
Beberapa hari kemudian...
Saat itu Arsyila tidak memberikan jawaban yang pasti untuk Hasbi. Sebenarnya Arsyila bisa saja langsung menolak tawaran dari sahabatnya itu, tapi entah kenapa keraguan malah muncul dihatinya. Melihat ketulusan dari sorot matanya Hasbi itulah yang membuat Arsyila menjadi berpikir ulang untuk menolak secara langsung.
"Maaf Hasbi, sungguh hal ini diluar kendali aku. Sama sekali gak pernah terlintas dipikiran aku bahwa kamu akan mengutarakan hal ini. Aku benar - benar kaget. Jadi, untuk saat ini aku belum bisa memberikan jawaban apapun untuk kamu Hasbi." kata Arsyila saat itu.
"Tidak apa Arsyila, aku gak minta kamu untuk menjawab sekarang ataupun secepatnya. Kamu pikirkan saja dulu tawaran aku ini. Setidaknya dengan sudah menyampaikan niat baik ini sudah cukup membuat hati aku lega. Apapun keputusan kamu, akan aku terima." jelas Hasbi lalu ditutupi dengan senyuman ikhlasnya saat itu.
Meskipun Hasbi tidak menuntut Arsyila untuk memberikan jawaban secepatnya, tapi tetap saja hal ini malah membuat beban pikiran tersendiri bagi Arsyila.
"Kak Arsy, kenapa kak?" tanya Ardan yang melihat Arsyila yang sejak tadi hanya diam namun terlihat sedang berpikir keras.
"Hhmm.. Kak sedang berpikir aja, Ardan." jawab Arsyila dengan menghela nafas panjang. Saat itu Arsyila dan Ardan tengah sarapan dirumah, sebelum Ardan berangkat ke kampusnya.
"Kak jangan banyak pikir kak, nantik berpengaruh lagi ke kandungan kakak." kata Ardan yang menasihati kakaknya.
"Ya, kak juga gak mau banyak pikir.. cuman gak bisa Ardan. Tetap terpikirkan juga." kata Arsyila.
"Emang apa yang kak pikirkan?" tanya Ardan dengan penasaran. Dan Arsyilapun langsung saja menceritakan perihal tawaran yang disampaikan oleh Hasbi beberapa hari yang lalu itu.
"Benar bang Hasbi menawarkan diri seperti itu kak?" tanya Ardan dengan ekspresi kaget sekaligus senang. Karena Ardan tau bagaimana baiknya Hasbi selama ini terhadap mereka berdua. Dan Ardan sempat merasakan juga bahwa sejak dulu Hasbi memang memiliki perasaan lebih ke kakaknya. Cuman dia tidak menyangka jika persaan si dosen itu tetap sama meskipun tahu bahwa Arsyila tengah mengandung.
__ADS_1
"Iya, benar Ardan. Ngapain kakak bohong." jawab Arsyila.
"Jadi apa jawaban Kakak? Apa kak Arsy mau menerima tawaran tersebut?" tanya Ardan dengan hati - hati.
"Kak belum memberi jawaban apa - apa, Ardan. Karena itu semua gak pernah terlintas sekalipun dipikiran kakak kalau Hasbi bakalan berkata demikian. Kak juga sebenarnya tidak mengharapkan siapa - siapa untuk bertanggung jawab atas kehamilan kakak ini tapi, di satu sisi kak juga gak enak harus menolak Hasbi langsung tanpa memberi kesempatan untuk kakak untuk berpikir dahulu. Lagi pula, kak merasa gak pantas saja, Ardan. Gak pantas untuk lelaki sebaik Hasbi." kata Arsyila dengan wajah yang sedih.
"Kak Arsyi jangan berkata seperti itu. Ardan yakin niat bang Hasbi itu tulus dan setahu Ardan dia sejak dulu memang sudah mencintai kakak. Jadi, Ardan hanya bisa berharap kak pikirkan lagi baik - baik penawaran bang Hasbi itu. Lagi pula kakak akan bercerai dari bang Raihan kan? Apa salahnya setelah itu kakak memberi kesempatan untuk bang Hasbi. Setidaknya sampai bayi kakak lahir, akan ada sosok ayah yang baik yang mau mengakuinya. Bukan seperti Raihan dan temannya yang jahat itu." jelas Ardan panjang lebar.
Arsyila terdiam sejenak seakan sedang mencerna semua ucapan yang Ardan katakan barusan. Bagaimanapun dia harus segera memberi jawaban untuk Hasbi. Entah itu menerimanya ataupun menolaknya, karena Arsyila tidak mau menggantungkan jawaban ini terlalu lama.
"Tapi, semuanya tergantung kak Arsyila lagi. Ardan cuman menyarankan saja. Bang Hasbi orang baik kak dan Sudah lama juga kita kenal dan bertentangga dengan dia. Dan yang terpenting juga.. Bang Hasbi sudah mapan, dan bisa menghidupkan kak Arsyila dan juga bayi kakak nantinya. Maaf kak, Bukan maksud Ardan mau lepas tanggung jawab sebagai anak laki - laki. Cuman kak tahu sendiri sekarang Ardan bekerja sambil kuliah, penghasilan masih seadanya." kata Ardan lagi dengan wajah yang sedih.
"Oya, Kak. Sebenarnya Ardan gak mau cerita cuman gak enak aja kalau merahasiakannya dari kakak." kata Ardan tiba - tiba yang membuat Arsyila langsung mengerutkan keningnya tanda bingung.
"Ada apa emangnya, Ardan?" tanya Arsyila.
"Kemarin Ardan gak sengaja ketemu Raina di cafe tempat Ardan kerja. Terus dia ngotot mau ngajak bicara suatu hal yang serius sama Ardan. Katanya dia tahu sesuatu tentang kehamilan kakak." jelas Ardan.
"Raina bilang begitu? Emang dia tahu sesuatu apa maksudnya?" tanya Arsyila masih terlihat bingung.
"Entahlah kak, waktu itu Raina menyuruh Ardan untuk masuk ke mobilnya dan akan mengatakannya di dalam mobil. Tapi, Ardan gak mau. Karena merasa gak terima ajakannya itu Ardan tolak mentah - mentah, terus dianya langsung pergi aja dengan wajah yang kesal." jelas Ardan dengan menceritakan apa yang terjadi kemarin itu.
__ADS_1
"Jadi ya begitulah kak, Raina belum sempat bilang apa - apa tentang kehamilan kakak. Sebenarnya Ardan penasaran juga dia mau bilang apa, nyesal juga sih kenapa kemarin itu Ardan gak masuk aja kedalam mobilnya." sambung Ardan lagi.
"Sudahlah Ardan, jangan dipikirkan apa yang mau dikatakan Raina itu. Kak gak mau lagi berurusan dengan keluarganya Raihan. Jadi kalau kamu ketemu dan diajak ngobrol lagi dengan Raina gak usah mau. Bukan apa - apa, kak gak mau aja Raina malah semakin memperkeruh keadaan. Kamu tau kan Raina bagaimana sikapnya selama ini sama kita?" kata Arsyila dengan menatap erat adiknya itu.
"Iya, Ardan tahu dia yang selalu bersikap semena - mena ke kakak dan sama sekali tidak pernah menghargai kak Arsy sebagai kakak iparnya. Betul juga kata kakak, mana tahu saja dia ingin menjelek - jelekkan kak Arsy atas kehamilan kakak ini. Pasti itu kak.." kata Ardan dengan yakin.
"Sudahlah Ardan, gak baik juga kita bersu'udzon begitu. Karena kita emang gak tau juga dia mau mengatakan apa dan kakak pun gak mau tahu. Biar saja, yang penting saat ini kita gak punya hubungan apa - apa lagi dengan keluarganya Raihan. Sampai kapan pun tidak akan pernah ada hubungan apa - apa lagi." kata Arsyila dengan pandangan lurus kedepan.
Baik Ardan maupun Arsyila tidak lagi melanjutkan pembicaraan mereka tentang Raihan maupun Raina.
Beberapa saat kemudian, Ardan yang masih melanjutkan sarapannya tiba - tiba saja dikagetkan dengan bunyi deringan pada handphonenya. Ada sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Ardan langsung saja mengangkat telepon tersebut.
"Halo, Assalamualaikum,.." kata Ardan dengan memberi salam.
"Ardan, ini aku. Raina. Bisa kita ketemu?" kata orang yang menelpon tersebut. Ardan yang mendengar langsung saja terperanjat kaget...
💦💦💦💦
BERSAMBUNG..
.
__ADS_1