Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Jangan Keterlaluan


__ADS_3

Satu minggu sudah sejak pertemuan keluarga malam itu, Melvin benar-benar mengurusi semuanya bersamaan, ia tak peduli meski siang atau pun malam, selagi ia bisa maka semua dikerjakannya.


"Melvin, kamu mau kemana lagi?" tanya Deva.


"Aku mau ke tempat Agit."


"Mau ngapain, ini sudah malam."


"Dia masih mau menerima kedatangan ku, jadi aku akan kesana."


Deva menggeleng, padahal ia sudah melihat dengan jelas, saat ini kondisi Melvin sedang kurang baik.


"Kenapa tidak besok saja?" sahut Mika.


Keduanya menoleh, Melvin diam menunduk, ia tidak bisa buang waktu, bukankah ia sudah mengatakan akan memperjuangkan semuanya sampai ia benar-benar tak mampu lagi.


"Melvin, tujuan kamu memang baik, tapi kamu juga harus istirahat, kalau memang Tuhan merestui kalian, semua pasti akan terjadi."


"Tapi semua tetap harus diperjuangkan, Ma."


"Iya, tapi tetap pada ukuran kemampuan kamu."


"Aku mampu, sudahlah, kalau banyak bicara seperti ini akan semakin membuang waktu, aku berangkat."


"Melvin."


Melvin tak perduli dengan panggilan Mika, saat ini Melvin hanya akan fokus pada tujuannya saja.


"Keras kepala sekali anak itu," ucap Deva.


"Bukankah memang selalu seperti itu jika ada maunya?"


Deva mengangkat kedua bahunya sekilas, itu benar, tapi kali ini semakin keras kepala saja.


"Kita doakan saja yang terbaik, tinggal sedikit lagi dan Melvin pasti bisa."


Deva mengangguk, jika saja Melvin mengizinkan mereka membantunya, semua pasti akan lebih mudah dan tidak akan terlalu menyiksanya juga.


 ----


Di rumah Bianca juga terlihat masih ramai, semua teman-temannya ada di sana, Bianca tanpa sengaja mengatakan tentang pernikahannya, sehingga membuat mereka semua ribut tak jelas.


"Apa kalian tidak bisa diam?" tanya Bianca.


"Sudahlah, sekarang katakan, pakaian seperti apa yang akan kita pakai nanti," ucap Sintio.


"Yang jelas rok warna pink yang akan aku siapkan buat kamu, lengkap dengan sanggul dan makeup tercantiknya."


Mereka semua tertawa melihat ekspresi kesal Sintio, Bianca dan Sintio memang teramat dekat jika dibandingkan dengan yang lainnya.


"Tiara, masih gak mau temui aku?"


Pertanyaan Bianca berhasil menghentikan tawa mereka semua, mereka saling lirik satu sama lain.


"Kalau aku beri kabar tentang ini, apa dia akan merasa senang?"


"Jangan bodoh kamu," ucap Dela cepat.


Bianca diam, tapi bukankah Tiara juga temannya, dia harus tahu tentang kebahagiaan itu.


"Dia sempat datang ke Cafe, dan dia bertanya kapan kamu akan menikah dengan lelak itu."


"Benarkah, berarti aku harus memberi kabar padanya."


"Jangan, kamu mau dia mengacaukan acara kamu nanti."


"Jangan seperti itu, Tio."


"Jangan seperti itu gimana, kamu fikir saja dengan baik."


Bianca kembali diam, tapi Tiara akan semakin benci padanya jika tidak diberi kabar, apa itu bisa dilakukannya.


"Sudahlah, lupakan, biarkan saja di dengan kehidupannya sendiri, dia sendiri juga kan yang pergi menjauh."


"Tapi kan, itu hanya pemikiran yang salah saja, kalau aku terus jelaskan pasti dia mengerti."


"Percuma," ucap Sintio sedikit membentak.


"Sudah, kamu diam saja," ucap Dela.

__ADS_1


Bianca menghembuskan nafasnya sekaligus, baiklah kalau memang Bianca harus diam saja, ia juga akan fikirkan lagi nanti.


 ----


"Pak Melvin, mari masuk."


Melvin mengangguk, ia mengikuti Agit memasuki rumah.


"Suami kamu mana?"


"Dia tidur, sedang tidak enak badan."


"Maaf, saya sudah mengganggu mu."


"Tidak masalah, silahkan duduk dan minum dulu, saya akan bawakan dulu barangnya."


"Terimakasih."


Agit mengangguk dan pergi meninggalkannya, Melvin juga duduk, ia melihat jam di pergelangan tangannya, apa Bianca sudah tidur.


Melvin mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan singkat pada Bianca, tapi tak berselang lama balasan pesan masuk, Melvin tersenyum karena wanita itu belum tidur.


"Permisi Pak, ini pesanannya."


Agit duduk dan menyimpannya di meja, Melvin sedikit mengernyit karena ada dua kotak di sana.


"Kenapa dua?"


"Yang warna biru itu hadiah dari saya dan Suami saya, jadi tolong diterima."


"Benarkah, merepotkan sekali."


"Tidak masalah, itu niat kami."


Melvin tersenyum dan mengangguk, ia lantas membuka miliknya terlebih dahulu, menelitinya dengan seksama dan tersenyum dengan sempurna.


"Masih ada waktu kalau memang masih ada yang kurang."


"Tidak, ini sudah sesuai dengan yang saya minta."


Agit tersenyum, baguslah kalau memang seperti itu, Melvin lantas membuka satu kotak lagi, isinya sama saja cincin hanya memang modelnya yang terkesan biasa.


"Maaf, Pak, kami hanya bisa berikan itu."


Agit kembali tersenyum, syukurlah kalau mereka memang menerimanya.


"Saya bayar transfer saja ya, gak bawa uang."


"Tenang saja, Pak."


"Baiklah, kalau gitu saya langsung pamit, Bianca masih terjaga dan saya bisa berikan ini langsung."


"Minum dulu, Pak."


"Oh iya, terimakasih."


Melvin meneguk habis minumnya, ia lantas bangkit dan pamit, satu lagi targetnya telah selesai, Melvin akan segera menyelesaikan semuanya.


 ----


Tingg ....


"Aduuuh, siapa sih ganggu banget," omel Sintio.


Bianca hanya tersenyum meresponnya, Bianca membuka pesan masuk itu, dan semakin tersenyum saat membacanya.


"Siapa, malam-malam begini."


"Melvin, dia mau kesini."


"Benarkah?"


Sintio langsung bangkit dari pembaringannya, mereka semua menatap heran lelaki jadi-jadian itu.


"Mana dia, masih dimana dia, biar aku yang menyambutnya."


"Dia akan langsung kabur kalau melihat kamu yang datang."


Mereka semua tertawa mendengar kalimat Ayu, Sintio tak perduli yang jelas ia akan menyambut Melvin nanti.

__ADS_1


"Jangan ribut ya, Ibu bisa marah kalau tahu dia datang malam seperti ini."


"Tenang saja, lagi pula ada kita semua, dari tadi itu kita ribut, Aca."


"Ya beda."


"Sama saja ah, apanya yang beda."


Bianca mengangkat kedua bahunya, terserah Sintio saja, semakin ribut kalau mereka justru harus berdebat.


"Mana, masih dimana dia, keburu subuh nanti sampai sini."


"Gak sabaran banget sih, Banci," ucap Dela.


"Masa bodoh."


Sintio mendelik, menjengkelkan sekali mulutnya itu, Bianca hanya tersenyum melihat mereka, Melvin untuk apa datang, padahal sejak kemarin Melvin seperti mengabaikannya.


Tingg ....


"Nah, itu pasti dia, mana sini ponselnya."


Sintio merebut ponsel Bianca begitu saja, ia membacanya dan benar saja lelak itu ada depan sana.


"Oke, i'am coming."


Sintio melempar ponselnya begitu saja, dan melesat pergi meninggalkan mereka semua.


"Hey," panggil Bianca.


"Rese sekali dia," ucap Ayu.


Bianca menggeleng, ia lantas turun dan segera mengejar Sintio, Melvin bisa saja kesal saat melihatnya.


"Aaa pangeran ku," teriak Sintio seraya membuka pagar.


Melvin mengernyit, ia menjauh saat Sintio hendak memeluknya.


"Apa-apaan ini, mana Bianca?"


"Ah jangan memikirkan dia, kemarilah, aku juga merindukan mu."


"Melvin," panggil Bianca.


Panggilan itu justru membuat Melvin lengah, dan begitu saja mendapatkan pelukan dari Sintio.


"Aaa lepas ah."


"Aah mimpi ku akan indah habis ini."


Bianca menghampiri dan menarik Sintio menjauh dari Melvin, Sintio berdecak seraya mengibaskan rambut lakinya asal.


"Pelit sekali kamu," ucapnya kesal.


"Sana masuk ah, ngapain sih."


Sintio berlalu masuk seraya ngedumel tak jelas, Bianca tersenyum melihatnya, biarkan saja dari pada terjadi keributan.


"Bisa sekali kamu biarkan dia memeluk ku."


Bianca memejamkan matanya sesaat ketika Melvin memeluknya, ia kembali tersenyum, dan membalas pelukannya.


"Kamu ngapain malam-malam kesini, nanti dimarahi Ibu."


"Suuttt, kita sudah lama tidak bertemu, jadi biarkan saja aku kesini."


Bianca mengangguk saja, Melvin melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap Bianca.


"Apa?"


"Tidak, aku mau tunjukan sesuatu."


"Apa?"


Melvin mengambil dua kotak itu di dalam mobilnya, dan langsung memberikannya pada Bianca.


"Apa ini?"


"Menurut mu?"

__ADS_1


Bianca diam menatap dua kotak di tangannya, cincin lamaran kemarin sudah terpasang di jarinya, lalu yang di dalam kotak tersebut?


Bianca melirik Melvin, lelaki itu tersenyum penuh keyakinan, apa benar seperti itu, Bianca tidak mau membukanya.


__ADS_2