
Sepanjang hari, setiap hari setelah malam bahagianya itu, Bianca kerap melamun sendiri, ia tersenyum penuh bahagia, tapi terkadang ia juga terdiam merenungkan semuanya.
Bianca senang karena Melvin telah menunjukan keseriusannya, tapi sampai saat ini, Mayang masih saja tak bisa percaya sepenuhnya.
"Bianca, kamu gak makan?"
Bianca melirik pintu, jam berapa sekarang, Mayang sudah membahas makan lagi.
"Bianca."
"Iya, Bu."
"Makan dulu cepat, Ibu mau ke toko."
"Iya, sebentar aku keluar."
Bianca lantas turun dari tempat duduknya, ia keluar kamar dan menghampiri Mayang di meja makan sana.
"Ibu, mau apa ke toko, bukankah sekarang semuanya masuk?"
"Iya, mau saja, sekalian jalan-jalan."
Bianca mengangguk dan duduk, dan sebenarnya Bianca malas makan, tapi kasihan Mayang sudah repot memasak itu semua.
"Kamu gak keluar?"
"Keluar kemana, Bu?"
"Kamu gak jalan sama lelaki itu?"
"Melvin, kenapa sih jadi seperti itu?"
Mayang mengangkat kedua bahunya sekilas, mereka lantas menikmati makan siangnya, tidak perlu membahas itu, biarkan saja Melvin pasti akan bisa untuk meyakinkan Mayang sepenuhnya.
"Bianca."
"Apa?"
"Tiara, masih suka ganggu kamu?"
Bianca menoleh tanpa menjawab, Tiara, benar juga, kemana wanita itu, sudah beberapa waktu Bianca tak melihatnya.
"Kamu kenapa?"
"Gak apa-apa, aku juga baru keingat sama Tiara, kemana dia aku juga gak tahu."
Mayang mengangguk, baguslah kalau seperti itu, mungkin Tiara memang sudah menerima semuanya, dengan begitu kekhawatiran Mayang bisa sedikit berkurang.
"Ibu, kenapa tanyakan Tiara?"
"Tidak, mau tahu saja, apa dia masih mengejar lelaki itu, Ibu hanya khawatir saja dengan perasaan kamu."
Bianca tersenyum, tentu saja, Bianca juga merasakan hal yang sama, tapi kepercayaannya terhadap Melvin, sepertinya cukup untuk membuat dirinya tenang disaat gelisah karena mengingat Tiara.
"Bu, kalau aku benar menikah sama Melvin, gimana?"
"Ya gak gimana-gimana, memangnya Ibu bisa apa, bisa Ibu melarang?"
"Tapi kalau Ibu gak restu, maka pernikahan itu tidak akan terjadi."
"Sudahlah Bianca, kamu tahu kalau Ibu selalu dukung kamu, Ibu seperti ini sekarang, karena Ibu masih tidak bisa yakin dengan lelaki itu, biarkan saja dia usaha lagi untuk bisa membuat Ibu percaya."
"Dengan cara apa yang Ibu mau?"
__ADS_1
Mayang menggeleng, entahlah, apa yang mampu dilakukan Melvin untuk itu, yang jelas Mayang tidak akan terima jika semua hanya tentang uang saja.
"Kemarin malam, Melvin telepon, katanya kalau memang diizinkan, lusa mereka mau kesini, mereka ingin membahas soal ...."
"Pernikahan?" sela Mayang.
Bianca mengangguk, suapannya menjadi ragu untuk dilakukan, Bianca tidak ingin mendengar penolakan meski dengan bahasa terhalusnya sekali pun.
"Boleh kan, Bu, kalau Ibu memang percaya sama aku, harusnya Ibu mau menerimanya, karena dengan Ibu percaya sama aku berarti Ibu percaya sama Melvin, karena aku tidak akan sembarangan memilih pasangan."
"Kita lihat saja nanti."
"Jadi, mereka boleh datang?"
"Memangnya siapa kita sampai bisa melarang mereka datang."
Bianca tersenyum, ia mengangguk perlahan dan melanjutkan makannya, Mayang tak mau memikirkan apa pun tentang pertemuan itu, Mayang memang setuju, hanya saja Mayang masih takut akan masa depan putrinya nanti jika harus menikah diusianya yang sekarang.
"Baiklah, sebaiknya Ibu berangkat sekarang."
"Kenapa seperti itu?"
"Tidak, Ibu tidak mau pulang terlalu malam, jadi sebaiknya sekarang saja."
Bianca mengangguk saja, terserah Mayang, mungkin wanita itu malas untuk berbincang lebih banyak lagi tentang Melvin.
"Kamu hati-hati di rumah," ucap Mayang seraya berjalan.
"Iya, Ibu juga hati-hati di jalan."
Bianca salam dan membiarkan Mayang pergi, ia kembali melahap makanannya meski hanya sendiri saja.
Kriiingg ....
"Iya," ucap Bianca yang tak lama melihat wajah Melvin di layar.
"Lagi sibuk?"
"Aku lagi makan, kenapa?"
"Sebentar lagi aku sampai di rumah kamu."
"Emmm."
Bianca mengernyit, jam berapa sekarang, bukannya Melvin di kantor.
"Kenapa seperti itu, aku sudah sampai ini."
Bianca diam, apa mungkin Melvin bertemu dengan Mayang, bisa saja mereka bertemu karena Mayang memang baru saja pergi.
"Bii."
"Iya, aku keluar sekarang."
Secepat kilat Bianca berlari keluar, ia membuka pagar rumahnya, dan tersenyum melihat Melvin di sana.
"Hai."
Bianca melihat sekitar, tidak ada Mayang, mungkin memang sudah pergi dengan taxinya, syukurlah.
"Kamu kenapa?"
Bianca menggeleng dan memeluk lelaki di hadapannya dengan erat, rasanya tidak ingin banyak bicara, Bianca hanya ingin memeluknya saja.
__ADS_1
"Ada apa kamu?"
"Gak ada apa-apa, kemana saja kamu?"
"Aku kan sibuk, sudah kasih kabar juga."
Bianca menghembuskan nafasnya sekaligus, baiklah itu memang alasan yang harus bisa diterima.
"Ayo masuk, aku lagi makan, kamu sudah makan?"
"Belum."
"Ya sudah, ayo makan."
Melvin mengangguk setuju, baiklah siang ini Melvin akan makan masakan Mayang, keduanya lantas masuk dan langsung duduk di tempat makan dengan kursi bersisian.
"Masih banyak, Ibu mana?"
"Ibu, ke toko, makanya aku ajak kamu makan, tadi Ibu sudah makan, itu bekasnya."
Melvin mengangguk, sayang sekali, padahal Melvin juga ingin bertemu dengan Mayang, Melvin lantas mengambil bagiannya, dan mulai melahapnya.
"Enak?"
"Tentu saja, aku suka."
Bianca tersenyum dan turut makan, senang sekali karena masakan Mayang cocok dilidah Melvin.
"Bii, kamu sudah sampaikan tentang niat kedatangan keluarga aku?"
"Sudah, baru saja."
"Lalu apa jawabannya?"
"Tidak apa-apa, Ibu mau terima siapa pun tamu yang akan datang."
"Kamu bilang tujuannya untuk apa?"
"Iya, tapi sepertinya, Ibu masih tidak bisa setuju sepenuhnya, Ibu masih ragu sama kita."
Melvin mengangguk, biarkan saja seperti itu, selama Mayang tidak melarang mereka bersama, berarti memang bukan masalah besar, biar waktu yang akan membantu mereka berdua untuk bisa meyakinkan Mayang.
"Melvin, apa ini tidak terlalu cepat?"
Melvin menghentikan kegiatannya, ia memilih diam menatap Bianca.
"Maksud aku bukan apa-apa, tapi sepertinya ini terlalu singkat, pertemuan kita baru saja terjadi."
"Kamu juga ikut ragu padaku?"
"Bukan, aku hanya tidak ...."
"Aku akan melangkah kalau kamu mau melangkah, tapi aku tidak akan memaksa kamu untuk melangkah kalau memang kamu tidak mau, hanya saja aku tidak bisa diam di tempat, dan itu untuk semua hal."
Bianca diam, ia meneguk minumannya tenang, Bianca harus hati-hati ketika berbicara, bukan tidak mungkin jika Melvin akan tersinggung karena ucapannya.
"Kalau masih ada yang buat kamu ragu, katakan sama aku, biar aku berusaha untuk meyakinkan itu dengan cara ku."
"Aku hanya tidak mau kalau harus menikah tanpa restu dari Ibu."
Melvin tersenyum, itu benar, karena Melvin juga tidak mau dengan hal itu, Melvin berbalik dan meraih kedua tangan Bianca.
"Selama kamu masih mau sama aku, aku akan perjuangkan apa pun yang masih menghalangi kita, Ibu tidak akan mungkin sejahat itu, dia hanya sedang meminta bukti saja."
__ADS_1
Bianca diam, lalu apa yang bisa mereka lakukan, yang mereka inginkan adalah pernikahan, dan untuk memberikan bukti mampu atau tidak, menurut Bianca hanyalah mereka harus menikah, baru mereka bisa membuktikan semuanya pada Mayang.