Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
PENGUNGKAPAN


__ADS_3

Raihan menatap tajam kearah Umi Lika dan juga Arsyila secara bergantian, ia merasa seakan sudah dipermainkan. Demi untuk menyelamatkan Arsyila, Ayahnya dan Ibu tirinya itu malah bersandiwara dengan mengatakan bahwa bukan Ayah Arsyila lah penyebab meninggalnya ibu Raihan. Malahan Umi Lika mengakui dirinya lah yang bersalah. Raihan menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mendengar pengakuan dari ibu tirinya itu.


"Omong kosong apa ini Umi Lika? Demi menyelamatkan wanita ini, Umi malah menyodorkan diri dan mengaku sebagai penyebab dari meninggalnya Mama aku. Lucu sekali Umi Lika ini, hahahahahha... Lucu dan juga.. Bodoh.." Umpat Raihan dengan ekspresi geram.


"Tidak Raihan.. Ini bukan omong kosong semata. Tapi, inilah kenyataannya. Sudah saatnya kamu mengetahui semuanya Raihan. Mengetahui semua kebenaran yang sudah lama umi simpan dari keluarga kamu." Tutur Lika.


"Sudahlah, Umi jangan campuri urusan aku. Lebih baik Umi Lika pergi dari sini, sebelum aku bertindak kasar juga ke Umi. Jadi, silahkan pergi." Kata Raihan mengusir Umi Lika. Namun, Umi Lika sedikitpun tidak beranjak dari sana. Ia masih berada disamping Arsyila sambil merangkul wanita yang terlihat lesu tersebut. Dan kemudian, Umi Lika kembali mengeluarkan suara lagi.


"Raihan, yang menjebak Mama kamu dikamar hotel dulu itu.. Bukanlah Ayah Arsyila. Tapi, Umi...!! Umi lah yang melakukan kejahatan itu Raihan. Jadi, kalau kamu mau balas dendam, balas dendam lah pada orang yang tepat. Bukan pada Arsyila.." Kata Umi Lika dengan air mata yang berlinang.


"Umi memang salah, salah besar malahan karena bertahun-tahun telah menyimpan rahasia ini dari kamu dan juga Ayah kamu. Tapi, umi terpaksa melakukan kejahatan ini demi menolong keluarga Umi yang dililit hutang. Dengan harapan.. Setelah Mama kamu meninggal, umi bisa menikah dengan Papa kamu dan.."


"Heeii... Stop...!!" Potong Raihan dengan berteriak lantang. Raihan terlihat sangat marah kali ini, wajahnya memerah dengan mata yang melotot tajam.


"Kalian.. Bawa wanita ini keluar dari sini." Perintah Raihan kepada kedua anak buahnya yang sejak tadi berada disana. Mereka berduapun langsung menarik tangan Lika untuk keluar dari sana. Namun, Lika memberontak dan tetap melontarkan kata-kata yang aneh menurut Raihan.


"Raihan.. Raihan.. Kamu jangan sakiti Arsyila, Umi mohon.. Arsyila tidak bersalah. Yang salah itu umi.. Jadi, hukum saja Umi. Bunuh saja umi.." Kata Lika hingga akhirnya dia keluar dari sana.


Setelah Umi Lika keluar dari ruangan tersebut, Raihan kembali menghampiri Arsyila yang sedari tadi terdiam bersandar di dinding ruangan itu.


"Kamu... Apa yang kamu pikirkan ha? Apa kamu Merasa besar kepala karena banyak yang membela, Iya? Bahkan keluarga aku sendiri malah membela anak dari pembunuh seperti kamu. Itu yang membuat aku semakin muak, Arsyila. Itu yang membuat aku semakin yakin untuk membuat hidup kami hancur, hancur sehancur hancurnya.." Ucap Raihan dengan setengah membentak. Arsyila masih bungkam. Sedikitpun ia tidak berniat untuk menanggapi perkataan Raihan. Arsyila seakan pasrah dengan nasib yang akan menimpanya.


"Cih, Omong kosong apa yang wanita itu karang tadi. Semuanya tidak masuk akal. Demi menolong kamu, dia mengakui telah membunuh Mama aku yang padahal sahabat dekatnya sendiri. Dimana akal sehatnya itu? Apa istimewanya kamu sehingga dia mau membela kamu segitunya ha? Gak habis pikir aku. Dasar wanita aneh." Raihan masih mendumel tak karuan, menanggapi apa yang dikatakan oleh Umi Lika tadi.


"Hei, Arsyila.. Kenapa kau diam saja ha?" Tanya Raihan yang merasa tersinggung karena sejak tadi perkataannya tidak ditanggapi oleh Arsyila.

__ADS_1


Mendengar teguran dari Raihan, membuat Arsyila yang tertunduk lesu lalu mengangkat kepalanya dan memandang sebentar kearah Raihan. Setelah itu, ia kembali menyembunyikan wajahnya yang tampak pucat dengan menunduk.


Raihan yang masih mengamuk tiba-tiba saja menarik kuat ujung kerudung Arsyila sehingga membuat wajah Arsyila terangkat keatas.


"Sudah berapa kali aku bilang sama kamu. Kalau aku ngomong lihat aku, jangan menunduk." Tegur Raihan. Meskipun wajahnya terangkat, tapi Arsyila malah memejamkan matanya.


"BUKA MATA KAMU, ARSYILA!!!" Raihan meneriakin Arsyila dengan begitu kuat, sehingga membuat wanita itu sangat kaget dan lalu membuka matanya. Tatapan Arsyila seperti kosong, tubuhnya sangat lemas seperti tak berdaya lagi untuk digerakkan, belum lagi Arsyila merasa kepalanya seakan terhimpit sebuah benda berat sehingga membuat kepalanya sangat sakit. Sakit luar biasa. Tapi, sepertinya sedikitpun Raihan tidak menyadari tentang perubahan pada tubuh Adsyila. Buktinya, ia masih tetap saja menyakiti wanita yang sudah hampir sekarat itu.


"Ayo, bangun kamu.. Berdiri.." Raihan memaksa dan mengangkat tubuh Arsyila untuk berdiri, namun Arsyila yang sudah sangat lemah tidak mampu lagi untuk berdiri. Ia kembali jatuh dan kemudian terduduk lemas. Raihan yang kesal kembali menarik kuat tangan Arsyila agar ia berdiri. Tapi, lagi-lagi Arsyila seakan tidak mampu menopang badannya untuk berdiri hingga akhirnya iapun jatuh pingsan dihadapan Raihan.


Bersamaan dengan itu pula, tiba-tiba dari arah pintu masuk muncullah beberapa orang dengan langkah kaki yang terkesan buru-buru untuk masuk kedalam ruangan tersebut.


Anak buah Raihan sempat ingin menghadang orang-orang tersebut agar tidak masuk kedalam, namun anak buah Raihan malah dihadang balik oleh orang itu yang jumlahnya lebih banyak dari mereka berdua.


Melihat Arsyila tak sadarkan diri dan dibiarkan begitu saja dilantai, sontak membuat Hasby dan juga Ardan berlari kesana untuk menolong Arsyila. Saat melewati Raihan, Hasby yang amarahnya sudah tidak tertahan lagi ingin sekali memukul Raihan namun ditahan oleh Ardan. Ardan memberi kode bahwa menolong Arsyila lebih penting saat ini dari pada berkelahi dengan Raihan.


"Raihan, kamu memang keterlaluan. Padahal Papa sudah peringatin kamu jangan sakiti Arsyila. Istrimu itu tidak bersalah, dia tidak pantas menerima segala perbuatan jahat kau itu Raihan."


"Ya, terus lah Papa bela dia. Karena tidak Ayahnya, tidak anaknya.. sama saja... Papa akan tetap membela mereka, Papa tetap menyanjung mereka. Aku heran, kok bisa sebegitu percayanya Papa dengan lelaki jahat itu, padahal dia sudah menusuk Papa. Dia sudah menghancurkan hubungan Papa dengan Mama. Dia fitnah Mama, dia buat Papa benci dan meninggalkan Mama sampai akhirnya Mama sakit.. Atas hasutan dia, sedikitpun Papa tidak mempedulikan Mama lagi hingga Mama menghembuskan nafas terakhirpun, Papa tetap tidak peduli..." Kata Raihan dengan emosi yang semakin memuncak.


"Raihan, tidak seperti itu kejadian sebenarnya. Kita semua sudah diadu domba. Dedi cuman dijadikan kambing hitam untuk menutupi perbuatan licik Alika dan abangnya Irwan.. Mereka berdua lah dalang dari semua ini. Mereka penjahat yang sebenarnya. Bukan Aditia, bukan Arsyila. Aditia cuman korban.. Korban fitnah keji dari mereka berdua yang ingin menguasai harta Papa. Mereka.. Sengaja membuat Mama kamu sakit sampai meninggal agar setelah itu Papa menikahi Alika karena... Seperti yang kamu ketahui bagaimana Mama kamu dekat dengan Alika, ia menganggap Alika itu sudah seperti saudaranya sendiri. Bahkan.. sebelum dia meninggal, Mama kamu menyuruh Alika jadi pengganti ibu bagi kamu dan Raina. Makanya Papa menikahi dia, atas kehendak Mama kamu Raihan.." Jelas Aditia panjang lebar.


"Wow.. Kompak sekali Papa dengan Umi Lika ya. Seperti sudah dibincangkan jauh-jauh hari saja drama ini. Hahahha..." Lagi-lagi Raihan tidak mempercayai omongan Papanya.


"Ini bukan drama. Ini Fakta Raihan..!!" Tegas Aditia.

__ADS_1


"Oh ya? Jadi aku harus terima begitu saja Fakta yang aneh ini. Ya sudah, kalau memang Umi Lika bersalah, dia inginnya itu.. Masukkan saja dia kepenjara. Aku juga tidak peduli dengan dia, Tapi.. Yang jelas, dendam aku akan tetap berlaku kepada Arsyila.." Kata Raihan.


"Raihan.. Kau akan menyesal dengan semua yang kau lakukan ke Arsyila ini. Melampiaskan dendam pada orang yang sama sekali tidak bersalah..."


"Sejak tadi Papa bilang Arsyila dan Ayahnya tidak bersalah terus-terusan. Jangan bikin aku bertambah muak, Pa. Emang apa buktinya jika mereka tidak bersalah? Apa buktinya? Beri aku bukti.." Kata Raihan dengan memotong kalimat Papanya itu.


"Oke, Papa ada buktinya." Sahut Aditia dengan yakin. Lalu ia menyuruh anak buahnya yang kebetulan ikut bersama dia untuk membawa seseorang masuk kedalam.


Saat orang itu masuk kedalam, Raihan langsung tersentak dengan mata yang terbelalak kaget melihat siapa yang dibawa oleh Papanya...


.


.


.


.


BERSAMABUNG..


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YA, TERIMAKASIH...


🥰🥰


.

__ADS_1


__ADS_2