Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
MENGINTROGASI


__ADS_3

Hasbi lalu memunculkan dirinya dihadapan Sindy yang masih terlihat marah. Atas kemunculan Hasbi yang tiba-tiba itu membuat Sindy langsung kaget seketika.


"Ee.. Bapak, bikin kaget saja.." Ucap Sindy dengan tersenyum tipis melihat seoarang Dosen tampan dikampus tersebut yang entah sejak kapan ada disitu.


"Kamu ngapain disini?" Tanya Hasbi dengan tatapan curiga. Melihat tatapan tajam dari Dosennya, membuat Sindy jadi salah tingkah.


"Ee.. Itu.. tadi.. Lagi nunggu teman," jawab Sindy dengan gelagapan.


"Oya? Mana temannya..?" Tanya Hasbi dengan melihat kesekeliling mereka


"Hhmm.. Gak jadi kesini katanya pak, Permisi dulu ya pak," pamit Sindy ke Dosennya tersebut.


"Tunggu dulu!" Hasbi memanggil Sindy yang akan beranjak dari sana. Sindy langsung berhenti dan menoleh kebelakang.


"Saya sudah dengar semua pembicaraan kamu dengan teman laki-laki mu tadi," Kata Hasbi dengan tatapannya tidak lepas dari Sindy.


Mata Sindy terbelalak kaget mendengar ucapan si Dosen.


"M-maksud Bapak apa??" Tanya Sindy. Jantungnya mulai berdebar tak karuan menunggu lanjutan dari ucapan si Dosen.


"Dan.. Semua yang kalian bicarakan tadi, sudah saya rekam dalam handphone saya ini.." Hasbi melanjutkan perkataannya seraya menunjukkan handphonenya kearah Sindy.


Sindy menelan saliva dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


"Pak, s-saya.. Mohon Bapak jangan ngelaporkan saya ke Rektor kampus, nantik saya bisa dikeluarkan dari kampus.." Kata Sindy setengah memohon.


"Emangnya siapa yang mau ngelaporin? Kurang kerjaan saja!" Ujar Hasbi dengan menyunggingkan senyum sinisnya.


"Jadi, untuk apa Bapak menguping pembicaraan saya lalu merekamnya?" Tanya Sindi heran.


"Saya mau mengajak kamu untuk kerja sama." Kata Hasbi.


"Kerja sama? Kerja sama apa ya Pak?" Sindy semakin bingung dengan perkataan Dosennya itu.

__ADS_1


"Aku mau kamu mencari informasi tentang keberadaan Arsyila.." Kata Hasbi langsung ke intinya.


"Ha..?? Arsyila, Siapa ya Pak?" Sindy kembali bertanya dengan kerutan dikeningnya.


"Istri dari cowok kamu yang kaya raya Itu," Jawab Hasbi.


Kali ini Sindy dibuat melongo oleh perkataan Hasbi yang tidak terduga. Ia tampak menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dalam hati ia pun bertanya-tanya.. Apa hubungan si Dosen ini dengan istrinya pacarnya itu?


"Bapak kok kenal dengan cewek itu?" Tanya Sindy dengan suara yang pelan.


"Arsyila sahabat aku sejak kecil. Dan.. Suaminya Raihan itu telah membawa Arsyila pergi jauh tanpa kabar. Jadi, aku mau kamu cari tahu keberadan mereka dimana. Kamu telpon Raihan sekarang!" Perintah Hasbi dengan geram.


"Bapak ini aneh ya, mereka kan suami istri jadi wajarlah kalo Raihan mengajak istrinya pergi. Apa urusan Bapak ingin tahu dimana mereka??" Ucap Sindy.


"Mereka suami istri cuman diatas kertas saja, tapi Kenyataannya tidak, Raihan brengsek itu tidak pernah memperlakukan Arsyila sebagai istrinya. Malahan ia selalu menyakiti Arsyila. Dan sekarang.. Ia malah membawa Arsyila pergi entah kemana. Saya curiga dia berbuat sesuatu yang akan membahayakan Arsyila." Jelas Hasbi.


"Bapak jangan berprasangka buruk dulu. Raihan tidak sejahat itu.." Kata Sindy membela pacarnya.


"Kamu jangan sok-sok bela cowok brengsek itu ya? Sudah.. Sekarang kamu telpon dia dan tanya dia dimana.." Suruh Hasbi dengan sedikit membentak.


"Oke.. Kalau gitu saya sebar rekaman suara kalian ini kesemua orang termasuk juga ke Raihan. Biar kamu langsung ditinggalin, mau?" Ancam Hasbi akhirnya.


"Bapak ngancam saya?" Tanya Sindy dengan ekspresi tidak senang.


"Ya bisa dibilang begitu. Kalau kamu tidak mau di ajak kerja sama terpaksa saya beritahu ke orang-orang bagaimana kelakuan kamu sebenarnya.." Ucap Hasbi dengan tersenyum penuh kemenangan.


Sindy melotot. Dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan dosennya itu.


***


Terdengar deringan dari handphone Raihan. Raihan yang baru selesai mandi langsung saja meraih handphonenya. Lalu sebuah senyuman tergambar diwajahnya setelah ia tahu siapa yang menelponnya.


"Halo, Sayang.." Sapa Raihan dengan mesra kepada si penelpon.

__ADS_1


"Hai, kamu apa kabar?" Tanya si penelpon yang bukan lain adalah Sindi.


"Aku? Kabar aku baik. Kamu sendiri bagaimana? Tumben nelpon pagi-pagi gini, apa kamu gak kuliah?" Tanya Raihan dengan lembut.


"Gak Sayang, kebetulan lagi gak ada jam kuliah. **Aku.. lagi suntuk aja, kita.. Ketemuan yuk, kan suda***h lama juga kita gak jalan bareng*.." Ajak Sindi.


"Hhmm.. Aku mau sebenarnya, karena aku udah rindu berat sama kamu. Tapi, masalahnya aku lagi ada kerjaan di luar kota. Ini baru saja sampai di Hotel" Jawab Raihan dengan merasa tidak enak karena telah menolak ajakan dari Sindy.


"Luar kota? Kalau boleh tau luar kotanya dimana ya dan kamu pergi sama siapa sayang?" Tanya Sindi bertubi-tubi.


Raihan yang lagi sambilan memasang bajunya merasa heran dengan pertanyaan Sindi barusan. Dari nada bicaranya Sindi, ia menangkap bahwa wanita itu seperti sedang mengintrogasinya. Padahal sebelum-sebelumnya Sindi selalu cuek jika berhubungan dengan masalah kerjaan Raihan. Ia tidak pernah ambil pusing Raihan mau berangkat kekota mana dan sama siapa.


"Kenapa memangnya?" Raihan bertanya dengan curiga.


"Ngak.. Ngak kenapa-napa. Aku cuman ingin tahu aja saat ini kamu lagi.. diluar kotanya.. Dimana gitu.. Di kota mana maksudnya, aku pengen tau aja." Ucap Sindi dengan kalimat yang terputus-putus sehingga membuat Raihan semakin curiga.


"Oh Ya? Kenapa baru kali ini kamu jadi peduli dan seingin tahu gitu aku di kota mana.." Ucap Raihan dengan nada dingin.


"Ee.. Gak sayang, memang salah ya jika aku ingin tahu kamu sekarang ini lagi dimana? Lagi pula, kenapa sech kamu gak langsung bilang aja kamu dimana supaya aku gak tanya-tanya lagi." Kata Sindi terdengar agak kesal.


Raihan tertawa kecil setelah mendengar ucapan setengah kesal dari kekasihnya itu.


"Kamu aneh sayang, sikap kamu pagi ini membuat aku sedikit curiga. Biasanya kamu cuman butuh uang aku aja kan? Gak penting bagi kamu aku mau pergi kemana dan berapa lama" Sindir Raihan dengan tertawa terkekeh.


"Kamu kok gitu sih ngomongnya.."


"Ngak, Sorry.. Sorry.. Ya sudah ya, aku mau turun dulu kebawah. Aku sudah ditungguin rekan kerja aku. Miss u sayang ku.." Kata Raihan mengakhiri panggilannya dengan Sindi.


"T-tapi, tunggu dulu.."


Tanpa menunggu jawaban dari Sindi, Raihan langsung saja mematikan panggilan tersebut.


Setelah itu, Raihan bersiap-siap dengan memakai jas kerjanya dan setelah memastikan dirinya rapi didepan kaca lalu ia berjalan kearah tempat tidurnya.

__ADS_1


Sesaat kemudian pandangannya terpaku pada sosok seorang wanita yang tengah berbaring disana. Wanita tersebut tampak sedang tertidur dengan pulasnya. Raihan lalu mendekatinya wanita berwajah putih itu dan detik kemudian tangannya menyentuh lembut wajahnya. Sentuhan dari tangan Raihan lalu bergeser ke bagian bahu, tangan hingga kebawah. Namun, sedikitpun wanita tersebut tidak terbangun dan tidak merasa akan sentuhan yang diberikan oleh suaminya itu...


Bersambung..


__ADS_2