
Mayang memulai pagi harinya dengan kegiatan seperti biasanya, ia membuka kamar Bianca, semalaman Mayang tidak mendengar suara Bianca sedikit pun juga.
"Sedang apa dia sekarang."
Mayang tersenyum, ia menggeleng dan kembali menutup pintunya, kakinya kembali terayun menuju dapur.
Mayang tidak akan mengganggu putrinya, biarkan saja, Bianca pasti akan menemuinya atau paling tidak akan menghubunginya nanti.
"Belanja apa saja sekarang."
Mayang memeriksa semua bahan-bahan kuenya, sudah beberapa hari Mayang tidak membuat kue karena kesibukan pernikahan Bianca, dan sekarang Mayang harus memulainya lagi.
"Permisi."
Mayang menoleh, itu seperti suara Mika, ada apa pagi-pagi sudah datang ke rumahnya.
"Apa mungkin Bianca membuat ulah disana."
Mayang menggeleng dan segera membukakan pintu.
"Selamat pagi, Bu Mayang."
"Pagi, Bu, ada apa?"
"Tidak, saya hanya berkunjung saja, di hari pertama kita menjadi besan."
Mayang tersenyum, syukurlah itu artinya Bianca tidak berulah, karena bukan itu kalimat yang diucapkan Mika pertama kali.
"Mari Bu, silahkan masuk."
"Terimakasih."
Keduanya memasuki rumah, Mayang membiarkan pintu rumahnya terbuka, karena mungkin saja Mika akan merasa pengap berada di dalam rumah sempitnya itu.
"Silahkan duduk, Bu."
"Oh iya terimakasih, ini ada titipan dari Bianca di rumah."
Mayang menerima pemberian Mika, ia tersenyum, jadi seperti itu caranya Bianca.
"Dia pagi-pagi sekali sudah bangun, bahkan lebih dulu dari pada Mbak rumah."
"Benarkah, disini pun dia selalu begitu."
"Ya, padahal Melvin masih terlelap."
Keduanya tersenyum, memang tidak boleh ada yang berubah, Bianca harus tetap menjadi dirinya sendiri, pribadinya sendiri meski sekarang sudah tinggal di rumah mewah itu.
"Kalau begitu, saya siapkan ini dulu ya, kita akan makan sama-sama."
"Baiklah, tidak masalah."
Mayang berlalu meninggalkan Mika di sana, wanita itu duduk dan bermain dengan ponselnya.
Mika memang hanya datang sendirian saja, Deva tidak bisa ikut karena harus terburu-buru ke kantor, sehingga Mika hanya diantar sopir saja datang ke rumah besannya.
"Silahkan, Bu."
Mika menoleh, ia menyimpan ponselnya dan melihat apa yang disiapkan Mayang.
"Tadi saya kesini, mereka sedang makan di rumah, makanya Bianca titipkan ini."
"Ini masakan anak saya?"
Mika mengangkat kedua bahunya sekilas, bisa saja seperti itu, tapi Bianca tidak mengakuinya.
"Dia tidak mau bicara kan?"
__ADS_1
"Dia mengatakan kalau itu hasil Mbak rumah, tapi saat Melvin dan Papanya mencoba, rasanya beda."
Mayang duduk, apa yang akan jadi lanjutan kalimat Mika, mungkin saja akan berubah menjadi kalimat buruk.
"Tapi mereka suka, katanya masakan Bianca memiliki rasa khas sendiri."
Mayang menghembuskan nafasnya lega, syukurlah itu membuatnya merasa tenang.
"Kenapa, Bu, tenang saja, saya yakin Bianca bisa jadi yang terbaik untuk kami."
"Amin, semoga saja, baiklah, ayo Bu makan dulu."
Mika mengangguk setuju, keduanya lantas menikmati makanannya itu, sambil terus berbincang banyak hal.
"Bu, sekali-sekali main ke rumah."
"Iya, nanti kalau tidak ada pekerjaan."
"Oh iya ...."
Mayang meneguk minumnya sebelum menyelesaikan kalimatnya.
"Saya boleh ke toko kue?"
"Kenapa tidak, silahkan saja."
"Hari ini Ibu mau kesana?"
"Iya, saya harus memeriksa stok kue disana."
"Kalau begitu saya temani ya, jadi tidak perlu pakai taxi."
Mayang mengangguk setuju, itu bukan masalah selagi memang Mika rela melakukannya.
"Saya rapikan dulu ya, Bu," ucap Mika
"Tidak masalah, mari kita sama-sama, saya kalau di rumah tidak pernah mengerjakan apa pun, semua serba Mbak rumah."
"Ya gak apa-apalah Bu, jadi bisa santai."
"Iya, tapi bosan juga."
Mayang tersenyum, keduanya bersama-sama membereskan apa yang memang harus dibereskan.
Meski baru kali ini, tapi keduanya langsung akrab dan seperti sudah kenal dekat lama.
Sesekali Mayang memperhatikan Mika, memang terlihat sekali jika Mika tidak terbiasa dengan pekerjaan itu.
"Awas, Bu Mika."
Mika yang terkejut justru menyenggol gelas di sampingnya, hingga gelas itu terjatuh dan pecah di lantai sana.
"Ya Tuhan, ya Ibu maaf."
Mayang menggeleng, ia segera membawa sapu dan menyapu pecahannya agar tak kemana-mana.
"Bu, saya minta maaf."
"Tidak apa-apa, saya juga salah memberi tahunya dengan cara mengagetkan."
"Sini biar saya yang rapikan."
Mika mengambil sapunya dan menyapunya perlahan, Mayang diam memperhatikannya, bahkan sekedar menyapu pun, Mika terlihat sedikit kesulitan.
"Dibuang kemana, Bu?"
"Oh, itu di ujung sana ada tempat sampah."
__ADS_1
Mika lantas berjalan dan menumpahkan pecahan kaca itu, Keduanya tersenyum ketika pandangan mereka bertemu.
"Maaf ya Bu, saya sudah buat keributan."
"Tidak masalah, masih banyak gelas di lemari saya."
Mika mengangguk, jujur saja ia malu dengan tingkahnya itu, tapi biarkan saja untuk mengakrabkan mereka berdua.
"Saya mau ke toko sekalian belanja, Bu Mika ikut?"
"Ayo, ayo sekali, tentu saja kita jalan-jalan."
Mayang mengangguk, setelah membawa tasnya, mereka lantas pergi meninggalkan rumah Mayang dengan diantar sopir Mika.
----
Bianca, Melvin, dan Deva, mereka begitu bahagia, kebersamaan mereka pagi ini terasa sangat ramai karena Bianca.
"Sudah, sudah, Papa harus pergi sekarang, berhenti kalian bicara."
Melvin dan Bianca tersenyum, sejak tadi mereka sibuk membicarakan malam pertama Melvin dan Bianca yang gagal.
Melvin bercerita dengan begitu kesal, karena Bianca yang menolaknya dengan alasan sakit, padahal sudah Melvin katakan jika memang sudah seperti itu untuk awalnya.
"Papa, berangkat dulu."
"Hati-hati," ucap Bianca.
Keduanya salam pada Deva, dan membiarkan lelaki itu pergi untuk melakukan aktivitasnya.
"Kamu masih lapar?" tanya Melvin.
"Gak, aku sudah makan banyak."
"Kalau gitu, ayo kita ke kamar."
Melvin seketika menggendong Bianca, dan membawanya pergi menuju kamar di atas sana.
"Ini masih pagi, kamu jangan aneh-aneh."
"Biarkan saja, memangnya kenapa, tidak akan ada yang mengganggu kita."
Bianca mendadak panik saat pintu kamar terbuka dan kembali tertutup setelah meraka masuk, Bianca menatap Melvin dengan sedikit khawatir setelah pintu itu dikunci.
"Apa aku kasar?"
"Tidak, tapi tetap saja, kamu harus merasakan."
"Diamlah, aku kan hati-hati, kamu juga harusnya santai saja."
Melvin membaringkannya perlahan, Mika belum kembali, itu artinya benar jika Mika memang betah di sana bersama Mayang.
"Kita harus segera selesaikan ini, kalau tidak selesai bagaimana kita bisa punya anak."
Bianca hanya tersenyum mendengarnya, apa harus secepat itu mereka memikirkan anak.
"Kamu harus tenang."
Bianca memejamkan matanya saat tubuh Melvin perlahan menimpanya, Melvin tersenyum, ia mengusap lembut bulu mata lentik nan tebal itu.
"Bii."
Mata itu terbuka, Bianca hanya diam tanpa menjawab.
"Bisa ya, sekarang?"
Bianca mengangguk, anggukan itu membuat Melvin semangat, ia lantas bangkit dan membuka pakaiannya, menggantinya dengan selimut.
__ADS_1
Bianca tertawa melihat itu, rusuh sekali, sudah seperti dikejar hantu saja, tawa Bianca seketika terhenti ketika tangan Melvin mengusap kakinya, menelusur maju ke atas dan semakin ke atas.