Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
TETAP TIDAK PERCAYA


__ADS_3

💓HAPPY READING💓


"Sejak tadi Papa bilang Arsyila dan Ayahnya tidak bersalah terus-terusan. Jangan bikin aku bertambah muak, Pa. Emang apa buktinya jika mereka tidak bersalah? Apa buktinya? Beri aku bukti.." Kata Raihan dengan memotong kalimat Papanya itu.


"Oke, Papa ada buktinya." Sahut Aditia dengan yakin. Lalu ia menyuruh anak buahnya yang kebetulan ikut bersama dia untuk membawa seseorang masuk kedalam.


Saat orang itu masuk kedalam, Raihan langsung tersentak dengan mata yang terbelalak kaget melihat siapa yang dibawa oleh Papanya.


Raihan melihat kearah orang yang tampak sedang menundukkan wajahnya itu. Raihan seakan mencoba mengingat wajah yang menurutnya tidak asing. Meskipun sudah terlalu lama ia terakhir kali melihatnya, namun tidak dipungkiri Raihan tetap ingat siapa lelaki itu. Karena Mama Raihan pernah menunjukkan foto lelaki itu ke Raihan, saat dia menceritakan tentang jebakan yang dilakukan oleh Dedi.


"Dia.. Kenapa dia ada bersama Papa?" Tanya Raihan Dengan heran.


"Ya, Papa sengaja membawa dia kesini sebagai saksi atas apa yang sebenarnya terjadi." Jawab Aditia.


"Dan, Kamu.. Cepat jelaskan ke anak saya bagaimana yang sebenarnya. Jelaskan sejelas jelasnya, jangan ada sedikitpun yang kau tutupi." Perintah Aditia seraya menoleh ke lelaki yang ternyata adalah orang yang bersama Mama Raihan saat dijebak dihotel dulu. Dan dia juga yang berbicara dengan Ayah Arsyila di lobby hotel dan didengar langsung oleh Mama Raihan apa yang mereka bicarakan.


Lelaki itu mengangkat kepalanya dan melihat kearah Raihan Dengan wajah yang takut. Terlihat raut penyesalan yang tergambar diwajah berkerutnya itu. Apalagi ketika melihat wajah Raihan yang melotot marah seakan siapa memangsanya. Namun demikian, ia sudah bertekad untuk menceritakan semuanya. Dosa bertahun - tahun yang ia simpan ini membuat beban didalam kehidupannya. Apalagi mengingat anak semata wayangnya yang saat ini sedang berjuang melawan penyakit kankernya. Ia merasa bahwa Allah sudah menghukumnya dengan memberikan ujian pada anaknya itu.


"Sebelumnya saya ingin mintak maaf kepada kalian semua. Saya akan membuat sebuah pengakuan dan saya yakin pengakuan saya ini akan membuat goresan luka lama dihati kalian berdua akan menganga lagi." Tuturnya dan kemudian berhenti sesaat untuk menarik nafas. Raihan menunggu lanjutan darinya dengan melipatkan kedua tangannya didada.


"Nama saya Samsul, jujur saya katakan bahwa saya ini sebenarnya sudah ikut dalam permainan licik yang direncanakan oleh Irwan. Raihan, benar kata Papa kamu bahwa yang menyuruh saya tidur disamping Mama kamu saat dia pingsan adalah Irwan, bukan Dedi. Dedi sama sekali tidak tahu menahu Mengenai hal ini. Saat itu aku dijadikan alat seolah-olah akulah selingkuhan Mama kamu. Dedi memfoto kami berdua, dan mengirimkan foto itu ke Papa kamu. Jadi, disini aku tegaskan bahwa yang telah merencanakan perbuatan keji ini adalah Irwan. Bukan Dedi.." Jelas Samsul dengan mata yang berkaca-kaca karena rasa bersalah teramat dalam telah ikut memfinah Dedi. Padahal dia dan Dedi juga berteman baik, demi dijanjikan sejumlah uang ia tega melakukan itu kepada temannya sendiri.


"Dan.. Saat Mama kamu melihat kami berbicara di lobby hotel itu sebenarnya kami membahas mengenai pekerjaan. Saya kenal baik dengan Dedy, dan saya meminta Dedi untuk bekerja sama dalam bisnis usaha saya yang baru akan dirintis saat itu. Namun, saya sengaja mengatakan sesuatu yang menjurus keperbuatan buruk itu agar Mama kamu mengira bahwa Dedilah dalang semuanya. Dan.. Itu semua atas perintah Irwan. Irwan menjanjikan saya dalam seminggu dia akan memberikan saya sejumlah uang sebagai imbalan nya. Dan, memang benar setelah ia berhasil membuat keluarga kamu Hancur dengan menjadikan Dedi sebagai kambing hitamnya, ia pun memenuhi janjinya kepada aku." Lanjut Samsul.

__ADS_1


Raihan yang masih berdiri termangu ditempatnya itu menatap Samsul dengan sorotan yang tajam, dilihat seperti itu membuat Samsul menundukkan kepalanya.


"Saya.. Saya mintak maaf sama kamu Raihan, dan saya juga menyesal dan ingin sekali meminta maaf kepada Dedi. Tapi, sayang Dedi sudah tiada. Itu yang sangat saya sesalkan saat ini. Karena itu, saya tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya gara-gara kesalahpahaman kamu, dan sekarang ini kamu malah membalas dendam Mama kamu kepada anaknya Dedi. Awalnya Saya pikir rencana ini akan berjalan mulus, tidak akan membuat Dedi menderita juga karena yang saya tahu Aditia sangat mempercayai Dedi, dan buktinya dia lebih mempercayai Dedi tidak bersalah ditimbang perkataan istrinya sendiri. Tapi, ternyata saya salah. Saya tidak menduga bahwa anak-anak Aisyah malah menyimpan dendam bertahun-tahun terhadap keluarganya Dedi." Samsul terus menyakinkan Raihan agar lelaki itu percaya dengan apa yang ia katakan.


Tapi, Raihan masih belum bergeming. Masih sulit bagi Raihan untuk mempercayai semua perkataan dari Samsul.


"Pa, Papa bayar berapa dia sampai buat pengakuan seperti ini?" Tanya Raihan ke Papanya. Aditia langsung geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan dari anaknya itu.


"Raihan, kamu masih belum percaya juga? Harus bukti apa lagi yang Papa sodorkan ke kamu agar kamu percaya." Kata Aditia dengan kesal.


"Aku tidak semudah itu percaya, Pa. Kepercayaan aku dengan Papa sudah hilang, sejak Papa meninggalkan Mama.. Disitulah aku gak percaya lagi Papa." Tekan Raihan.


"Raihan, Papa menyesal sudah menyia-nyiakan Mama kamu saat itu. Tapi, ketahui bahwa ini sebenarnya bukan yang Papa mau. Siapa yang ingin berpisah? Gak ada Raihan, Papa ingin selalu bersama - sama dengan Mama kamu, tapi.. Papa tidak suka pengkhianatan.."


"Papa sendirilah yang telah berkhianat. Seharusnya jika Papa benar-benar mencintai Mama, Papa percaya dengan perkataan Mama. Bukan malah perkataan lelaki jahanam itu.." Ucap Raihan berapi-api.


"Asal kamu tahu Raihan, sedikitpun Aditia tidak pernah menghasut Papa untuk meninggalkan Mama kamu. Malahan dia.. Yang selalu menasihati Papa untuk memaafkan Mama kamu dan memberi kesempatan untuk berubah.."


"Ya.. Ya.. Ya.. Belalah dia terus-terusan Pa, sampai dia sudah di neraka pun sekarang Papa lebih mempercayai lelaki bermuka dua itu.."


"Raihan..!! Jaga omongan kamu itu, kamu benar-benar keras kepala. Tidak mau menerima kebenaran yang sebenarnya. Buka pikiran kamu, Raihan. Buka hati kamu, kamu itu terlalu terobsesi dengan dendam yang sudah berdarah daging di benak kamu. Tanpa bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.."


"Benar, Raihan. Aku berani bersumpah jika itu bisa membuat kamu percaya. Aku bersumpah demi anak aku yang sedang sakit parah saat ini bahwa Irwan lah yang menyuruh aku menjebak Mama kamu, bukan Dedi. Dedi tidak tahu menahu tentang ini. Aku bersumpah Raihan, aku tidak akan berani bersumpah apalagi membawa nama anak aku yang lagi sakit parah. Apa kamu masih tidak percaya juga??" Kata Samsul kembali angkat bicara. Dia merasa berkewajiban untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Dia tidak mau orang lain menderita karena ulahnya. Samsul tidak mau, karena ia sadar karma itu pasti berlaku. Dan sebelum semuanya terlambat, ia akan merubah karma yang terjadi pada anaknya saat ini.

__ADS_1


"Irwan.. Irwan.. Dari tadi kalian menyebut namanya. Siapa dia? Dan dimana dia sekarang? Mengapa kalian tidak bawa dia sekalian biar buat pengakuan juga dihadapannya aku." Kata Raihan dengan tersenyum getir. Aditia dan Samsul langsung terdiam.


"Kenapa diam? Bingung kan..? Kalau memang ada yang namanya Irwan itu, bawa dia kesini. Biar langsung aku cobloskan dia kepenjara. Tapi, aku rasa dia cuman ada dikhayalan kalian berdua saja Hahahaha.." Ledek Raihan diselingi dengan tawanya.


"Anak buah Papa sudah mencari kerumahnya, tapi dia gak ada dirumahnya. Kabarnya dia sudah melarikan diri, Raihan." Jelas Aditia.


"Oh ya? Baguslah kalau begitu.. Jadi tidak adalah alasan aku harus percaya kepada kalian kan?? Aku akan percaya jika mendengar langsung dari mulut orang yang bernama Irwan itu. Karena dia penjahat yang sebenarnya versi kalian kan?"


"Papa juga sudah melapor ke polisi dan saat ini polisi lagi mencari Irwan. Jika dia sudah tertangkap, kamu bisa bertemu dengannya dan dengar langsung dari mulut dia yang sebenarnya." Kata Aditia.


"Oke, itupun jika Papa tidak membayar orang lagi agar ia mengaku menjadi Irwan.." Celetuk Raihan setelah itu memberi kode ke anak buah untuk meninggalkan tempat tersebut..


.


.


.


Bersambung...


JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTARNYA YA. SYUKRON SUDAH MEMBACA..😊😊


.

__ADS_1


__ADS_2