
Ketika Regina mau menuju ke Elisabeth Parfume, Suster Diana sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Elisabeth yang terus-menerus marah-marah kepada nya.
Tapi ntah mengapa Suster Diana begitu sangat sabar sekali dia menghadapi sikap Elisabeth, tidak seperti biasanya.
Setelah merasa puas membuat kamarnya berantakan, Elisabeth pun pergi ke luar. Dia pun mengingat jika Suster Diana menyimpan buku merah milik Putri Belinda.
Elisabeth pun masuk ke dalam kamar Suster Diana, dia mencari buku merah tersebut di saat Suster Diana yang sedang membereskan kamar Elisabeth.
Elisabeth melihatnya buku merah tersebut berada di atas lemari pakaian, dia tidak bisa mengambil nya. Dan Elisabeth pun langsung berlari kembali menuju ke kamar nya.
"Suster Diana, cepatlah ke sini."
Suster Diana seketika dia terkejut sekali mendengar suara teriakan Elisabeth. Dan membuat nya langsung berlari menghampiri Elisabeth.
"Ada apa Elisabeth, kamu membuat Suster Diana kaget saja."
Elisabeth pun langsung menunjukkan ke arah atas lemari pakaian nya.
"Turunkan buku merah itu, aku ingin membakar nya sekarang juga."
Suster Diana pun langsung terkejut ketika mendengar perkataan Elisabeth.
"Itu adalah buku kesayangan Putri Belinda, kenapa kamu harus membakar nya."
Suster Diana merasa kesabaran kembali lemah dengan sikap Elisabeth.
__ADS_1
"Karena jika aku membakar buku merah itu Putri Belinda akan sedih di sepanjang hari nya dan di saat itu aku bisa tersenyum kembali."
Suster Diana tidak tahu dia harus bagaimana karena apa yang di inginkan Elisabeth sudah keterlaluan sekali.
"Jangan seperti ini, seharusnya kalian berdua itu bersahabat dengan baik."
Elisabeth menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Tidak akan pernah ada persahabatan antara aku dan Putri Belinda, jika sampai Putri Belinda berada di rumah ini maka aku akan kehilangan semuanya. Aku akan di kembalikan ke panti asuhan aku tidak mau itu terjadi Suster Diana."
Elisabeth mendorong tubuh Suster Diana sampai terbentur lemari pakaian.
"Cepat ambil kan buku merah itu, cepatlah."
Elisabeth terus saja mendorong tubuh Suster Diana, tapi Suster Diana tetap diam dia lebih memilih untuk menunggu kedatangan Melinda dan Regina.
Teriakan Elisabeth terdengar jelas sampai ke luar tapi ternyata Melinda yang belum juga datang ke rumah.
"Elisabeth kenapa kamu itu begitu sangat kasar sekali seperti ini, jika bukan aku yang peduli dengan mu siapa lagi yang akan sayang dengan mu."
Melinda dan Regina pun akhirnya pulang ke rumah dan seperti mendengar Suster Diana yang sedang marah-marah dengan Elisabeth.
"Astaga apalagi yang sudah di lakukan oleh Elisabeth, dia benar-benar membuat marah."
Melinda yang kelihatan sangat emosional dia pun langsung berlari menuju ke kamar Elisabeth.
__ADS_1
"Jangan sampai Melinda emosi berlebih-lebihan kepada Elisabeth, karena sekarang Melinda yang tidak bisa mengendalikan emosi nya."
Regina pun langsung berlari menghampiri Melinda dan Elisabeth merasa sangat ketakutan sekali Melinda dan Regina datang.
"Apa yang sedang terjadi lagi dengan Elisabeth,? kenapa Suster Diana sampai berteriak-teriak seperti itu."
Elisabeth pun memilih untuk bersembunyi di belakang Suster Diana dia kelihatan sangat ketakutan sekali.
Suster Diana merasa tidak tega jika dia harus menceritakan yang terjadi dengan mereka berdua.
"Elisabeth ingin membaca buku merah milik Putri Belinda, tapi saya tidak mengijinkan nya. Karena buku merah itu milik Putri Belinda."
Elisabeth merasa sangat bersyukur sekali karena Suster Diana yang menutupi kesalahannya.
Melinda pun langsung mengambil kursi dia mengambil buku merah tersebut.
"Aku akan memberikan buku merah ini kepada Putri Belinda, karena buku merah ini yang menemani Putri Belinda di saat dia sakit."
Setelah mengambil buku merah itu, Melinda pun berjalan menuju ke kamar nya untuk menyimpan buku merah tersebut.
"Elisabeth, tolonglah jaga sikap kamu. Buat Mommy Melinda menjadi seperti dulu lagi, di saat sekarang emosi Mommy Melinda yang belum stabil."
Regina keluar dari kamar Elisabeth dia pun lebih memilih untuk menghampiri Melinda. Suster Diana menghelakan nafas panjang nya, dia pun langsung menatap wajah Elisabeth.
"Kamu bisa belajar dari masalah ini kan."
__ADS_1
Elisabeth pun mengangguk kepalanya sambil terdiam.