
💖HAPPY READING💖
Raihan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yang ternyata adalah sebuah pisau. Arsyila menatap takut dengan benda tajam yang dimainkan Raihan dihadapannya itu. Beberapa saat kemudian, Raihan berdiri lalu berjalan mendekati Arsyila dengan pisau masih di genggamannya.
Jantung Arsyila berdebar sangat kencang, membayangkan apa yang akan Raihan perbuat dengan pisaunya itu. Apakah ia benar akan membunuhnya seperti yang ia katakan tadi. Bahwa Raihan ingin Arsyila mati juga seperti Ayahnya.
"Mau apa kamu dengan pisau itu?" Tanya Arsyila yang memandang ngeri pada benda tajam itu. Dengan tangan dan kaki masih terikat, Arsyila berusaha menyeret badannya untuk mundur kebelakang menjauh dari Raihan yang sudah semakin dekat dengannya. Sampai akhirnya ia mentok didinding dan tidak bisa kemana-mana lagi.
Raihan jongkok dihadapan Arsyila dengan tatapan yang sangat menakutkan, lalu dengan gerakan cepat ia menempelkan pisau itu di wajah Arsyila. Arsyila yang kaget langsung saja memejamkan matanya. Raihan mengesekkan pisau itu diwajahnya, mulai dari bagian kening, pipi dan turun ke dagunya. Arsyila masih menutup matanya, ia sangat takut dan tidak berani untuk membuka mata. Namun demikian, Dalam hati ia tidak berhenti berdoa agar lelaki dihadapannya ini tidak melakukan sesuatu hal yang membahayakan dirinya.
Beberapa saat kemudian, pisau itu pun turun kebagian leher Arsyila. Dibagian leher itu, Raihan lebih menekankan ujung pisau tersebut sehingga membuat Arsyila langsung merintih kesakitan.
"Aduuh.. Sakit..." Desis Arsyila. Ia lalu memberanikan diri membuka mata dan saat matanya telah terbuka, matanya dan mata Raihan langsung beradu pandang. Mata tajam milik Raihan itu tidak berkedip menatapnya, seakan-akan ingin menerkamnya. Arsyila yang tidak tahan ditatap seperti itu, langsung kembali menutup matanya dengan erat. Ia pasrah dengan apa yang akan diperbuat Raihan padanya. Arsyila bisa merasakan bagaimana Raihan semakin menusukkan benda tajam itu dibagian lehernya hingga setetes cairan jatuh turun kebagian bawah lehernya. Arsyila kembali merintih kesakitan tapi kali ini lebih kuat ditimbang tadi. Namun, Raihan sama sekali tidak mempedulikan rintihan dari Arsyila yang malah ia semakin berambisi untuk menyakiti wanita itu.
Perbuatan terkutuk Raihan tersebut terhenti ketika handphone yang ada disaku Raihan berdering. Akhirnya Arsyila bisa sedikit bernafas lega saat pisau tajam yang menempel dilehernya tadi itu kini diturunkan Raihan perlahan - lahan. Dan kemudian Raihan berbalik arah, berbicara dengan seseorang melalui hubungan telpon. Karena posisi dirinya dan Raihan yang begitu dekat, Arsyila bisa mendengar siapa dan apa yang dikatakan seseorang itu kepada Raihan.
"Raihan.. Kamu bawa Arsyila pulang sekarang juga." Perintah sipenelpon yang ternyata adalah Aditia, Papa Raihan yang menelpon.
"Iya, aku akan bawa dia pulang. Tapi, tidak dalam keadaan hidup." Jawab Raihan dengan tersenyum getir.
"Raihan.. Kamu jangan macam-macam ya! Kamu jangan sakiti Arsyila, Dia tidak bersalah. Papa Mohon, sedikitpun jangan kamu sakiti dia." Tegas Aditia dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
"Hahahahaha.. Tidak ada yang bisa menghalangi aku termasuk juga Papa. Papa lihat aja sendiri nantik bagaimana aku buat menderitanya anak kesayangan dari sahabat Papa yang sudah meninggal itu" Kecam Raihan.
"Raihan, kamu dengar kata Papa. Arsyila tidak bersalah, Ayahnya pun juga tidak bersalah atas meninggalnya Mama kamu. Sedikitpun mereka tidak ada hubungannya dengan semua yang terjadi didalam keluarga kita dulunya. Kamu sudah salah paham Raihan..." Jelas Aditia.
"Oh, ya? Papa pikir aku bodoh bisa percaya dengan omongan sampah Papa itu. Papa sama saja dengan mereka. Papa lebih mempercayai lelaki jahat itu ketimbang Mama. Sekarang.. Papa rasakan saja akibatnya sendiri, bagaimana keluarga sahabat brengsek Papa itu hancur satu persatu aku buat." Kata Raihan.
"Kamu jangan bertindak bodoh, Raihan. Semuanya tidak seperti yang ada dipikiran kau itu. Dendam kau itu.. Sudah salah sasaran. Kau balas dendam bukan pada orang yang tepat. Sekarang, kau beri tahu dimana keberadaan kalian?? Papa akan kesana dan memberitahu kejadian sebenarnya."
"Hahahahaha... Papa.. Papa.. Tidak habis pikir aku, bagaimana dirimu membela mati-matian anak si pembunuh itu. Sejak dulu.. Papa tidak pernah sedikitpun percaya dengan omongan aku. Papa lebih mempercayai semua perkataan bajingan itu, ditimbang aku. Dan.. Sekarang, setelah dia mati.. Papa malah ingin menyelamatkan anaknya ini. Tidak bisa Papa. Meskipun di sudah mati, dendam aku ini.. Tetap berlanjut kepada keturunannya. Itu janji yang aku ucapkan kepada Mama sebelum ia meninggal" Jelas Raihan dengan tekad yang kuat.
"Papa paham, Papa tau kamu sakit hati dan merasa marah atas meninggalnya Mama kamu. Tapi, Raihan.. Demi Allah.. Bukan keluarga Arsyila yang menjadi penyebab semua ini. Raihan.. Dengar Papa.. Arsyila dan Ayahnya tidak bersalah. Yang bersalah adalah.."
Setelah itu, Raihan kembali membalikkan badannya dan melihat Arsyila dengan tatapan tajam. Arsyila yang sedari tadi mendengar apa yang dikatakan oleh Papanya Raihan, seakan mendapatkan angin surga atas pembelaan dari Papa Raihan. Meskipun ia tahu pembelaan tersebut tidak membuahkan hasil apapun, buktinya Raihan akan tetap melanjutkan aksinya untuk menyakiti Arsyila atau bahkan membunuhnya. Arsyila berdelik ngeri melihat Bagaimana Raihan memandangnya.
"Kamu dengar sendiri kan, Bagaimana Papa aku membela kamu mati-matian?" Ucap Raihan.
"Cih.. Dia bilang aku sudah salah paham. Omong kosong apa itu" Desis Raihan seraya meludah dua kali kesamping kirinya.
"Bang Raihan... Ada baiknya kita dengar penjelasan dari Papa. Mana tahu saja yang dia katakan benar..." Kata Arsyila mencoba memberi saran. Ia mengumpulkan keberanian untuk mengajak Raihan berbicara baik-baik. Arsyila tahu saat ini Raihan sedang dikuasai oleh hawa nafsu dan ambisi balas dendamnya. Namun, Arsyila yakin masih ada sedikit harapan untuk membuat Raihan bisa berpikiran jernih dan tidak lagi melakukan tindakan yang membahayakan ke dirinya.
"Apa kau bilang ha? Aku gak butuh penjelasan dari siapa-siapa lagi, Arsyila. Semuanya sudah jelas." Kata Raihan dengan mencengkeram dagu Arsyila dengan kasar. Arsyila kembali meringis kesakitan. Cengkeraman tangan Raihan pada dagunya begitu kuat sehingga membuat kepala wanita itu menengadah keatas.
__ADS_1
"Lepas bang, sakiitt..." Desis Arsyila. Kali ini Air mata yang sedari tadi ditahannya, akhirnya tumpah juga.
"Andaipun benar.. Ayah saya berbuat kejahatan seperti itu, saya mohon.. Maafkanlah beliau.. Saya atas nama Ayah saya memohon maaf.. Maaf sebesar-besarnya.. Maaf bang Raihan..." Ucap Arsyila terbata-bata, meskipun menanggung rasa sakit diwajahnya, Arsyila memaksakan diri mengeluarkan suara.
"M-maaf... Maaf.. Lepaskan saya.." Rintih Arsyila yang tidak tahan lagi dengan cengkeraman Raihan yang semakin kuat menekan wajahnya. Arsyila menangis sejadi-jadinya. Namun, Raihan.. sama sekali tidak bergeming, ia tetap melanjutkan perbuatan jahatnya itu dengan mata yang melotot seperti orang yang kesurupan. Arsyila memejamkan matanya, seakan pasrah namun tetap berdoa dalam hati semoga ada sebuah pertolongan yang datang menyelamatkannya.
"Raihan... Lepaskan Arsyila..!!!" Tiba-tiba saja Sebuah teriakan nyaring terdengar dari depan pintu. Arsyila membuka mata, Lalu ia dan Raihan menoleh serentak ke sumber suara...
.
.
.
.
BERSAMBUNG...
SILAHKAN TINGGALKAN LIKE DAN JUGA KOMENTARNYA YA. SYUKRON SUDAH MEMBACA..🥰
.
__ADS_1