viona, ternyata tidak semudah rencana dan kenyataannya membuat Adel semakin takut.
Padahal Mas Rendra sudah meninggal, dia tidak mungkin kembali kan? Dan Oma? Apa yang membuatnya serba salah?
Padahal tadinya dia berharap besar jika Andre bisa menemaninya di rumah, tapi ternyata salah seharusnya Adel tidak pernah lagi mempertemukan Andre dengan Viona lebih baik seperti itu.
Tatapannya langsung mengarah ke arah jam dinding, yang sebentar lagi akan malam. Tanpa mendapatkan kabar Adel tidak tahu apa yang dilakukan Ibu sampai dia sangat lama di luar.
Kesal lagi, padahal dalam keadaannya sekarang Adel sudah mendapatkan masalah yang membuat dia tidak tenang ditambah dengan sikap Ibunya.
Adel berjalan ke arah kamar mengambil Hp yang tergeletak di meja rias. Dia akan menelpon Ibu dan menanyakannya langsung.
Namun jari tangannya tertahan, dia merasa sedikit risih ketika ingat suatu kemungkinan yang langsung dibayangkannya. Ibu pasti menemui Arin dan sengaja berlama-lama di luar. Seketika perasaan Adel terbakar lagi, dia langsung merasa emosi.
__ADS_1
Dari pada menelpon Ibu Adel sebaiknya menghubungi supir yang membawa Ibu dan memintanya untuk pulang, membiarkan Ibu dan Arin di luar sana.
Pikiran yang bagus.
Dengan percaya diri Adel segera menghubungi supir dan rencananya itu sudah dia pikirkan.
"Dimana Pak?" Tanya Adel.
"Lagi di rumah sakit, Non. Bapak anterin Ibu ke rumah sakit." Jelas Pak supir dari balik telpon.
"Loh, ngapain ke rumah sakit?" Tanya Adel sewot.
"Tadi Bapak dengar katanya Non Arin dirawat, kecelakaan katanya."
Adel sedikit terhenyak, tapi lagi-lagi pikirannya yang sudah terlanjur kecewa pada Arin membuat rasa persaudaraan selama bertahun-tahun langsung hilang.
"Pulang sekarang, bawa mobilnya." Perintah Adel.
"Bapak kasih tahu Ibu dulu ya!" Jawab supir yang bermaksud mengajak Ibu untuk pulang juga.
"Ngapain lama. Cepet pulang aja dulu. Biarin. Ibu kan lagi sama anaknya. Cepetan pulang deh aku tunggu." Teriak Adel dan langsung menutup telponnya dengan emosi.
Saat ini hatinya masih kesal, dia tidak bisa menahannya hingga menjadi sesak. Adel tak bisa menerimanya jika Oma mati karena ulah Arin.
Bagaimana jika bukan Arin? Pikiran itu langsung muncul beberapa saat dalam waktu yang singkat di hati Adel.
"Arin yang ada di kamar Oma kan. Ngapain juga kalau gak ada niat lain dia di sana. Selama ini Arin gak pernah berani masuk kamar Oma kan?" Batin Adel yang masih menahan asumsinya itu, entah benar atau salah tapi dia masih tidak memikirkannya dua kali, mencoba menerima kenyataan dan menunggu kabar hingga polisi memberikan kabar tentang penyidikannya.
__ADS_1
Adel semakin gelisah, dia tidak mau memikirkan hal itu. Lebih baik sekarang dia pikirkan bagaimana jika supir tidak pulang? Hingga dia harus berdua saja di rumah dengan Viona.
Adel menggelengkan kepala tidak mungkin dia bisa bertahan di rumah hingga malam tiba. Dia tidak bisa. Tapi siapa lagi yang akan dia hubungi untuk datang?