
"Bii, kamu dimana?"
Melvin menuruni tangga, sejak keluar, Bianca tak kembali ke kamar, entah kemana wanita itu sekarang.
"Bianca."
"Ada apa, Den?"
"Bianca, dimana dia?"
"Tadi pergi buka pintu, ada yang datang dan katakanya mau buka sendiri saja."
"Tamu?"
"Iya, mungkin mereka di depan."
"Oke, terimakasih."
Melvin lantas berlalu, ia harus tahu siapa tamu yang datang sampai membuat Bianca tak lagi menemuinya.
"Bii," panggil Melvin seraya keluar.
Melvin mengernyit melihat Bianca bersama dengan Tiara dan Ronald di sana, untuk apa mereka datang, dan kenapa tak ada kabar apa pun padanya.
"Hey, Melvin, apa kabarnya?"
Melvin tersenyum dan menyambut pelukan hangat dari Ronald, Tiara mengulurkan tangannya, dan Melvin juga menjabatnya.
"Kalian kesini, ada apa?" tanya Melvin.
"Bagaimana bisa bertanya seperti itu, apa tidak rindu dengan ku?" tanya Ronald.
Melvin tersenyum seraya mengangkat kedua bahunya sekilas, keduanya tersenyum bersamaan, baiklah Melvin tidak bisa menolak kedatangan mereka.
"Bii, kenapa kamu tidak ajak mereka masuk?"
"Sudah, tapi mereka menunggu kamu."
"Ya sudah, ayo masuk."
Melvin membawa Ronald memasuki rumah, sepertinya Melvin memang merindukan teman dekatnya itu.
Tiara menahan Bianca yang hendak menyusul masuk, untuk sesaat keduanya bertahan dalam tatapan satu sama lain.
"Bahagia?" tanya Tiara.
"Tentu saja, kamu pasti paham bagaimana rasanya jika bisa bersama dengan orang yang diharapkan."
Tiara mengangguk seraya berpaling sesaat, itu memang kabar buruk baginya, tapi Tiara yakin jika itu hanya sesaat saja.
"Kamu mau masuk?" tanya Bianca.
"Sebenarnya aku malas, tapi tak apa sedikit terpaksa."
Bianca tersenyum, ia lantas mengajak Tiara untuk masuk menyusul dua lelaki itu.
"Tunggu dulu."
"Ada apa?"
__ADS_1
"Aku harap kebahagiaan kamu untuk selamanya."
Bianca mengernyit, tentu saja itu jadi harapan terbesarnya, tapi kenapa Bianca merasa tidak nyaman mendengar kalimat itu dari Tiara.
"Kenapa?" tanya Tiara.
"Tiara, aku harap kamu paham jika pertemuan dan kebersamaan aku dengan Melvin, itu sudah ketentuan Tuhan."
Tiara menahan tawa mendengarnya, apa ceramah Bianca akan berarti baginya, Tiara sangat tidak perduli dengan itu.
Tiara akan tetap dengan niatnya untuk mengusik ketenangan dan kebahagiaan mereka, Bianca tidak boleh bahagia dengan lelaki yang masih diharapkan oleh Tiara.
"Tiara."
"Kita lihat nanti, sejauh mana Tuhan mampu menjaga kebersamaan kalian."
"Tiara, jaga bicara kamu."
Tiara mengangkat sebelah alisnya acuh tak acuh, masa bodoh dengan semuanya, Tiara hanya akan melakukan dan mengatakan apa yang diinginkannya saja.
"Tiara."
"Diam, jangan banyak bicara padaku, apa yang jadi kenyataan saat ini, tidak sedikit pun bisa aku terima."
"Lalu kamu mau apa?"
Kali ini Tiara benar-benar tertawa mendengar pertanyaan Bianca, sejak kapan musuh berbagi strategi dengan lawannya, lucu sekali Bianca.
"Tiara, aku tidak akan menggenggam Melvin terlalu erat, dia tidak akan lepas dari ku, tapi sebaliknya, jika kamu terus memaksa untuk meraihnya, aku pastikan impian itu akan semakin jauh untuk jadi kenyataan bagimu."
"Benarkah, wow."
"Bii, kamu masih ...."
Kalimat Melvin terhenti saat melihat tangan Bianca yang digenggam Tiara, tidak ingin berfikir buruk tentang apa yang dilihatnya, Melvin segera membebaskan tangan Bianca.
"Kenapa masih disini?"
Bianca hanya tersenyum menanggapinya, ia melirik Tiara, wanita itu masih saja menatapnya.
"Kenapa kamu kesini, kasihan teman kamu ditinggalkan," ucap Bianca seraya melepaskan genggaman Melvin.
Melvin menggeleng, ia melirik Tiara, apa lagi yang harus difikirkannya sekarang tentang wanita itu.
"Kenapa, untuk apa melihat ku seperti itu?" tanya Tiara.
"Silahkan masuk, bukankah kekasih mu sudah masuk sejak tadi."
Tiara diam, kekasih, benarkah seperti itu kenyataannya, tapi itu tak perlu difikirkannya, terserah saja mereka mau bicara seperti apa.
"Ayo silahkan masuk, Bii ayo masuk."
Melvin berbalik, tapi tangannya berusaha meraih tangan Bianca, dua wanita itu sadar dengan maksud tangan Melvin.
Dengan sengaja Bianca menjauhkan tangannya, ia juga mundur sedikit menjauh dari Melvin, hingga lelaki itu kembali berbalik dan menatapnya sesaat.
Melvin lantas meraih dan menggenggam tangan yang menghindarinya, ia menariknya memasuki rumah, Bianca tersenyum seraya menatap Tiara di sana.
"Ada apa kamu ini?" tanya Melvin pelan.
__ADS_1
Tak ada jawaban, Bianca masih fokus pada Tiara di sana, sudah seharusnya Tiara sadar jika Melvin juga begitu mengingikan Bianca.
Tiara menghembuskan nafasnya sekaligus, ia mendelik tak perduli, hanya seperti itu saja, Tiara bisa melakukan hal lebih untuk membuat Bianca tak tenang menjalani harinya.
"Ayo duduk," ucap Melvin menekan kedua pundak Bianca agar duduk.
"Mana Tiara?" tanya Ronald.
"Aku disini," ucap Tiara.
Tiara sengaja memilih jalan kearah Melvin, ia juga dengan sengaja menyandungkan kakinya ke meja, hingga membuatnya limbung tak tertahan.
Refleks, Melvin seketika memeluk tubuh Tiara dari belakang, bagaimana bisa Melvin membiarkannya tersungkur di depan matanya.
Hal itu membuat Bianca dan Ronald bangkit bersamaan dari duduknya, Bianca menatap Tiara yang berusaha memperlihatkan sedikit senyumannya itu.
"Tiara, kamu tidak apa-apa?" tanya Ronald mendekat.
Melvin segera melepaskan tahanannya, ia melirik Bianca dan bergeser mendekatinya, Ronald jongkok memastikan jika kaki Tiara baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa, hanya tersandung sedikit saja, maaf aku ceroboh."
Ronald kembali bangkit, ia membawa Tiara untuk segera duduk saja agar tidak terjadi kesalahan lagi.
Melvin kembali melirik Bianca, wanita itu kembali duduk tanpa mengatakan apa pun, bahkan melirik Melvin pun tidak.
"Bii, aku ...."
"Aku mengerti, tidak perlu dipermasalahkan."
Melvin mengangguk perlahan, semoga saja kalimat itu memang berasal dari hati Bianca, Melvin memang tidak berniat lain saat menahan Tiara tadi.
"Bibi, bawakan suguhan," ucap Bianca sedikit keras.
"Iya, sebentar."
Bianca bersandar pada sandaran sofa, dan diam tanpa pergerakan dan perkataan apa pun lagi.
Melvin memejamkan matanya sesaat, tidak mungkin Bianca marah, bukankah ia tahu jika Melvin tak lagi mengharapkan Tiara.
"Melvin, jadi kapan kamu kembali ke Kantor?"
"Emmm, mungkin senin depan, tanggung juga 3 hari lagi."
"Oh, baiklah, tidak perlu khawatir, Bos bebas mau seperti apa pun."
Melvin hanya tersenyum saja mendengarnya, benarkah seperti itu, tapi Melvin tidak bisa berfikir seperti itu.
Sesaat kemudian, suguhan datang dan ditata rapi di meja, Melvin mempersilahkan Tiara dan Ronald untuk menikmatinya segera.
"Kamu mau minum?" tanya Ronald.
Tiara menoleh, ia tersenyum seraya menggeleng, tidak perlu seperti itu karena Tiara tidak membutuhkannya.
"Baiklah, kamu pasti bisa ambil sendiri."
"Tentu saja, silahkan kalau kamu mau minum, aku biar nanti saja."
Ronald mengangguk dan menikmati minumannya, Tiara kembali melirik Bianca, wanita itu hanya diam saja, bukankah itu artinya Tiara berhasil membuatnya tak tenang.
__ADS_1