Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Sediki Saja


__ADS_3

Selesai urusan pemotretan, Melvin tak langsung mengantarkan Bianca pulang, Melvin membawa Bianca ke rumahnya terlebih dahulu.


"Kalian sudah pulang," ucap Mika.


Bianca tersenyum dan salam, Mika sempat memeluk calon menantunya sesaat, senang sekali bisa bertemu wanita itu lagi.


"Bagaimana, bagus?"


"Mana tahu, gak jelas tuh anak," ucap Melvin.


"Kenapa?" tanya Mika.


"Ya gak jelaslah, pemotretan apaan seperti itu, gak jelas."


Melvin berkata sambil berjalan, ia lantas duduk di sofa sana.


"Kenapa, Bianca?"


"Tidak ada pemotretan, kita hanya jalan-jalan saja, mereka tidak bekerja dengan benar."


"Benarkah, lalu kenapa Melvin percaya pada mereka?"


Bianca mengangkat kedua bahunya sekilas, apa yang bisa dikatakannya, bukankah Melvin melakukan semuanya sendiri, Bianca tidak tahu apa-apa karena Melvin tidak pernah melibatkannya.


"Baiklah, biar nanti saya yang bicara pada mereka."


Bianca mengangguk, keduanya menyusul Melvin dan turut duduk.


"Makanya jangan asal, mentang-mentang teman sendiri, langsung pilih saja," ucap Mika.


"Ya aku fikir dia itu bertanggung jawab, percuma bayar mahal."


"Nanti aku ganti uangnya, kemarin mau dikasih uangnya kan kamu yang gak mau terima."


Melvin menoleh, ia terdiam menatap Bianca, sepertinya ucapannya telah salah.


"Apa sih Bii, itu lebih gak penting."


Mekvin merangkul Bianca dan mengecup pucuk kepalanya, Bianca seketika mendorong Melvin.


"Kok kasar?" tanya Melvin heran.


"Ada Ibu, kamu gak malu?"


Melvin melirik Mika, wanita itu tersenyum seraya menggeleng, tapi Melvin tak perduli, memangnya apa salahnya dengan mencium kepala saja.


"Mama," panggil Deva.


Mika menoleh, ia lupa jika niatnya turun adalah untuk membawakan minum.


"Papa, ada?" tanya Melvin.


"Ada, baru pulang, gak enak badan katanya."


"Sakit, aku boleh lihat?" tanya Bianca.


"Nanti saja, baru minum obat, biar istirahat dulu," ucap Mika.


Bianca mengangguk, Mika lantas pamit dan pergi meninggalkan keduanya.


"Jangan kasar lagi," ucap Melvin.


Bianca menoleh dan tersenyum, ia lantas memeluk Melvin dengan eratnya.


"Aku minta maaf, gak maksud kasar, lagi pula kamu asal cium saja."


"Gak apa-apa, cuma cium kepala, apa salahnya."


"Ya salahlah, orang ada Ibu disini, gak malu apa?"


Melvin tersenyum dan membalas pelukan Bianca, keduanya terdiam, cukup melelahkan memang kegiatan mereka di hutan itu.


"Bii."


"Apa?"


"Kalau sudah menikah, kamu ikut ya kemana pun aku pergi."


"Kok gitu?"


"Aku gak mau kamu kemana-mana, aku harus selalu melihat kamu."


"Kamu gak percaya sama aku?"


"Percaya, tapi aku gak percaya sama yang lain."


Bianca mengangguk, lihat nanti saja akan seperti apa.

__ADS_1


"Melvin, kamu yakin mau tinggal di rumah aku nanti?"


"Yakin, kenapa gak yakin?"


"Karena kamu sudah terbiasa dengan tempat mewah ini."


Melvin mengeratkan pelukannya, kalimat seperti itu sangat tidak bisa diterimanya.


"Sakit, sakit, ia maaf."


"Asal saja kalau bicara."


"Aku bicara benar, kenapa jadi asal?"


"Kamu fikir aku orang yang suka sekali mempermasalahkan keadaan?"


Bianca mengangkat kedua pundaknya sekilas, mungkin saja memang seperti itu.


"Bii."


"Apa, dekat juga manggil saja terus."


Mekvin sedikit tertawa, ia merangkul Bianca dan mencekiknya gemas.


"Melvin, aku teringat burung itu terus, kenapa kamu tidak bawa satu saja."


"Bawa apa?"


"Burung ih, aku kan tadi bilang burung."


"Ngapain sih, repot tahu ngurusnya."


"Masa."


Melvin diam menatap Bianca, tatapan yang sedikit kesal, itu membuat Bianca tersenyum seraya mencium pipi Melvin sekilas.


"Eh, berani kamu."


"Biar saja, memangnya kenapa?"


Melvin menggeleng, keduanya terdiam, merasakan hangat pelukan satu sama lain.


"Badan kamu masih hangat saja."


"Ya hangatlah Bii, aku kan masih hidup, kalau dingin berarti aku sudah mati."


Bianca berdecak seraya menjewer Melvin, buruk sekali perkataannya.


"Kalau aku pulang, kamu langsung istirahat ya."


"Kenapa?"


"Ya kan biar cepat sembuh, kamu mau sakit lagi atau sakit terus?"


"Gaklah, enak saja kamu ini, kamu mau tahu gak biar aku cepat sembuh?"


"Aku tahu, kamu harus makan terus minum obat, habis itu istirahat."


"Oh bukan."


"Kok bukan, aku tahu, emmm biar kamu cepat sembuh itu harus selalu ada aku kan di samping kamu, kan aku obat paling mujarap."


"Ya itu benar, tapi ada yang lebih tepat lagi."


"Apa?"


"Mau tahu?"


"Ya apa?"


"Dengan cara ini."


"Cara apa?"


Melvin tersenyum, ia menyentuh dagu Bianca, meluruskan tatapannya.


"Apa, tinggal bilang saja."


Tak ada jawaban, Melvin hanya tersenyum seraya mengusap lembut bibir Bianca, sentuhan itu membuat ingatan Bianca kembali melayang saat di hutan tadi, dimana Bianca berfikir jika Melvin akan mengecup bibirnya.


"Ini selalu membuat ku gemas," ucap Melvin pelan seraya mendekat.


Bianca menelan ludahnya, jantungnya kembali heboh di dalam sana, sama halnya dengan Melvin, Bianca juga turut menatap bibir Melvin.


"Mungkin saja kamu akan biarkan aku menyentuh mu."


Bianca tak bergeming, jelas saja Bianca selalu penasaran dan ingin tahu seperti apa rasanya kecupan itu.

__ADS_1


Kini dua pasang mata itu berganti arah, keduanya bertahan dalam tatapan satu sama lain, Melvin turut merasakan gemuruh yang sejak tadi dirasakan Bianca.


"Kamu panik?" tanya Bianca pelan.


Melvin tak menjawab, mungkin saja Bianca bisa merasakan atau bahkan mendengar detakan jantungnya yang tak lagi terkendali.


"Melvin."


"Jangan lakukan apa pun."


Melvin mengecupnya begitu saja, membuat mata Bianca terpejam detik itu juga, Bianca meraih tangan Melvin yang masih bertahan di dagunya.


Ya, tentu saja itu membuat perasaan Bianca berbunga, ia merasakan sentuhan itu sekarang.


"Melvin, Bianca."


Keduanya saling menjauh, salah tingkah sendiri saat mendengar suara Mika.


"Bagus kalian ya."


Melvin menoleh saat Mika berjalan dan berdiri di depannya, sedangkan Bianca justru berpaling menghindari tatapan Mika.


"Seperti itu cara kamu memperlakukan wanita?" tanya Mika seraya memukul asal Melvin.


"Apa sih, sakit."


"Sakit sakit, sakit kan, kurang ajar sih kamu, sakit, mau lagi."


Mika mengulang pukulannya berulang kali, membuat Melvin naik ke sofa dan melompati sandarannya.


"Mama, kasar sekali."


"Kesini kamu, mau lari kamu?"


"Enggak, apaan sih."


Bianca menutup mulutnya, menahan tawa melihat ibu dan anak itu, Mika yang terus mendekati Melvin seraya terus memukulnya, dan Melvin yang terus saja berusaha menghindarinya.


"Kurang ajar kamu, apa selalu seperti apa kamu dengan wanita."


"Gak, enak saja, baru kali ini, kita akan menikah jadi itu bukan masalah."


"Kalian baru akan menikah, bukan sudah menikah, jadi tetap saja kamu harus jaga sikap kamu."


"Sakit ah, apa sih, sudah hentikan."


Melvin kembali ke tempat duduknya tadi, ia dengan sengaja menarik Bianca bangkit dan menahan Bianca di depannya.


"Melvin," ucap Mika.


Bianca mengangkat kedua tangannya untuk menghalangi wajahnya, nyaris saja pukulan Mika mengenai wajahnya.


"Nah, pukullah dia," ucap Melvin asal.


Bianca dan Mika saling lirik, keduanya mengernyit bersamaan.


"Ayo pukul, dia juga mau saja aku sentuh."


Bianca seketika berbalik, ia menatap Melvin dengan kesalnya, kenapa jadi menyalahkan dirinya.


"Apa, memang benar, kamu senang kan, ayo ngaku, kamu senang juga kan, bagaimana, hangat?" goda Melvin.


"Apaan sih kamu."


Bianca tersenyum malu, bisa sekali Melvin seperti itu.


"Tuh, benar, dia juga senang, sudahlah Mama, tidak ada masalah."


"Diam kamu, kemari kamu."


Mika menarik Bianca menjauh dari Melvin, itu tidak boleh lagi terjadi.


"Kembalikan, dia calon istri ku."


"Biar saja, dia juga calon menantu Mama, biar Mama yang antar dia pulang."


"Eh gak bisa gitu."


Mika dengan sengaja menjitak kepala Melvin saat menarik Bianca, itu membuat Bianca geli sendiri.


"Diam kamu, masuk kamar, istirahat, Bianca ayo pulang."


Mika menarik pergi Bianca, ia tak perduli dengan panggilan Melvin yang berulang kali.


"Mama, gak asyik ah."


Bianca menoleh tanpa menghentikan langkahnya, ia tersenyum saat Melvin memonyongkan bibirnya.

__ADS_1


"Bianca," panggil Mika.


Bianca seketika berpaling, dan berjalan dengan mata lurus ke depan, ia begitu berusaha menahan tawa bahkan sekedar senyumannya.


__ADS_2