
"HAPPY READING"
2 Jam sebelumnya...
Setelah Lika menceritakan semua rahasia yang ia simpan selama ini kepada suaminya, Lika lalu bermaksud pergi kerumah orang tuanya. Untuk menemui Irwan, abangnya.
Sebelum itu, Aditia sangat marah kepada Lika. Marah besar. Bagaimana tidak, Aditia yang selama ini beranggapan Lika adalah sahabat terbaik istrinya yang mampu menjadi pengganti ibu untuk anak-anaknya malah ternyata seakan menusuknya dari belakang. Rencana jahat yang telah Lika rancang bersama abangnya untuk menghancurkan keluarganya, sama sekali tidak dapat ia maafkan. Bahkan dia mengencam Lika dan abangnya harus menerima ganjaran atas perbuatan mereka. Dengan lantang saat itu Aditia juga langsung mentalak Lika.
Lika berusaha menerima keputusan dari Aditia dengan lapang dada. Karena ia tahu, konsekuensi yang akan dia terima jika rahasianya ini terbongkar. Lika menyesali perbuatannya, sangat menyesali. Karena sebenarnya ini bukanlah keinginannya. Dia terpaksa mengikuti rencana jahat abangnya demi menyelamatkan keluarganya dari keterpurukan.
"Bodoh kau Lika. Terlalu bodoh!!!" Umpat Irwan terhadap adiknya itu. Lika hanya tertunduk lesu dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Bertahun - tahun rahasia ini kita simpan rapat-rapat. Tapi, dengan mudahnya kau malah membongkrnya. Kau cari mati namanya Lika." Kata Irwan dengan melotot marah.
"Sekarang apa ha? Siap-siap saja kita akan masuk penjara, Tapi aku tidak mau Lika. Aku Tidak mau masuk penjara." Kata Irwan dengan memegang kepalanya.
"Bang.. Sudah saatnya rahasia ini terbongkar, Aku udah gak tahan menyimpan rahasia terkutuk ini. Lagi pula.. Gara-gara ulah kita ini malah menyebabkan nyawa seorang wanita terancam. Wanita itu yang menanggung akibat dari ulah kita. Aku gak tahan, aku gak bisa membiarkan dia tersiksa. Sudah cukup aku membuat sahabat aku menderita sampai ia meninggal. Aku gak mau terus - terusan mendzolimi orang yang tidak berdosa. Aku gak mau Bang. Aku gak mau berbuat dosa lagi." Kata Lika dengan suara yang parau.
"Jadi kau mau melihat abangmu ini masuk penjara ha? Sudah cukup aku menderita dengan cacat yang aku tanggung bertahun-tahun ini Lika, dan aku tidak mau membusuk di penjara."
"Sudah tidak aman lagi aku tinggal disini, aku harus pergi jauh.." Lanjutnya. Dengan tertatih-tatih Irwan berjalan menuju kamarnya, ia langsung mengemasi bajunya dan memasukkan kedalam koper. Lika mengikuti abangnya kedalam kamar.
"Abang mau kemana?" Tanya Lika.
"Pakai tanya lagi. Yang jelas aku mau pergi jauh dari sini sebelum polisi datang. Kamu mau ikut atau tidak itu urusan kamu, Lika. Aku tidak peduli dengan nasib kau." Tutur Irwan masih terus melanjutkan mengemasi barang-barangnya.
Setelah Irwan pergi, Alika terduduk lemas di kursi. Pikirannya kini melayang pada nasib Arsyila yang malang. Kemudian dengan menghapus air matanya, Alika bertekad untuk menyelamatkan Arsyila. Sebelum semuanya terlambat, Lika tidak mau menyesal untuk yang kedua kalinya. Dia harus mencari tahu dimana Raihan menyekap Arsyila.
__ADS_1
***
Alika mencoba menghubungi nomor Raihan, namun sekalipun telepon darinya tidak pernah diangkat. Alika sadar selama ini hubungannya dengan kedua anak tirinya tidaklah dekat. Mereka seakan menjaga jarak dengan dirinya. Bahkan terkadang Alika merasa dirinya memang tidak pantas jadi sosok ibu bagi mereka berdua. Setelah 10 tahun kepergian sahabatnya itu, Alika sama sekali tidak bisa menggantikan sosok Aisyah dihati mereka berdua.
Alika kini berada dijalanan raya dengan pikiran kalut, tak tahu harus berbuat apa. Namun, tiba-tiba ia melihat sebuah mobil berhenti diseberang jalan tepatnya didepan supermaket. Sipemilik mobil turun diikuti dengan 2 orang temannya dari belakang. Ketika mereka membuka pintu belakang itulah Alika seakan kaget melihat seorang wanita terbaring lemah dengan mata terpejam. Alika menutup mulutnya yang sempat ternganga. Karena..Ia melihat Arsyila ada didalam mobil tersebut. Lika yakin dia tidak salah melihat. Itu benar-benar Arsyila. Tapi, mengapa Arsyila ada didalam mobil bersama para lelaki itu? Apa jangan-jangan... Alika tersentak saat pikiran-pikiran buruk tentang Arsyila menguasai dirinya.
Beberapa saat kemudian, tiga orang lelaki bertubuh kekar tersebut masuk kembali kedalam mobil. Melihat mereka akan pergi, Alika bergegas menyetop sebuah taksi yang kebetulan lewat didepannya.
"Ikutin mobil yang didepan itu ya pak" Perintah Alika ke supir taksi tersebut. Sisupir hanya mengangguk lalu membawa taksi tersebut menyelusuri jalanan yang terlihat agak sepi. Mobil yang membawa Arsyila itu kemudian masuk kedalam sebuah jalan kecil yang jauh dari pemukiman warga.
"Tetap ikutin mobil itu ya pak, tapi jangan terlalu dekat. Nantik ketahuan." Perintah Alika kembali kepada si Supir.
Sampai akhirnya, mobil itu berhenti disebuah rumah tua yang tidak begitu besar, rumah itu seperti tidak berpenghuni karena terlihat rumput yang tumbuh menjulang tinggi dihalaman rumah bercat putih namun sudah tampak pudar itu.
"Sudah pak, stop disini saja dulu." Kata Lika.
"Nih ya pak.." Ucap Alika menyodorkan uang ke supir taksi tersebut. Setelah itu, Alika keluar dari taksi dan berjalan pelan menuju rumah tua itu.
"Raihan.." Lirih Alika setelah melihat seorang lelaki keluar dari mobil hitam itu, yang ternyata adalah Raihan.
Raihan berjalan cepat masuk kedalam rumah. Namun sebelum itu, Raihan sempat membalikkan badannya dan Alika bisa lihat dengan jelas wajah Raihan yang tampak begitu marah. Alika bingung harus berbuat apa, Apakah ia harus masuk dan mencari tahu apa yang akan Raihan perbuat ke Arsyila? Namun disisi lain, tidak dipungkiri ia juga merasa takut jika harus berhadapan dengan Raihan. Cukup lama juga Alika berdiam diri diluar sana dengan hati yang tidak tenang sampai akhirnya dia putuskan juga untuk masuk kedalam rumah itu.
Saat Alika sampai didepan pintu, ia mendengar suara wanita merintih kesakitan. Alika yakin, Raihan pasti telah berbuat sesuatu yang menyakiti Arsyila. Dengan langkah pasti, akhirnya Alika membuka pintu tersebut. Ia hilangkan semua rasa takutnya, didalam benaknya sekarang ini hanyalah sebuah tekad untuk menolong Arsyila yang tidak bersalah itu.
"Raihan... Lepaskan Arsyila...." Teriak Alika setelah ia berada didalam. Ia melihat bagaimana Raihan dengan beringasnya mencengkeram kuat wajah Arsyila dan ia juga lihat ditangan satunya lagi ada sebuah pisau yang sudah siap hendak ditancapkkannya keleher Arsyila. Alika memandang ngeri dengan apa yang ada dihadapannya saat ini. Ia tidak menyangka Raihan bisa setega itu dengan Arsyila. Dendam itu memang membuat ia seperti tidak memiliki hati nurani lagi. Dendam yang sudah mendarah daging didalam dirinya.
Mendengar teriakan Alika yang tiba-tiba itu, membuat Raihan dan Arsyila langsung menoleh serentak kearahnya. Lalu Raihan melepaskan Arsyila dengan kasar, namun pisau masih tetap berada ditangannya.
__ADS_1
"Umi Lika?? Kenapa ada disini?" Tanya Raihan dengan wajah kaget dan juga bingung. Begitu juga dengan Arsyila, meskipun diliputi kebingungan tapi tetap ada kelegaan dihatinya. Setidaknya Arsyila merasa terselamatkan atas kedatangan Ibu tirinya Raihan.
Alika tidak menjawab pertanyaan Raihan. Ia langsung saja berjalan mendekati mereka berdua. Melihat tangan dan kaki Arsyila yang terikat, Alika berinisiatif segera membuka ikatan tersebut.
"Apa-apaan ini. Umi Lika jangan ikut campur. Pergi dari sini." Bentak Raihan. Ia lalu menarik Arsyila agar menjauh dari Lika.
"Raihan, sudah.. cukup..!!. Kamu jangan sakiti dia. Arsyila tidak bersalah. Kamu Akan menyesal nantiknya karena sudah menyiksa Arsyila seperti ini. Umi mohon, kamu lepaskan lah dia." Kata Umi Lika dengan memohon.
"Aku bilang kau.. Jangan ikut campur urusan aku! Pergi dari sini.. Pergi..!!!" Bentak Raihan ke Umi Lika. Tidak pernah Raihan berkata kasar seperti itu sebelumnya ke Umi Lika. Meskipun ia selalu bersikap dingin terhadap Lika namun sekalipun ia tidak pernah membentaknya. Amarahnya yang memuncak terhadap Arsyila tadilah yang menyebabkan dia terlihat begitu marah dan emosi.
"Raihan.. Umi bilang sama kamu sekali lagi. Arsyila tidak bersalah. Bukan Ayahnya yang menyebabkan Mama kamu meninggal. Bukan Raihan.. Demi Allah.. Umi tegaskan lagi, Arsyila tidak bersalah. Yang bersalah adalah... Umi.. Umi yang sudah menyebabkan kehancuran keluarga kamu.. Umilah yang biang dari semua ini...." Jelas Alika dengan terisak-isak.
Raihan terdiam, namun dengan mata yang masih melotot tajam. sedangkan Arsyila terlihat lemas dengan tatapan mata yang kosong.
.
.
.
.
BERSAMBUNG..
"YUK TINGGALKAN LIKE DAN KOMENNYA YA"
.
__ADS_1
.
.