
Perlahan Bianca membukanya, ia membuka kotak merah yang milik Melvin, matanya menyipit dua cincin di dalamnya, cantik sekali.
"Melvin, ini ...."
Bianca tak melanjutkan kalimatnya, ia mengeluarkan cincin wanitanya, emas putih itu begitu gemerlap dengan berlian kecil yang mengelilingi atasnya, juga satu bentuk bintang di tengahnya.
"Tapi ini ...."
Lagi dan lagi Bianca tak melanjutkan kalimatnya, ia menyipitkan matanya, dengan menatap dekat cincin tersebut, Bianca melihat ada beberapa huruf dibagian yang sempat dilihatnya sebatas mutiara.
"Ini apa?"
Bianca mengusapnya perlahan, ia semakin memperhatikannya, semakin jelas penglihatannya, ia berhasil membacanya, itu adalah rangkaian namanya, Bianca.
"Melvin, ini berlebihan."
Melvin tak menjawab, ia meraihnya dan menarik tangan Bianca, memasangkan cincin tersebut dan menatapnya.
"Ini cantik, aku sengaja membuat seperti ini untuk mu, kamu suka?"
Bianca tersenyum, ia mengangguk pasti, bagaimana mungkin ia tak suka, Bianca tidak tahu apa-apa tentang itu, dan Bianca sangat menyukai hasilnya.
"Terimakasih banyak."
Melvin tersenyum, ia menangkup kedua pipi Bianca, mengusapnya lembut dengan ibu jari.
"Kita akan sama-sama kan, Bii?"
Bianca mengangguk, tentu saja, itu keyakinan mereka berdua, Bianca akan sangat berdoa untuk hal tersebut.
"Jangan berubah fikiran, aku tidak mau gagal lagi."
"Itu juga berlaku untuk mu, aku mau kamu jadi yang pertama dan terakhir untuk aku."
Melvin mengecup kening Bianca hangat, sentuhan yang baru pertama Bianca rasakan selama bersama Melvin, itu manis baginya.
"Baiklah, aku tidak mau melepas ini lagi."
Melvin menurunkan tangannya, ia mengangguk setuju dengan itu, tapi kemudian ia melepaskan lagi cincinnya.
"Kenapa dilepas, pasang lagi ih."
"Tunggu dua minggu lagi."
Bianca tersenyum, Melvin mengambil kotaknya dan menyimpannya lagi, Melvin tidak akan sempat jika harus memesan satu lagi.
"Lalu ini apa?"
"Buka saja, itu hadiah dari Agit buat kamu."
Bianca membukanya, masih cincin isinya, dan masih emas putih, hanya saja bentuknya yang dibuat seperti mahkota, dengan 3 ukiran hati dikiri kanan dan tengahnya, cantik layaknya mahkota putri.
"Ini bagus."
"Kamu bisa langsung memakainya."
"Aku harus berterimakasih dulu."
"Tidak, nanti saja dia akan datang ke pernikahan kita."
Melvin mengambil cincinnya dan memasangkannya, kali ini Bianca tidak perlu melepaskannya lagi, Melvin memasangnya di jari tengah tangan kirinya, bersebelahan dengan cincin lamaran darinya.
"Manis bukan?"
Bianca mengangguk, ia meluruskan jemarinya dan tersenyum, kali ini Bianca benar-benar menghiasi jemarinya dengan lambang kebahagiaan.
"Jangan sampai hilang."
"Siap, terimakasih banyak."
__ADS_1
"Kamu sudah berterimakasih tadi."
Melvin mengusap kepala Bianca, apa lagi yang bisa dikatakannya, Bianca tidak pernah berfikir semua akan secepat itu, semua manis dan membahagiakannya.
"Kamu simpan kotaknya ya."
"Oke,"
Bianca menutup kotaknya dan memasukannya ke saku, senyuman Bianca tak bisa lagi disembunyikan, ia senang dengan semua yang didapatkannya malam ini, terutama kedatangan Melvin setelah berhari-hari.
"Melvin, aku ...."
Bianca diam saat melihat mata Melvin yang terpejam kuat, kedua tangannya juga tampak mengepal.
"Melvin."
Melvin menoleh, ia tersenyum, tapi meski begitu tak mampu mengembalikan ketenangan Bianca.
"Kamu kenapa?"
"Gak, aku gak apa-apa."
"Jangan bohong kamu, kamu sakit?"
Melvin menahan tangan Bianca yang hendak menyentuh keningnya, Bianca mengernyit, ia menarik kembali tangannya dari genggaman Melvin.
"Ada apa, kenapa seperti itu?"
"Tidak apa-apa, sebaiknya kamu masuk ya, aku juga mau pulang."
Bianca diam, apa yang harus difikirkannya sekarang, sikap Melvin yang seperti itu justru membuat fikirannya kabur.
"Ayo sana masuk, nanti malah ketahuan sama Ibu."
"Kamu yakin gak apa-apa?"
"Yakin, aku gak apa-apa, sudah kamu masuk ya."
"Gak, kamu masuk dulu, baru aku pulang."
Bianca kembali diam, ia tak bisa berpaling menatap Melvin, bukankah itu aneh, ada apa dengannya.
"Ya sudah, aku masuk, sekali lagi terimakasih, hati-hati di jalan."
Melvin mengangguk, ia mengusap kepala Bianca sekilas, setelah Bianca memasuki rumah, Melvin juga memasuki mobil, ia menunduk pada stir mobilnya.
"Gak bisa, belum selesai semua, aku harus kuat tinggal sedikit lagi."
Melvin menggeleng, ia lantas menyalakan mesinnya dan melaju pergi, Melvin akan istirahat agar besok bisa kembali pulih.
----
"Melvin belum pulang?" tanya Mika.
"Belum, lama sekali dia."
Mika turun dari tempat tidurnya, perasaannya sangat tidak baik tentang putranya itu, kemana dia, bukankah rumah Agit tidak terlalu jauh dari tempat mereka.
"Mau kemana?"
"Mama, mau keluar, mungkin saja Melvin sudah masuk kamar."
Deva mengangguk, baiklah, ia membiarkan Mika pergi, sejak kepergian Melvin tadi, mereka terus saja menunggu kepulangannya.
"Melvin, kamu buat Mama khawatir saja."
Mika berdiri di depan pintu kamar Melvin, ia mengetuk pintu tersebut dan memanggil Melvin.
"Melvin, kamu di dalam?"
__ADS_1
Tak ada jawaban, Mika melihat sekitar, tidak ada siapa pun, apa mungkin jika Melvin belum pulang.
"Melvin, kamu dengar Mama?"
Jauh di luar sana terdengar deru mobil memasuki halaman rumah, bukankah itu suara mobil Melvin, rupanya lelaki itu baru sampai.
Mika lantas turun dan segera keluar luar, untunglah Mika bisa mendengar suara mobilnya meski di atas sana.
"Melvin, kamu sudah pulang."
Mika mengernyit, melihat Melvin yang jalan seraya menunduk, ia kaget saat langkah kaki itu terhuyung dan jatuh di teras.
"Melvin, Ya Tuhan, kamu kenapa?"
Mika jongkok dan menyentuh kedua pundak Melvin.
"Kamu kenapa, sakit kan?"
"Kepala ku sakit."
Mika berdecak, itulah hasil dari keras kepalanya.
"Papa, Bibi," teriak Mika.
Semoga saja mereka bisa mendengar suara Mika.
"Kita ke Dokter saja ya."
"Tidak, aku tidak mau."
"Kamu sudah seperti ini, bagaimana tidak mau, Papa," teriaknya lagi.
"Kenapa, Bu?"
Mika menoleh, mbak rumah yang ternyata menghampirinya.
"Tolong, tolong bantu."
"Kenapa ini?" tanya Deva.
"Baguslah, Papa, ayo bantu Melvin jalan."
Deva menghampiri dan turut jongkok, ia diam menatap Melvin, jadi ini hasilnya.
"Ayo, Papa."
"Iya, ayo."
Keduanya membangunkan Melvin dan memapahnya masuk rumah, tidak mungkin mereka membawanya ke atas.
"Kamar depan saja," ucap Deva.
"Iya, Bi, bawakan minuman hangat."
"Baik, Bu."
Keduanya lantas memasuki kamar, itu adalah kamar tamu, tapi tak apa karena memang sedang kosong juga, mereka membaringkan Melvin di sana.
"Kenapa kamu ini?" tanya Deva.
"Kepalanya sakit, dia pasti terlalu lelah mengurus semuanya."
Melvin diam saja dengan mata yang terpejam, sakit dan pusing sekali kepalanya saat ini, Melvin ingin tidur saja.
"Kamu sudah bertemu Agit?" tanya Mika.
"Sudah, tadi aku ke rumah Bianca dulu."
"Ngapain lagi kamu kesana, keras kepala sekali kamu ini," omel Mika.
__ADS_1
Melvin tak lagi menjawab, ia hanya diam saja merasakan sakit di kepalanya, karena itu sudah cukup menyiksa dirinya.