
"lalu kenapa dia tidak memberitahu mu dan minta pertanggung jawaban pada mu?"tanya mama Gea.
"karena aku waktu itu aku yang tidak percaya dengan apa yang dia katakan ma, ku pikir itu hanya alasannya karena tidak mau kami berdua berpisah."jawab Dika.
"kau harus segera menikahinya dan membawanya ke sini Dika, mama tidak ingin cucu mama semakin menderita di luar sana."ucap mama Gea.
"apa yang di katakan mama mu benar Dika."sambung papa Reno.
"tidak semudah itu pa, ma, masalah nya, Eleya sekarang sangat membenciku, dan dia memang pantas untuk membenciku."jawab Dika dengan wajah sedih.
"mungkin dia hanya butuh waktu."ucap mama Gea.
"dan yang paling membuat ku merasa bersalah, dia sering kali di hina oleh ibu ibu di komplek kos kosan nya, karena hamil tanpa tau siapa ayah dari bayi yang sedang dia kandung."lirih Dika.
Kedua orang tua Dika hanya bisa menarik nafas nya dan menatap sefih pada anak tunggal nya.
*
__ADS_1
Ke esokan hari nya, seperti biasa Eleya berangkat ke restoran setelah Lala berangkat sekolah.
Saat Lala turun dari bus, Dika pun melangkah mendekati Lala dengan sedikit ragu."selamat pagi Lala."ucap Dika.
Lala pun menoleh ke arah suara yang memanggil namanya."om teman mama yang tadi malam kan?"tanya Lala.
Dika merasa sakit saat mendengar ucapan putrinya yang menyebut dirinya sebagai teman mamanya.
"iya, om teman mama, kamu mau masuk kelas ya?"tanya Dika.
iya om, aku masuk kelas dulu, sampai jumpa lagi."jawab Lala.
Setelah malam hari, Eleya menemani putri kecilnya itu belajar."mama, besok aku dan semua teman teman ku di suruh bercerita tentang kehidupan kita sehari hari dan siapa orang yang aku kagumi."ucap Lala.
Eleya tampak berpikir."besok ya, jam berapa sayang?"tanya Eleya.
"em...kata buguru jam sepuluh pagi ma."jawab Lala.
__ADS_1
"baiklah kalau begitu, nanti mama akan izin ke atasan mama."ucap Eleya.
Karena merasa kantuknya mulai menyerang, ibu dan anak itu pun masuk ke dalam kamar untuk segera tidur.
Pada pukul tujuh pagi, Eleya tiba di restoran dan menemui atasannya untuk minta izin keluar pada jam sepuluh nanti."maaf Eleya, saya tidak bisa memberimu izin, kau terlalu sering meminta izin."jawab ibu Syerly.
Eleya pun memasang wajah kurang bersemangat."baiklah kalau begitu saya permisi dulu bu."ucap Eleya.
Dia pun keluar dari ruangan atasannya dengan wajah sedih, sementara tiga temannya menunggunya di depan pintu ruangan ibu Syerly."bagaimana El?"tanya Tiara, Diva dan Vano.
Eleya menggelengkan kepala nya dengan wajah sedih."ibu Syerly tidak mau mengizinkan ku."jawab Eleya.
"kalau begitu biar aku yang minta izin El."ucap Vano.
"jangan Van, pasyi Lala akan mengerti."jawab Eleya.
Vano adalah teman pria Eleya yang sudah menaruh perasaan pada Eleya."tapi El, bagaimana kalau Lala kecewa? sudah biar aku yang bicara."ucap Vano sambil melangkah masuk ke dalam ruangan ibu Syerly.
__ADS_1
Mereka kembali bekerja sambil menunggu Vano keluar dari ruangan ibu Syerly. Beberapa menit kemudian Vano keluar dari ruangan ibu