Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Jangan Macam-macam


__ADS_3

Melvin menarik Bianca agar bersandar di dadanya, tak ada penolakan itu memang yang diinginkan Bianca juga.


"Kenapa tidak sejak kemarin seperti ini, pasti semua bebas, tak perlu jadi beban."


Bianca hanya tersenyum tanpa menjawab, ia diam dengan memejamkan matanya, matahari sudah tinggi, dan berhasil membuat suhu menjadi panas.


Bianca dan Melvin baru saja selesai dengan kegiatannya, kali ini tidak ada yang mengganggu mereka, sehingga mereka bisa melakukannya dengan tenang.


"Mungkin memang sejak awal aku harus membuat mu menangis."


"Kenapa seperti itu?"


"Ya, karena rasa tak tega itu, justru membuat ku stres sendiri."


Bianca menghembuskan nafasnya sekaligus, ia memang sempat menangis tadi, tapi hanya sebentar saja karena memang Melvin juga yang bisa mengerti.


"Kamu mau langsung punya anak?" tanya Melvin


"Apakah harus bahas itu sekarang, bukankah kita baru saja menikah."


"Tidak, semua butuh persiapan, dan kalau memang kamu belum siap, kita bisa ke Dokter dan minta penghalang agar kamu bisa menunda punya anak."


Bianca diam, selintas memang sepertinya menyenangkan memiliki bayi kecil, tapi jika difikirkan ulang, Bianca masih ingin bertahan dengan kebebasannya.


Bianca juga ingin menikmati terlebih dulu waktu kebersamaannya dengan Melvin, pertemuan mereka baru kemarin, dan kebersamaan mereka baru sesaat saja.


"Bagaimana?"


Bianca menoleh, jika Bianca mengatakan apa yang difikirkannya, apa mungkin Melvin tidak akan marah.


"Kenapa menatap ku seperti itu, ayo katakan."


"Kamu sendiri mau gimana?"


"Kenapa malah tanya balik, jawab aku dulu."


"Aku ikut kamu saja, kalau memang kamu mau segera, ya sudah kita tanyakan gimana bagusnya saja."


"Sama siapa?"


"Ya sama mereka, sama Dokter juga."


Melvin mengangguk, itu benar, sebaiknya mereka memang bertanya terlebih dahulu untuk hal itu.


Jika Bianca melahirkan, belum tentu dia bisa mengurusnya sendiri, dan Melvin pasti tidak akan bisa selalu membantunya, sehingga merekalah yang akan membatu Bianca.


"Nanti saja kita bicarakan lagi."


"Makanya, kenapa harus buru-buru."


Melvin tersenyum dan memeluk istrinya itu, jika saja bisa, Melvin ingin terus seperti sekarang, tak perlu ada jarak ada pun juga.


"Kapan kamu kerja?"


"Mungkin senin depan."


"Oh, aku boleh bantu Ibu kan kalau kamu kerja?"


"Bantu apa?"


"Ya bantu pekerjaan Ibu, kan kamu tahu semuanya sudah hilang sekarang, Ibu pasti memulai semuanya dari awal lagi."


"Ya sudah bantu saja, mana mungkin aku larang hal seperti itu."


"Aku harus temui Ibu sekarang, boleh aku pergi."

__ADS_1


"Tidak bisa, kamu ini belum mandi, belum pakai baju juga."


Bianca mengernyit, ia lantas mencubit perut Melvin, menyebalkan sekali padahal Bianca mengerti jika soal itu.


"Ya sudah sana mandi, kamu kalau siap-siap pasti lama."


"Enak saja, aku gak lebay, aku gak pernah dandan berlebihan."


Melvin tersenyum, ia membiarkan Bianca bangkit, jelas saja Melvin tahu, istrinya memang tidak pandai berdandan.


Tapi meski begitu, Melvin suka, dan justru ia lebih suka dengan berbagai hal sederahan, termasuk juga tentang sosok Bianca.


Melvin memperhatikan langkah Bianca hingga menghilang dibalik pintu kamar mandi, ia tersenyum seraya mengusap wajahnya, hari ini Melvin telah mendapatkannya, merasakan semuanya.


"Baiklah, aku akan selalu menginginkan tubuhnya."


Melvin berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, Bianca pasti akan mandi lama, dan mungkin saja Melvin bisa tertidur sebentar saja.


 


"Hai," sapa Ronald.


Tiara mengangkat kedua alisnya, lelaki itu datang ke rumahnya lagi sekarang.


"Kamu sedang sibuk?"


"Emmm, tidak, aku sedang tidak ada kegiatan apa-apa."


"Benarkah, jadi kedatangan ku akan diterima?"


"Tentu saja, ayo masuk."


Ronald tersenyum seraya menangguk, ia mengikuti Tiara memasuki rumahnya, sepi, sepertinya tidak ada orang lagi selain Tiara di rumah tersebut.


"Silahkan duduk, mau aku buatkan minuman apa?"


"Baiklah, duduk dulu, biar aku bawakan suguhannya."


Ronald mengangguk seraya duduk, Tiara pergi meninggalkannya, biarkan saja lagi pula lelaki itu pasti paham etika bertamu.


"Sepi sekali, pada kemana penghuni rumah ini."


Ronald memperhatikan sekitar, rumah Tiara memang terasa nyaman, tidak terlalu mewah tapi tidak sederhana juga.


"Silahkan, maaf aku belum belanja, tidak banyak stok makanan disini."


"Tidak masalah, tenang saja, lagi pula aku tidak terlalu banyak ngemil."


"Baiklah."


Tiara turut duduk, Ronald melihat semua yang disuguhkan Tiara, tidak terlalu buruk baginya.


"Kamu sendiri di rumah?"


"Ya, Mama sama Papa sedang keluar, jadinya aku hanya sendiri saja."


"Ke luar Kota?"


"Iya."


Ronald mengangguk, pantas saja sepi, jadi benar Tiara hanya sendirian saja.


"Kenapa?" tanya Tiara.


"Tidak, aku hanya heran saja kenapa rumahnya sepi."

__ADS_1


"Memangnya kenapa kalau sepi?"


Ronald tersenyum seraya menggeleng, hal itu membuat Tiara menatap curiga padanya, apa yang sedang difikirkan lelaki itu.


"Kenapa, aku tidak berfikir apa pun."


"Jangan pernah berfikir buruk."


Ronald sedikit tertawa mendengarnya, dan itu cukup membuat Tiara kesal.


"Apanya yang lucu?"


"Kamu lucu, kamu fikir aku ini lekaki jahat, apa aku terlihat seperti lelaki kurang ajar?"


Tiara diam, mana Tiara tahu, mereka baru saja bertemu dan Tiara belum merasa mengenal Ronald.


"Aku tidak seperti itu, tenang saja tidak perlu takut."


"Ya, itu memang sudah seharusnya, jangan berani macam-macam disini."


Ronald mengangguk, ia lantas izin meneguk minumannya, Tiara hanya mengangguk saja, lagi pula itu disiapkan memang untuk tamu.


"Kamu sudah bertemu teman kamu lagi?"


"Teman?"


"Ya, teman kamu yang menikah dengan teman ku."


"Bianca?"


"Ya, itu."


"Tentu saja, mana bisa aku lama-lama tidak bertemu dengannya."


"Bagaimana keadaannya, aku juga belum bertemu lagi dengan Melvin sejak hari itu, dia masih cuti sampai sekarang."


Tiara mengangguk, mereka pasti sedang menikmati kebersamaan sebagai pengantin baru.


Sesaat kemudian Tiara tersenyum seraya menggeleng, mana bisa seperti itu, bukankah Bianca sedang ada dalam masalah, karena toko kuenya yang terbakar.


"Tiara, kamu kenapa?"


Tiara menoleh dan menggeleng, sebaiknya Ronald tidak perlu tahu apa-apa soal kebakaran itu.


"Tidak, aku tidak apa-apa, aku hanya befikir kalau mungkin kita bisa temui mereka berdua?"


"Ide bagus, aku juga ingin bertemu Melvin."


"Apakah hari ini?"


"Ayo saja, tapi aku harus kabari Melvin dulu."


Tiara dengan cepat menahan Ronald yang hendak mengeluarkan ponselnya, ia menggeleng dan kembali pada posisinya.


"Jangan kabari dia, biarkan saja kedatangan kita jadi kejutan untuk mereka."


"Tapi bagaimana kalau mereka sedang tidak mau terima tamu?"


"Mana mungkin seperti itu, kita teman mereka, bisa sekali kamu berfikir seperti itu."


Ronald diam, sesaat kemudian keduanya tersenyum, benar juga kenapa Ronald harus merasa canggung dengan Melvin.


"Baiklah, kita berangkat sekarang?" tanya Ronald.


"Ayo."

__ADS_1


Ronald mengangguk, Tiara tersenyum, ia akan tahu kabar Bianca, dan semoga saja semua masih buruk.


Tiara bisa sedikit menambah kesusahan wanita itu, bukankah permainan baru saja dimulai bagi Tiara, ia akan membuat Bianca merasa kacau dengan kehidupan pernikahannya.


__ADS_2