Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Ini Bukan Waktunya


__ADS_3

Tiara menekan bel, tak berselang lama pintu terbuka dan menunjukan Ronald di sana.


"Tiara, apa kabar?" tanya Ronald.


"Aku baik-baik saja, apa aku mengganggu mu?"


"Tidak, ayo masuk, aku sedang tidak ada kesibukan sekarang."


Tiara mengangguk, baguslah kalau seperti itu, Tiara sedang malas berada di rumah saat ini, dan bekerja pun malas.


"Ayo duduk," ucap Ronald.


"Terimakasih."


Keduanya duduk, perkembangan dari hubungan mereka memang semakin baik, meski tetap saja Tiara hanya memanfaatkan Ronald.


Tiara masih berfokus pada Melvin dan Bianca, hanya saja jalannya belum benar-benar terbuka untuk itu.


"Tiara, kamu mau ikut ke undangan teman ku?"


"Undangan apa?"


"Pernikahan, kebetulan sekali kamu datang, aku berniat menemui mu nanti malam dan tentu untuk membahas ini."


"Kapan acaranya?"


"Dua hari lagi."


Tiara mengangguk, ia diam bergelut dengan fikirannya sendiri.


Kalau itu teman Ronald, bisa saja itu juga teman Melvin, dan mungkin lelaki itu juga akan sama datang kesana.


"Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa."


"Acaranya malam?"


"Iya."


Tiara kembali diam, mungkin tidak ada salahnya ia setuju, lagi pula bukankah tidak ada kesibukan berarti untuknya.


Berharap bisa bertemu Melvin dan Bianca di sana, itu pasti akan sangat menyenangkan bagi Tiara.


"Aku ikut, tentu saja aku ikut, aku gak mungkin biarkan kamu pergi tanpa gandengan."


"Benarkah?"


"Tentu saja benar."


Ronald tersenyum senang, tentu saja itu sesuai dengan harapannya, semoga saja Tiara memang akan menjadi miliknya esok lusa.


"Orang tua kamu kemana?" tanya Tiara.


"Mereka di luar Kota, jarang ada di rumah, bukankah kamu tahu itu."


"Aku fikir mereka sedang ada sekarang."


"Tidak."


Tiara tersenyum, baguslah, dengan begitu ia tidak perlu berlagak baik di hadapan mereka semua.


Tiara enggan berurusan dengan keluarga Ronald, karena tujuannya memang hanya Ronald, bukan untuk keluarga besarnya.


 


Kringg ....


Bianca meraih ponselnya, ia sedikit tersenyum saat melihat nama Rasya yang terpampang.


"Siapa, Ca?" tanya Mayang.

__ADS_1


"Pak Rasya."


Mayang mengangguk saja, tentu Mayang tahu siapa Rasya dimaksud Bianca itu.


Mayang tidak pernah ketinggalan kabar apa pun tentang putrinya itu, sehingga segala hal tentang Bianca sudah pasti diketahui oleh Mayang.


"Haii," sapa Bianca.


"Mama," teriak Marten.


Mayang turut tersenyum mendengarnya, itu sama sekali bukan masalah bagi Mayang yang tahu sejak awalnya.


Tapi entah untuk orang lain, terutama keluarga Melvin kalau sampai tahu tentang itu.


"Bianca, apa kamu begitu sibuk?" tanya Rasya.


"Seperti itulah, Pak."


"Kamu tidak bisa menengok Marten sebentar saja, aku sudah pusing dengan kekesalannya beberapa hari ini."


"Memangnya kenapa dengan Marten?"


Rasya menghembuskan nafasnya berat, ia menceritakan semua tingkah rewel putranya itu selama Bianca tidak menemuinya.


Bianca sesekali tertawa mendengarnya, tak lepas dari perhatian Mayang yang ternyata ikut tersenyum mendengarnya.


"Ini bukan lelucon, Bianca," ucap Rasya.


"Iya maaf, lagian kenapa dengan anak itu, bisa sekali bersikap seperti itu."


"Semua karena kamu tidak menemuinya."


Bianca mengangguk, baiklah itu kesalahan Bianca, tapi mau bagaimana lagi jika Bianca juga memiliki masalah sendiri.


Rasya sedikit berteriak memanggil Marten, entah ulah apa lagi yang dilakukan anak itu sekarang.


"Mana Mama," jerit Marten.


Bianca mengangguk pasti, tentu saja ia mendengarnya dengan sangat jelas.


"Ayolah Bianca," ucap Rasya melas.


"Aku harus bagaimana, Ibu sedang sakit dan aku tidak bisa meninggalkannya sendiri."


"Sebentar saja."


Bianca melirik Mayang, itu tidak mungkin, Mayang akan kebingungan jika ditinggalkan sendiri di sana.


"Tidak masalah, kamu pergi saja kalau mau pergi," ucap Mayang.


Bianca menggeleng, itu tidak akan dilakukannya, nanti saja Bianca akan pergi kalau memang Melvin dan Mika sudah kembali.


"Mama," jerit Marten.


Bianca menoleh, ia tersenyum melihat wajah Marten di sana, anak itu memang Bianca rindukan, tapi waktu untuk bertemu belum ada.


"Aku mau makan sama Mama," ucap Marten.


"Sama Papa saja, kamu harus makan nanti perut kamu sakit."


"Aku mau main sama Mama."


"Sama Papa saja dulu."


"Aaaaa," jerit Marten asal.


Bianca sedikit tertawa mendengarnya, ia kembali melirik Mayang yang turut tersenyum.


"Bianca," panggil Deva.

__ADS_1


Jelas saja Bianca dan Mayang terkejut karena panggilan Deva, kenapa lelaki itu ada di rumah.


"Bianca," ulang Deva.


"Pak Rasya, aku harus menutup sambungannya, Papa Mertua panggil aku."


"Baiklah, kamu tutup saja."


"Bye Marten."


Sambungan diputus, Bianca tidak tahu apa yang dilakukan anak itu setelah sambungannya terputus.


Dengan segera Bianca bangkit untuk menemui Deva, lelaki itu terlihat duduk di ruang tengah sana.


"Papa," panggil Bianca.


Deva menoleh, ia meminta Bianca untuk duduk di sampingnya.


"Ada apa?" tanya Bianca seraya duduk.


"Mana Mama kamu?"


"Ibu sedang di kamar, aku akan panggilkan."


"Tidak perlu, biarkan saja dia istirahat."


Bianca mengangguk, ia diam menunggu Deva yang pasti akan membicarakan hal penting padanya.


Semoga saja bukan masalah, karena Bianca tidak siap jika harus mendapatkan masalah baru lagi.


"Sudah sampai mana pembicaraan kamu dan Mama kamu perihal bangunan itu?"


"Ibu mau cari tempat sewa dulu, sebelum nanti membangun itu lagi."


"Dan kamu setuju?"


Bianca mengangguk, bukankah untuk membangun itu membutuhkan biaya, dan Bianca harus berjualan lagi untuk mendapatkan penghasilannya.


Deva mengangguk, mungkin itu bisa juga jadi solusi untuk saat ini, tapi rasanya sama saja kalau pada akhirnya uang penghasilan itu akan dibayarkan sewa tempat.


"Bagaimana dengan Melvin?"


"Aku belum bicara sama Melvin, mereka belum pulang sampai sekarang."


"Apa tidak ada kabar?"


"Melvin bilang, disana susah sekali signal, sehingga cukup sulit untuk menggunakan ponsel."


Deva mengangguk paham, itu juga yang sempat dikatakan Mika padanya.


Bianca memejamkan matanya sesaat, jujur saja ia ingin Melvin segera pulang agar tak terus menerus membuatnya khawatir.


"Papa sudah temui mandor kemarin, dan dia setuju untuk segera membangun tempat kamu itu."


Bianca diam, apa yang harus dikatakannya, kenapa Deva tidak memberi kabar terlebih dahulu tentang itu.


"Mungkin memang Papa mendahului kalian, tapi Papa rasa tidak ada salahnya dengan itu."


"Ibu belum tentu setuju."


"Iya, kamu benar, tapi Papa harap kamu bisa memberi pengertian tentang itu pada Ibu kamu."


Bianca kembali diam, bagaimana ia harus bicara, bisa saja Mayang justru sedih atau bahkan marah.


"Bianca, ini keadaan genting, bukan Papa sok kaya atau gimana, tapi Perusahaan sangat membutuhkan Melvin, sedangkan lelaki itu tidak mau tahu sebelum masalah mu selesai."


"Aku minta maaf, aku akan bicara sama Melvin nanti."


"Tidak akan ada hasil, semua harus selesai dulu baru dia akan mau melangkah."

__ADS_1


Bianca mengangguk, ia diam sibuk bergelut dengan fikirannya sendiri, apa yang dikatakan Deva memang benar adanya.


Tapi Mayang juga belum tentu mau menerima bantuan itu begitu saja, lalu harus bagaimana Bianca sekarang.


__ADS_2