
Pembangunan untuk toko kue Bianca sudah dimulai, ada dua belas orang yang dikerahkan untuk pembangunan itu.
Bianca dan Mayang merasa tidak mau pulang, mereka ingin terus mengawasi orang-orang yang sedang bekerja itu.
"Bianca, berapa lama ini akan memakan waktu?"
"Ibu, bangunan kita itu kecil, tentu tidak akan memakan banyak waktu."
Mayang mengangguk, itu benar adanya, toko kue mereka bukanlah bangunan megah dan mewah.
"Sampai kapan kamu dan Ibu akan berdiri disana?"
Keduanya menoleh, Bianca tersenyum dan langsung menghampiri Melvin di sana.
Lelaki itu datang sepertinya dengan membawa makanan, banyak sekali, pasti untuk para pekerja itu juga.
"Panas, kamu gimana sih malah diam disini."
Bianca memejamkan matanya, saat Melvin merapikan rambut yang berantakan dan menghalangi matanya.
"Pusing nanti kepala kamu, mana gak pakai topi."
"Aku gak apa-apa, tenang saja, sejak dulu aku sudah biasa panas-panasan."
"Ya sekarang jangan, aku gak suka."
Bianca kembali tersenyum, cuaca memang sedang panas, keringat Bianca juga sudah bercucuran.
"Ayo makan, panggil mereka semua kita makan sama-sama, ini sudah waktunya makan."
"Oke, sebentar aku kesana dulu."
"Awas hati-hati."
Bianca mengangguk dan berlalu, ia kembali menghampiri Mayang, mengajaknya dan mereka semua untuk makan terlebih dahulu.
Tak perlu mengulang kalimatnya, mereka segera menghampiri Melvin, dan mengambil makanannya masing-masing.
"Kamu gak makan?"
"Aku makan, kamu saja siapkan dulu buat Ibu kamu."
"Tidak apa, Ibu bisa sendiri, kalian makan saja sekarang."
"Ibu tidak manja," ucap Bianca.
"Iyalah, kan manjanya habis semua sama kamu," sahut Melvin.
Bianca mengerucutkan bibirnya, bisa sekali Melvin berkata seperti itu, sejak kapan Bianca manja seenaknya saja.
Melvin tersenyum, ia mengambil bagiannya sendiri, mereka benar-benar makan bersama ditengah teriknya panas matahari.
"Habis ini kamu pulang, sudah cukup kamu panas-panasan disini," ucap Melvin.
Bianca melirik Mayang, bagaimana bisa seperti itu, Bianca tidak mungkin membiarkan Mayang sendirian saja.
__ADS_1
"Ibu juga ikut pulang, kaki Ibu belum boleh berdiri terlalu lama," tambah Melvin.
"Tapi Ibu mau pulang ke rumah saja, biarkan Ibu kembali lagi ke rumah, Ibu sudah bisa jalan sekarang meski perlahan."
"Jangan seperti itu Ibu, Ibu hanya akan buat aku khawatir saja," ucap Bianca.
Melvin mengangguk, itu benar adanya, apa salahnya jika Mayang tetap tinggal di rumah bersama mereka, bukankah itu akan lebih menyenangkan.
Dari pada di rumahnya sendiri, Mayang hanya akan kesepian, dan fikirannya akan tertekan karena pasti tekanan beban akan mengusiknya.
"Tidak apa-apa, Ibu bisa sendiri, lagi pula kalau ada apa-apa Ibu bisa telepon kalian."
"Ibu kenapa bandel sekali?" tanya Melvin.
Bianca mencubit tangan Melvin sekilas, buruk sekali kalimatnya itu, bisa-bisanya Melvin berkata seperti itu pada Mayang.
"Sakit, berani ya kamu sama aku."
"Gaklah, enak saja."
"Lalu apa maksudnya kamu cubit aku, hemm."
Melvin mengacak rambut Bianca asal, keduanya tersenyum bersamaan, dan kembali menikmati makanan.
Selang beberapa saat, waktu istirahat telah usai, para pekerja itu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Ayo pulang, gak ada tawar menawar, sekarang kita pulang."
"Aaa nanti saja."
"Ya sudah, Ibu juga ayo pulang."
Mayang mengangguk saja, ketiganya memasuki mobil dan pergi meninggalkan proyek.
Melvin akan mengantarkan Mayang terlebih dahulu, bukankah Mayang memang ingin kembali ke rumah, jadi biarkan saja Mayang dengan keinginannya sendiri.
Deva meraih ponselnya, ada pesan yang masuk ke sana, hari ini Deva memailih bekerja di rumah karena memang masih bisa dikerjakan di rumah.
"Mama, Mika," panggil Deva.
"Ada apa?"
"Mana Melvin?"
"Lagi antar makanan ke proyek, kenapa memangnya?"
Deva diam, ia fokus berkutat dengan ponselnya hingga tak sadar jika Mika sudah duduk di sampingnya.
Mika melihat berkas yang berantakan di sana, kenapa tidak bisa sekali rapi lelaki itu, padahal bisa buka satu dan selesaikan langsung.
"Mana Melvin?" tanya Deva lagi.
"Papa, Melvin lagi di proyek, lagi antar makanan buat mereka."
__ADS_1
"Kapan dia kembali?"
"Mana Mama tahu, disana kan ada Bianca sama Bu Mayang juga, mereka pasti ngobrol dulu disana."
Deva mengangguk, kembali sibuk dengan ponselnya, hal itu membuat Mika kesal sendiri, untuk apa memanggilnya kalau hanya diabaikan saja.
Mika sedikit mengintip ponsel Deva, ada pesan dari Malaysia Director, Mika mengangguk paham pantas saja lelaki itu fokus sekali.
"Bagaimana ini?" tanya Deva.
"Kenapa, ada masalah?"
"Melvin harus segera berangkat kesana, bisa kacau kalau dia tidak pergi juga."
Mika diam, lalu apa yang harus dilakukannya, bukankah itu sudah pernah dibicarakan dan jawaban Melvin juga sudah jelas.
Deva mengusap bibirnya, ia berfikir bagaimana cara agar Melvin mau pergi meski proyek belum selesai.
"Papa bicara saja sama Bianca, mungkin wanita itu bisa lebih memberi pengertian pada Melvin, Melvin enggan pergi juga karena mereka."
"Ya sudah, suruh mereka pulang sekarang."
"Mereka akan pulang kalau sudah selesai, biarkan saja jangan terlalu membatasi mereka."
Sesaat Deva diam menatap Mika, apa maksudnya membatasi, Deva hanya minta mereka pulang lebih cepat.
Mika tersenyum seraya mengusap pipi suaminya itu, tidak perlu menatapnya seperti itu karena Mika tidak bermaksud membuatnya marah.
"Papa, kalau Melvin jadi pergi bareng Bianca, suruh mereka pulang kalau Bianca sudah mengandung, kalau belum maka mereka tidak boleh pulang."
Deva menurunkan tangan Mika seraya menghembuskan nafasnya sekaligus, masih itu saja yang dibahas Mika padahal sudah jelas kepergian Melvin adalah untuk bisnis.
"Kenapa sih, Papa gak mau punya Cucu, untuk apa Melvin menikah kalau tidak memberi kita Cucu."
"Suttt, suutt, diam jangan bahas itu sekarang, cepat suruh mereka pulang saja, Papa sedang banyak pekerjaan."
Mika sedikit berdecak, kenapa Deva tidak kompan sekali soal cucu, padahal pasti menyenangkan kalau ada bayi di rumah mereka.
"Sudah sana, telepon Melvin suruh pulang cepat, kenapa malah melamun?"
"Biarkan saja, memangnya kenapa kalau Mama sedang mengkhayalkan seorang Cucu, kembar lagi."
Deva mengernyit, semakin menjadi saja wanita itu, satu saja belum tentu diberi cepat dan sekarang sudah mengkhayalkan dua sekaligus.
Mika tersenyum, ia mencium pipi Deva sekilas dan berlalu pergi, lelaki itu hanya bisa menggeleng melihat tingkah istrinya.
"Untung cinta, kalau tidak sudah aku apakan kamu."
"Love You Papa."
Deva kembali menggeleng dan segera kembali pada layar komputernya, Mika sedikit tertawa seraya menutup pintu.
Tapi meski ia ingat perintah Deva untuk menghubungi Melvin, tentu Mika tidak akan melakukannya sekarang, biarkan saja mereka sudah besar pasti tahu kapan waktunya pulang.
"Lebih baik sekarang aku duduk santai saja di halaman belakang, bisa sekalian main air di sana, lumayan lagi panas begini main air."
__ADS_1