Beda Dunia

Beda Dunia
Viona


__ADS_3

Sejak Ayah sambungnya meninggal tepatnya 10 tahun yang lalu. Waktu masih terasa singkat, hari berganti sampai tahun terus berulang sama. Kak Adel, Oma, Ibu, Viona. Perempuan di keluarga besar yang tersisa, setelah bibi dan semua keluarga meninggal bergantian. Aneh saja, anggota keluarga dan kerabat sudah meninggal, kadang bertanya apakah sudah giliran kami di rumah Oma? Dan itu entah kapan.


Perasaan was-was kian nyata, bahkan sekarang rasanya begitu sesak untuk bernapas, berdiam dimana saja tidak ada bedanya. Sejak kejadian di vila itu, semua fakta teraneh di keluarga sekarang bermunculan entah mengapa. Arin masih merasa terjaga untuk setiap detik dan dari semua sudut tempat, dia membayangkan bagaimana jika sosok itu tiba-tiba muncul lagi.


"Rin!" Teriak Adel bersamaan dengan pintu kamar yang tiba-tiba dibuka olehnya membuat Arin langsung terperanjat kaget meski dari tadi dia melamun.


Arin masih diam memandangi Adel dengan napas yang tersengal-sengal. Dia bisa membayangkan perasaan panik yang saat itu jelas terpancar dari sorot mata Adel.


Langkah Adel perlahan mendekat ke arah Arin yang masih membeku.


Sampai detik itu Arin tak sanggup untuk mengatakan sepatah katapun.


"Kau baik-baik saja, kan!" Celoteh Adel meski dengan nada gemetar. "Aku benar-benar tidak bisa tidur." Keluh Adel.


Bola mata Arin bergerak ke sudut dinding yang tepat memperlihatkan jam bertengger di sana. Sudah tengah malam, dia juga belum bisa tidur nyenyak berbeda sekali dari biasanya. Batin Arin mengakui jika dia juga merasakan hal yang sama, dadanya bergemuruh cemas mengatur jika dia tidak akan sampai jantungan jika saja pada saat yang tidak bisa ditebak dia kembali bertemu dengan sosok itu.


Terdengar suara napas Adel ketika dia berusaha menarik napas dan menghembuskan ya pelan. Adel mungkin tidak bisa setenang dulu lagi, seperti perasaan Arin sekarang.


"Aku benar-benar tidak bisa percaya, bahkan sampai sekarang. Itu terlalu mustahil kan." Celoteh Adel mengeluarkan segudang kerisauan di dalam pikirannya.


"Tapi itu nyata kan." Ucap Arin menanggapi.


Seketika Adel membisu, dia sekali lagi terlihat menarik napas. Sekarang mungkin logikanya sedang berusaha sekali berpikir lebih keras dan lebih realistis. "Kita benar-benar sudah melihat hantu. Dan Papa nya Viona." Ucap Adel seperti kembali mengeluh.


Siapapun memang akan merasa bingung seperti itu, meski berulangkali Adel berusaha menata pikirannya kembali tapi hasilnya tetap sama dia tidak bisa langsung menerima kejadian itu meski sudah berlalu.


"Apa mereka akan muncul lagi?" Lirih Arin yang langsung mengalihkan perhatian Adel.

__ADS_1


Tajamnya Adel menatap adiknya itu, perasaannya tak terima. "Jangan sampai kamu memikirkan hal itu, pokoknya itu tidak akan berulang lagi titik." Cetus Adel memberikan sebuah pernyataan yang sepertinya tidak ingin dibantah lagi oleh siapapun.


Ceklek. Suara pintu kembali terdengar dibuka.


Serempak kedua pasang mata Adel dan Arin menatap ke arah sumber suara.


Ternyata Viona, anak perempuan berusia 4 tahun. Anehnya padahal sudah tengah malam harusnya Viona sudah tidur, tapi bagaimana bisa mata Viona memperlihatkan jika dia seperti belum tidur dari sebelumnya. Dan apa yang membuat Viona bisa berjalan melewati ruangan hingga sampai ke kamar Arin.


Pertanyaan sekaligus datang berturut-turut. Adel hanya bisa menatap ke arah Arin dengan penuh tanya, tapi Arin juga merasakan sesuatu yang aneh.


"Vio, kok malah ke kamar tante?" Ucap Arin menyerbu Viona yang diam dari tadi sambil menatap ke arahnya.


"Vio dibangunin Papa." Cetus Viona dengan polosnya.


Seketika pernyataan Viona langsung menghantam jantung Arin dan Adel yang mendengarnya. Keduanya berpikiran sama jika Papa yang dimaksud Viona adalah roh Papa nya itu.


Arin tak bisa mempercayai perkataan Viona, dia harus ragu dan menganggap jika Viona bohong, tapi menyedihkan sekali bahkan Arin tak berkutik saat Viona mengatakan itu, dia tidak sanggup untuk membantahnya.


"Sekali lagi kamu ngomong gitu terus mama bakalan marah banget!" Ancam Adel karena dia sangat terganggu dengan perkataan Viona.


Viona yang polos dan tak mengerti apapun dengan baik menatap mamanya dengan tatapan bingung. Yang dia paham saat ini mungkin adalah ekspresi Adel yang marah.


Adel terdiam lagi meski dia masih gusar, berjalan kesana kemari tampak kebingungan.


"Ini gara-gara kalian. Kalau saja kalian gak bikin satu masalah di sana sekarang kita aman!" Bentak Adel setengah kesal.


"Sekarang aku gak tahu, kita bisa berbuat apa dan memastikan apa. Kita sendiri gak tahu apakah sekarang sudah aman." Adel tak berhenti menggerutu.

__ADS_1


Arin yang berdiri dan tak bergeming mengabaikan perkataan yang keluar dari mulut kakaknya. Dia mempunyai pikiran lain yang mengganggu, karena bukan hanya Adel sendiri yang merasa khawatir dia sendiri juga.


"Rin, diam aja terus dari tadi." Komentar Adel membuat Arin mendongak dan memperhatikan ke arah Adel. "Coba pikirkan apa kek yang berguna, semua kan salah kalian kenapa kok aku yang pusing!"


Tak lama ketika Adel menggerutu suara langkah kaki yang berjalan mungkin di balik plafon rumah atau di atas genting. Suarnaya nyaring seperti waktu itu.


Adel langsung terdiam panik.


"Suara apa itu? Hey!" Tak lama Adel diserang dengan pertanyaan Oma yang tiba-tiba berlari dari luar masuk ke dalam kamar, disusul dengan Ibu yang mengikuti dari arah belakang.


Adel semakin merasa bingung, sekarang tidak ada satupun yang bisa dia jelaskan di hadapan mereka.


"Kalian dengar suara tadi? jangan-jangan ada maling di rumah kita." Tebak Omanya.


"Kita harus hati-hati lebih baik bersama-sama kaya gini ya." Timpal ibunya yang mulai membagikan pandangan ke setiap sudut kamar. "Loh Viona gak ada di sini!" Lanjutannya lagi.


"Vio tadi di sana, Bu." Ucap Arin yang langsung terdiam saat mendapati Viona sudah tidak ada di tempat semula.


"Kok Viona langsung hilang." Adel mulai panik dan langsung mencari ke setiap sudut kamar. "Vio gak ada Oma." Ucapnya panik.


"Emangnya tadi Viona sama kalian? Tapi kenapa bisa langsung gak ada." Ibunya langsung berkomentar.


"Kapan keluarnya ya, kok Viona ngilang." Ucap Arin.


"Coba cari di kamarnya deh!" Oma nya langsung bicara seolah dia tidak percaya jika Viona dari tadi ada di kamar. Alasannya cukup membuatnya yakin, saat tadi dia berjalan dan pertama kali masuk ke dalam kamar matanya tidak menangkap sosok Viona.


"Tadi Vio di sini loh Oma." Celoteh Arin.

__ADS_1


"Udah Oma kasih tahu kan, ya cari ke kamarnya sekarang. Gitu aja kok lelet sih kamu." Nada bicara Oma langsung berubah ketika kembali berbicara dengan Arin.


__ADS_2