Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
TRAUMA


__ADS_3

Arsyila membuka matanya perlahan - lahan. Saat telah terbuka, matanya langsung menangkap beberapa benda berwarna putih yang ada disekelilingnya. Arsyilapun tersadar bahwa kini dia berada disebuah rumah sakit. Arsyila kemudian menoleh ke sebelah kirinya, disana ia mendapati tangannya yang sudah terpasang infus. Arsyila kembali memejamkan matanya seolah ia mencoba untuk mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya sehingga ia bisa berada di rumah sakit ini.


Namun, baru saja Arsyila akan mulai mengingat semuanya, kepalanya tiba-tiba terasa sangat sakit. Arsyila kemudian memegang kepalanya yang sakit tersebut.


"Aduuh.." Rintih Arsyila karena tidak tahan dengan rasa sakit dikepalanya. Arsyila sejak dulu memang sering sakit kepala, tapi.. Arsyila selalu menganggap itu hal biasa karena setelah minum obat sakit kepalanya akan segera hilang. Dan Asryila rasa saat ini dia sangat membutuhkan obat sakit kepala itu.


"Sus.. Suster.." Dengan suara yang pelan dan terdengar lemah, Arsyila lalu memanggil perawat yang berjaga dimalam itu. Namun, sepertinya perawat yang jaga tidak mendengar panggilan dari suara lemahnya Arsyila.


"Kak Arsy? Sudah sadar?" Tiba-tiba sebuah suara dari sebelah kanannya mengagetkan Arsyila. Ternyata ada Ardan yang tidur disamping bawah tempat tidur Arsyila.


"Ardan..? Kamu ada disini juga?" Tanya Arsyila dengan ekspresi bingung.


"Iya, kak. Ardan dan Bang Hasby yang bawa kak Arsyi kesini. Kemarin siang itu keadaan kak Arsy lemah sekali, seperti setengah sadar gitu.. Jadi, kami langsung saja membawa kak Arsy kerumah sakit." Cerita Ardan.


"Oh, ya.. Kak baru ingat, kalau tidak salah kalian datang bersama Papanya Raihan juga kan?" Tanya Arsyila. Meskipun dalam keadaan lemah, sayup-sayup saat itu ia mendengar suara Aditia yang berteriak memanggil Raihan.


"Iya, kak. Kami semua datang untuk menyelamatkan kak Arsy dari lelaki jahat itu." Jawab Ardan dengan geram.


Arsyila langsung menundukkan wajahnya, jika mengingat semua yang telah dilakukan suaminya itu membuat hatinya serasa ngilu dan mungkin saja akan meninggalkan rasa trauma yang mendalam dihidup Arsyila. Bagaimana tidak, lelaki itu sudah berupaya untuk membunuhnya. Masih jelas diingatan Arsyila bagaimana tatapan tajam dan juga sinar kebencian yang terpancar dari matanya Raihan. Begitu memilukan dan juga mengerikan jika hal itu terulang lagi didalam hidupnya.


Arsyila menyentuh pelan bagian lehernya yang yang sempat berdarah sedikit karena goresan dari pisau Yang Raihan letakkan disana. Arsyila lalu tampak meringis perih ketika menyentuh lehernya itu.


"Kak.." Ardan memanggil kakaknya yang terdiam dengan raut wajah yang agak lain.

__ADS_1


"Kak Arsyi, gak apa-apa kan?" Tanya Ardan dengan risau karena melihat kini tangan Arsyila malah berpindah kebagian keningnya, Arsyila memijit pelan keningnya tersebut.


"Kepala kak sakit banget ne, Dan.."Lirih Arsyila.


"Sakit kepala ya kak? Bentar.. Ardan panggilkan perawatnya dulu ya kak" Kata Ardan lalu bergegas keluar dari ruang rawatan.


Beberapa saat kemudian, perawat pun datang lalu menyuntikkan obat penghilang nyeri diinfusnya Arsyila.


"Kak Arsy, istirahat aja lagi ya? Bawa tidur, jangan banyak mikir dulu.." Nasihat Ardan setelah perawat keluar dari ruang rawatan Arsyila.


"Ya, Ardan.. Kamu juga ya bawa istirahat, mata kamu agak cekung itu kak lihat. Pasti kurang tidur kan?" Ucap Arsyila dengan memberi perhatian ke adiknya itu.


"Kak Arsy gak usah risaukan Ardan kak. Yang sakit sekarang ini kan kak Arsy, kak fokus aja dengan kesehatan kakak ya? Jangan mikir yang aneh-aneh, Ardan sudah biasa bergadang kok kak.." Kata Ardan seraya tersenyum lebar. Arsyila hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Adiknya itu.


Tanpa dipinta, Pikiran Arsyila malah kembali membawanya untuk mengingat kejadian demi kejadian yang ia alami beberapa hari belakangan ini. Diawali dengan meninggalnya Ayahnya, dan ternyata.. Arsyila baru tahu dari pengakuan Raihan bahwa dialah yang telah menyebabkan Ayahnya jantungan saat itu. Raihan dengan sengaja memberitahu Ayah Arsyila tentang tujuan sebenarnya dia menikahi Arsyila, Raihan yang tahu Ayah Arsyila sedang sakit malah semakin memperburuk keadaan Ayahnya dengan segala ucapannya yang menyakitkan itu.


Meskipun Arsyila tahu meninggalnya Ayahnya itu sudah merupakan jalanan takdir dari Allah, akan tetapi.. Yang tidak bisa Arsyila terima adalah niat terselubung Raihan yang memang menginginkan Ayah Arsyila menderita sebelum meninggal. Semua itu, karena sebuah dendam yang sudah lama ia simpan.


Arsyila mendengus kesal. Masih sulit baginya untuk menerima kenyataan tentang apa yang dilakukan Ayahnya terhadap keluarga Raihan dimasa lalu. Jika memang semua itu benar, Asyila tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia hanya bisa berdoa semoga Allah mengampuni dosa masa lalu Ayahnya itu. Namun, jika apa yang dikatakan Raihan itu tidak benar, bahwa bukan Ayahnya lah yang bersalah. Apakah yang harus ia lakukan? Memaafkannya atau malah sebaliknya? Arsyila belum bisa menjawabnya, semua masih mengambang di pikirannya. Belum lagi rasa takut dan juga trauma masih bersemayam dihatinya.


Pikiran-pikran burukpun seakan menari-nari dibenaknya. Bagaimana jika Raihan tiba-tiba datang kerumah sakit ini dan nekat membunuhnya saat ini juga?? Terpikir hal itu, membuat Arsyila berdelik ngeri. Dendam Raihan sudah seakan mendarah daging didalam dirinya, suatu saat pasti akan disalurkannya juga. Cepat atau lambat. Oleh karena itu, Arsyila butuh perlindungan saat ini, sebab dia merasa nyawanya sangat terancam.


Keesokan harinya. Sekitar jam 8 pagi, Hasby dan Maida datang kerumah sakit untuk menjenguk Arsyila. Mereka berdua sangat prihatin dengan nasib buruk yang menimpa Arsyila. Apalagi Hasby, ia seakan tidak sabar untuk membuat perhitungan dengan Raihan. Padahal kemarin itu, dia ingin sekali menghujam wajah Raihan dengan sebuah pukulan dari tangannya, jika tidak mengingatkan keadaan Arsyila lemah dan harus dibawa rumah sakit, mungkin saat itu Hasby sudah berbaku hantam untuk kedua kalinya dengan Raihan.

__ADS_1


Arsyila menceritakan kepada mereka bertiga secara detil apa yang terjadi pada dirinya, tentang semua yang diperbuat oleh Raihan. Dimulai dari kejadian di hotel sampai kejadian di bangunan tua itu. Terdengar isakan pelan diakhir kalimat Arsyila saat menceritakannya, sebagai tanda bagaimana merasa tertekannya Arsyila saat itu dan traumanya dia saat ini.


Maida yang tidak tega mendengar itu langsung saja memeluknya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, seakan ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh sahabat dekatnya itu. Sedangkan Hasby, sejak tadi terlihat sudah menggepal erat kedua tangannya dengan wajah merah padam karena telah diselimuti rasa amarah yang tak terbendung lagi.


"Ini sudah sangat keterlaluan, Arsy. Raihan benar-benar sudah diluar batas. Kita gak bisa tinggal diam saja atas perlakuan dia yang keji ini terhadap kamu. Ini sudah termasuk perbuatan kriminal, Arsyi." Kata Maida.


"Iya, benar. Kita harus buat laporan kekantor polisi, Arsyi. Atas dasar penyekapan dan juga penyiksaan terhadap kamu, dan dia.. Juga berniat ingin membunuh kamu bukan? Ini gak boleh kita diamkan aja seperti ini, Asry. Kita harus lapor polisi." Tegas Hasby dengan berapi-api.


"Iya, kak... Kak Arsyi jangan mau diinjak-injak terus dengan dia. Setidaknya kita harus memberi efek jera ke dia agar dia tidak lagi mengulangi perbuatan jahatnya itu." Kata Ardan ikut menimpali.


"Ya, kak tau Ardan.. Perbuatan dia ini sudah diluar batas. Tapi, kak rasa kita laporpun dia ke polisi tidak akan membuat dia jera. Karena apa? Karena dia melakukan ini semua karena dendam, dendam dia terhadap Ayah kita, Ardan. Dia sudah cerita semuanya tentang masa lalu Ayah kita yang katanya Ayah telah berbuat suatu kejahatan terhadap Mamanya. Ayah yang menyebabkan Papa dan Mama Raihan bercerai, Ayah menjebak dan memfitnah Mama Raihan sehingga Papa Raihan mencampakkanya sampai akhirnya ia meninggal. Karena itu.. Raihan benci dan dendam dengan Ayah dan sekarang kita kenak imbasnya, Ardan. Itulah yang Raihan katakan ke kakak.." Jelas Arsyila panjang lebar.


"Tapi, itu semua tidak benar Arsyila.." Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari depan pintu yang menyangkal perkataan Arsyila barusan. Mereka semua yang ada diruangan tersebut langsung menoleh serentak kesumber suara...


.


.


.


BERSAMBUNG.


.

__ADS_1


__ADS_2