
Beberapa saat kemudian, Lift tersebut berhenti dilantai 5, ada beberapa orang yang masuk kedalam. Dan kemudian lift kembali tertutup dan turun hingga kelantai paling bawah.
Sesampainya dilantai bawah, Lift langsung terbuka lebar, satu persatu orang keluar. Sesaat kemudian Arsyila tertegun, matanya menangkap sesosok wajah yang sangat ia kenali ada didepan lift hendak masuk kedalamnya. Kaki Arsyila seakan berat untuk melangkah menuju keluar Lift sedangkan lelaki yang ada dihadapannya saat ini semakin dekat hendak masuk kedalam diikuti juga beberapa orang yang terlihat menuju ke lift tersebut. Arsyila hanya bisa berdoa didalam hati, Semoga Raihan tidak melihat dirinya.
Beruntung Arsyila berada dibelakang orang yang berbadan besar, maka dari itu dia bisa lebih leluasa menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat oleh Raihan, sedangkan Raihan terlihat fokus pada handphone yang ada ditangannya sehingga tidak memperhatikan orang-orang disekitar. Sampai akhirnya, Arsyila keluar juga dari dalam lift dan kemudian langsung bergegas berlari kecil menuju pintu keluar.
Sesampainya diluar, Arsyila langsung menyetop sebuah taksi. Arsyila masuk kedalam taksi tanpa memandang kebelakang lagi.
"Ke bandara ya pak" Kata Arsyila setelah masuk dan duduk didalam taksi. Sebelumnya supir taksi sudah meletakkan koper kecil milik Arsyila kedalam bagasi taksi.
Arsyila menghembus nafas dengan lega, hampir saja Raihan melihatnya. Arsyila tidak berhenti bersyukur di dalam hati. Akhirnya dia bisa lepas dari jerat Raihan. Setelah ini, Arsyila bertekad akan benar-benar pergi jauh dari Raihan.
***
Ardan menggeliatkan badannya. Ia baru saja terbangun dari tidur siangnya karena sudah beberapa malam ini ia tidak bisa tidur sehingga tadi ia merasa ngantuk yang tidak tertahankan lagi yang membuat Ardan akhirnya tertidur dengan lelap.
__ADS_1
Beberapa hari ini Ardan tidak berhenti untuk memikirkan kakaknya yang sampai detik ini belum ada kabar dimana keberadaannya.
Kedatangan Ardan dan Hasbi hari itu kerumahnya Raihan belum menemukan titik terang yang jelas sama sekali. Meskipun Papanya Raihan sudah turun tangan menanyai langsung ke Raihan akan tetapi lelaki yang selalu bersikap semena-mena terhadap kakaknya itu, tidak juga memberi jawaban dimana ia membawa Arsyila pergi. Begitupun dengan Umi Lika juga Raina yang masih bungkam. Malahan mereka mengatakan bahwa sebenarnya mereka tidak tahu kemana Raihan pergi.
"Sebenarnya aku gak tau bang Raihan kemana. Aku cuman berpura-pura tahu aja untuk memperkeruh suasana.." Kata Raina saat itu yang membuat Papanya langsung melotot marah. Raina sama sekali tidak mempedulikan raut kemarahan yang sudah tergambar dari wajah sang Ayah.
"Sama Mas, saya juga gak tahu. Saya cuman menebak aja mana tahu mereka pergi bulan madu. Lagi pula Raihan gak ada bilang apa-apa sama saya, Mas" Umi Lika juga mengatakan hal sama yang membuat Papa Raihan semakin geram.
Ardan merasa heran dengan sikap 2 orang wanita itu. Awalnya mereka berusaha menyembunyikan keberadaan Raihan dan Arsyila, tapi ujung-ujungya mereka bilang sama sekali tidak tahu. Dan, Ardan juga curiga dengan pembawaan Umi lika yang terlihat aneh. Ibu tirinya Raihan itu, beberapa kali tertangkap mata Ardan terlihat panik dengan pandangan mata yang terkadang kosong. Ia lebih banyak diam, yang kadang ditanya Papanya Raihanpun jawabannya tidak nyambung dengan suara bergetar dan sikap yang gelagapan. Ardan merasa Umi Lika seperti tertekan karena menyimpan sesuatu yang entah apa itu, yang jelas sikap dia yang mencurigai itu membuat Ardan mempunyai keyakinan bahwa dia pasti menyembunyikan sesuatu. Entah ada hubungan dengan Arsyila ataupun tidak, Ardan juga tidak tahu.
"Kalian berdua bagaimana sih? Raihan pergi kemana kok gak tau, Kamu juga Lika.. Seharusnya kamu lebih peka dengan Raihan. Kamu bukan setahun dua tahun menjadi ibunya Raihan. Tapi, kamu saya perhatikan belum bisa juga mengambil hatinya Raihan. Buktinya dia tidak mau terbuka sama kamu. Dia mau kemana atau mau ngapain, Dia gak pernah cerita sama kamu kan??" Kata Papa Raihan saat itu dengan menceramahi Umi Lika. Diceramahin seperti itu, Umi Lika hanya diam dengan menundukkan wajahnya dan tangannya sekali-sekali tampak sedang menarik ujung gamisnya.
Walaupun demikian, Aditia sempat berjanji ke Ardan dan Hasbi ia akan segera mencari tahu kemana Raihan pergi membawa Arsyila. Ia telah memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu keberadaan Raihan. Maka dari itulah baik Hasbi maupun Ardan bisa pulang dengan sedikit harapan bahwa keberadaan Arsyila akan segera diketahui dari pertolongan Papanya Raihan melalui anak buahnya.
Ardan menguap. Rasa kantuk kembali menguasai dirinya, namun dia tidak mungkin melanjutkan tidurnya. Ardan lalu berdiri hendak kekamar mandi untuk mencuci mukanya, sesaat kemudian langkah kakinya terhenti ketika melihat cahaya dari layar handphone Ardan yang terletak diatas dimeja. Karena penasaran Asran langsung saja menuju kesana dan mengambil handphonenya.
__ADS_1
Ardan melihat ada beberapa notifikasi panggilan tidak terjawab disana dari nomor yang tidak dikenal. Ardan mengerutkan keningnya tanda bingung dan juga penasaran. Siapakah gerangan yang sudah menelponnya berkali-kali? Jika cuma sekali panggilan ia tidak sepenasaran ini, tapi kenyataannya orang tersebut menelponnya lebih dari tiga kali. Ardan menyimpulkan pasti ada sesuatu yang penting hingga ia menelpon Asran berkali-kali. Lalu Ardan memutuskan untuk menghubungi balik nomor yang tidak dikenalnya itu.
Beberapa saat kemudian, seseorang mengangkat telpon dari Asran. Suara seorang lelaki yang terdengar berat.
"Assalamualaikum, Maaf.. Ini dengan siapa ya?? Tadi anda menelpon saya berkali-kali kan? Ada apa ya??" Tanya Ardan.
Namun lelaki itu tidak langsung menjawab pertanyaan Ardan, malahan Ardan mendengar lelaki itu merintih pelan seperti sedang menahan sakit. Ardan semakin penasaran, apalagi saat si lelaki menyebut nama seseorang yang sangat ia kenal..
"Arsyila.. Arsyila.. " Ucap lelaki tersebut dengan nafas tersengal-sengal.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...