Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Semoga Saja


__ADS_3

"Ibu, tidak apa-apa?" tanya Bianca.


Mika menggeleng, ia baik-baik saja, hanya perasaannya yang kesal karena Tiara.


"Bii," panggil Melevin.


Bianca menoleh, ia tersenyum melihatnya, wajah pucat itu cukup menjawab pertanyaan Bianca yang belum sempat terlontar.


"Melvin, kami harus pergi sekarang, kamu kalau mau makan turun saja, semua masih ada di meja."


Melvin menoleh, ia mengangguk paham dengan itu, bukan masalah itu bisa nanti saja.


"Bianca, kami pergi dulu," ucap Mika.


Bianca mendekat, ia salam pada keduanya, dan membiarkan mereka pergi, Bianca kembali melirik Melvin.


"Ayo makan, kamu belum makan."


"Kamu ngapain kesini?"


Bianca menggeleng, itu bukan hal bagus, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, bianca kembali mendekat dan meraih tangan Melvin, ia menariknya pelan agar segera jalan.


"Ayo makan dulu."


Melvin menggeleng, ia balik menarik Bianca dan memeluknya.


"Panas sekali suhu tubuh kamu, kenapa tidak bilang kalau sejak semalam kamu sakit?"


"Aku tidak sakit, hanya sedang malas saja."


Bianca tersenyum, ia mengusap pipi Melvin, kalau mereka sudah serumah, Bianca akan bisa merawatnya setiap waktu.


"Ayo makan, kamu sudah ada obat?"


"Sudah."


"Ya sudah ayo makan dulu, aku temani ya."


Melvin mengangguk saja, ia melepaskan pelukannya dan ikut saat Bianca kembali manariknya.


"Mereka mau kemana?"


"Mana aku tahu tahu, mereka tidak bilang mau kemana."


Bianca diam, ia menarik kursi untuk duduk Melvin, sesaat Bianca melihat makanan itu, banyak sekali.


"Makanan segini banyak habis berapa hari?"


"Sekali makan saja tetap."


Bianca mengangguk, ia turut duduk dan membalik piring Melvin.


"Mau sama apa?"


"Semua juga tidak enak kalau lagi sakit."


Bianca menoleh, ia menggeleng mendengarnya.


"Tadi, kamu bilang bukan sakit, hanya sedang malas, tapi sekarang lagi sakit."


Melvin tersenyum, ia meneguk sedikit susunya, terserah saja Bianca mau berfikir seperti apa.


"Ayo makan."


Bianca telah mengisi piring makannya, memang hanya sedikit, karena paling tidak, ada sesuatu yang masuk ke perut Melvin untuk pertahanan minum obat.


"Kamu gak makan juga?"


"Aku sudah makan tadi sama Ibu, ini aku suapi."


Melvin menerima suapan Bianca, tahu saja jika Melvin sedang malas melakukan semuanya.


"Bii, kamu sengaja kesini?"

__ADS_1


"Kamu yang telepon aku."


Melvin mengernyit, mana sempat ia melakukannya, sejak semalam ia tidur tanpa terbangun satu detik saja.


"Mama kamu yang telepon, tapi pakai ponsel kamu, katanya kamu sakit gak mau diajak ke Rumah Sakit."


"Bisa saja kamu."


Bianca tersenyum, ia terus mengulang suapannya, Melvin meraih tangannya dan melihat cincin di sana.


"Aku masih memakai semuanya, tenang saja aku menyukainya."


"Kalungnya?"


"Ada, masa gak kelihatan."


Melvin mengangguk, baguslah kalau seperti itu, Melvin senang melihatnya.


"Ibu, tahu kemarin aku kesana?"


"Tidak, Ibu pasti sudah tidur."


"Berarti gak marah kan?"


"Untuk apa marah, orang ga macam-macam."


Melvin tersenyum dan mengangguk, ia meneguk minumnya, ia menyimpan sendok yang pegang Bianca.


"Kok disimpan, belum habis."


"Sudahlah, nanti saja, segitu juga sudah banyak."


"Ya sudah minum obat, dimana obatnya?"


"Di kamar."


"Aku ambil ya, kamar kamu yang tadi kan?"


"Tidak perlu, biar Mbak saja yang ambil, kamu disini saja sama aku."


"Pindah yuk, aku mau nonton televisi."


"Iya, dimana tempatnya?"


"Ayo."


Keduanya bangkit, Melvin membawa Bianca ke ruang keluarga, di sana biasa Melvin dan orang tuanya berbincang hangat.


"Kalau kita sudah menikah nanti, kita akan habiskan beberapa waktu disini, berbincang dengan Mama dan Papa."


Bianca tersenyum, ia duduk saat Melvin menariknya, lelaki itu menyalakan televisi sesuai dengan keinginannya.


"Bii, lusa kita foto."


"Lusa?"


"Iya, tadi teman aku kasih kabar, dia maunya lusa atau gak jadi sama dia."


"Kamu kan lagi sakit, gak usah berlebihan, masih ada waktu lain."


"Aku gak mau, Bii, aku mau sesuai jadwal, karena waktu juga terus berjalan."


Bianca menggeleng, ia bersandar pada sandaran kursi di belakangnya.


"Ya sudah, aku ikut kamu saja."


Melvin tersenyum dan berbaring di pangkuan Bianca, tak ada penolakan, meski sempat kaget, tapi Bianca percaya jika Melvin tidak mungkin macam-macam.


"Aku mau tidur sebentar, boleh?"


"Tidur saja, tapi minum obat dulu, mana sih katanya mau suruh Mbak."


"Nanti saja, aku juga baru selesai makan."

__ADS_1


Bianca sedikit berdecak, banyak alasan sekali sekedar untuk minum obat.


"Ya sudah tidur."


Melvin menoleh, ia menarik tangan Bianca dan menyimpannya di kepala.


"Aduh yang lagi sakit," ledek Bianca.


Keduanya tersenyum, Bianca sedikit memijat kepala Melvin, mungkin saja itu yang diinginkannya.


"Tidur, katanya mau tidur, nanti keburu ada tamu, malah gak bisa tidur."


"Kamu gak apa-apa aku tinggal."


"Tinggal kemana, enak saja kalau bicara."


Melvin menggeleng, ia berbalik menghadap perut Bianca, dan memejamkan matanya, Bianca tersenyum, mungkin saja Melvin lelaki yang manja juga.


Sengaja membiarkan Melvin tertidur, Bianca tak lagi bicara, ia hanya sibuk memijat kepala Melvin, biarkan saja semoga itu bisa membantu mengembalikan kesehatannya.


"Non, mau minum?"


Bianca menoleh, sesaat terdiam, ia lantas mengangguk, sepertinya Bianca membutuhkan itu.


"Sebentar."


"Terimakasih."


Bianca membiarkannya pergi, ia meraih remot dan mencari acara televisi yang disukainya, apa pun dilakukannya agar tidak merasa jenuh dan tidak sampai mengganggu Melvin.


"Silahkan, Non."


"Terimakasih, Bibi, aku boleh minta selimut."


"Selimut, bisa, sebentar."


Ia kembali pergi dan segera kembali membawa pesanan Bianca, dengan hati-hati Bianca menyelimuti Melvin, pergerakannya memang mampu mengusik Melvin, tapi itu tak membuatnya terbangun.


"Ada lagi, Non?"


"Tidak, terimakasih banyak."


"Sama-sama, silahkan dinikmati hidangannya, Non."


Bianca mengangguk, memang ada cemilan juga teman dari minumannya, Bianca meneguknya dan menikmati cemilannya juga.


Bianca juga bermain dengan ponselnya saat merasa jenuh dengan televisi, sesekali pergerakan Melvin menarik perhatiannya, Bianca mengusap lembut pipi dan kepala Melvin.


"Bibi, tolong ambilkan tas kerja Bapak."


"Sebentar, Bu."


Mika yang berjalan memasuki rumah, sempat melihat Bianca yang menonton televisi, Mika mencari keberadaan Melvin yang tak tampak bersama Bianca.


"Bianca."


Bianca menoleh dan tersenyum, ia tidak bisa bangkit karena terhalang oleh Melvin.


"Kamu sendirian, mana Melvin."


Mika mendadak diam saat melihat Melvin yang terbaring di pangkuan Bianca, Mika menggeleng, bisa sekali putranya seperti itu.


"Tidak apa, Bu, yang penting dia istirahat."


"Kamu pegal nanti."


"Gak apa-apa."


Mika mengangguk, ia tersenyum, Melvin memang manja, dibalik sikap kerja keras dan keras kepalanya, Melvin termasuk lelaki manja diumurnya yang sekarang.


"Ya sudah, pergi lagi ya, cuma mau ambil tas."


"Iya Bu, hati-hati."

__ADS_1


Mika mengangguk, ia sempat mengusap pundak Bianca, sampai akhirnya kembali pergi meninggalkan mereka.


Bianca melirik Melvin, sudah cukup lama, dan mata Melvin masih terpejam lelap, senyum Bianca perlahan terlihat, ia membayangkan bagaimana ketika nanti sudah menjadi istri lelaki itu, mereka akan selalu sama-sama pastinya.


__ADS_2