
"Oo.. Bulan madu, baguslah mereka pergi bulan madu juga, sudah sejak awal lagi aku menyuruh mereka untuk pergi bulan madu. Tapi, kamu tahu sendirikan bagaimana antusiasnya Raihan dalam bekerja jadi alasan dia menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai dulu, setelah itu barulah dia mau pergi.." Komentar Aditia, Papanya Raihan dengan wajah Yang sumringah.
"Omong Kosong apa ini.." Tiba-tiba saja Hasbi yang sejak tadi menahan geram dihatinya langsung saja mengeluarkan suara.
"Mereka tidak pergi bulan madu Om, Wanita ini sudah berbohong!" Kata Hasbi seraya menunjuk kearah Umi Lika yang langsung menyembunyikan wajahnya.
"Bohong gimana maksudnya? Dan.. Anda siapa sebenarnya, mengapa dari tadi saya perhatikan sikap Anda tidak bersahabat." Kata Aditia merasa heran. Sedangkan yang lain hanya diam, tidak ada yang berani mengeluarkan suara selain Hasbi.
"Saya Hasbi, sahabat Arsyila." Jawab Hasbi masih dengan wajah yang dingin.
"Oh, begitu.. Jadi mengapa kamu ngotot bilang istri saya sudah berbohong?" Tanya Aditia.
"Iya, karena saya tahu Raihan membawa Arsyila bukan untuk bulan madu, Om. Melainkan ia membawa Arsyila untuk dijadikan budak olehnya. Dan juga membuat Arsyila jauh dari keluarganya. Om tahu kan Ayah Arsyila baru meninggal beberapa hari yang lalu.."
"Apa?? Tunggu-tunggu, kamu bilang Ayah Arsyila meninggal?" Tanya Aditia dengan ekspresi yang kaget. Karena dia tidak tahu sama sekali bahwa teman baiknya itu telah meninggal.
"Lika.. Kamu tahu Dedi meninggal?" Tanya Aditia dengan menatap erat istri disampingnya itu. Lika hanya mengangguk.
"Ya, Allah.. Kamu tahu Dedi meninggal tapi kamu tidak memberitahu aku?? Apa-apaan ini Lika." Ujar Aditia terlihat marah dan kesal.
"Maaf mas, Aku gak mau saja kamu jadi kepikiran dan fokus kamu terganggu saat bekerja nanti. Makanya aku berinisiatif untuk tidak memberitahu kamu dulu sampai kamu pulang ke Indonesia." Ucap Umi Lika beralasan.
"Itu alasan gak masuk akal, Lika. Dedi itu teman baik aku sejak dulu dan dia juga kan yang sudah berjasa mengenalkan kita. Tapi, kamu malah merahasiakan kepergian dia dari aku. Kamu juga Raina, Kenapa kamu tidak memberitahu Papa Ha?" Kata Aditia yang kini mengalihkan pandangannya kearah Raina.
"Ya, Raina pikir Umi sudah memberitahu Papa." Bela Raina terhadap dirinya. Aditia tidak menanggapi pembelaan dari anaknya, ia langsung mengalihkan pandangannya kearah Ardan yang sedari tadi hanya menunduk.
"Ardan, Om Minta maaf atas penyebab keterlambatan Om ini, Om benar-benar tidak menyangka Ayah kamu meninggal dengan secepat ini. Om turut berduka cita ya. Semoga beliau diterima DisisiNya dan Kamu juga kakakmu Arsyila selalu diberikan kekuatan serta kesabaran dalam menerimanya." Ucap Aditia dengan wajah yang sedih.
"Iya, Om. Ngak apa-apa. Terimakasih atas doanya." Kata Ardan dengan sopan.
__ADS_1
"Jadi sekarang bagaimana? Kami gak mau beralama-lama disini, lebih baik tante beritahu saja dimana Raihan membawa Arsyila. Kami mau menyusul mereka." Kata Hasbi yang kembali fokus ke tujuan utama mereka datang kesini.
"Saya tidak paham apa yang sebenarnya terjadi. Kamu tadi bilang Raihan membawa Arsyila untuk dijadikan budak? Hei anak muda, kamu jangan menuduh Raihan yang tidak-tidak ya. Raihan itu suaminya sah Arsyila. Jadi apa salahnya Raihan membawa pergi istrinya." Bela Aditia terhadap Anaknya, Raihan.
"Karena Om tidak tahu apa-apa atas kebejatan Raihan sebagai suami. Om tidak tahu kan? Kedzoliman apa yang sudah dia perbuat ke istrinya." Kata Hasbi.
"Kebejatan, kedzoliman apa maksud kamu? Raihan tidak mungkin berbuat jahat ke Arsyila, Raihan itu anak yang baik. Saya tahu betul bagaimana anak saya, jadi kamu jangan memfitnah anak saya ya!" Kata Aditia yang mulai naik darah menghadapi Hasbi yang memojokkan Raihan sejak tadi.
"Saya tidak membuat fitnah Om. Saya mengatakan kebenaran. Kalau Om tidak percaya, silahkan Om tanyakan kepada mereka bertiga ini. Mereka tahu selama menikah, Arsyila selalu disakiti oleh Raihan" Kata Hasbi dengan menunjuk tiga orang wanita yang kebetulan duduk berjejeran. Ditunjuk Hasbi seperti itu membuat tiga wanita tersebut menundukkan wajahnya.
"Benar apa yang barusan dia bilang itu?" Tanya Aditia dengan tatapan tajam kearah mereka bertiga.
"Lika, Raina, Sindy.. Jawab!" Bentak Aditia.
Belum ada satu pun dari mereka yang berani mengeluarkan suara.
"Mas, Maaf.. Bukannya kami tidak mau memberitahu kamu. Tapi, balik lagi.. Aku gak mau saja pekerjaan kamu diluar negeri jadi terganggu gara-gara kepikiran nantinya masalah ini." Umi Lika akhirnya memberi alasan lagi, alasan yang sama.
"Alasan itu lagi, apa kamu gak punya alasan yang lain Lika? Dengan kalian menyembunyikan hal ini dari Saya, sama saja kalian sudah berbohong. Jadi benar Raihan sudah berbuat semena-mena kepada Arsyila??"
"Raina... Kenapa kamu sejak tadi diam saja? Apa benar abang kamu sudah berbuat jahat dengan Arsyila??" Aditia kembali mengulangi pertanyaannya lagi tapi kali ini di khusus ke Raina.
"Iya, Pa.." Jawab Raina dengan singkat.
"Tidak bisa dibiarkan ini. Apa yang ada dipikiran anak itu, sudah dinikahkan dengan wanita baik - baik malah disia-siakan." Kata Aditia yang kemudian mengambil Handphonenya dan langsung menelpon Raihan. Ia seakan tidak sabar mendengar langsung dari mulut Raihan.
Hasbi dan Ardan menunggu Aditia menelpon Raihan dengan perasaan harap-harap cemas. Setidaknya mereka cukup lega karena Papa Raihan yang tegas tidak membiarkan begitu saja menantu kesayangannya itu disakiti oleh anaknya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Raihan akhinya mengangkat telpon dari Papanya.
__ADS_1
"Halo, Pa? Ada apa? Tumben menelpon" Kata Raihan diseberang sana.
"Kamu dimana??" Todong Aditia langsung dengan nada suara yang meninggi.
"Aku?? Aku.. Aku ada kerjaan di luar kota.." Jawab Raihan dengan cuek.
"Dimana??" Aditia kembali bertanya.
"Kenapa emangnya Pa?" Raihan malah balik bertanya.
"Kenapa kamu membawa Arsyila?"
"Ya, apa salahnya. Dia istri aku. Aku berhak mau bawa dia kemanapun aku mau"
"Mentang - mentang dia istri kamu, jadi sesuka hati kamu juga menjadikan dia budak, sesuka hati kamu juga menyakiti dia, Iya???"
"What??? Apa maksud Papa? Siapa yang menyakiti Arsyila?" Kata Raihan berusaha menyangkal.
"Jangan berpura-pura kamu Raihan. Kamu memang tidak berubah. Selama ini kamu hanya berpura-pura kan?? Nyesal Papa telah menikahkan kamu dengan wanita baik seperti Arsyila.."
"Hahahahahahahaha.... Baguslah kalau Papa Sudah menyadarinya." Kata Raihan dengan tertawa sekeras - kerasnya sehingga suara tawa menggelegar itu sampai kedengaran oleh mereka semua.
"Kamu jangan macam-macam Raihan. Bawa Arsyila pulang sekarang juga!!" Perintah Papanya.
"Wau.. Begitu Ya? Papa begitu peduli dengan dia kan?? Karena apa? Karena dia putri dari teman baik Papa yang sudah meninggal itu kan?? Tapi, sayang sekali Pa.. Aku malah benci dengan dia! Benci sekali dengan putri seorang pemfitnah, putri seorang pembunuh...!!" Ucap Raihan berapi-api.
Aditia terdiam. Wajahnya langsung memerah, karena menahan Amarah atas ucapan dari putranya itu...
Bersambung..
__ADS_1