Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
TAHU AKAN SESUATU


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Keadaan Arsyila semakin hari semakin membaik dan Arsyila pun sudah bisa melakukan aktifitas yang ringan - ringan. Namun, untuk kembali lagi mengajar ditempatnya dulu belum bisa Arsyila lakukan. Meskipun kepala yayasan tersebut sudah menyuruh Arsyila untuk kembali mengajar, tapi Arsyila seakan belum siap untuk bertemu dengan orang banyak selepas kejadian video yang tersebar itu. Arsyila butuh waktu untuk kembali menetralkan jiwanya yang masih rapuh.


Pagi itu Maida datang mengunjungi Arsyila, Maida yang terkadang sibuk juga dengan pekerjaannya tapi masih bisa menyempatkan diri untuk berkunjung kerumah Arsyila.


"Ya Allah, Mai. Kamu bawa ini semua untuk aku?" tanya Arsyila dengan kaget setelah melihat barang - barang bawaan Maida yang sudah diletakkannya di meja makan Arsyila.


"Iya, Arsyila. Ini gak seberapa kok, cuman ada buah, roti dan vitamin yang aman untuk kamu dan janin kamu." jelas Maida sembari mengeluarkan semua belanjaannya.


"MasyaAllah, Terimakasih banyak ya Mai. Dan Maaf sudah banyak merepotkan kamu," kata Arsyila.


"Sama sekali gak merepotkan kok, Arsy. Kita ini sudah lama kenal dan bersahabat sejak kecil. Jadi, kalau kamu ada butuh apapun itu jangan sungkan beritahu aku, Arsy. Kecuali kalau kamu gak anggap aku sahabat lagi," ujar Maida lalu pura - pura cemberut. Arsyila langsung merangkul sahabatnya itu.


"Iya, Maida sayang. Sebagai sahabat aku pun juga gak mau membuat kamu repot, tapi kali ini aku tetap berterimakasih banyak sama kamu yang sudah banyak membantu kebutuhan aku dan juga Ardan. Karena, seperti yang kamu tahu aku gak kerja lagi sedangkan Ardan baru beberapa hari ini masuk kerja dan tentunya ia belum memperoleh hasil apapun dari kerjanya." kata Arsyila dengan wajah sendunya itu.


"Iya.. Sama - Sama, Arsy. Hanya ini doank kok yang bisa aku perbuat. Oya, bagaimana dengan Raihan?" tanya Maida dengan suara yang pelan. Mendengar nama Raihan disebut, membuat wajah Arsyila langsung berubah.


"Maaf, Maida. Aku sedang tidak ingin membahasnya." jawab Arsyila dengan mengalihkan wajahnya keluar jendela. Maida seakan paham dan tidak lagi bertanya tentang Raihan.


Beberapa saat kemudian, Ardan keluar dari kamarnya sudah dengan berpakaian rapi. Ia akan berangkat ketempat kerjanya. Sebelum berangkat, Ardan pamit dengan Arsyila dan juga Maida.


Ardan bekerja sebagai pelayan disuatu cafe yang terkenal ramai pengunjungnya. Sesampainya disana, ia langsung saja melakukan tugasnya yaitu melayani pengunjung yang sudah mulai ramai berdatangan. Bersamaan dengan itu pula, Ada seorang pengunjung kafe yang memanggil Ardan untuk memesan makanan. Ardan yang baru saja mencatat pesanan dari orang sebelumnya, langsung saja berjalan menuju orang tersebut.


Akan tetapi, langkah kakinya langsung melambat setelah ia tahu siapa orang yang memanggilnya barusan. Begitu juga orang tersebut yang sama kagetnya dengan Ardan.


"Ardan? Kamu.. Kerja disini?" tanya wanita pengunjung kafe yang ternyata adalah Raina.


"Iya," Sahut Ardan dengan nada dingin.


"Maaf, mau pesan apa?" tanya Ardan yang tetap profesional dengan profesinya. Meskipun awalnya tadi ia agak kesal juga malah berjumpa dengan Raina disini yang ia kenali sebagai adik dari suami kakaknya.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu kerja disini?" bukannya menjawab pertanyaan Ardan, Raina malah balik menanyai tentang dirinya. Ardan seakan malas untuk menjawab pertanyaan Raina. Belum lagi banyak pasang mata yang melihatnya dengan pandangan aneh.


"Maaf, jika belum mau pesan saya ketempat lain dulu." kata Ardan lalu beranjak dari sana. Raina langsung cemberut melihat kepergian Ardan.


Ardan terlihat sibuk melayani pengunjung yang lainnya. Dan ia bersikap seolah - seolah tidak menyadari kehadiran Raina yang sejak tadi memperhatikannya. Sampai akhirnya, Ardan yang baru selesai mencatat pesanan pelanggan yang lain, tiba - tiba dikagetkan dengan tepukan halus pada bahunya.


"Bisa ikut saya sebentar." ucap seseorang yang ternyata manager kafe tersebut. Ardan mengangguk lalu mengikuti langkah kaki si manager.


"Iya, Pak. Ada apa ya pak?" tanya Ardan dengan bingung.


"Tolong kamu layani pelanggan yang disana sekarang juga!!" katanya dengan ketus seraya mengarahkan telunjuknya kearah Raina. Ardan langsung menelan Saliva. Ternyata sejak tadi Raina belum memesan makanan sama sekali.


"Baik, Pak." Jawab Ardan lalu bergegas menuju Raina.


"Silahkan, mau pesan apa?" tanya Ardan setelah sampai disamping Raina.


"Jadi begini ya kamu melayani pelanggan kamu?" sindir Raina dengan nada sinis. Ardan yang menunduk dan siap - siap akan mencatat pesanan, langsung mengangkat kepalanya.


"Cara kamu terlalu dingin, kaku dan kurang ramah." ketus Raina dengan gayanya yang sombong.


"Maaf Raina, aku gak ada waktu untuk meladeni omongan kamu. Lebih baik kamu sebutkan saja apa pesanan kamu biar segera aku catat." ucap Ardan lagi.


"Aku mau bicara serius sama kamu, Ardan." kata Raina yang malah mengalihkan pembicaraannya.


"Aku lagi kerja, gak ada waktu untuk berbicara sama kamu." jawab Ardan.


"Cih.. Sombongnya, gayanya kamu itu sok sekali." ledek Raina sambil tertawa kecil.


"Bukannya aku sombong, tapi aku emang lagi sibuk. Kamu bisa lihat sendiri kan banyak pengunjung dikafe ini." kata Ardan dengan suara yang pelan. Ia tidak mau pembicaraannya dengan Raina malah terdengar oleh Manager kafe yang sejak tadi memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Ya sudah, nantik saja kalau kamu sudah selesai kerjanya." putus Raina akhirnya.

__ADS_1


"Kamu jadi pesan?" tanya Ardan tanpa mempedulikan ucapan Raina sebelumnya.


"Jadi, tapi.. Kamu janji dulu mau menemui aku kalau sudah selesai kerja." kata Raina yang membuat kening Ardan langsung berkerut mendengar ucapannya barusan itu. Tentu saja hal ini menjadi tanda tanya besar dibenak Ardan, mengapa tiba - tiba Raina ngotot ingin berbicara dengannya. Padahal, sebelum - sebelumnya jangankan saling mengobrol, saling bertatap saja bisa dihitung jari saat mereka tak sengaja berpapasan dikampus. Dan sekarang tiba - tiba saja Raina ingin mengobrol dengannya.


"Iya, Jadi apa pesanannya?" jawab Ardan akhirnya, meskipun itu tidak sesuai dengan isi hatinya. Ardan cuman tidak mau berlama - lama disana, masih banyak pengunjung lain yang harus ia layani.


"Oke kalau begitu, aku mau pesan..." Raina lalu menyebutkan beberapa pesanannya.


Beberapa jam kemudian...


Hari sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan Ardan sudah hendak bersiap - siap akan pulang. Baru saja ia keluar dari Kafe, sebuah mobil mewah langsung berhenti didepannya. Si Pemiliki mobil merah itu langsung membuka kaca mobilnya dan seketika itu pula wajah seorang wanita cantik langsung tertangkap oleh mata Ardan.


"Raina??" lirih Ardan setelah menyadari bahwa didalam mobil itu adalah Raina.


"Gimana? Bisa kita bicara sekarang kan?" kata Raina dengan tersenyum lebar.


"Maaf, Raina. Aku buru - buru mau pulang. Kakak aku sendirian dirumah." tolak Ardan lalu berjalan menjauh dari mobil Raina. Kemudian, Raina langsung keluar dari mobil dan memanggil Ardan.


"Tunggu, Ardan. Kamu sudah janji tadi dan mengatakan iya," kata Raina setengah berteriak. Tapi, Ardan sama sekali tidak mengubrisnya. Ia tetap berajaan menuju parkiran motornya. Raina yang semakin kesal lalu kembali berteriak.


"Ardan, yang mau aku bicarakan ini penting. Tentang kakakmu dan juga abang aku, Raihan." jerit Raina. Ardan menoleh sebentar, namun setelah itu ia hanya menggeleng - gelengkan kepalanya lalu kembali membalikkan badannya.


"Aku tahu sesuatu tentang kehamilan kakak mu, Ardan." teriak Raina lagi yang kali ini membuat Ardan langsung berhenti dan kembali membalikkan badannya kearah Raina.


#


#


#


#

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2