
Bianca dan Melvin sudah siap dengan tampilannya saat ini, mereka datang bersama beberapa orang lainnya, mereka adalah fotografer yang dibayar Melvin untuk kesuksesan pernikahannya.
"Seriusan disini?" tanya Bianca.
Melvin memilih prewedding casual outdoor, mereka memilih hutan wisata untuk pemotretannya, stelannya pun casual jeans, pakaian mereka hanya kaos dan celana jeans, rok jeans, sesantai orang yang sekedar jalan-jalan.
"Bagus kan, banyak pohon tinggi, mungkin saja kamu mau naik."
Bianca mengernyit dan mencubit perut Melvin sekilas, keduanya tersenyum, mereka melirik sekitarnya, memang menyenangkan dan semoga saja hasilnya bagus.
"Kita nyalakan kameranya langsung ya."
Keduanya menoleh, mereka mengangguk saja menyetujui itu, terserah, mereka hanya akan menurut saja.
"Melvin, kamu harus bisa tangkap satu burung yang berterbangan itu, bisa?"
Melvin diam menatap Bianca, pertanyaan macam apa itu, mana bisa menangkap burung terbang.
"Ayo sana, tuh ada yang hinggap, sana cepat ah keburu terbang lagi nanti."
Mereka yang mengikut di belakang selalu siap siaga dengan tugasnya, Melvin memang berjalan lebih dulu, ia mengendap mendekati burung di sana.
"Apa dia begitu hebat?" tanya Bianca pada mereka semua.
Mereka hanya menggeleng dan mengangkat kedua bahunya sekilas, Bianca tersenyum dan kembali melirik Melvin, detik pertama Bianca dibuat tak percaya karena satu burung itu telah ada digenggaman Melvin.
"Bohong, itu pasti palsu," ucap Bianca.
Melvin menggeleng ia mendekati Bianca dengan santainya.
"Aku akan turuti apa pun keinginan kamu."
Bianca tersenyum, ia menerima burung yang diberikan Melvin, menatapnya heran kenapa bisa Melvin menangkapnya dengan mudah.
"Aku hebat?"
Bianca diam menatap burung tersebut, apa Melvin membuatnya terluka, bagaimana bisa mudah sekali.
Hahaha ....
Tawa Melvin membuat Bianca terkejut, ia menoleh dan menatap Melvin bingung.
"Kamu lihat mereka disana."
Melvin merangkul Bianca dan menujuk pengunjung lainnya, Bianca diam, mereka juga bisa dengan mudah mendapatkan burung itu.
"Burung disini sengaja ditangarkan, mereka burung terlatih, bukan burung sekedar terbang lewat sini."
Bianca melirik mereka semua, mereka tampak menahan tawa menatap Bianca, hal itu membuat Bianca sedikit kesal.
"Tertawa saja kalian," ucap Bianca.
Mereka tertawa bersamaan, itu semakin membuat Bianca kesal, ia melirik Melvin seraya mengerucutkan bibirnya.
"jangan seperti itu, aku bisa kurang ajar sama kamu."
Bianca berdecak, ia melirik burungnya lagi, memang jinak, Melvin tampak sibuk sendiri dengan gerakannya, dan seketika terdiam saat Bianca menolehnya.
__ADS_1
"Kenapa sih?"
"Gak apa-apa, ayo kita jalan, dimana kita akan mulai?"
"Di ujung sana."
Keduanya melirik tempat yang di maksud, ada batu dan beberapa anak tangga di sana, mereka setuju dan langsung berjalan menuju lokasi.
Bianca sedikit heran dengan mereka yang mendadak berpencar seolah mengelilingi dirinya dan dan Melvin.
"Sampai kapan kamu akan membawanya?"
"Sampai kita selesai disini."
Bianca mengusap kepala burung itu dengan telunjuknya, Melvin tersenyum dan mengangguk, Bianca yang sibuk dengan burung itu tak sadar jika tangga sudah ada di depannya.
"Awas," ucap Melvin cepat.
Tak sempat menghindar, Bianca lebih dulu tersandung dan terjatuh, melihat itu Melvin turut jongkok dan membantu membanungkannya.
Bukan mengeluh sakit, Bianca justru menjerit karena burung itu telah terbang jauh meninggalkan mereka.
"Apa sih Bii?"
"Aaaa lepas kan."
Melvin melirik mereka semua, ia tersenyum pada mereka, Bianca yang turut menoleh justru cemberut melihat mereka yang justru sibuk dengan kameranya.
"Tidak masalah, nanti aku bisa tangkap lagi kalau ada yang mendekat."
Melvin mengusap kepala Bianca, sedikit mengacaknya membuat Bianca tambah kesal.
Bianca memukul tangan Melvin, lelaki itu hanya tersenyum saja untuk meresponnya.
"Baiklah, kita harus seperti apa ini?" tanya Melvin.
Bianca menoleh, ia lantas merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah Melvin.
"Lakukan saja sesuka kalian, mau seperti apa?"
Bianca dan Melvin saling lirik, keduanya tersenyum bersamaan, Melvin menggendong Bianca di depan, dengan asalnya Bianca merentangkan sebelah tangannya dengan kepala yang menengadah, dan kakinya yang terangkat satu.
Melvin sedikit tertawa dengan hal itu, biarkan saja semau Bianca mau seperti apa.
"Oke, bagus."
Keduanya lantas duduk, saling bersisian, Melvin memiringkan wajahnya ke depan Bianca, dengan menaik turunkan alisnya, itu cukup membuat Bianca salah tingkah.
Keduanya lebih sering asyik sendiri dari pada fokus pada pemotretan, mereka melakukan apa yang mereka inginkan berdua, seolah melupakan keberadaan fotografer itu.
"Aaaa," jerit Bianca yang nyaris jatuh karena terpeleset.
Melvin dengan sigap menahannya, setelah sesaat terdiam, Melvin menariknya sekaligus hingga tubuh Bianca membentur tubuhnya.
"Ceroboh sekali," bisik Melvin yang menempelkan hidungnya ke pipi Bianca.
"Oke, bagus."
__ADS_1
Keduanya saling menjauh, dan melirik sumber suara, apanya yang bagus.
"Oke, yang lain."
Melvin mengernyit dan melirik Bianca, tak dapat penjelasan apa pun, karena Bianca juga tak tahu.
Mereka kembali melangkah, sungguh pemotretan yang asal-asalan, tidak ada aturan gaya atau posisi, Melvin dan Bianca hanya dibiarkan saja dengan keinginannya.
"Itu burung lagi, tangkap, tangkap ayo tangkap," pinta Bianca heboh.
Melvin melirik burung itu, masih saja burung yang difikirkannya, bisa-bisanya Melvin dikalahkan seekor burung.
"Itu, ayo itu," ucap Bianca seraya menunjuk.
Melvin hanya diam menatap burung itu, malas sekali melakukannya.
"Oke, bagus juga."
Keduanya menoleh, Bianca diam menatap lelaki itu, sebenarnya apa maksudnya, apa mereka tidak niat bekerja, sejak tadi hanya begitu saja tidak ada arahan apa pun, kapan pemotretannya di mulai benar.
"Bii."
Bianca menoleh dan seketika melompat girang, burung itu kembali ada di tangan Melvin, Bianca memeluknya seraya menatapnya.
"Ya, kamu hebat."
Melvin mengangguk, ia mendekat perlahan, dua hidung mancung itu beradu, jantung Bianca mendadak panik saat merasakan hembusan nafas Melvin.
"Kamu harus bahagia," ucap Melvin pelan.
Mata Bianca perlahan terpejam, ia berfikir jika Melvin akan mengambil ciuman pertamanya.
"Oke, cukup."
Keduanya tersentak, dasar bodoh, Melvin dan Bianca benar-benar melupakan mereka semua.
Bianca mengambil burungnya, ia berjalan lebih dulu meninggalkan Melvin, Bianca tidak baik-baik saja sekarang, gemuruh di jantungnya sudah mengacaukan dirinya.
"Bii," panggil Bian yang sedikit berlari.
Bianca menoleh dan tersenyum, tapi tidak menghentikan langkahnya.
"Bisa sekali."
"Karena kita handal."
"Tentu saja."
Fotografer itu berbincang bersama, mereka asyik dengan kegiatannya tanpa mengusik kegiatan Bianca dan Melvin.
Semakin banyak waktu terlewatkan, mereka sudah melakukan banyak hal, Melvin dan Bianca juga sudah sempat membeli makanan dan beberapa minuman juga cemilan di sana.
"Rasanya sudah cukup."
Bianca dan Melvin menoleh, mereka tampak duduk santai dengan menyimpan kameranya.
"Apa-apaan mereka," ucap Bianca.
__ADS_1
"jangan bercanda, ayo cepat, gak akan ada hasil kalau kayak gini," omel Melvin.
Mereka justru saling lirik dan tersenyum bersamaan, tak ada yang berniat menjawab ucapan Melvin, mereka kembali meraih kameranya dan asyik berbincang bersama, mereka mengabaikan Bianca dan Melvin.