
"Sekarang aku mau ke kamarnya Ratih." Bagaikan orang yang paling sibuk, perempuan itu masih mengoceh tentang rencananya.
Tapi Arka masih mematung diam. "Ada sesuatu yang aneh dengan kedatangan Rendra. Harusnya Rendra tidak bisa kembali lagi, apa yang terjadi?" Batinnya masih menerka-nerka tentang Rendra. Arka tidak pernah tahu apa yang terjadi di masalalu sehingga dia bisa hidup bersama manusia, yang dia tahu semua hanya karena campur tangan Hera. Sayang sekali karena kebodohannya sendiri dia juga tidak bisa tahu tentang Rendra.
Matanya tidak hanya mengamati seisi ruangan, Arka lebih serius mengamati perempuan di hadapannya itu. Perasaannya selalu tidak tenang jika kedatangan Hera yang tiba-tiba muncul lagi dan pasti selalu diakhiri dengan sebuah masalah.
Kedatangan Rendra harusnya sudah cukup menjadi masalah, Arka menebaknya ada sesuatu yang tidak beres, tapi dia tidak bisa bertanya pada perempuan itu karena Arka bisa tahu hanya kebohongan saja yang akan dia dengarkan. Hera bahkan tak menceritakan alasannya ingin ke rumah Ratih mencari sesuatu yang dia sendiri tidak tahu untuk apa.
Arka dengan malas terpaksa harus mengikuti setiap kata yang diucapkan oleh perempuan di hadapannya. Dia masih ingat bagaimana perempuan nekat itu bisa kembali lagi ke dunia manusia. Banyak keluarganya yang menjadi korban, bahkan di saat sulit seperti itupun dia harus berlomba dengan waktu mengumpulkan sendiri setiap solusi dan membenahi semua dengan kerja kerasnya.
Dan sekarang firasatnya cukup membuat dia tidak tenang, sepanjang bersama perempuan itu hatinya tidak bisa tenang. Pertanyaan tentang Rendra masih mengusik pikirannya dan membuat serba salah.
"Apa yang kau lakukan? Mau diam saja?" Teriak Perempuan itu (Hera).
Arka terhenyak mendengar nya. "Hera, apa yang sebenarnya kau cari dari tadi?" Tanyanya. Padahal sepanjang waktu dia tidak bisa fokus berpikir mengikuti Hera.
"Dan apa yang kau pikirkan dari tadi?" Ucap Hera dengan nada datar. "Kau penasaran dengan Rendra? Dan kau berpikir itu karena ulah ku juga?" Selidik Hera menebak habis semua yang dipikirkan Arkam
Arka tidak bisa diam lagi. "Seharusnya Rendra tidak di sini, dia tidak bisa sampai ke wujudnya itu." Terang Arka dengan nada cemas.
"Mana aku tahu, kau tanya sendiri dan sebaiknya sekarang kau cukup berguna." Hera langsung menyanggahnya, jika bukan dia lantas siapa?
Sedikit yang bisa dia simpulkan, jika Hera tidak terlibat sama sekali lantas masalah seperti apa yang sudah terjadi itu?
__ADS_1
Melihat situasinya sekarang, Arka tidak bisa lagi hanya diam saja seperti dulu bahkan dia mulai melupakan dan tidak mempertanyakan tentang ritual yang dilakukan Hera padanya. Namun sekarang situasinya berbeda, dia penasaran sekali jika bukan karena Hera lantas ulah siapa? Arka hanya bisa menebak jika akan ada sesuatu yang datang dan menjadi masalah besar bagi semuanya.
"Arka aku peringatkan sekali lagi. Jika kau_" Celoteh Hera yang masih bawel namun kata-kata nya langsung dihentikan dengan sebuah pernyataan dari Arka.
"Di bagian ubin keramik di bawah tempat tidur." Arka langsung mengatakannya. Di akhiri dengan helaan napas dan hati yang langsung mengutuknya sendiri. Mau bagaimana lagi dia tidak bisa diam saja kan? Arka tidak bisa melupakan balas Budi.
Dengan senyuman yang puas Hera langsung menatap tempat yang disebutkan Arka.
Tempat tidur langsung terangkat dan berpindah tempat. Tampak ada satu ubin yang sudah dibongkar.
Hera berjalan mendekati tempat yang menarik matanya hingga dia benar-benar senang ketika sekilas menatapnya. Sesuai seperti yang dia harapkan. Sebuah pintu rahasia yang menghubungkan antara dunia manusia dan vampir sudah ada di depan matanya.
Entah apa yang direncanakan Hera semoga saja bukan sesuatu yang akan merugikan semuanya.
Arka tidak bisa berbuat apapun, meski dia sudah mengatakan hal bodoh dan membuat Hera mudah mencapai tujuannya lagi. Tapi lagi-lagi dia tidak bisa membuat dirinya sediri saja melawan, bahkan Arka membiarkan Hera pergi dengan begitu saja tanpa mengatakan apapun padanya.
Harusnya tadi dia tidak mengatakannya. Lagi-lagi penyesalan datang terlambat dan bodoh sekali karena Arka juga membiarkan Hera sudah pergi entah kemana.
Arka adalah vampir yang memiliki kemampuan detektif. Tidak ada vampir yang spesial sepertinya, kecuali dia memang benar-benar murni seorang vampir yang biasa meminum darah manusia sepertinya. Sayang sekali meski wujud Arka sudah sempurna tapi dia tidak bisa menghilangkan kebiasaan vampirnya.
Arka pergi kembali secepat kilat dia hilang dari rumah Ratih, meski dia tahu Rendra masih ada di sana mungkin Rendra juga bisa merasakan kedatangan Hera, tapi entah mengapa Rendra diam saja sampai dia pun benar-benar pergi.
#####
__ADS_1
"Kau sudah membereskannya?" Seorang pria memakai jas hitam rapih berdiri di depan pintu kamarnya.
Key langsung bisa menebak pembicaraan itu, tapi dia masih diam saja dan bersikap dingin tak mengindahkan perkataan orang yang berbicara padanya.
"Kau tidak boleh membuat manusia mati, kau ingat itu aturannya kan?" Ocehnya yang merasa tak senang karena sikap Key.
Arka berjalan ke dalam rumah dan melihat pertengkaran dua puteranya lagi. Tapi seperti biasa dia tidak akan ikut campur dengan urusan mereka, kehidupannya sendiri terlalu rumit untuk dipikirkan.
"Ayah, apa kau tahu jika anakmu sudah membunuh manusia?" Bisik Ran pada Ayahnya yang baru saja datang.
Arka menoleh memperhatikan Key yang masih diam saja dan sikapnya yang masih tetap dingin seperti biasa.
"Kita akan ke pabrik sekarang, stok minuman keluarga sudah habis." Namun Arka tiba-tiba membahas hal lain yang berbeda. Tak mempedulikan sikap Key yang sulit beradaptasi itu.
"Ayah, aku tak mau ikut sebaiknya kau bawa dia saja sekarang." Ran langsung membuat sebuah permintaan.
"Aku tidak akan pernah ikut ke tempat seperti itu." Key langsung menolaknya dan dia segera pergi dari hadapan kedua orang keluarga di ruang itu.
Arka hanya bisa menghela napas, Key membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan kehidupannya sekarang. Terutama dia adalah yang paling muda jadi wajar saja jika ada sedikit penolakan dari hatinya.
"Kau akan membiarkan anak itu? Sekarang dia masih diam saja namun suatu saat dia akan membuat kau khawatir karena sikapnya. Kau mau menunggu momen itu?" Gaya bicara Ran langsung berubah seketika.
"Dia tidak akan mengecewakan siapapun." Jawab Aria singkat. Tak mau pusing dengan perdebatan dan membuatnya lebih banyak lagi pembahasan, itu bukanlah hal yang harus dilakukan. Arka terlalu sulit dengan masalah yang ada di hadapannya sendiri, setidaknya nanti ada waktunya dia pikirkan lagi tentang Key.
__ADS_1