
Beberapa saat kemudian, Dokter Aldi datang dan kembali memeriksa keadaan Arsyila. Raihanpun juga sudah selesai menyuapkan Arsyila sarapan pagi itu.
"Apakah kamu sebelumnya sering merasakan sakit kepala?" Tanya Dokter Aldi setelah Arsyila menceritakan keluhannya saat itu.
"Iya, sering." Jawab Arsyila dan kemudian melihat sesaat kearah Raihan yang masih memandang istrinya itu dengan rasa khawatir.
"Apakah Pernah periksa sebelumnya ke Dokter?" Dokter Aldi bertanya lagi. Arsyila hanya menggelengkan kepalanya.
"Terus.. Sakitnya bagaimana, bisa kamu ceritakan?" Dokter Aldi masih terus menginterogasi Arsyila.
"Rasanya seperti pusing dan berputar - putar gitu, tubuhpun seperti goyang, pandangan agak kabur, terus.. Benda disekelilingnya seakan berjalan memutar dan terkadang terasa ada sedikit dengungan ditelinga." Jelas Arsyila.
"Ada mual muntah juga gak? Atau pernah pingsan juga sebelum ini?" Tanya Dokter Aldi.
"Iya, kadang terasa mual tapi gak sampai muntah. Kalau pingsan, sudah ada beberapa kali sebelum ini." Jawab Arsyila.
"Selama menikah dengan aku, ini yang kedua kalinya aku mendapati Arsyila pingsan, Aldi." Kata Raihan yang tiba-tiba menimpali.
Mendengar ucapan Raihan barusan, membuat Arsyila langsung teringat akan kejadian saat ia sakit kepala malam itu. Masih jelas diingatannya bagaimana Raihan yang sedikitpun tidak peduli dengan keadaannya, Arsyila yang meminta tolong kepada suaminya untuk dicarikan obat sakit kepala, namun jangankan ia mau mencarikan obat, untuk sekedar bangun saja lelaki itu tidak mau. Ia malah menutup telinga dan wajahnya pakai bantal dan kembali tidur. Sampai akhirnya Arsyila pun pingsan dan saat bangun ia mendapati dirinya sudah berada diatas tempat tidur. Padahal dia jatuh pingsan tepat dipintu keluar. Sampai detik ini Arsyila masih penasaran, apakah Raihan yang sudah mengangkat tubuhnya saat pingsan tersebut ataukah bukan?
"Selama ini kamu minum obat apa jika sakit kepala?" Dokter Aldi masih terus bertanya tanpa memberitahu apa penyakit Arsyila sebenarnya.
"Saya minun obat sakit kepala biasa yang dijual di apotik saja" Jawab Arsyila dengan suara yang lirih.
"Terus, apakah berkurang?" Tanya Dokter Aldi lagi, dan Arsyila langsung mengangguk.
"Jadi sebenarnya Arsyila sakit apa, Aldi? Cuman sakit kepala biasakan? Gak parah kan?" Tanya Raihan seakan tidak sabar.
"Kalau dilihat dari gejalanya aku menyimpulkan sakit kepalanya ini kearah Vertigo. Tapi, untuk memastikan yang lain harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi. Karena sakit kepalanya sering berulang terjadi, jadi aku sarankan untuk memeriksakan kerumah sakit saja. Dan untuk sekarang aku beri obat makan dulu ya" Jelas Dokter Aldi dan kemudian mengambil obat dari dalam tasnya. Setelah itu, iapun menjelaskan aturan minum obat tersebut. Arsyila dan Raihan mendengar penjelasan Dokter Aldi dengan seksama.
"Yang penting kamu harus banyak istirahat dulu. Jangan kecapean dan beraktifitas yang berat. Dan.. Jangan lupa Minum obat dan Vitaminnya dengan teratur, oke?" Lanjut Dokter Aldi lagi dengan memberikan nasihat.
"Oke, Aku pastikan Arsyila akan beristirahat dengan cukup. Dia tidak akan kemana-mana, dia istirahat saja dikamar." Ujar Raihan yang menanggapi nasihat dari Dokter Aldi. Sedangkan Arsyila merasa dirinya sudah lumayan baikan saat ini dan ia sangat tidak setuju jika harus didalam kamar saja, padahal ada banyak hal yang harus ia lakukan. Terutama aktifitas mengajar nya yang baru beberapa hari ini ia giatkan lagi.
"Arsyila, kamu harus banyak istirahat ya. Jangan capek - capek dulu. Kamu cuti aja mengajar dulu ya." Kata Raihan setelah Dokter Aldi pamit pergi dari sana.
__ADS_1
"Tapi, saya baru masuk beberapa hari mengajar Bang. Saya gak enak harus libur berhari - hari. Hari ini saja saya gak masuknya ya, InshaAllah besok saya sudah mendingan kok Bang. Jadi bisa tetap mengajar." Kata Arsyila menolak dengan halus usulan dari Raihan.
"Arsyila, kamu gak dengar kata Dokter Aldi tadi? Kamu itu harus banyak istirahat, jangan capek - capek dulu. Lagi pula, aku sebenarnya kurang setuju jika kamu kembali mengajar di sekolah itu." Kata Raihan.
"Kenapa gak setuju?" Tanya Arsyila dengan tatapan bingung.
"Sebenarnya bukan gak setuju, tepatnya aku gak ingin saja istri aku kecapean. Aku mau kamu dirumah saja, Arsyila," Jawab Raihan seraya memegang lembut tangan istrinya itu.
"Tapi, saya akan bosan jika dirumah terus. Saya lebih suka mengisi waktu dengan mengajar bang, Lagi pula.. Keinginan menjadi guru adalah cita-cita saya sejak kecil." Kata Arsyila yang beragumen.
"Iya, Aku tahu. Aku gak akan pernah lupa dengan cita - cita kamu itu, Arsyila. Ya sudah.. Kamu boleh mengajar tapi tidak besok ataupun besoknya lagi. Kamu harus istirahat dirumah minimal 1 minggu. Bagaimana?" Saran Raihan yang membuat wajah Arsyila langsung berubah.
"Kelamaan Bang Raihan, tiga hari saja ya?" Tawar Arsyila dengan wajah memohon. Raihan tampak berfikir sesaat hingga akhirnya ia berujar...
"Hhhmmm... Aku belum bisa mengatakan iya. Kita lihat saja kondisi kamu 3 hari kedepan. Kalau belum membaik, aku gak akan izinkan kamu untuk pergi mengajar dulu." Kata Raihan dengan tersenyum manis dan kemudian mengelus lembut dahi Arsyila.
Arsyila terdiam. Dia seakan menikmati semua sentuhan yang diberikan oleh suaminya itu, sentuhan yang sudah lama ia impikan. Rasa kasih sayang yang sudah lama ia dambakan dan kini akhinya menjadi kenyataan. Raihan masih menatap Arsyila dengan tatapan mautnya yang mampu membuat jantung Arsyila berdetak dengan kencang.
"Bang Raihan, Saya boleh tanya sesuatu?" Kata Arsyila kemudian.
"Ketika waktu itu saya pingsan didepan pintu kamar, apakah.. Bang Raihan yang mengangkat saya ketempat tidur?" Tanya Arsyila yang masih penasaran dengan hal itu.
"Iya, Aku yang menggendong kamu, Arsyila." Jawab Raihan dengan jujur.
"Emang kamu pikir siapa? Gak mungkin kan Bik Ani?" Lanjut Raihan lagi dengan tertawa kecil.
"Tapi, aneh saja. Bukannya bang Raihan benci sekali dengan saya? Kenapa bang Raihan mau nolongin saya akhirnya?" Tanya Arsyila lagi.
"Arsyila, Seperti apapun tampak dari luar rasa benci aku terhadap kamu dulunya, tapi tetap.. jauh dihati aku yang paling dalam masih ada rasa peduli itu. Kita sudah saling kenal sejak kecil, Arsyila. Sangat akrab malahan, sudah ada sebuah rasa bersemayam disini.." Ujar Raihan seraya menepuk - nepuk dadanya.
"Tapi, ya itu tadi. Aku berusaha menahan rasa itu karena sebuah dendam yang... Ahhh... Jika mengingat itu semua, membuat aku tidak berhenti untuk menyesalinya, Arsyila. Kebejatan aku kepada kamu yang membuat semuanya hancur. Aku benar - benar minta maaf Arsyila.." Tutur Raihan dengan kesungguhan hatinya.
"Saya sudah memaafkan bang Raihan. Karena itu, Bang Raihan gak usah merasa bersalah ataupun menyesal lagi. Saya akan kubur dalam - dalam kenangan buruk itu, bang. Tidak akan lagi muncul kepermukaan." Kata Arsyila dengan tersenyum lebar.
"Terimakasih banyak, Arsyila. Kamu memang wanita berhati mulia, sehingga membuat aku semakin menyayangi kamu." Kata Raihan sembari mengelus - elus tangan Arsyila yang sudah sejak tadi ia pegang dan detik kemudian membawa tangan Arsyila mendekati wajahnya lalu menciumnya dengan lembut.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, perlahan - lahan Raihan semakin mendekati dirinya kearah wajah Arsyila. Arsyila hanya diam dan pasrah dengan apa yang akan diperbuat oleh suaminya tersebut walaupun saat itu irama jantungnya semakin kencang ia rasakan. Namun, belum sempat Raihan melakukan aksinya, tiba - tiba saja dari arah pintu masuk muncul bik Ani dengan tergopoh - gopoh.
"M-maaf, Tuan Raihan Dan Non Arsyila. Bibik mengganggu." Ucap Bik Ani merasa tidak enak hati karena datang disaat tidak tepat.
"Kenapa Bik?" Tanya Raihan dengan gusar.
"Anu Tuan.. itu.. Ada yang nyari Tuan, katanya penting." Ucap Bik Ani dengan terbata - bata.
"Siapa, Bik?" Tanya Raihan lagi dengan kening yang sudah berkerut.
"Bibik gak tau, Tuan. Bibik gak pernah lihat sebelumnya." Sahut Bik Ani.
"Sebentar ya Arsyila, aku lihat dulu siapa yang datang." Kata Raihan dengan lembut. Arsyila hanya menganggukkan kepalanya.
Sepeninggalan Raihan, handphone Arysila berdering. Arsyila langsung mengangkat telepon dari seseorang yang ia kenal.
"Assalamualaikum, Iya kak?" Kata Arsyila kepada si penelpon yang ternyata adalah Kak Fatimah, yang merupakan pengajar juga di tempat Arsyila mengajar.
"Wa'alaikumsalam, Arsyila.. Kamu dimana?" Tanya Kak Fatimah dengan suara yang terdengar tegang.
"Maaf kak, Arsyila tadi sudah izin gak masuk hari ini. Arsyila sakit." Jawab Arsyila.
"Ooh.. Sakit?? Kamu tau tidak satu sekolah sudah heboh dengan berita tentang kamu disekolah hari ini? Sungguh memalukan kamu, Arsyila. Kak gak nyangka kamu seperti itu." Ucap kak Fatimah dengan sedikit berteriak.
Arsyila lantas tersentak dengan perkataan kak Fatimah yang tiba-tiba itu. Dari suara Kak Fatimah saja membuat keyakinan dihati Arsyila bahwa sudah terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan terkait dirinya. Tapi, apa itu??
#
#
#
#
BERSAMBUNG...
__ADS_1