Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
NASIHAT INDAH


__ADS_3

Keesokan harinya, karena kondisi Arsyila yang sudah mulai membaik maka Dokter membolehkan dirinya untuk pulang dan beristirahat dirumah.


Pagi - pagi sekali Maida sudah datang kerumah sakit, ia membantu Arsyila untuk bersiap-siap pulang sedangkan Ardan mengurusi semua administrasi rumah sakit.


"Arsyi, setelah ini apa yang akan kamu lakukan kepada Raihan? Kamu jadikan membuat laporan kekantor polisi?" Tanya Maida seraya mengemas-ngemas perlengkapan Arsyila.


Arsyila yang sedang sarapan langsung berhenti sejenak menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Aku, belum tahu Maida." Jawab Arsyila. Maida Langsung menatap Arsyila dengan wajah kecewa.


"Kok bisa belum tahu sih? Menurut aku, Raihan itu harus menerima ganjaran atas perbuatannya Arsy, agar dia gak semena-mena lagi dengan siapapun itu. Ya walaupun dia sudah salah paham, tapi tetap saja perbuatan dia itu gak bisa dibiarkan begitu saja. Ia harus dihukum, setidaknya untuk memberi efek jera terhadapnya." Jelas Maida.


"Iya, aku juga berpikiran seperti itu. Tapi, nantiklah aku pikirkan lagi, Maida. Aku mau fokus dengan kesehatan dan pemulihan dari trauma aku dulu." Jawab Arsyila akhirnya.


"Iya, Tapi jangan terlalu lama juga mikirnya. Entar keenakan si Raihan itu bisa bernapas lega diluar sana." Kata Maida. Arsyila hanya diam dan kembali melanjutkan sarapannya.


Selang beberapa menit kemudian, Ardan masuk kedalam ruangan tersebut dengan wajah yang cemberut.


"Ada apa Ardan? Wajah kamu kok aneh gitu?" Selidik Maida.


"Aku kesal aja kak, tadi aku mau mengurus semua administrasinya kak Arsy. Eh.. Apa coba dibilang orang bagian adiministrasi itu? Dia bilang 'Semuanya sudah dilunasi sama suami yang bersangkutan ya, atas nama Muhammad Raihandi' Gitu katanya." Kata Ardan dengan kesal.


"Oya? Dasar..!! Sok baik, sok peduli itu si Raihan. Padahal sebenarnya dia itu takut akan dipenjarakan sama Arsyi, makanya dia jadi sok peduli gitu" Umpat Maida.

__ADS_1


"Kak Arsy, jangan terpengaruh dengan dia ya kak. Dia itu orang jahat, jangan termakan omongan dia." Kata Ardan mengingatkan Arsyila. Arsyila hanya diam tanpa menanggapi.


Setelah selesai semuanya, Lalu mereka bertigapun pulang kerumah Arsyila dengan menggunakan mobil Hasby. Lelaki itu datang menjemput mereka setelah selesai mengajar di kampusnya.


Perjalanan dari rumah sakit menuju kerumah Arsyila tidak membutuhkan waktu yang lama. Disepanjang perjalanan, Arsyila hanya banyak diam. Arsyila tampak kurang semangat dan terlihat murung. Hasby yang sedang menyetir, lalu melirik sekilas wajah sendu Arsyila dari kaca bagian depan. Ia merasa Arsyila masih sangat tertekan dengan apa yang telah terjadi dalam hidupnya, yang membuat wanita itu seperti kehilangan gairah dan semangat lagi. Didalam hatinya, Hasby bertekad akan mengembalikan semangat hidup Arsyila kembali dan menghilangkan rasa tertekan juga traumanya terhadap kejadian yang menimpanya itu.


***


Sore harinya saat dirumah, Arsyila kedatangan seorang tamu yang sudah lama tidak ia jumpai. Wanita berhijab panjang dengan penampilan sederhana itu bernama Azizah. Dia adalah salah satu teman pengajian Arsyila saat ikut kajian dulunya sebelum dia menikah. Setelah menikah, dia tidak aktif lagi mengikuti kegiatan kajian tersebut.


Azizah datang kerumah Arsyila karena merasa khawatir terhadap Arsyila. Bagaimana tidak, Azizah tidak pernah lagi bisa menghubungi Arsyila semenjak temannya itu menikah. Ia merasa kehilangan dan karena itu berniat untuk mengunjungi Arsyila kerumahnya.


Arsyila kaget sekaligus senang dengan kedatangan teman akhiratnya itu. Berkumpul dengan mereka dengan visi dan misi yang sama dulunya membuat hidup Arsyila lebih bermakna. Banyak ilmu yang ia dapati setelah mendalami hal itu dan Arsyilapun semakin mempunyai pegangan hidup yang kuat dalam menjalani segala sesuatunya.


"Arsyila, Afwan ni sebelumnya. Aku lihat, wajah kamu agak pucat gitu dan badan kamu juga agak kurusan ya? Apa kamu lagi sakit?" Tanya Azizah dengan hati-hati.


Sepanjang Arsyila bercerita, Azizah tidak berhenti beristighfar berkali-kali dengan memegang bagian dadanya. Dia sangat berempati, hatinya bergetar hebat dengan mata yang berkaca-kaca seakan dia bisa merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Arsyila.


"Ya Allah, Arsyi... Sungguh mulianya kamu diberikan Allah cobaan seperti ini. Kamu wanita pilihan yang dipilih OlehNya untuk diujinya kesabaran kamu, Arsy. Kamu wanita hebat bisa menjalani ujian ini semua dengan hati yang lapang." Puji Azizah.


"Arsy, aku tau pasti tidak mudah untuk melupakan semua perbuatan keji yang sudah dilakukan oleh lelaki itu. Atau bahkan sulit untuk kamu bisa memaafkannya. Rasa sakit hati, kecewa dan merasa tidak terima itu wajar kamu rasakan, karena sebagai manusia biasa tidak dipungkiri kita bisa merasakan sakit atas perbuatannya yang tidak menyenangkan dari orang lain." Kata Azizah mengawali nasihat yang akan diberikannya kepada Asryila.


"Tapi, yang perlu kamu ketahui Arsy. Disinilah peran kamu dalam mengambil suatu keputusan. Aku hanya bisa memberikan saran agar kamu dapat berlapang dada untuk memaafkan dirinya. Karena menurut aku, jika kamu tidak memaafkan dia takutnya lama-kelamaan akan muncul rasa dendam dihati kamu terhadap dirinya. Apa bedanya kamu dengan dirinya jika memang seandainya rasa itu bersemayam didalam jiwa kamu? Maka dari itu, Arsy.. Cobalah buka hati kamu untuk mengikhlaskan apa yang sudah terjadi dengan memafkannya. Memaafkan orang yang telah melukai hatimu adalah kebaikanmu untuknya, dan meneruskan hidup tanpa mendendam kepadanya adalah kebaikanmu untuk dirimu sendiri." Jelas Azizah panjang lebar. Arsyila masih menyimak setiap untaian kalimat yang keluar dari lisan temannya itu yang tidak dipungkiri ia membenarkan juga apa yang dikatakan oleh Azizah.

__ADS_1


"Dan yang perlu kamu ingat Arsy, bahwa jangan sekali-sekali kamu mencari ilmu untuk melupakan. Tapi, cobalah ganti dengan ilmu memaafkan, karena bonus yang biasanya akan kita dapatkan adalah lupa begitu saja tanpa direncanakan." Tutur Azizah dengan suara yang lembut.


"Kemudian terkait masalah pernikahan kalian, menurut aku jika tidak ada cinta didalamnya, tidak perlu lagi dipertahankan, Arsyi. Bagaimanapun kamu sudah tahu rencana dia menikahi kamu untuk apa, berarti sudah jelas bahwa dia tidak mencintai kamu. Jadi, berpisah adalah kata yang baik untuk kalian berdua. Satu hal yang perlu kamu ingat Arsy, bahwa perceraian bukanlah hal yang buruk, justru itu adalah keputusan terbaik ketika pernikahan tidak lagi memberi kedamaian apalagi kebahagiaan." Sambung Azizah lagi.


Arsyila seakan mendapatkan pencerahan atas ucapan dari temannya itu. Arsyila dapat menarik kesimpulan dari nasihat indah tersebut bahwa dia harus berlapang dada dengan memaafkan Raihan, bearti secara otomatis juga dia tidak akan memperpanjang masalah dengan memenjarakan lelaki itu. Semoga keputusannya ini bisa diterima oleh Adik dan sahabat-sahabatnya. Arsyila tidak ingin menyimpan dendam, ia ingin hidup normal seperti dulu lagi. Tanpa ada musuh, tanpa ada rasa benci terhadap orang lain.


Tapi, untuk bertahan dalam pernikahan ini tidak akan lagi ia lakukan. Arsyila memang harus bercerai dengan Raihan. Lagi pula misi laki-laki itu untuk menikahinya sudah selesai, dan sekarang harus diakhir semuanya. Ya..Dia akan bercerai dari Raihan.


Cukup lama juga Azizah berada dirumah Arsyila, Kemudian iapun pamit pulang karena hari sudah sore. Setelah kepergian Azizah, Arsyila kembali beristirahat dikamarnya. Namun, baru saja ia membaringkan badannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu luar. Arsyila lalu bergegas menuju kepintu.


Saat ia membuka pintu, seorang lelaki sudah berdiri mematung disana. Dan matanya pun langsung menangkap seraut wajah penuh penyesalan dari seseorang tersebut..


.


.


.


.


BERSAMBUNG..


"YUK TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTARNYA,"

__ADS_1


.


.


__ADS_2