
Dika tersenyum dan mengecup kening istrinya."cup, aku tidak akan membuat istri ku khawatir lagi."
Di tengah obrolan romantis mereka, Lala dengan pelan membuka pintu kamar mereka karena tidak terkunci.
"papa dan mama tidak berdebat lagi kan?"
Dika dan Eleya pun terkejut melihat Lala yang sudah berada didalam kamar mereka, dan mereka pun melepaskan pelukannya."sayang, kenapa tidak mengetuk pintu dulu?"
"tadi aku mencoba mengetuk nya, tapi ternyata pintunya tidak terkunci, lalu aku masuk saja."
"lain kali tidak boleh seperti itu, itu namanya tidak sopan sayang."
"iya ma."
Dika pun juga ikut mensejajarkan tubuhnya pada putri kecilnya."anak papa, mulai hari senin, berangkat sekolah nya, dengan mbak Lita saja ya, biar mama di rumah saja."
"kenapa mas."
"ya aku cuma tidak mau kalau kau kelelahan, untuk apa kita mempekerjakan babysitter kalau tidak mengantar Lala kesekolah."
"ya sudah terserah kau saja, tapi sepertinya ini sudah waktunya kita makan malam, ayo Lala mau di gendong sama mama apa sama papa?"
Dika pun langsung menggendong putrinya."biar Lala di gendong sama papa saja ya."
__ADS_1
Mereka pun kini turun kebawah untuk makan malam bersama. Eleya pun menyendokan lauk pauk ke dalam piring suaminya."ini mas, Lala mau makan pakai apa?"
Lala mau telur balado saja ma."
"ini."
"sayang, minggu depan mama dan papa katanya mau mengadakan acara Eniversery mereka yang ke 25."ucap Dika.
"oya, itu artinya kita harus memberikan kado special untuk mereka."
"iya, apa lagi kalau kado nya adalah kehadiran cucu kedua untuk mereka."
"kau ini ada ada saja, mana mungkin secepat itu."
Dika pun mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya."dulu waktu kita membuat Lala cuma satu kali kan sayang, dan ternyata tokcer kan."dengan menggerakkan kedua alisnya.
"mama dan papa kenapa berbisik bisik begitu?"
"e...tidak sayang."
Dika pun mendekati putrinya."Lala senang tidak, kalau misalkan punya dedek bayi?"
"wa...h Lala sangat senang sekali pa, apa lagi kalau dedek bayi nya juga perempuan seperti Lala, jadi Lala punya teman bermain."
__ADS_1
"tu, dengar apa kata putri kita."
"iya, tapi mana mungkin secepat itu, kalau mau cepat, beli saja."
Dika pun langsung merangkul tubuh istrinya dan menciumnya sekilas."eemmuuah.."
"mas, kamu tidak malu, Lala lihat kita."
"oo...Lala juga mau papa cium ya, sini biar papa cium, muuah."
"papa...Lala lagi makan, kenapa di cium sih?"
"habisnya papa gemes sayang."
Usai makan malam, Dika dan Lala pun duduk bersantai di depan televisi, sementara Eleya masih berkutat di dapur dan membantu bi Jum.
Begitulah yang sering Eleya lakukan, dia tidak pernah mau membiarkan asisten rumah tangga nya mengerjakan pekerjaan rumah sendirian meskipun Dika sering kali melarangnya.
Setelah selesai berkutat di dapur, dia pun membawakan secangkir kopi dan beberapa cemilan kue kering hasil buatannya sendiri untuk Dika ke ruang tengah.
"mas, ini kopinya, Lala mau cemilan tidak?"
Dengan cepat Lala pun mendekati ibunya."mau ma, Lala mau yang bentuknya seperti bulan sabit."
__ADS_1
"kau pintar membuat kue sayang?"
"iya, ini pekerjaan ku ketika sedang mengandung Lala, aku bahkan menerima pesanan kue kering puluhan orang perharinya."