Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Aku Juga Bisa


__ADS_3

Sampai malam tiba, Melvin dan Bianca masih berkeliling menemui orang-orang yang terlibat dalam musibah kebakaran itu.


Saat ini, mereka sampai di rumah Reska, wanita itu menjadi orang terakhir yang menjadi tujuan Bianca dan Melvin.


"Permisi," ucap Bianca.


"Cari siapa?"


"Apa benar ini tempat tinggal Reska?"


"Benar, dia baru saja sampai, pulang dari Rumah Sakit."


Bianca melirik Melvin, jadi wanita itu yang dirawat di rumah sakit, tapi syukurlah kalau memang sudah kembali ke rumah.


Bianca dan Melvin dipersilahkan masuk, mereka segera menemui Reska di kamarnya, tidak salah kalau memang tempat itu kost juga.


"Terimakasih," ucap Melvin.


"Sama-sama, permisi."


Bianca mengetuk pintu, dan langsung terbuka saat itu juga.


Mereka sama-sama terdiam, melihat Reska yang cukup banyak lukanya itu.


"Bianca."


"Aku boleh masuk?"


"Silahkan saja, tapi tempatnya sempit."


Bianca hanya tersenyum tanpa berniat untuk menjawab, mereka lantas masuk dan duduk bersama.


Melvin mengerti dengan itu, dan ia merasa bangga terhadap Bianca dan Mayang, mereka juga orang biasa tapi bisa membantu kehidupan orang lain juga.


"Luka mu masih parah?" tanya Bianca.


Reska mengangguk, Melvin dan Bianca saling lirik, mereka bisa melihat wajah muram Reska.


"Ada apa, ada masalah lain diluar keadaan mu saat ini?" tanya Bianca.


Bukan menjawab, Reska justru terisak, ia menunduk tak berani menatap Bianca atau pun Melvin.


"Kamu kenapa?" tanya Bianca.


Tak ada jawaban, entah apa yang harus mereka fikirkan, mungkin saja Reska tidak bisa membayar biaya rumah sakit.


Tapi bukankah bisa juga, ia tidak bisa membayar biaya kostnya, atau mungkin uangnya habis semua dan tidak ada meski untuk kebutuhan sehari-hari.


"Reska, aku tahu kamu dirugikan karena kajadian ini, tapi sedikit pun keluarga ku tidak menginginkan hal ini, jadi masalah apa pun yang terjadi padamu karena hal ini bicarakan saja," ucap Bianca.

__ADS_1


"Ibu dan Adik ku sakit disana, aku sempat memberinya uang untuk berobat tapi yang sembuh hanya Adik ku saja, sedangkan Ibu ku justru semakin drop, dan sekarang uang ku habis untuk melunasi tagihan pengobatan ku sendiri."


"Ibu mu meminta biaya lagi?" tanya Melvin.


Reska menggeleng, mungkin itu benar, tapi memang itu tidak dilontarkan langsung padanya.


Melvin melirik Bianca, semua tidak akan jauh dari biaya, dan sudah seharusnya mereka mengerti dengan itu.


"Ibu tidak meminta biaya, Ibu minta aku pulang saja, tapi aku merasa tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini, mereka akan sangat mengkhawatirkan aku."


"Tapi kamu harus lakukan itu, bisa saja Ibu kamu sakit karena terlalu merindukan kamu, dan bisa saja Ibu kamu merasakan ketidak baikan keadaan kamu disini," ucap Bianca.


"Itu benar, tidak akan ada penjelasan jika kamu tidak menemuinya."


Reska diam, ia khawatir jika kedatangannya nanti justru akan membuat keadaan ibunya semakin memburuk.


Reska sadar jika ibunya terlalu mengkhawatirkannya, dan keadaan Reska saat ini pasti akan membuatnya panik.


"Kamu ada ongkos untuk pulang?" tanya Bianca.


"Tidak."


"Kalau begitu kita kesana sama-sama," ucap Melvin.


Bianca mengernyit, kenapa jadi seperti itu kalimatnya, bagaimana bisa seperti itu bukankah mereka harus mengurusi Mayang.


Melvin menoleh dan mengangguk, mereka harus tahu keadaan yang sebenarnya, kalau memang mereka mau bertanggung jawab atas keadaannya, maka semua harus mereka perhatikan.


"Tidak masalah, aku bisa temani dia pulang, dan kamu bisa tetap urus Ibu disini."


Bianca semakin tak habis fikir dengan perkataan Melvin, bisa sekali lelaki itu mengambil keputusan secepat saat ini.


Melvin tersenyum, ia mengusap kepala Bianca lembut, apa bisa istrinya itu berfikir buruk tentang dirinya.


"Aku bisa ajak Mama, kita gak akan pergi berdua saja."


Bianca seketika berpaling, ya itu memang benar, Bianca tidak rela jika Melvin hanya pergi berdua saja dengan Reska.


"Ayolah, ini bukan waktunya untuk cemburu," ucap Melvin.


"Aku gak cemburu, enak saja."


Melvin tersenyum, ia menurunkan tangannya dan kembali pada Reska di sana.


Bianca memejamkan matanya sesaat, apa juga yang difikirkannya, bodoh sekali Bianca kali ini.


"Kamu mau pulang kapan, biar nanti aku bantu siapkan semuanya," ucap Bianca.


"Aku juga belum tahu."

__ADS_1


"Rasanya tidak akan bisa kalau harus menunggu sampai kamu puih," sahut Melvin.


Reska mengangguk setuju, itu memang benar adanya, Reska juga tidak mau jika sampai terlambat menemui ibunya di sana.


Bianca membuka ponselnya berniat melihat jam di sana, sudah malam dan Mayang pasti akan memgkhawatirkannya di sana.


"Reska, kamu bisa kabari aku kalau kamu sudah membuat keputusan, fikirkan semuanya dengan baik, dan segera kabari aku."


Reska mengangguk setuju, mungkin malam ini Reska akan memikirkannya penuh, ia memang membutuhkan bantuan yang ditawarkan.


"Kita pulang sekarang?" tanya Melvin.


"Kamu masih betah disini, silahkan saja aku bisa pulang sendiri."


Melvin tersenyum, ia mencubit hidung Bianca sekilas, menyebalkan sekali istrinya itu, masih saja salah fikir tentang ucapan suaminya sendiri.


 


"Bu Mayang, mau makan sekarang?" tanya Mika.


"Apa Bianca dan Melvin sudah kembali?"


"Belum, Melvin bilang masih ada satu orang lagi, dan mereka mau selesaikan semuanya malam ini."


Mayang diam, kasihan sekali mereka berdua, pasti lelah dan pusing karena harus mengurus semuanya dalam satu hari.


Mika menyimpan makanannya, ia bertahan di rumah sakit menemani Mayang, itu sesuai dengan permintaan Bianca.


"Biarkan saja, Melvin akan menjaga Bianca dengan baik, dan mungkin mereka akan langsung pulang ke rumah setelah selesai, jadi jangan terlalu menunggu mereka datang."


"Mereka pasti kerepotan."


"Biarkan saja, itu sudah keharusannya, dan bukankah membantu orang tua itu besar pahalanya."


Mayang tersenyum seraya mengangguk, kalau saja yang repot hanya Bianca, mungkin Mayang akan sedikit lebih tenang.


Tapi kali ini, Mayang juga merepotkan Melvin, merepotkan menantunya yang mungkin saja orang tuanya tidak rela dengan itu.


"Sudahlah Bu, ayo kita makan, mumpung makanan masih hangat dan lagi Ibu jangan terlalu stres memikirkan semuanya, kita akan bekerjasama dalam masalah ini."


"Terimakasih banyak, maaf kalau baru sebentar saja kita menjadi keluarga, masalah sudah sebesar ini."


Mika menggeleng, itu sama sekali bukan masalah, lagi pula Mika sudah sering mendapatkan masalah sebelum saat ini.


Mika menyiapkan makanannya, mereka mulai menikmatinya berdua saja karena memang Deva yang tidak bisa datang lagi.


"Maaf kalau makanannya tidak enak, tadi beli di luar soalnya."


"Tidak masalah, terimakasih banyak, lagi dan lagi ini merepotkan."

__ADS_1


"Tidak masalah, karena kita sama-sama butuh makan, jadi siapa yang bisa cari maka tidak ada salahnya."


Mayang mengangguk, kebaikan mereka tidak akan Mayang lupakan, tentu saja hubungan baik itu akan selalu dijaganya.


__ADS_2