
Sintio menghampiri Rasya yang memang memintanya untuk datang malam ini, sama seperti Bianca, Sintio juga memang dekat dengan Rasya.
"Duduklah sebentar," ucap Rasya.
"Ada apa?"
"Aku rasa ini soal serius, karena ini menyangkut Marten."
Sintio mengangguk, segala hal yang menyangkut Marten, ujung-ujungnya pasti Bianca juga.
Bukankah Marten sudah sejak orok bareng Bianca, mereka sudah seperti soulmate yang tidak bisa dipisahkan meski apa pun alasannya.
"Mungkin kamu mengerti."
"Mungkin saja, tapi mau bagaimana lagi, bukankah dirimu tahu kalau Bianca sudah memiliki kehidupannya sendiri saat ini."
Rasya mengangguk paham, dan ia sadar itu tidak bisa diingkari meski memang ia ingin mengingkarinya.
"Kalau terus seperti itu, aku rasa akan sangat mengganggu kehidupan pribadi Bianca dan Suaminya."
"Itulah."
"Bagaimana kalau coba dekatkan Marten dengan yang lain, ya mungkin lebih harus lagi kalau wanita itu calon Istri mu sendiri."
Rasya diam, bukankah itu saran yang dilontarkan karyawannya tadi, dan sekarang Sintio mengatakan hal yang sama juga.
Sintio mengangguk, entah apa yang difikirkan lelaki itu, padahal ia punya segalanya dan rasanya tidak akan sulit untuk mendapatkan pasangan hidup.
"Apa perlu aku yang carikan?" tanya Sintio.
"Kalau memang bisa jadi yang terbaik."
Sintio diam, ia menunjukan tatapan julidnya, memangnya siapa yang akan berumah tangga, kenapa Sintio yang harus repot.
"Kau mau salah satu dari kawan ku, kawan Bianca juga."
"Tidak, bagaimana mungkin, tidak ada yang kusukai dari mereka semua."
"Tidak mungkin juga dengan ku."
Rasya sedikit memelototinya, menjengkelkan sekali kalimatnya itu, tentu saja tidak karena Rasya juga masih normal.
Sintio tertawa dengan tingkah gemulaynya, jelas saja itu tidak akan mungkin, Sintio juga menginginkan masa depan impiannya sendiri.
"Biar nanti aku tanyakan pada Bianca, mungkin saja Suaminya mau membantu, teman Melvin pasti akan ada yang cocok dengan mu."
"Kenapa harus padanya?"
"Karena dia yang selevel dengan mu, kawan dia pasti kelas atas semua, dan bukankah itu dirimu cari?"
Rasya sedikit tertawa, itu benar sekali, satu hal yang Rasya cari adalah kastanya, ya memang sedikit rewel.
Sintio membuka ponselnya, lelaki setengah perempuan itu memang selalu sibuk dengan ponselnya, tapi tidak perlu diragukan karena setiap gerakan jari jempolnya pasti selalu menghasilkan pundi rupiah.
"Baiklah, masih ada yang mau dibahas, jangan bahas Bianca, aku tidak tahu masalah rumah tangga."
Rasya berdecak, menyebalkan memang lelaki itu, padahal Rasya memang ingin bertanya tentang Bianca dan kehidupan barunya itu.
__ADS_1
"Nah kan, memang gak beres sejak awal, kalau memang suka harusnya gerak cepat dari awal."
"Jaga fikiran mu itu, apa juga bisa sekali bicara seperti itu."
Sintio mendelik, bukankah mereka memang sudah sangat dekat, jika saja sejak dulu Rasya bisa memiliki Bianca, pasti saat ini mereka sudah bahagia.
Bianca memasuki kamarnya, ia tersenyum melihat Melvin yang baru keluar dari kamar mandi.
"Baru selesai?" tanya Bianca.
"Beginilah, Mama ada di rumah?"
"Tidak, Mama di Rumah Sakit, dan baru saja Papa juga pergi kesana."
Melvin mengangguk, biarkan saja kalau memang mereka pergi dengan tujuan jelas.
Melvin tidak akan susah mencari jika nanti terjadi sesuatu, Bianca duduk, terdengar hembusan mafas beratnya itu oleh teling Melvin.
"Ada apa, apa lagi yang kamu fikirkan?"
Bianca menoleh saat Melvin duduk di sampingnya, tentu saja banyak, bukankah masalahnya juga memang belum selesai.
"Ada apa, masih soal karyawan Ibu?"
"Itu juga."
"Lalu apa?"
"Aku gak tahu."
Bianca menunduk sesaat, kenapa ia jadi berfikir kalau kemalangan itu terjadi karena pernikahannya dengan Melvin.
"Apa ini yang dikatakan Tiara waktu itu, aku tidak akan bisa bahagia menikah sama kamu sampai kapan pun."
Melvin mengangkat kedua alisnya, jadi itu yang sejak tadi difikirkan Bianca.
Padahal Melvin berfikir jika Bianca sedang memikirkan ibunya, atau mungkin karyawan ibunya, dan bahkan toko kuenya.
"Kamu pernah berfikir kalau itu bisa saja benar?"
"Jelas saja tidak, memangnya siapa Tiara sampai bisa melakukan ini pada kita?"
Bianca menggeleng, tapi baru awal saja sudah seperti ini keadaannya, bagaimana lagi kalau besok-besok.
Melvin mengangguk, ia merangkuk Bianca, mengecup keningnya dan kepalanya hangat.
"Jangan berfikir yang tidak-tidak, ini semua musibah, bukan karena pernikahan kita, kamu jangan lupa kalau pernikahan itu perbuatan baik dan mana mungkin mendapat balasan tidak baik."
"Entahlah, mungkin memang aku yang befikir berlebihan tentang ini, aku minta maaf."
"Lupakan soal Tiara, itu sama sekali tidak berguna, sekarang kamu fokus saja sama keluarga kita."
Bianca tersenyum seraya mengangguk, tidak perlu mendebatkan itu, biarkan saja Bianca dengan fikirannya sendiri tentang ucapan Tiara.
Melvin mundur, ia berbaring di tempat tidurnya, lelah sekali ia hari ini dan rasanya ingin cepat istirahat.
__ADS_1
"Kamu mau tidur sekarang?" tanya Bianca.
Melvin menoleh, ia menarik Bianca dan memeluknya erat.
"Memangnya kenapa, apa kamu tidak mengantuk?"
"Tidak, sepertinya aku akan susah tidur malam ini."
"Kalau begitu tanggalkan pakaian mu."
Bianca mengernyit, ia menengadah menatap Melvin, kenapa jadi itu yang diucapkannya.
"Ayo, tunggu apa lagi?"
"Untuk apa, bukannya kamu lelah?"
Melvin mengangguk, itu memang benar, dan sebaiknya memang Melvin istirahat saja.
Bianca melepaskan pelukan Melvin dan kembali duduk, biarkan saja lelaki itu tidur lebih dulu, Bianca akan menyusul nanti.
"Jangan melakukan hal-hal aneh," ucap Melvin.
"Aku akan melakukan apa pun yang aku mau."
"Bianca."
Bianca tersenyum, ia menarik selimutnya dan menutupi setengah tubuh Melvin.
Lelaki itu tersenyum, ia meraih tangan Bianca, menciumnya lama dan kemudian mengusap pipinya.
"Jangan tidur terlalu larut, tidak baik karena besok kamu masih harus beraktivitas."
"Iya aku tahu itu, kamu tidur duluan saja, mungkin sebentar lagi aku juga akan mengantuk."
Melvin mengangguk, ia melepaskan Bianca dan memejamkan matanya.
Bianca menghembuskan nafasnya perlahan, dengan hati-hati Bianca turun dan berlalu keluar kamar.
"Non, ada yang dibutuhkan?"
Bianca menoleh dan menggeleng, sedikit terkejut dengan pertanyaan mbak rumahnya itu.
"Ini sudah malam, kenapa malah keluar?"
"Aku belum mau tidur Bi, nanti saja aku mau di luar sebentar."
"Den Melvin tahu?"
Bianca mengangguk pasti, mbak rumah juga mengikuti anggukan itu kemudian.
Baguslah, agar tidak ada keributan nantinya kalau tahu kemana Bianca pergi.
"Bibi istirahat saja, kalau perlu apa-apa aku bisa cari sendiri."
"Iya Non, permisi."
"Selamat beristirahat."
__ADS_1
Keduanya menuruni tangga meski kemudian berpisah karena arah masing-masing, Bianca benar-benar keluar rumah dan duduk di kursi luar sana.
Ia menatap langit yang bertabur bintang, sibuk bergelut dengan fikiran sendiri ditengah keheningan malamnya saat ini.