Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Bahagia


__ADS_3

Banyaknya tamu undangan sudah hadir di tempat pernikahan Melvin dan Bianca, setelah penantian yang dirasa begitu lama oleh keduanya, akhirnya hari bahagia itu tiba juga.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Bianca Nacilla Askhara binti Naufal Askhara dengan maskawin seperangkat alat shalat, beserta emas seberat 30 gram, dan uang tunai senilai 30 juta rupiah tersebut tunai."


"Bagaimana saksi?"


Mereka mengucap sah dengan kompaknya, jabatan tangan itu dilepas, Melvin melirik Bianca dan seketika itu pula ia memeluknya, mencium seluruh wajahnya, hingga nyaris membuat riasan di kepala Bianca rusak.


"Melvin, heh apa-apaan kamu ini."


Mika menarik Melvin menjauh, mereka yang melihatnya terdengar tertawa bersama, Bianca melirik Mayang dan tersenyum seraya menggeleng.


Dilanjut dengan doa dan pasang cincin juga penanda tanganan berbagai surat di sana, keduanya saling lirik, Melvin dengan tenang mencium kening Bianca, mengusap kepalanya sayang.


"Jangan kurang ajar padaku, mulai sekarang kamu tidak boleh memanggil ku dengan nama ku."


"Lalu?"


"Fikirkan sendiri."


Bianca mengangkat kedua alisnya, tentu saja ia mengerti dengan itu.


Mereka melanjutkan serangkaian acara pernikahan mereka, keduanya terlihat begitu bahagia, kebahagiaan yang tampak begitu sempurna.


"Bii, kamu lihat foto di depan tadi?" tanya Melvin.


"Tentu saja, hasilnya bagus, dan itu memang diluar dugaan, mereka hebat, mengambil gambar dengan gerakan kita yang begitu cepat."


"Yang mana yang kamu suka?"


"Yang kamu mau cium aku."


"Itu hanya perasaan mu, aslinya tidak seperti itu."


Bianca mendelik, terserah saja Bianca sudah mengatakan semuanya, Melvin tersenyum dan mengangguk, baiklah tidak perlu mendebatkan hal seperti itu.


Mereka menerima tamu yang datang dengan baik, menyapa dan berbincang dengan mereka yang menghampiri.


"Selamat ya, sukses buat pernikahannya."


Melvin mengangguk, semoga saja karena itu memang keinginannya.


"Jangan menyerah menghadapi dia yang keras kepala."


Bianca tersenyum dan melirik Melvin sekilas, benarkah ucapan tamu itu, ya semoga saja memang Bianca sanggup.


"Aca," teriak Sintio.


Keduanya menoleh, Melvin seketika berdecak dan berpaling malas.


"Jangan seperti itu," ucap Bianca.


"Dia selalu saja menyebalkan."


"Benarkah."


Melvin dibuat terkejut oleh pelukan Sintio, lagi dan lagi Melvin kecolongan dengan itu, memang menjengkelkan.


"Kenapa kamu semakin tampan saja."


"Lepas, apaan sih, lepas."

__ADS_1


"Jangan seperti itu, diamlah, biarkan aku memeluk mu untuk yang terakhir kalinya."


Melvin kembali berdecak, ia sadar dengan beberapa pasang mata yang memperhatikannya, apakah itu termasuk hal yang memalukan.


"Bianca," panggil Mayang.


Bianca menoleh, ia menggeleng saat paham jika Mayang meminta Bianca menjauhkan Sintio dari Melvin.


"Mereka sahabat baik, Ibu."


Mayang menggeleng, kasihan sekali Melvin harus seperti itu, lelaki itu bisa saja malu karena kelakuan Sintio.


"Sudah lepas, masih banyak tamu lain," ucap Dela.


Sintio menoleh seraya melepaskan pelukannya, melvin segera merapikan penampilannya.


"Aca," jerit Sintio dengan datarnya.


Ia mengabaikan Melvin begitu saja dan berpindah memeluk Bianca, Melvin sedikit keberatan dengan itu, tapi ia tidak boleh bertingkah.


"Tolong maafkan dia," ucap Dela.


Melvin tersenyum dan mengangguk, mereka berjalan perlahan, mengucapkan selamat pada pasangan pengantin baru itu.


Setengah waktu acara, tamu undangan justru semakin banyak, mereka begitu senang dengan rangkaian acara yang dibuat di pesta tersebut.


"Ada yang kalian butuhkan?" tanya Mika.


Melvin menoleh sekilas dan melirik Bianca.


"Kamu mau sesuatu?"


"Aku mau minum."


"Tunggu sebentar, sedang dibawakan."


Melvin mengangguk, mereka tetap sibuk menerima tamu yang mengucapkan selamat, bahkan untuk sekedar foto pun sulit sekali karena terhalang tamu itu.


"Ini minum dulu."


Melvin menerimanya dan memberikan pada Bianca, hanya sedikit Bianca meneguknya, dan dihabiskan oleh Melvin.


Lelah yang mereka rasakan, terobati dengan kebahagiaan yang terasa di sana, Bianca yang diubah menjadi ratu sehari, begitu menikamti masa meratunya.


"Pusing kepala," ucap Ayu.


"Apaan sih, gak gaul banget," sahut Sintio.


"Oke, baiklah, sekarang kita masuk sesi lempar bunga ya."


Kalimat MC membuat mereka bersorak, mereka yang berminat memperebutkan bunga pengantin itu segera berkumpul.


"Apa-apaan kalian," ucap Bianca.


"Lempar saja cepat," sahut Ayu.


"Gak kuat mau dapat jodoh," jerit Sintio.


Bianca sedikit tertawa mendengarnya, teman Bianca itu memang umurnya di atas Bianca, tapi mereka belum ada yang menikah, dan justru Bianca yang lebih dulu menikah.


"Baiklah, bersiap, kita lakukan ini dua kali ya, satu untuk menemukan lelakinya, dan satu untuk menemukan wanitanya, ayo bersiap."

__ADS_1


Bianca dan Melvin berbalik membelakangi mereka, bunga itu digenggam oleh keduanya.


"Siapa yang akan dapat?" tanya Melvin.


"Aku harap Sintio, aku mau tahu bagaimana kalau dia punya pasangan."


Melvin tertawa mendengarnya, benar juga apa yang dikatakan Bianca.


"Oke siap, hitungan ketiga ya, kita mulai sama-sama berhitung."


1 .... 2 .... 3


Dengan penuh semangat, keduanya melemparkan bunga tersebut, lemparan yang kurang tenaga sehingga hanya sampai barisan depan saja.


Mereka menjerit kompak, banyak tangan terangkat untuk bisa meraih bunga tersebut, sampai akhirnya satu tangan lelaki mendapatkannya.


"Tepat sasaran," ucap MC.


Bianca dan Melvin berbalik, keduanya tersenyum melihat dia yang mendapatkan bunga.


"Siapa?" tanya Bianca.


Melvin mengangkat kedua ibu jarinya, itu adalah rekan kerjanya di kantor, dan dia memang sedang berusaha mendapatkan pasangan.


"Oke, silahkan maju kesini, kembalikan bunganya dan kita akan cari pasangannya."


Lelaki itu maju dan mengembalikan bunganya pada Melvin, tak ada kata apa pun, Melvin hanya menepuk pundaknya memberikan semangat.


"Lanjut lemparan kedua, wanita ya kali ini, tolong yang laki minggir segera."


Mereka bersorak tapi tak mau mengikuti itu, mereka akan meramaikan saja tanpa mendapatkan bunga itu.


"Hitung lagi, ayo, kasihan Mas ini sudah tidak sabar mendapatkan pasangannya."


Mereka tertawa mendengarnya, Bianca dan Melvin kembali berputar, mereka bersiap melemparkan bunga itu lagi.


Sesuai dengan awal lemparan, hitungan ketiga mereka melemparnya lagi, kali ini dengan tenaga penuh sehingga bunga itu melambung tinggi dan jauh ke belakang sana.


"Woooow," ucap MC asal.


Suasana mendadak hening, mereka semua berbalik kompak melihat siapa yang mendapatkan bunga tersebut.


Sesaat kemudian, kerumunan itu membelah dua bagian, memberikan jalan bagi pemenang bunga tersebut.


"Oh ini dia, bagus sekali, wanita cantik luar biasa," ucap MC semangat.


Bianca dan Melvin justru kehilangan senyumannya saat melihat sosok Tiara yang mendapatkannya, mereka saling lirik dan bertahan dalam tatapan satu sama lain.


Tiara hanya satu teman Bianca yang tak diundang, itu semua sesuai dengan permintaan keluarga, tapi ternyata wanita itu datang dengan sendirinya.


"Ayo maju cantik, kemarilah, apa kalian akan berjodoh."


Tiara berjalan sesuai panggilan MC, ia melirik lelaki yang mendapatkan bunga tadi, dengan sedikit tersenyum, Tiara mengangguk dan berjalan melewatinya.


Melvin segera menggenggam tangan Bianca saat Tiara sampai di hadapan, tidak bisa dipungkiri jika keduanya merasa khawatir akan tingkah Tiara kali ini.


"Ku kembalikan bunganya."


Tiara memberikan bunga itu pada Bianca, ia tersenyum menatap Bianca.


"Tiara, kamu ...."

__ADS_1


Tiara memeluk Bianca begitu saja, orang tua mereka merasa khawatir dengan hal itu, tapi mereka tidak bisa apa-apa selain dari pada berdoa.


__ADS_2