
"Rin!"
"Arin!" Panggil Ibunya berulangkali sebelum akhirnya saat panggilan ke tiga Arin segera menoleh dengan terperanjat kaget.
"Melamun aja terus dari tadi." Gerutu Ibunya sedikit kesal.
Arin hanya bisa membalas kemarahan Ibunya dengan sedikit tersenyum, apa yang bisa dia lakukan selain hanya tersenyum, tidak mungkin juga dia menceritakan kekhawatiran yang mengganggu pikirannya sekarang.
"Arin mau masak atau Ibu?" Tanya Ibunya. Sedikit membuat Arin lega jika dia diberikan pilihan seperti itu tentu saja akan memilih untuk tidak memasak.
"Ibu aja, ya!" Ucap Arin canggung dan masih diakhiri dengan tersenyum lagi.
"Kalau ada apa-apa tuh cerita sama orang tua, daripada lagi kerja sampai gak fokus gitu." Sindir Ibunya membuat Arin tertegun lagi.
Dia sempat berpikir untuk menceritakannya, tidak apa-apa mungkin jika itu hanya Ibunya sendiri yang tahu.
"Tuh kan melamun terus!" Hardik Ibunya kesal.
Arin langsung menundukkan wajah dia merasa bersalah sudah bersikap seperti itu.
"Udah pergi kamar aja kamu!" Pinta Ibunya.
Saat senang melangkah tiba-tiba Arin langsung teringat dengan Oma di luar sana, apa yang akan dia dapatkan jika kembali bertemu Oma? Omelan lagi? Akhirnya Arin kembali terdiam dan masih terus memperhatikan Ibunya yang sibuk menumis bawang. Dia tidak begitu berani untuk berbicara tentang rasa keberatannya untuk keluar karena pastinya dia akan langsung bertemu dengan Oma.
"Pasti Oma. Kamu gak berani keluar kan?" Tebak Ibunya itu yang langsung membuat Arin tersenyum tanda mengiyakan.
"Nih mending masak kan! Tapi harus fokus jangan melamun dulu." Ibunya memperingatkan.
__ADS_1
Arin langsung mendekat dan kembali mengambil alih untuk melanjutkan masakan Ibunya. Tentu saja dia memilih tetap sibuk di dapur dari pada keluar yang ada dia harus mendengarkan kembali ketika Omanya mengoceh dan marah-marah. Itu lebih tidak mudah kan? Arin nampak menarik napas saat membayangkan hal itu, terlukis sekali rasa keberatan dari raut wajahnya.
"Kamu kalau ada masalah jangan diselesaikan sendirian, biasanya kan kalian saling bicara." Terang Ibunya membuat Arin langsung tahu jika lebih baik dia membicarakan masalahnya dengan Adel. Tapi bagaimana cara membicarakannya karena dia sendiri tidak mau jika masalah ini diungkit dulu.
"Gak ada kok Bu, sebenarnya Arin gak ada masalah." Elak Arin yang sangat begitu terlihat kebohongannya.
"Gak ada duanya? Ibu udah tahu banget kalian berdua. Pasti masalahnya tentang kalian berdua. Pokoknya Ibu gak mau kalau kalian musuhan gara-gara cowok." Ibunya masih asal menebak.
"Ih. Apaan itu cowok." Elak Arin memperlihatkan ketidaktertarikannya pada kaum Adam itu.
"Ya gak apa-apa lah kamu udah gede sekarang, jangan gitu kan kamu cewe nanti juga nikahnya sama cowok." Tegas Ibunya yang tampak tak bisa menerima jika Arin masih saja anti pacaran.
"Pokoknya gak Ada cowok-cowok. Udah deh ah Ibu malah makin ngaco, mending diem aja." Arin memang selalu sensitif dan kadang tak bisa begitu terima tentang masalah yang berkaitan dengan lelaki, dia memang seperti itu anti pacaran.
Ibunya hanya bisa menganggukkan kepala meski dia kecewa, karena menurutnya sendiri Arin sudah wajar jika dia dekat dengan satu atau dua lelaki, tapi entahlah itu yang terjadi dengan putrinya. Biarkan waktu yang menjawab dan Arin bisa menerima kodratnya sendiri yang harus menikah.
"Tapi ngomong-ngomong kamu tahu sesuatu gak?" Tanya Ibunya tampak terdengar ingin membahas hal lain.
"Kalau Kak Adel, udah punya pacar?" Tanya Ibunya tampak penasaran.
Arin benar-benar terdiam, selama ini dia tidak pernah melihat kakaknya itu jalan atau pergi kencan dengan lelaki tapi hatinya sangat yakin jika kakaknya itu pasti sudah punya pacar, atau mereka pacaran di luar tanpa sepengetahuannya.
"Kamu gak tahu?" Tanya Ibunya segera membuyarkan ingatan Arin.
"Kalau aku gak tahu sih Bu, kakak gak pernah terlihat sama pacarnya. Tapi wajar kan kalau Kakak emang udah punya pacar lagi." Celoteh Arin berbicara lancar.
Siska tertegun diam, dia seperti sedang mencerna kata-kata anaknya itu dan setelah dipikirkan matang memang sudah waktunya Adel menikah lagi.
__ADS_1
"Terus kamu udah punya pacar?" Lanjut Ibunya bertanya. Seolah mendengarkan sesuatu yang mengejutkan Arin langsung terperanjat kaget dan mematung.
"Gak banget deh Bu. Ngapain pacaran? Buat Arin pacaran itu kayak sengaja buang-buang waktu." Jawab Arin, berbicara seolah dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk berbicara.
Ibunya hanya tertawa kecil. "Kamu ini udah gede, takut banget ya pacaran?" Tanya Ibunya usil semakin membuat Arin manyun kesal.
"Pokoknya Arin gak mau pacaran, titik." Jawab Arin tegas memperlihatkan rasa kesalnya dan tidak setujunya tentang pacaran.
Apa boleh buat jika dihadapkan dengan situasi anak yang seperti itu dan sudah mempunyai pilihannya sendiri, mau bagaimana lagi? Lebih baik mendukungnya selagi itu bagus.
"Tapi kamu harus menikah ya!" Pancing Ibunya nampak masih penasaran.
Arin terpaku mendengarkan sebuah pernikahan dari mulut Ibunya, dia seperti baru disadarkan oleh sesuatu hal. Arin berbalik dan melihat Ibunya, dalam hati dia mendapatkan jawaban. Ibunya sangat berharap dia bisa menikah dan membangun rumah tangga, bagaimanapun di usia senjanya kelak seorang cucu mungkin akan menjadi temannya.
Arin berbalik lagi kembali fokus dengan beberapa wadah yang menumpuk, dia tidak menjawab perkataan Ibunya tadi tapi Arin sedikit terpikirkan apakah dia perlu menikah? Apakah dengan menikah dia bisa bahagia?
"Udah beres pasakannya belum?" Teriak Omanya terdengar dari ruang tamu.
"Sebentar lagi Oma, pokoknya kita beres ya." Jawab Ibunya kilat.
Mendengarkan Oma nya yang sudah mulai bertanya itu berarti dia harus segera menyiapkan semua masakan dengan cepat, tepat, dan singkat.
"Udah kamu keluar aja sama Oma, semua hang disini biar Ibu yang bereskan." Ucap Ibunya sangat memberatkan hati. Arin tentu saja keberatan jika dia harus segera keluar dan berkumpul dengan Oma nya. Apa yang terjadi selain dia sendiri akan merasa kesal.
"Udah dek Bu biar Arin sekalian aja bantuin." Jawab Arin bete.
"Udah beres kok selesai, cepat kamu sama Oma Saja." Jawab lagi Ibunya dengan maksud yang sama.
__ADS_1
Arin paling tidak bisa sekali saja menentang atau tidak setuju dengan perkataan Ibunya. Seperti sekarang walaupun pada kenyataannya Arin tidak bisa bersama Oma itu terlalu membuatnya tidak nyaman kan.
Arin meninggalkan ruang dapur dengan perasaan tak menentu, bagaimana pun dia masih merasa berat hati dan tidak bisa terbiasa. Meski sekarang dia sudah lama menghabiskan waktu bertahun-tahun tinggal di keluarga ayah sambungnya, tapi Arin masih merasa canggung dan bingung apalagi kenyataannya Oma sangat membedakan dia dan kakaknya sendiri dan hal itu sudah membuatnya sedikit sakit hati.