Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
LUAPAN EMOSI


__ADS_3

Raihan sampai kerumahnya dengan hati yang kesal dan juga marah. Saat keluar dari mobil, ia langsung saja menghempas kuat pintu mobil tersebut kemudian berjalan cepat menuju kedalam rumah.


Ketika sampai didalam rumah, ia berpapasan dengan Raina. Raina melihat abangnya itu dengan ekspresi bingung. Karena Raina sama sekali tidak menyangka abangnya pulang secepat ini.


"Bang Raihan, sudah pulang?" Tanya Raina. Yang ditanya hanya diam saja sambil terus berjalan menyelonong naik kelantai atas. Raina mengikuti abangnya itu masih dengan menyodorkannya pertanyaan.


"Bang.. Ada apa? Kenapa buru-buru sih?" Raina mengikuti langkah kaki lebar Raihan dengan cepat juga, berharap bisa menyeimbangi langkah abangnya.


"Bang, Kok diem aja? Ada masalah ya bang? Terus.. Kak Arsyila bagaimana? Abang sudah berhasil menyingkirkannya kan??"Pertanyaan dari Raina yang bertubi-tubi itu akhirnya menghentikan langkah kaki Raihan. Lalu ia membalikkan badan dan melihat Raina dengan wajah dingin.


"Belum.. Semuanya berantakan. Dia berhasil diselamatkan oleh mereka. Mereka.. Orang-orang bodoh yang sudah membela mati-matian wanita itu." Kata Raihan dengan sorot mata yang tajam.


"Apa? Gimana ceritanya dia bisa selamat bang? Dan.. Siapa orang yang bang Raihan maksud itu?" Tanya Raina lagi.


"Mana Umi Lika?" Raihan tidak menjawab pertanyaan dari Raina, malahan ia bertanya balik tentang dimana keberadaan Umi Lika.


"Entah.. Aku sudah gak lihat dia dari semalam." Jawab Raina dengan menaikkan bahunya.


"Memang kenapa dengan Umi Lika?" Sambung Raina lagi dengan bertanya.


"Dia sumber masalahnya. Berani-beraninya dia datang ketempat penyekapan Arsyila lalu mengaku sebagai orang yang bertanggung jawab atas penyebab meninggalnya Mama. Dia bilang Arsyila dan Ayahnya tidak bersalah, melainkan dirinya dan juga abangnya bernama Irwan itu yang sudah merencanakan semua kejahatan itu ke Mama."Jelas Raihan.


"Apa..?? Bodoh sekali umi Lika, sampai segitunya untuk menyelamatkan wanita itu. Dia malah membuat pengakuan bodoh yang sedikitpun tidak menguntungkan dia. Gak usah percaya bang, itu akal-akalan mereka saja untuk menyelamatkan Arsyila." Hasut Raina terhadap abangnya.


"Tidak akan semudah itu abang percaya dengan omongan mereka. Kamu tenang saja, balas dendam kita ini akan terus berlanjut. Abang akan cari jalan lain untuk menghancurkan dia.." Ucap Raihan dengan antusias.


"Dengan cara apa Bang?" Tanya Raina penasaran.

__ADS_1


Raihan menatap erat wajah adiknya, dan setelah itu ia berujar, "Akan abang pikirkan. Abang butuh waktu menyendiri saat ini. Kamu jangan ganggu abang dulu ya" Kata Raihan dengan menyentuh lembut bahu adiknya, lalu kemudian ia pun berlalu dari sana menuju ke kamarnya. Raina menatap punggung abangnya dengan rasa penasaran. Rencana apa lagi kira-kira yang akan diperbuat oleh abangnya itu untuk membalas dendam terhadap Arsyila?? Tanya Raina didalam hatinya.


****


Raihan masuk kedalam kamarnya, ia menanggalkan sepatunya dengan kasar lalu melemparnya kesembarang arah. Kemudian ia berjalan ketempat meja kerjanya. Ia terlihat sedang mencari sesuatu dengan memeriksa semua laci yang ada dimeja kerjanya. Namun, Raihan tidak menemukan apa yang ia cari.


"Brengsek, dimana buku catatan aku" Umpat Raihan dengan emosi karena ia tidak mendapati apa yang ia cari. Agak lama juga Raihan termenung, memikirkan dimana buku catatannya. Padahal dia yakin buku itu seharusnya ada didalam laci. Dia tidak pernah meletakkannya ditempat lain. Lantas dimana buku itu? Apa ada yang mengambilnya? Pikiran Raihan langsung tertuju ke Arsyila. Tidak salah lagi, kemungkinan besar wanita itulah yang telah mengambil buku catatan hariannya. Dengan rasa geram dan kesal yang luar biasanya, Raihan langsung menendang kuat kursi dan meja yang ada dihadapannya. Ia seakan melampiaskan semua emosinya yang terpendam sejak tadi.


Setelah ia lelah meluapkan rasa emosinya itu, lalu ia pun duduk ditepi ranjang dengan nafas yang ngos-ngosan. Disaat ia mengatur nafasnya itulah entah mengapa semua perkataan Ayahnya, Umi Lika dan juga Samsul kembali terniang-niang dipikiran Raihan. Inti dari penjelasan mereka itu sama yaitu mereka menegaskan bahwa bukan Ayah Arsyila lah yang menjadi penyebab Mamanya meninggal. Melainkan itu semua adalah perbuatan Umi Lika atas suruhan Abangnya yang bernama Irwan.


Raihan berpikiran keras, mencoba mencerna dan mencari celah untuk menyanggah semua omong kosong yang keluar dari mulut mereka. Menyakinkan dirinya bahwa penjelasan dari mereka bertiga cuman settingan belaka, sama sekali tidak benar. Ya.. Raihan memantapkan dirinya untuk tidak terpancing dan tidak mudah mempercayai begitu saja atas semuanya.


Namun demikian, sempat juga terlintas dipikiran Raihan.. Andai jika itu benar bagaimana?? Sebuah bisikan lembut menyerpa ditelinga. Berulang-ulang suara itu seakan membisikkan tepat ditelinga.


Bagaimana jika yang mereka katakan itu semuanya benar?


Bagaimana jika memang benar selama ini kau sudah salah paham, Raihan?


Bagaimana jika memang benar selama ini dendam kau itu salah sasaran, Raihan?


Apa yang akan kau lakukan Raihan? Apa yang akan kau perbuat? Yang padahal.. Kau sudah banyak berbuat hal buruk kepada Arsyila dan juga Ayahnya atas dalih dendam kau yang tidak tepat sasaran seperti yang mereka bilang itu.


Tidakkah kau merasa bersalah dan berdosa dengan Arsyila dan keluarganya atas semua perbuatan keji yang telah kau perbuat itu?


Tidakkah kau akan menyesal seumur hidup kau Raihan? Menyakiti hati perempuan yang kau nikahi cuman untuk balas dendam.


Akankah kau akan mendapat kata maaf dari wanita itu atas semua perbuatan kejam yang telah kau lakukan? Kau penyebab Ayahnya meninggal, kau sakiti dia dengan kata-kata juga perbuatan kau yang diluar batas. Bahkan kau berniat membuat hidupnya hancur dengan membiarkan orang lain melecehkan dia. Kau sempat juga melukai lehernya dengan pisau. Kau jambak jilbabnya dengan kuat, kau cengkeram dagunya sekuat tenaga kau... Setelah semua yang kau lakukan atas dirinya, masih pantaskah kau nantiknya menerima kata maaf dari dia??

__ADS_1


Apa yang akan kau lakukan Raihan jika semua itu adalah kenyataan yang sebenarnya? Apa yang akan kau perbuat Raihan?? Apa..?? Apa..??


"Arggghhhhhhhhh........" Raihan menjerit sekuat-kuatnya. Ia seolah berusah Mengusir semua bisikan - bisikan dari kata hatinya yang malah membuat pikirannya semakin kacau.


"BRENGSEK.. SIALAN.." Raihan kembali mengeluarkan kata umpatan tapi tidak tahu untuk siapa.


Raihan kembali meluapkan emosinya dengan melempar benda apapun yang ada didekatnya. Memporak-porandakan kamarnya itu sehingga semuanya berantakan tak tentu arah.


Raihan juga melempar sesuatu kearah kaca meja riasnya sehingga kaca itupun pecah berserakan dilantai.


Raihan berhenti sejenak melakukan tindakan brutalnya. Masih dengan nafas yang naik turun, lalu ia kembali berjalan menuju ke meja kerjanya. Disana ia mengambil foto usang dia bersama Mamanya. Setelah itu, ia membalikkan foto itu dan mengambil sesuatu yang ia selipkan dibalik bingkai foto tersebut. Selain ada kertas berisi tulisan tangannya, ternyata dibelakang bingkai foto itu ada terselip sebuah foto berukuran kecil dengan bagian pinggirnya yang sudah digunting. Dan yang terlihat difoto itu kini hanya ada sepasang wajah anak kecil yang saling bergandengan. Yang laki-laki diperkirakan berumur 12 atau 13 tahun sedangkan si perempuan masih sangat kecil sekitar 6 atau 7 tahunan.


Raihan menatap erat dua wajah di foto tersebut. Anak lelaki difoto itu adalah dirinya, dan yang satunya lagi adalah seorang anak perempuan kecil yang begitu sangat ia senangi saat itu, atas tingkah lakunya yang membuat Raihan kecil tidak pernah bosan untuk selalu bermain bersamanya...


.


.


.


.


BERSAMBUNG...


JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTARNYA YA...


😊🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


.


__ADS_2