
Hasbi keluar dari ruangan Raihan masih dengan ekspresi wajah yang marah. Ia berjalan menuju pintu lift dan kemudian menunggu pintu lift tersebut terbuka. Setelah pintu itu terbuka, Hasbi terperanjat kaget saat melihat seseorang yang ada didalamnya. Sama halnya dengan wanita yang ada didalam lift tersebut. Ia juga kaget melihat Hasby.
Kemudian wanita itu keluar dari dalam sana dengan menundukkan wajahnya, seakan tidak mau menatap lelaki dihadapannya ini yang padahal adalah dosennya sendiri. Sebenarnya Sindy ingin marah dengan lelaki itu yang sudah membongkar rahasianya kepada Raihan. Sindy yakin pasti Hasby yang sudah menyebar video saat ia berbicara dengan Adrian waktu itu.
"Tunggu sebentar, Sindy!" Hasby memanggil Sindy yang sudah siap-siap pergi menghindar darinya. Mendengar namanya dipanggil, membuat Sindy langsung berhenti dan menoleh kembali kebelakang.
"Ya pak?" Ucap Sindy dengan wajah penuh tanda tanya. Dalam hati ia penasaran juga mengapa dosennya itu ada dikantornya Raihan.
"Kamu mau ketemu Raihan kan?" Tebak Hasby seraya berjalan mendekati wanita itu.
"Iya.." Sahut Sindy dengan suara yang pelan.
"Mau ngapain kamu ketemu dia? Oh, aku lupa.. Bukannya kamu pacaran dengan si Raihan itu, benar kan?" Tanya Hasbi dengan pandangan sinis.
"Iya, aku memang mau ketemu Raihan. Tapi, aku bukan lagi pacarnya Raihan, Pak. Dia sudah putusin aku." Jawab Sindy dengan wajah sedih.
"Kenapa dia putusin kamu?" Tanya Hasbi lagi dengan penuh selidik.
"Bapak jangan pura-pura gak tahu, padahal Bapak yang menyebabkan dia putusin saya. Karena vidio rekaman saya dengan teman lelaki saya dulu itu bapak kirim ke dia kan? Jadi Raihan sudah tahu semuanya, niat saya berpacaran dengan dia itu apa" Jawab Sindy dengan kesal.
"Apa? Siapa yang menyebarkan video mu itu. Saya tidak melakukan itu." Jawab Hasbi seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau bukan bapak terus siapa? Dari mana dia dapat Video itu?" Tanya Sindy dengan geram karena si dosen malah tidak mengakuinya.
"Mana tahu saya, yang jelas bukan saya." Jawab Hasbi masih tetap bersikukuh.
"Ya sudah kalau bapak gak ngaku." Kata Sindy akhirnya lalu membalikkan badannya.
"Tunggu dulu." Teriak Hasbi kembali memanggil Sindy yang membuat wanita itu kembali menolehkan badannya.
"Kamu itu gak punya sopan santun ya! Saya belum selesai ngomong kamu sudah main pergi saja." Kata Hasbi dengan kesal.
"Mau apa lagi pak?" Tanya Sindy dengan garang.
"Aku mau kamu cari tahu kenapa si Raihan brengsek itu ingin kembali lagi dengan Arsyila. Apa yang sedang dia rencanakan. Aku gak mau terjadi sesuatu yang buruk lagi terhadap Arsyila, cukup waktu itu dia hampir mau membunuh Arsyila. Jangan sampai perbuatan tetkutuknya itu terulang lagi." Kata Hasbi dengan geram.
"Dia gak ada merencanakan apa-apa, Pak. Dia ingin mempertahankan rumah tangganya itu karena dia sudah jatuh cinta dengan Arsyila." Ucap Sindy.
Hasby langsung menyunggingkan senyumannya seolah-olah ia menganggap itu hanya lelucon saja.
"Cih, jatuh cinta.." Desis Hasbi.
__ADS_1
"Orang seperti Raihan tidak akan bisa merasakan yang namanya jatuh cinta. Hatinya sudah tertutup untuk itu. Yang ada cuman rasa dendam dan benci semata." Sambung Hasby lagi.
"Awalnya saya juga berpikiran begitu, tapi lama kelamaan dan semakin hari saya perhatikan bahwa Raihan kali ini memang benar-benar tulus untuk memperbaiki hubungan pernikahannya dengan Arsyila, Pak." Jelas Sindy dengan yakin.
"Kenapa kamu begitu yakin dia benar-benar berubah?" Tanya Hasbi masih ragu dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu.
"Saya ini sudah lama menjalani hubungan sama Raihan, Pak. Jadi, wajar saja saya tahu sedikit ataupun banyak tentang sikap dan wataknya Raihan itu." Sahut Sindy.
Hasbi diam dengan masih menatap erat wajah Sindy yang terlihat sangat yakin dengan pendapatnya sendiri.
"Tapi, saya tidak akan membiarkan begitu saja hubungan mereka berjalan dengan mulus." Lanjut Sindy lagi kali ini dengan tersenyum sinis.
"Maksud kamu apa?" Tanya Hasbi penasaran.
"Pasti bapak paham apa maksud saya. Saya belum rela dicampakkan seperti ini. Saya masih butuh dia, terutama hartanya dia. Dan tujuan saya datang kesini untuk kembali membujuk Raihan agar tetap memenuhi kebutuhan saya meskipun dia ingin kembali dengan wanita itu, terserah dia. Tapi, saya tidak akan melepaskan Raihan seutuhnya untuk Arsyila. Saya gak mau."Jelas Sindy berapi-api.
"Dasar kamu memang cewek matre!!" Umpat Hasbi setelah mendengar pengakuan dari Sindy tersebut.
"Terserah bapak mau menilai saya seperti apa. Karena bapak tidak tahu bagaimana kehidupan saya, Ada sebuah tanggung jawab besar yang harus saya tanggung. Dan cukup hanya saya saja yang tahu." Jawab Sindy merasa tidak terima melihat pandangan Hasbi yang memandang rendah kepadanya.
"Apapun alasan kamu sama saja perbuatan licik itu tidak dibolehkan." Kata Hasbi memberi peringatan. Namun, peringatan dari Hasby tersebut kembali membuat Sindy tersenyum getir.
"Bapak sok-sok menasihati saya. Padahal saya tahu jika hubungan Raihan dan Arsyila retak pasti Bapak juga mendapatkan imbas keuntungannya bukan?" Kata Sindy dengan tersenyum lebar.
Hasbi hanya diam, dia tidak berniat untuk menjawab atau pun menyanggah dugaan dari Sindy tersebut. Ia tidak menyangka saja wanita itu tahu tentang perasaannya terhadap Arsyila.
"Apa mungkin Bapak mau bekerja sama dengan saya untuk membuat hubungan mereka retak??" Tawar Sindy dengan sorot mata yang tajam.
"Kerja sama seperti apa?" Tanya Hasbi yang akhirnya mengeluarkan suaranya.
Sindy kembali melebarkan senyumannya sebelum akhirnya ia menjelaskan sebuah rencana kepada Hasby.
####
"Ardan, Kamu sudah pulang?" Tanya Arsyila kepada Ardan yang baru saja masuk kedalam rumah mereka.
"Sudah." Jawab Ardan dengan dingin.
Arsyila berdelik. Tidak biasanya Ardan bersikap dingin seperti ini sehingga membuat Arsyila yakin bahwa Ardan pasti masih marah dengan keputusan dia yang kemarin itu.
"Bagaimana ujiannya hari ini? Sukses tidak?" Tanya Arsyila dengan lembut dan penuh perhatian.
__ADS_1
"Biasa aja." Sahut Ardan kemudian lelaki itu masuk kedalam kamarnya. Ia menutup pintu kamar dengan agak kencang sehingga menimbulkan bunyi yang cukup kuat ditelinga Arsyila.
Setelah itu, Arsyila yang tadi duduk langsung berdiri dan menuju kedepan pintu kamar Ardan.
"Ardan.. Kak mau ngomong sebentar. Bisa kamu buka pintunya?" Tanya Arsyila dengen mengetuk pintu kamar adiknya itu.
"Ardan, kamu dengar kakak kan??" Lanjut Arsyila lagi dengan menaikkan nada bicaranya.
"Hhmm.. Ya, mau bicara apa kak?" Tanya Ardan yang sudah membuka pintu kamarnya.
"Boleh kak masuk?" Arsyila kembali bertanya. Ardan menganggukkan kepalanya.
Arsyila melangkah masuk kedalam kamar Ardan dan kemudian duduk samping Ardan yang sudah duduk duluan ditepi ranjangnya.
"Ardan, mau sampai kapan kamu diamkan kakak seperti ini?" Tanya Arsyila seraya menyentuh lembut bahu adiknya itu.
"Sampai kak Arsy merubah keputusan kakak untuk kembali dengan bang Raihan." Jawab Ardan dengan ketus.
"Maaf Ardan, gak ada alasan lagi untuk kakak merubah keputusan itu. Kak gak ingin dianggap plin plan nantiknya, lagi pula Kak sudah sangat yakin keputusan ini adalah yang terbaik." Jawab Arsyila masih dengan suara yang lembut.
"Mengapa kak begitu yakin?" Tanya Ardan.
"Kak sudah meminta petunjuk kepada Allah, Ardan. Dan Inshaallah, atas petunjuk yang Ia berikan itulah yang membuat keyakinan didalam hati kakak." Ujar Arsyila.
"Kak cuman ingin memberi bang Raihan satu kali kesempatan untuk memperbaiki semuanya, dan kak juga bisa lihat ketulusan dari sorot matanya itu bahwa Ia sungguh - sungguh ingin berubah. Lagi pula, kak yakin.. Sebenarnya Bang Raihan tidak lah sejahat yang ada dipikirkan kita. Yang dia lakukan dulu itu hanya kesalahpahamannya semata atas rasa dendam yang ditanamkan dalam dirinya sejak kecil. Namun, yang terpenting dia telah menyesalinya, Ardan. Kita tidak berhak memvonis dia terus - terusan dengan menganggapnya selalu jahat. Tapi, sebaliknya kita harus memberikan dia kesempatan untuk berubah dan memperbaiki dirinya menjadi lebih baik."Jelas Arsyila panjang lebar.
"Tapi, bagaimana jika bang Raihan kembali menyakiti kakak? Bagaimana kak?" Tanya Ardan dengan nada khawatir.
"Kita sama-sama berdoa ya, Ardan. Semoga itu tidak terjadi. Pikirkanlah yang baik-baik, InshaAllah yang datang ke kitapun hanyalah kebaikan." Jawab Arsyila lalu tersenyum dengan manis.
Ardan menarik nafas panjang, meskipun masih ada sedikit kerisauan dihatinya tapi melihat kakaknya begitu yakin maka akhirnya iapun menyerah juga.
"Baiklah kak, Tapi.. Ini kesempatan pertama dan terakhir. Jika dia berani macam-macam lagi dengan kakak, aku gak akan tinggal diam kak. Aku akan menghajar dia habis-habisan." Kata Ardan dengan wajah yang serius.
"Iya-iya Ardan.." Sahut Arsyila lalu merangkul adiknya itu. Ia merasa lega akhirnya telah berhasil membujuk Ardan untuk menerima keputusannya kembali dengan Raihan.
#
#
#
__ADS_1
BERSAMBUNG..