Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Kamu Salah


__ADS_3

Langkah mbak rumah terlihat begitu tergesa, ia harus cepat membuka pintu karena bel yang terus saja ditekan sejak tadi.


"Iya, sebentar," ucapnya seraya membuka pintu.


"Melvin, ada?" tannya Tiara.


"Ada, biar dipanggilkan dulu."


"Aku mau langsung masuk."


"Tidak bisa, nanti Bibi yang kena marah."


"Apaan sih, lebay."


Tiara menerobos masuk tanpa perduli dengan halangan mbak rumah, tapi langkah Tiara harus terhenti karena berpapasan dengan Deva di sana.


"Ada apa kamu kesini, tidak sopan sekali langkah mu."


"Mana Melvin, aku mau bertemu dengannya."


"Kamu fikir saya akan mengizinkan kamu menemuinya?"


"Tentu saja, itu harus."


"Tidak, Bibi," panggil Deva.


"Iya, Pak."


"Bukankah sudah saya ingatkan tentang wanita ini?"


"Maaf, Pak, tapi Non Tiara yang memaksa masuk."


"Seperti itu, dimana sopan santun mu."


Tiara menggeleng, ia melihat sekitar, kemana Melvin kenapa lelaki itu tidak terlihat, harusnya dia sudah siap untuk ke kantor.


"Melvin," teriak Tiara.


Deva mengernyit, memang kurang ajar wanita itu, beruntung sekali Melvin meninggalkannya, jadi Deva tidak sampai memiliki menantu seperti Tiara.


"Melvin, kamu dengar aku, ayo keluar aku perlu bicara sama kamu."


"Ada apa ini, berisik sekali," ucap Mika yang menuruni tangga.


Tiara menghembuskan nafasnya sekaligus seraya berpaling, bukan wanita itu yang diinginkannya, Tiara ingin Melvin yang datang.


"Untuk apa kamu disini, bukankah urusan kalian sudah selesai?"


"Urusan ku sama Melvin tidak akan pernah selesai, karena tidak ada yang ingin menyelesaikan semuanya, kalian dengar itu?"


"Apa benar seperti itu, tapi setahu saya, Melvin sudah melepaskan kamu."


"Tante, diam."


"Kamu yang diam, kurang ajar sekali kamu."


Keduanya terdiam bertahan dalam tatapan satu sama lain, sampai detik ini Mika tidak habis fikir kenapa bisa Melvin menyukai wanita seperti Tiara.


"Melvin," teriak Tiara.


"Saya bilang diam kamu."


Tiara mengangkat kedua alisnya, apa Tiara harus memperdulikannya, urusannya adalah dengan Melvin, bukan mereka berdua.

__ADS_1


"Melvin."


Tiara berlari menaiki tangga tanpa permisi, ia akan segera menemui Melvin saja, agar cepat juga selesai.


"Tiara," panggil Mika.


"Apa-apaan wanita itu, gak tahu malu."


Mika menoleh sekilas, ia lantas berlalu menyusul Mika, Melvin sedang istirahat, tidak ada yang boleh mengganggunya meski sebentar saja.


"Melvin."


Tiara memasuki kamar Melvin tanpa permisi, lelaki itu tampak masih terlelap di kasurnya.


"Melvin, kamu belum bangun."


Dengan cepat Mika menarik Tiara yang hendak menyentuh Melvin.


"Saya sudah bilang, jangan ganggu anak saya lagi," ucap Mika pelan.


"Aku tidak akan turuti Tante."


Mika mengangguk, ia menyeret Tiara kembali keluar kamar, Melvin tidak boleh diganggu untuk saat ini.


"Pergi kamu dari sini."


Mika sedikit mendorong Tiara, wanita itu harus pergi sebelum Melvin mendengar keributan mereka.


"Aku gak akan pergi, aku akan disini sampai aku bisa bicara dengan Melvin."


"Gak akan pernah, kamu fikir kamu bisa memaksakan itu, gak akan Tiara."


"Benarkah, kita lihat saja, Melvin," teriak Tiara.


Mika membungkamnya cepat, tidak mengerti sekali Mika dengan pemikiran Tiara, ia tidak mengerti dengan sikap dan perkataan baik-baik.


Tiara balik mendorong Mika hingga nyaris terjatuh, untung saja ada tembok, dan kedua tangannya bisa gerak cepat untuk menahan.


"Jangan pernah melarang apa yang aku mau, apa Tante lupa, apa yang bisa aku lakukan untuk bisa mendapatkan apa yang aku mau?"


Mika diam, tentu saja Mika ingat betapa nekad wanita itu saat dulu, tapi Mika tidak akan pernah mau mengalah.


"Tante, aku tidak akan tinggal diam meski sekarang Melvin sudah memiliki wanita lain, dan aku akan selalu berusaha mendapatkan apa yang aku inginkan."


"Tutup mulut mu itu."


"Tante saja yang tutup mulut, semua ucapan Tante tidak akan berlaku apa pun untuk ku."


"Tiara."


Keduanya menoleh bersamaan, mereka melihat Bianca yang datang bersama dengan Deva.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Bianca.


"Dirimu sendiri, urusan apa datang kesini?"


"Tentu saja untuk menjenguk calon Suami ku."


Tiara tersenyum kecut mendengarnya, jadi wanita itu sudah berani membuatnya kesal.


"Saya sudah mengusirnya sejak tadi, tapi dia tidak punya fikiran sehingga dia tidak bisa mengerti apa yang saya katakan," ucap Mika.


"Diam, Tante, aku sudah bilang semua perkataan Tante tidak akan berarti apa-apa, jadi sebaiknya diam saja."

__ADS_1


"Kamu yang diam Tiara, tidak sopan sekali kamu bicara."


"Benarkah, kemana saja kamu sejak tadi, kamu tidak tahu, kalau aku sudah dengan sengaja mendorongnya, dan kamu lihat posisi dia sekarang, itu adalah hasil perbuatan ku."


Bianca mengernyit, apa benar semua itu, bagaimana bisa Tiara berbuat seperti itu pada orang tua.


"Pergi kamu dari sini, kamu hanya akan membuat kekacauan saja," ucap Deva.


"Dan dengan aku pergi, hanya akan jadi kedamaian sesaat saja untuk kalian semua."


"Tiara cukup, kamu tidak malu buat keributan di rumah orang sepagi ini?"


"Untuk apa aku malu, mereka yang membuat ku seperti ini, aku hanya ingin bertemu Melvin, tapi mereka menghalangi, ya sudah seperti ini jadi."


Bianca menggeleng, jadi benar apa yang dikatakan Melvin tentang wanita itu, dia memang kurang ajar pada orang tuanya.


"Minggir, Tante."


Tiara kembali mendorong Mika, ia lantas memasuki kamar begitu saja.


"Tiara," panggil Bianca yang berjalan menyusul.


Tapi belum sempat masuk, Bianca diam karena Melvin yang menarik Tiara keluar dari kamarnya, Melvin menutup pintu kamarnya.


"Melvin, Mama sudah usir dia, tapi dia keras kepala, maaf istirahat mu jadi terganggu."


Melvin tak perduli, ia melirik Bianca di samping Mika, pagi seperti ini untuk apa Bianca datang ke rumahnya.


"Melvin, aku hanya ingin bicara sama kamu, tapi mereka terus saja menghalangi aku, aku tidak bersalah sama sekali."


Melvin balik menatap Tiara, wanita itu memang menjengkelkan, tidak tahu aturan dan batasan.


"Melvin."


"Pergi."


"Tapi aku ...."


"Pergi aku bilang, pergi."


"Melvin."


"Pergi, apa aku harus membentak mu, pergi sekarang."


Tiara diam, ia menarik panjang nafasnya dan menghembuskannya perlahan, Tiara tidak akan pernah mengalah untuk mereka.


"Pergi."


"Ayo pergi kamu," ucap Mika seraya menarik Tiara.


Tapi lagi dan lagi, Tiara tak perduli dengan etikanya, ia mendorong Mika hingga terjatuh agar bisa terlepas dari tarikannya.


"Tiara," ucap Bianca sedikit keras.


"Apa, mau apa kamu, mau marah, mau membela calon mertua itu, iya?"


"Ra, aku berfikir kalau Melvin hanya sedang menjelekan kamu di depan aku tentang sikap kurang ajar kamu, tapi sekarang aku lihat sendiri semuanya, dan kamu fikir dengan seperti ini aku akan mengalah, tidak sama sekali Tiara."


Tiara sedikit tertawa mendengarnya, bagus sekali, itu artinya Bianca memang sudah siap untuk penderitaannya.


"Pergi kamu sekarang, kalau kamu benci sama aku, urusan kamu hanya sama aku, jangan kurang ajar sama mereka."


Tiara berdecak, ia mengusap pundak Bianca sekilas, dan itu cukup membuat Melvin siaga.

__ADS_1


"Baiklah Nona Manis, kita akan bertemu diawal kesusahan mu."


Tiara tersenyum dan berjalan pergi, ia sempat menatap Mika yang telah bangkit berkat bantuan Deva, Tiara mengangkat sebelah alisnya seraya tersenyum, sampai akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan mereka semua.


__ADS_2