
Pukulan bertubi - tubi melayang kearah Randi. Sedikitpun Randi tidak diberi kesempatan untuk menghindar dari serangan mendadak oleh seseorang yang ia kenal.
"Bang Raihan, sudah.. Hentikan bang..!!"Jerit Arsyila yang berusaha mencegah Raihan untuk melakukan pukulan yang selanjutnya.
"Biar saja Arsyila, laki - laki ini memang pantas menerimanya." ucap Raihan dengan rasa geram yang tak tertahankan lagi.
Randi yang sudar terkapar dilantai dengan wajah yang bonyok hanya bisa melihat Raihan dengan pandangan pasrah. Randi ingin membalasnya, namun ia seakan tidak mampu untuk melawan kebringasan Raihan terhadap dirinya itu.
"Sudahlah, hentikan!!" perintah Arsyila dengan suara yang kuat.
"Percuma kamu menghajar dia habis - habisan, Percuma!! Karena ini semua Gak akan bisa merubah apapun." kata Arsyila dengan nafas naik turun.
"Dan.. Kamu.. Pergi dari sini sekarang juga." usir Arsyila kepada Randi dengan pandangan mata yang tajam.
Randi lalu menyunggingkan senyum getirnya kearah Arsyila, Raihan yang geram melihat tingkahnya itu lantas menarik bajunya dengan kasar.
"Santai, Raihan. Betul kata istrimu yang cantik ini, mau kau pukul pun aku sampai aku mampus, tetap tidak akan mengubah apapun, hahahha.." ucapnya lalu tertawa terbahak - bahak.
"Brengsek," desis Raihan dengan menggempalkan kedua tangannya.
"Pergi kau dari sini sekarang juga!! Berani sekali kau menyentuh, Arsyila. Tidak akan kubiarkan kau menyentuhnya lagi." kata Raihan lalu menarik tubuh Randi keluar dari rumahnya.
Randi tidak berkutik tubuhnya didorong keluar oleh Raihan, hingga akhirnya ia pun sudah berada diluar rumah.
"Arsyila tidak akan mau lagi kembali kepada kau Raihan, Kau rasakan atas perbuatan kau itu. Hahahaha..." ujar Randi sebelum akhirnya ia pergi dari sana.
Raihan melihat kepergian Randi dengan tatapan marah. Emosinya masih meledak - ledak, tapi berusaha ditahannya demi Arsyila. Ia tidak ingin melihat wanita yang dicintainya itu semakin tertekan karena melihat emosinya ini.
"Lebih baik anda pergi dari sini sekarang juga!!" perintah Arsyila yang sudah berdiri dibelakang Raihan dan dengan memegang ujung pintu. Ia hendak menutup pintu tersebut, namun Raihan malah menahannya.
__ADS_1
"Arsyila, bisa kita bicara sebentar?" tanya Raihan dengan nada memohon.
"Tidak Bisa." jawab Arsyila dengan cepat dan tegas.
"Aku mohon, Arsyila." kata Raihan lagi dengan wajah yang sayu.
"Gak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Semuanya sudah Jelas, kita akan bercerai. Jadi, tolong hargai keputusan aku dan pergi dari sini. Jangan pernah lagi kembali kesini." kata Arsyila dengan suara yang lantang.
"Aku gak mau kita bercerai, Arsyila." kata Raihan dengan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Aku sudah menepati janji aku sama kamu, Arsyila. Aku sudah menjelaskan ke semua orang - orang perihal video itu. Dan saat ini, tidak akan ada lagi orang yang berpikiran buruk tentang kamu. Nama kamu sudah bersih, aku bisa pastikan itu." kata Raihan dengan yakin. Mendengar perkataan Raihan tersebut, membuat Arsyila langsung tersenyum tipis.
"Jadi kamu pikir setelah kamu bersihkan nama aku, kemudian lantas aku harus kembali lagi ke kamu? Gitu? Gak semudah itu, Raihan." ketus Arsyila dengan kesal.
"Jadi, apa yang harus aku perbuat agar kamu bisa memaafkan aku dan kembali lagi ke aku, Arsyila??" tanya Raihan dengan suara yang memelas.
"Kamu gak perlu melakukan apa - apa, Raihan. Karena percuma, Hati aku sudah benar - benar tertutup untuk kamu. Tidak akan pernah lagi bisa terbuka untuk menerima kamu." sahut Arsyila dengan suara yang tegas.
"Kamu gak pantas menerima cinta dari aku lagi, Raihan." Arsyila langsung menjawabnya.
"Jangan bicara seperti itu, Arsyila. Aku gak mau kehilangan kamu, aku sangat mencintai kamu." ujar Raihan dengan sungguh - sungguh.
"Jangan lagi kamu ucapkan kata - kata cinta itu. Kalau benar cinta, gak mungkin kamu bisa membiarkan orang yang kamu cintai disentuh dengan lelaki lain." kata Arsyila dengan suara yang tertahan. Jika mengingat itu semua, membuat dadanya kembali sesak. Hal itu sungguh menyakitkan baginya.
"Aku gak pernah menyuruh Randi untuk menyentuh kamu, Arsyila. Sama sekali tidak ada niat aku untuk itu. Tapi, aku sudah dikhianati oleh teman aku sendiri. Randi brengsek itu sudah mencuri kesempatan saat itu. Akupun tidak menyangka dia berani berbuat demikian, Arsyila. Tapi, aku sungguh mintak maaf atas kejadian ini semua. Aku.. Aku tidak.." Raihan seakan tidak mampu lagi untuk meneruskan ucapannya.
"Sudah terlambat, Raihan. Semuanya sudah terjadi dan yang mirisnya.. Aku hamil, hamil anaknya Randi. Kamu tau itu kan??" ucap Arsyila dengan nada sinis.
"Sudah berapa minggu kehamilan kamu, Arsyila?" tanya Raihan tiba - tiba.
__ADS_1
"Kenapa emangnya?" Arsyila bertanya dengan curiga.
"Arsyila, maaf.. Jika kamu tidak menginginkan kehamilan kamu itu. Aku.. Aku akan bantu kamu untuk mencari cara.." Raihan menggantungkan kalimatnya sejenak, ia seakan ragu untuk melanjutkannya lagi.
"Mencari cara untuk apa, Raihan? Untuk menggugurkannya maksud kamu, benar begitu?" potong Arsyila dengan curiga.
"Memang benar - benar gak punya hati kamu, Raihan." lanjut Arsyila dengan rasa marah yang tidak terbendungkan lagi.
"Bukan begitu maksud aku, Arsyila. Aku cuman ingin menolong kamu, aku ingin rumah tangga kita tetap utuh. Kamu jangan salah paham dulu dengan aku, Arsyila. Makanya aku tanya sudah berapa usia kandungan kamu. Karena yang aku tahu jika belum genap 4 minggu, ditambah lagi ada indikasi yang kemungkinan untuk digugurkan. Kenapa tidak kita lakukan itu, Arsyila?" kata Raihan dengan hati - hati.
"Raihan, aku semakin bertambah yakin untuk berpisah dari kamu. Setelah apa yang kamu bilang barusan ini, sudah cukup bagi aku untuk membuang jauh kamu dari kehidupan aku." kata Arsyila dengan berapi - api.
"Arsyila, jangan salah paham dulu. Maksud aku baik, Arsyila." kata Raihan yang masih membela dirinya. Tapi, Arsyila sama sekali tidak mau mendengar ucapan Raihan. Ia langsung saja menutup pintu rumahnya dengan keras lalu mengunci pintu tersebut. Raihan mengedor - gedor pintu seraya berteriak memanggil nama Arsyila, namun sedikitpun Arsyila tidak peduli. Ia biarkan saja Raihan tetal disana, Arsyila langsung saja melangkah kakinya kearah kamar.
Sedangkan diluar, Raihan seakan menyesali perkataannya barusan itu. Dia malah semakin memperkeruh suasana. Karena awalnya Raihan berpikiran bahwa Arsyila pasti tidak menginginkan kehamilannya. Oleh karena itulah, Raihan berinisiatif untuk membantu Arsyila menggugurkan kandungan nya. Akan tetapi, ia salah. Arsyila malah semakin marah besar terhadapnya. Tampak sekali dari raut wajah Arsyila bahwa wanita itu mulai menikmati kehamilannya dan juga menyayangi bayi yang ada didalam kandungannya tersebut. Meskipun bayi tak berdosa itu berasal dari sebuah jebakan yang dilakukan oleh suaminya sendiri, tetap tidak akan mengubah tekadnya untuk tetap mempertahankan kehamilannya tersebut...
#
#
#
#
BERSAMBUNG...
"MOHON MAAF KARENA UPDETNYA TIDAK TEPAT WAKTU. MOHON LIKE DAN KOMENTARNYA YA"
.
__ADS_1
.