Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Bisa Jadi


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Deva lagi.


"Sepertinya, segera kasih tahu Melvin tentang ini, kita harus berikan mereka berdua waktu liburan."


"Liburan?"


Mika mengangguk pasti membenarkannya, tapi Deva justru menatapnya tak mengerti.


"Ayolah Papa, mereka bisa sekalian berbulan madu disana."


Deva berdecak seraya menggeleng, bisa sekali Mika berfikir tentang itu, Deva akan memberi Melvin pekerjaan dan bukan untuk liburan.


"Ayo, jangan banyak mikir, kapan dia harus berangkat?"


"Seharusnya tengah bulan ini."


"Oke, biar nanti Mama yang sampaikan."


"Mana bisa, mereka gak akan mau, tujuan kesana juga untuk kerja."


"Sudahlah, nanti Mama yang bicara, tenang saja."


Deva mengangkat kedua bahunya sekilas, ya terserah Mika saja, dan semoga memang mereka mau agar Deva tidak perlu pusing mengulur waktu lagi


"Mama, sudah tanyakan akan seperti apa nantinya langkah Bu Mayang?"


"Tidak, biarkan saja dia istirahat dulu, nanti kalau sudah sehat baru bisa ditanya serius."


Deva mengangguk, baiklah, semoga saja mereka bisa menemui jalan keluar yang baik untuk kecelakaan itu.


Deva akan mau membantu jika memang mereka membutuhkannya, dengan begitu juga mereka bisa semakin memperkuat hubungan keluarganya.


----


"Permisi."


Mayang menoleh, ia tersenyum melihat kedatangan teman-teman Bianca, mereka datang semua kali ini.


"Hallo, Ibu, apa kabar?" tanya Sintio.


"Sudah lebih baik."


Mereka salam bergantian, padahal Mayang sedang menunggu kedatangan Bianca, tapi justru mereka yang datang lebih dulu.


"Aca belum kesini?"


"Belum, mungkin dia masih sibuk."


Sintio mengangguk, sepertinya memang begitu, bukankah tugasnya sekarang sudah bertambah, ada suami dan mertuanya juga.


"Bu, ini ada buah, maaf ya kita gak bawa banyak," ucap Dela.


"Gak apa-apa, segitu juga sudah terimakasih, kalian pasti repot."


"Tidak masalah, maaf juga kita baru kesini sekarang."


"Tidak apa-apa, kalian pasti sibuk, jadi tidak perlu minta maaf."


Dela mengangguk, mereka memang kompak menyempatkan waktu pagi ini untuk menemui Mayang.


Sintio yang terlambat memberi tahu mereka tentang musibah itu, cukup membuat mereka kesal, sehingga pagi ini mereka keras ingin segera bertemu dengan Mayang.


"Kalian tidak bekerja?"


"Bekerja, nanti sepulang dari sini."

__ADS_1


"Padahal tidak perlu kesini, kalian lelah nanti, bisa terlambat juga ke tempat kerja."


"Gak apa-apa, kita memang sudah sepakat tentang ini dari semalam."


"Terimakasih banyak."


Mereka mengangguk seraya tersenyum, Mayang diam, ia kembali ingat dengan Bianca, apa kabar anak itu, kemarin Bianca pulang dengan kekesalan terhadap Melvin.


"Ibu, kenapa?" tanya Sintio.


"Tidak apa-apa, hanya saja sedang menunggu Bianca."


"Oh, mungkin nanti agak siangan ya."


"Iya, mungkin saja."


Ingin sekali Mayang menghubungi Bianca, ia ingin tahu keadaannya, jujur saja Mayang takut jika mereka ribut setelah pulang dari rumah sakit.


Tapi tidak, Mayang harus percaya pada mereka berdua, mereka pasti bisa selesaikan masalahnya tanpa kemarahan.


"Bu, jangan banyak fikiran dulu, kalau memang ada yang jadi beban, nanti kita bisa fikirkan sama-sama."


"Iya, itu benar sekali, kita akan siap bantu Ibu kalau memang perlu."


"Iya, tidak apa-apa, memang ingin diam saja."


"Ibu mau tidur, mungkin kedatangan kita sekarang, mengganggu Ibu?"


"Tidak, tidak sama sekali, bagaimana bisa kalian berfikir seperti itu."


Mereka tersenyum bersamaan, baguslah kalau memang Mayang tidak keberatan dengan kedatangan mereka.


Mayang melirik pintu sana, Mika pun belum datang, padahal wanita itu mengatakan akan datang pagi-pagi, tapi sampai sekarang masih belum terlihat.


"Tidak, tidak ada siapa pun yang kita kenal."


Mayang mengangguk, berarti memang Mika belum datang ke rumah sakit, fikiran Mayang semakin tak karuan saja karena mereka.


"Kenapa Bu, ada masalah?" tanya Sintio.


"Tidak."


"Benarkah, sepertinya Ibu begitu gelisah."


Mayang tersenyum, benarkah terlihat seperti itu, tapi sudahlah memang benar itu yang sedang dirasakannya sekarang.


Tapi apa pun itu, semoga saja tidak benar, karena ternyata apa yang difikirkan Mayang bukanlah hal baik.


"Bu, ada luka serius?" tanya Ayu.


"Kaki saja, luka bakar, selebihnya hanya luka kecil."


"Kaki, tapi masih bisa jalan?"


"Bisa."


"Syukurlah, aku fikir tidak bisa jalan."


"Bisa, cuma memang proses sembuhnya yang cukup lama."


Ayu mengangguk, biarkan saja seperti itu, yang terpenting Mayang tak sampai lumpuh, karena pasti akan sangat sulit jika kakinya tak lagi berfungsi.


"Kalian harus berdiri seperti itu, pasti pegal."


"Gak masalah, tenang saja, nanti juga di tempat kerja duduk terus."

__ADS_1


Mayang tersenyum, dengan kedatangan mereka, Mayang jadi ada teman bicara, dan bisa sedikit melupakan tentang Bianca.


Beberapa saat terlewati, terdengar suara ketukan pintu, mereka menoleh dan melihat kedatang Mika ke keruangan tersebut.


"Loh, ramai," ucap Mika.


Mereka segera salam setelah Mika mendekat, Mayang tersenyum, akhirnya satu yang ditunggunya telah sampai.


Sedikit banyak, Mayang bisa bertanya tentang Bianca dan Melvin sejak sampai ke rumah kemarin malam.


"Bu, gimana sekarang?" tanya Mika.


"Sudah lebih baik."


"Syukurlah, ini makanan yang saya janjikan, mau makan sekarang?"


"Nanti saja, belum lapar juga."


"Baiklah, saya simpan saja ya."


Mika menyimpan rantang makannya di meja, ia tersenyum melihat mereka semua, jadi mereka sudah datang lebih dulu dari pada Mika.


"Bu, Bianca tidak ikut kesini?" tanya Dela.


"Nanti mereka akan kesini kalau sudah selesai."


"Selesai?" tanya Mayang.


Jangan katakan jika mereka sedang ribut, Mayang tidak mau mendengar hal buruk itu.


"Iya, kalau sudah selesai."


"Selesai apa, apa mereka sedang ada masalah?"


"Masalah apa, mereka baik-baik saja."


"Lalu apanya yang selesai?"


Mika tersenyum menatap Mayang, wanita itu pasti akan senang juga mendengarnya.


"Ada apa Bu, jangan buat saya khawatir, ada apa dengan mereka berdua?"


"Tenang saja Bu, mereka baik-baik saja di rumah, mereka belum selesai, mereka sedang mempersiapkan cucu untuk kita."


Mayang mengernyit, mereka yang turut mendengarnya tampak saling lirik satu sama lain.


Apa maksudnya, apa Melvin dan Bianca membuat laporan terlebih dahulu sebelum melakukannya.


"Mereka sedang ...."


Sintio tak melanjutkan kalimatnya, mereka pasti mengerti apa yang akan dikatakannya.


"Benar, kita tunggu hasilnya," ucap Mika semangat.


Mereka tersenyum bersamaan, mereka akan senang jika hasilnya cepat ada, bukankah akan semakin lengkap kebahagiaan mereka.


"Baiklah Bu Mayang, sebaiknya Ibu tidak terus menerus menantikan Bianca, biarkan dia fokus dengan suaminya, hasilnya kita akan bahagia bersama," ucap Sintio.


Mayang tersenyum seraya mengangguk, iya itu sepertinya benar, Mayang sudah terlalu befikir negatif tentang mereka berdua.


Pada kenyataannya, mereka sedang bahagia di sana, Mayang menoleh saat Mika mengusap tangannya, harapan mereka pasti sama untuk saat ini.


"Semoga saja," ucap Mayang.


"Mereka pasti bisa dapat kepercayaan Tuhan, kita harus yakin dengan itu."

__ADS_1


__ADS_2