Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
TULISAN TANGAN RAIHAN


__ADS_3

Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki dari luar dan detik kemudian pintu kamarpun terbuka. Arsyila dengan cepat langsung mematikan handphonenya dan menyembunyikannya didalam bajunya.


Raihan menatap Arsyila dengan curiga.


"Kamu barusan bicara dengan siapa???" Tanya Raihan dengan menyipitkan matanya. Wajah Arsyila langsung berubah pucat. Ia benar-benar merasa takut jika ketahuan sedang telponan dengan Ardan.


"Ee.. Ngak ada.. Gak bicara dengan siapa-siapa." Kata Arsyila dengan berbohong karena ia tahu bagaimana respon Raihan jika ia berkata jujur. Belum lagi ia yakin pasti Bik Ani akan menjadi sasaran kemarahan Raihan nantiknya karena telah meminjamkan Handphonenya ke Arsyila.


"Terus.. Itu apa yang kamu sembunyikan dalam baju kamu? Kamu lagi telponan tadi kan? Jangan bohong kamu Arsyila, hp siapa yang kamu pakai? Hp kamu kan masih aku sita." Raihan menyodorkan berbagai pertanyaan ke Arsyila.


Arsyila menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap Raihan.


"Kalau kamu gak mau kasih ke aku apa yang kamu sembunyikan itu, aku gak akan segan-segan mengambil paksa." Ancam Raihan yang membuat Arsyila akhirnya mengeluarkan benda pipih tersebut.


"Maaf Bang Raihan. S-saya.. Sudah berbohong." Ucap Arsyila dengan menunjukkan hp yang ada ditangannya. Raihan langsung saja merampas hp itu dari tangan Arsyila.


"Punya siapa ini?" Tanya Raihan.


"Bik Ani." Jawab Arsyila.


"Sialan, Bik.. Bik Ani.." Raihan berteriak memanggil Bik Ani.


"Bang Raihan jangan marahin Bik Ani, Ini bukan.."


"Diam kamu!" Potong Raihan.


Bik Ani berlari tergopoh-gopoh menuju kamar majikannya. Dari suara teriakan Raihan yang tidak seperti biasa itu sudah bisa ia yakini bahwa majikannya itu sedang marah besar.

__ADS_1


"Iya Den, maaf.. Ada apa ya Den?" Tanya Bik Ani dengan suara yang bergetar.


"Kenapa Hpnya Bibik ada dengan Arsyila?" Tanya Raihan dengan tatapan tajam ke pembantunya itu.


Bik Ani tidak langsung menjawab, ia melihat kearah Arsyila dan Raihan secara bergantian.


"Anu.. Maaf Den, tadi.. Non Arsyila pinjam, mau nelpon katanya." Jelas Bik Ani dengan takut-takut.


"Iya, bik Ani benar bang. Saya yang pinjam ke bibik karena.."


"Diam kamu Arsyila. Kamu jangan mengeluarkan suara sebelum aku suruh!" Katanya dengan gusar.


"Bik.. Sekali lagi Bik Ani berani meminjamkan hp bibik ke dia.." Kata Raihan dengan mengarahkan jari telunjuknya ke Arsyila.


"Saya tidak akan sungkan memecat bik Ani..!" Lanjut Raihan dengan setengah mengancam.


"Iya, Den. Maaf.. Bibik gak akan meminjamkannya lagi." Janji Bik Ani seraya menundukkan kepalanya.


"Iya Den.. Iya.. Bibik ngerti. Bibik pemirsi dulu.." Pamitnya lalu pergi meninggalkan Raihan dan Arsyila.


"Dan kamu.. Packing bajunya mulai sekarang. Besok pagi-pagi kita akan berangkat." Kata Raihan. Belum sempat Arsyila mengeluarkan suara untuk bertanya, Raihan sudah berlalu dari sana dengan sebelumnya menutup pintu kamar mereka dengan kencang.


***


Saat malam tiba, Arsyila masih berada didalam kamar. Sedangkan Raihan sempat ia lihat dari jendela lelaki itu pergi mengendarai mobilnya entah kemana.


Setelah yakin Raihan tidak dirumah, Arsyila memberanikan diri untuk keluar kamar. Namun, saat ia hendak membuka pintu kamarnya, pintu itu ternyata dikunci dari luar. Arsyila menghembuskan nafas dengan kesal. Lagi-lagi ia dikurung didalam kamar.

__ADS_1


Kemudian Arsyilapun seakan teringat dengan kata terakhir Raihan tadi sebelum pergi. Ia menyuruh Arsyila untuk packing bajunya karena besok pagi mereka akan berangkat.


"Berangkat kemana? Bang Raihan mau membawa aku kemana memangnya?" Arsyila bertanya dengan dirinya sendiri, walaupun dia sendiri pun tidak tahu jawabannya.


Lelah berpikir tentang itu, Arsyila lalu berjalan menelusuri setiap tempat yang ada didalam kamar Raihan yang begitu luas itu. Pandangan ia berhenti disebuah foto yang dulunya pernah tidak sengaja ia buat jatuh.


Arsyila menyentuh foto yang terlihat kusam itu dengan hati-hati dan kemudian ia membalikkan nya. Saat itulah ia melihat ada secarik kertas yang terselip didalam bingkai bagian belakangnya. Arsyila lalu mengambil kertas tersebut. Perlahan-lahan Arsyila membuka lipatan kertas yang sudah usang itu. Dan.. Setelah kertas itu terbuka sempurna, Arsyila melihat tulisan tangan yang rapi pada kertas itu.


Karena tulisannya yang mulai memudar membuat Arsyila mendekatkan kertas tersebut kematanya. Ia sangat penasaran apa isi dari kalimat panjang pada tulisan rapi itu.


[Aku janji.. Setelah aku dewasa nanti aku akan membalaskan dendam ibu terhadap orang itu. Rasa sakit yang ibu tanggung sampai meninggal, akan aku balas kan ke dia sampai ke anak-anaknya juga. Dengan begitu, kepergian ibu tidak akan sia-sia. Aku janji. Raihan]


Arsyila membaca pelan kalimat tersebut dengan hati yang bergetar hebat. Arsyila yakin ini adalah tulisan tangan Raihan ketika lelaki itu masih remaja.


Arsyila kembali mencerna kalimat tersebut dengan seksama. Lalu ia mengkaitkan dengan kata dendam yang pernah beberapa kali sempat Raihan lontarkan ke dirinya. Apakah orang itu yang tertulis dalam kertas tersebut adalah ditujukan untuk keluarganya? Tidak salah lagi. Arsyila menyakini bahwa ada kemungkinan keluarga dialah yang dimaksud dalam tulisan itu.


Tapi, Arsyila berdelik seakan tidak percaya. Apakah yang telah diperbuat keluarganya dulunya, terutama Ayahnya sehingga membuat Raihan begitu dendam dan sakit hati. Dulu.. Awal-awal menikah Arsyila pernah mendengar dari mulut Raihan saat lelaki itu tengah mabuk, ia mengatakan bahwa Ayahnya adalah seorang pembunuh. Karena itu ia memperlakukan Arsyila dengan buruk.


Namun, saat itu Arsyila tidak terlalu mempersoalkannya karena ia tahu Raihan yang mabuk sehingga membuat ucapannya ngelantur tak tentu arah.


Arsyila yakin ayahnya tidak seperti yang Raihan tuduhkan. Pasti ada sesuatu yang membuat Raihan sudah salah menduga terhadap keluarganya. Ya.. Arsyila yakin, ia tahu betul bagaimana Ayahnya. Tidak mungkin Ayahnya melakukan hal yang buruk terhadap orang lain. Ayahnya laki-laki yang tau Agama dan taat dalam beribadah. Jadi mustahil dia tega berbuat sesuatu hal menyakiti orang lain sampai-sampai orang tersebut menyimpan dendam begitu besar kepadanya.


Hati dan pikiran Arsyila masih bergelut hebat mengenai ini semua. Namun, Arsyila tidak puas sampai disitu saja, kemudian dia mencoba mencari lagi mana tahu ada sesuatu yang bisa memperjelas ini semua.


Arsyila membuka laci meja kerjanya Raihan secara bergantian, Arsyila yakin pasti banyak petunjuk yang bisa ia jumpai di kamarnya Raihan saat ini. Meskipun sebenarnya hati Arsyila diselimuti rasa takut jika ketahuan Raihan apa yang ia perbuat saat ini tapi rasa penasaran dirinya mengalahkan rasa takutnya itu sehingga membuat ia terus mencari disetiap tempat yang ada didalam kamar luas milik Raihan.


Sampai akhirnya.. Sebuah buku tebal bersampul coklat dengan judul Buku Catatan Raihan ia temui didalam laci bagian bawah meja Raihan.

__ADS_1


Arsyila lalu mengambil buku tebal itu. Dan kini buku tersebut sudah ada didalam dekapannya. Dengan ragu-ragu Arsyila mencoba membuka lembaran pertama dari buku tersebut. Dan.. Bersamaan dengan itu pula, suara seseorang membuka kunci pintu terdengar dari luar. Arsyila langsung terperanjat kaget dengan jantung yang berdebar kencang tak beraturan. Ia yakin itu Raihan yang datang...


Bersambung..


__ADS_2