
Melvin berjalan menaiki tangga, ia dan Bianca baru saja sampai rumah, tapi Bianca sudah masuk kamar lebih dulu.
"Kalian pulang, sama siapa Bu Mayang?"
"Sendiri, Bianca juga harus istirahat, makanya aku ajak pulang."
"Ya sudah, biar Mama yang kesana, kamu juga istirahat saja."
"Terimakasih."
"Iya, sama-sama, sudah sana masuk."
Melvin mengangguk, ia memasuki kamar dan menghampiri Bianca di sofa sana.
"Kamu gak mandi?"
Bianca hanya menggeleng saja, Melvin turut duduk dan mengusap pundak Bianca.
"Ibu, sekarang sudah baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir lagi, kita berdoa saja agar Ibu bisa cepat pulang."
Bianca tetap diam, entah apa yang sedang difikirkannya saat ini, Melvin tidak bisa menerkanya.
"Bii, kamu istirahat ya, jangan diam terus seperti ini, aku mita maaf kalau aku salah, tapi sebaiknya kamu bicara, jangan diam saja seperti ini."
"Aku gak apa-apa, kamu mandi sana."
"Iya aku mandi, kamu gak mandi."
"Kamu saja dulu."
"Kenapa gak barengan saja?"
Bianca menoleh, Melvin mengangguk seraya tersenyum, ia tidak suka jika istrinya diam seperti itu terus menerus.
"Ayo, kita akan senang mandi bersama."
Melvin bangkti seraya menarik Bianca juga, ia menggendong Bianca memasuki kamar mandi.
----
"Bu, saya mau pulang besok, bisa bantu saya bicara sama Dokter?"
Mika diam, apa bisa seperti itu, bukankah Mayang memang masih harus dirawat beberapa hari di sana.
"Saya harus temui mereka, saya harus pastikan keadaannya baik-baik saja."
"Memangnya dimana mereka, beri tahu saja alamatnya, nanti biar saya yang coba kesana untuk temui mereka."
"Tidak, mereka akan berfikir kalau saya tidak bertanggung jawab."
"Baiklah, begini saja, biar nanti saya dan Bianca yang temui mereka, mereka pasti mengenal Bianca kan?"
Mayang mengangguk, tentu saja itu benar, tapi tetap saja Mayang tidak mau mengganggu Bianca.
"Tidak masalah Bu, Bianca pasti mau, dan lagi Melvin belum mulai bekerja, jadi mereka bisa sama-sama juga."
"Tapi nanti malah merepotkan mereka."
"Tidak akan, mana mungkin mereka merasa repot kalau membantu Ibunya sendiri."
Mayang tersenyum, mungkin saja benar, tapi Mayang tetap ingin cepat pulang juga dari rumah sakit itu.
__ADS_1
"Ibu, tidak perlu banyak fikiran, lebih baik istirahat saja biar cepat pulih ya."
"Ibu, kalau mau pulang silahkan saja, saya tidak apa-apa sendirian, lagi pula kasihan Pak Deva."
"Tidak apa-apa, saya sudah katakan kalau akan temani Ibu disini."
Mayang tersenyum, semoga saja dirinya memang tidak merepotkan.
"Bu, saya berubah fikiran tentang Bianca."
"Maksudnya?"
"Saya akan biarkan Bianca tinggal sama kalian, sama Suaminya."
"Apa benar seperti itu?"
"Iya, biarkan saja dia sama Suaminya, asalkan dia bisa menjaga anak saya."
Mika tersenyum dan mengangguk, itu pasti akan selalu dilakukan Melvin, ia akan selalu menjaga Bianca.
"Tapi kalau sesekali dia mau ke rumah, tolong jangan dilarang."
"Mana bisa seperti itu, Bianca bebas saja mau dimana, semaunya dia."
Keduanya tersenyum bersamaan, biarkan saja mungkin jika bersama mereka, Bianca akan tetap baik-baik saja.
"Tenang saja, Bianca tidak akan diperlakukan buruk di rumah, Melvin pasti akan marah jika sampai hal itu terjadi."
"Tidak apa-apa, kalau memang Bianca salah, tegur saja, di rumah juga selalu seperti itu."
"Iya, biar saja, lagi pula ada Melvin juga."
"Bu Mayang."
Mayang menoleh, Mika mengangkat kedua alisnya, mungkin saja ada yang ingin Mayang katakan padanya.
"Saya khawatir dengan mereka, takutnya ada yang mereka butuhkan saat ini, polisi bilang mereka juga terluka, mungkin saja mereka perlu biaya untuk berobat."
"Iya, saya paham, tapi mereka juga pasti paham tentang keadaan Ibu disini, mereka pasti bisa mengerti Bu, tenang saja dulu."
----
Bianca keluar lebih dulu, ia telah berpakaian rapi dan siap tidur, segar memang rasanya, dan Bianca bisa sedikit lebih santai lagi.
"Bii, baju aku jangan lupa."
Bianca menoleh, tanpa menjawab Bianca membuka lemari baju Melvin, seketika itu ia terdiam, tertegun melihat pakaian Melvin di sana.
"Rapi sekali," ucapnya pelan.
Di dalamnya semua baju dipakaikan hanger, sehingga tergantung rapi, Bianca menyentuhnya perlahan, warnanya disusun senada, begitu juga dengan jenis pakaiannya dan panjang pendeknya.
"Mana baju ku, kamu diam saja."
Bianca terkejut saat Melvin memeluknya, ia memutar tubuhnya dan tersenyum.
"Ada apa, kenapa kamu?"
"Itu baju kamu semuanya?"
"Tentu saja, mana mungkin baju Papa ada disini."
__ADS_1
Bianca diam, sebanyak itu, Bianca tahu semua adalah pakaian mahal.
Cup ....
Bianca memejamkan matanya sesaat, ia tersenyum ketika Melvin mencium pipinya sekilas.
"Nanti, kita rapikan ulang, baju kamu juga harus disimpan rapi, kalau memang gak cukup, aku bisa beli lemari baru."
"Baju aku hanya sedikit, sempilkan saja disini juga cukup."
"Gak bisalah, aku akan ganti baju kamu."
Bianca menghembuskan nafasnya sekaligus, terserah saja, Bianca tidak mau mendebatnya.
"Baiklah, sekarang mana baju aku, aku kedinginan apa kamu tidak mengerti?"
Bianca tersenyum seraya menggeleng, ia berbalik dan mengambil satu baju, Bianca memilih warna yang disukainya di sana.
"Hey, apa-apaan, itu baju kerja, masa aku tidur pakai kemeja."
"Lalu yang mana?"
"Baiklah, kamu harus menghafal semuanya, aku menyimpan campur semua baju itu, kamu harus tahu mana baju kantor, mana baju santai, dan mana baju tidur, mana juga baju resmi untuk acara."
Melvin menyimpan kembali baju yang dibawa Bianca, dan mengambil baju yang akan dipakainya.
"Aku menatanya dengan warna senada, jadi baju apa pun itu kalau warnanya cocok, pasti aku simpan berdekatan."
Bianca mengangguk, ya baiklah itu PR untuknya, lain waktu Bianca akan buat itu semua berantakan, dan akan ditata ulang olehnya agar dia bisa mengingatnya.
"Kamu mau tidur, atau mau makan?"
"Aku mau tidur, kamu mau makan?"
Melvin menggeleng, memang sebaiknya mereka tidur saja agar bisa melupakan ketegangan yang sempat ada.
"Kalau kamu mau makan, aku temani."
"Tidak perlu, kita tidur saja."
Bianca menahan diri agar tak melangkah saat Melvin menariknya, ia diam menatap Melvin yang juga menatapnya.
"Kenapa, katanya mau tidur, ayo tidur."
"Aku mau tidur."
"Ya ayo tidur."
Melvin tersenyum dan menggeleng, ia menggendong Bianca dan membawanya ke kasur.
"Tidurlah, aku tidak akan melakukan apa pun malam ini."
Melvin turut berbaring, ia menarik selimut menutupi tubuh keduanya, Melvin berbalik memeluk Bianca.
"Ayo tidur," ucap Melvin.
"Selamat malam."
"Selamat malam."
Melvin mencium kepala Bianca, keduanya memejamkan mata untuk meraih alam mimpinya yang mungkin akan indah.
__ADS_1