
Bianca membantu Mayang untuk duduk, hari ini Mayang sudah diperbolehkan pulang, setelah sempat memaksa akhirnya Mayang mau untuk pulang ke rumah Melvin.
"Dimana mereka?" tanya Mayang.
"Aku tidak tahu, mungkin di atas."
Mayang mengangguk, selang beberapa saat Melvin dan Mika terlihat menghampiri.
Mereka senang karena Mayang mau datang ke rumahnya, meski untuk sementara tapi itu memang yang terbaik.
"Bibi, bawakan minum," ucap Mika.
"Iya, sebentar."
Mika duduk di samping Mayang, ia langsung mengungkapkan kesenangannya karena kedatangan Mayang.
"Maaf, saya akan merepotkan kalian," ucap Mayang.
"Tidak masalah, kita akan sama-sama," sahut Mika.
"Silahkan."
Mereka menoleh, suguhan dihidangkan di meja, setelahnya mbak rumah kembali pergi.
"Ayo, diminum dulu," ucap Mika.
Bianca memberikan gelasnya, ia tersenyum dan melirik Melvin.
"Aku harus pergi sekarang."
Bianca mengernyit, tentu saja ia tidak mau mendengar itu.
Hari ini juga Melvin memang akan pergi untuk mengantarkan Reska pulang, sesuai dengan tawaran mereka kala itu, dan hari ini Melvin akan pergi.
"Dimana Reska?" tanya Mika.
Mayang mengernyit mendengarnya, ada apa dengan wanita itu, Mayang belum bertemu dengannya sampai saat ini.
"Aku rasa dia di rumahnya," ucap Melvin.
"Kita pergi sekarang?" tanya Mika.
"Kalian mau kemana?" tanya Mayang.
"Melvin akan mengantarkan Reska pulang, Ibunya sakit di sana jadi Reska harus pulang."
Mayang diam, ia berpindah menatap Melvin, kenapa harus Melvin yang antar bukankah wanita itu bisa pulang sendiri.
Dan kenapa juga harus melibatkan Mika, itu akan sangat merepotkan mereka, dan Mayang merasa tidak enak hati.
"Tidak masalah Bu, ini memang sudah jadi kesepakatan aku sama Bianca," ucap Melvin.
"Bu Mayang fokus saja sama kesehatan sendiri, yang lain biarkan kami bantu mengurusinya," sahut Mika.
"Malu sekali saya."
Mika menggeleng, bagaimana bisa Mayang berfikir seperti itu, mereka akan saling membantu sekarang.
Bianca menarik Melvin dari keduanya, tak ada penolakan Melvin juga ikut saja dengan tarikan Bianca.
"Ada apa?" tanya Melvin.
__ADS_1
"Aku bawa Ibu kesini, kalau Mama pergi, apa kata orang nanti."
"Memangnya kenapa, keadaannya jelas, statusnya juga jelas, tidak ada yang jadi masalah."
"Tapi aku takut."
Melvin menunduk sesaat, tidak seharusnya Bianca berfikir seperti itu, bukankah sekarang mereka telah menjadi keluarga.
Bianca berpaling, tapi ia juga rasanya tidak rela jika Melvin hanya pergi berdua saja dengan Reska, Bianca juga tidak bisa tinggalkan Mayang sendiri.
"Sudahlah, kenapa kamu ini," ucap Melvin mengusap kepala Bianca.
"Aku hanya sebentar saja, setelah semua jelas dan pasti, aku akan segera pulang lagi."
"Kabari aku."
Melvin mengangguk pasti, itu akan dilakukannya setiap saat.
Bianca menghembuskan nafasnya sekaligus, biarlah, mungkin memang tidak perlu terlalu difikirkannya.
"Jangan membuat mereka berfikir yang tidak seharusnya, kalau kamu seperti ini pasti akan membuat fikiran mereka kabur," ucap Melvin.
"Aku khawatir, apa aku salah?"
"Tidak, aku mengerti itu, tapi kamu juga harus mengerti keadaannya saat ini, bukankah kita harus bertanggung jawab terhadap mereka semua."
Bianca mengangguk pasrah, terserah Melvin saja mau seperti apa, yang jelas Bianca hanya mau menemani Mayang.
Melvin tersenyum, ia memeluk Bianca beberapa saat, awal pernikahan mereka memang harus menghadapi masalah, tapi itu tak seharusnya dipermasalahkan.
"Kita harus kembali kesana, aku juga harus pergi sekarang biar cepat selesai juga."
"Apa Mama sudah bilang Papa kalau mau pergi sekarang?" tanya Bianca.
"Sudah, Papa sudah tahu, jangan khawatir, Papa juga tahu kalau Ibu kamu akan tidur disini."
Bianca diam, baguslah kalau memang seperti itu, sedikit mengurangi rasa khawatir Bianca saat ini.
"Ya sudah, gak apa-apa kan kita pergi sekarang?" tanya Melvin.
"Kalau perlu apa-apa, tinggal minta sama Bibi saja," tambah Mika.
"Terimakasih banyak, maaf kami merepotkan kalian," ucap Mayang.
"Berhenti berbicara seperti itu, kita akan sama-sama sekarang," ucap Mika.
Setelah puas dengan perbincangan itu, Melvin dan Mika segera pamit, mereka akan pergi langsung menemui Reska.
"Bagaimana, apa bisa secepatnya?" tanya Deva.
"Akan kami usahakan, saya harus mencari orangnya terlebih dahulu."
Deva mengangguk paham, itu memang sudah seharusnya, tapi Deva meminta waktu yang secepat mungkin.
"Memangnya tempat apa itu?"
"Itu Toko Kue yang terbakar, dan pemiliknya adalah besan ku sendiri."
Lelaki itu mengangguk, Deva memang bercerita tentang itu, ia berniat membangun tempat itu secepatnya.
__ADS_1
Langkah Deva adalah langkahnya sendiri, ia tidak bicara apa pun pada Mayang dan Bianca, tapi biarlah bukankah niat Deva itu baik.
"Bagaimana kalau minggu depan saja?"
"Apa itu bisa dipastikan?"
"Saya rasa bisa, saya akan dapat orang untuk minggu depan."
Deva diam, itu artinya ada waktu untuk Deva berbicara pada keluarganya, dan seharusnya mereka setuju dengan itu.
Deva mengangguk setuju, menunggu satu pekan lagi sepertinya bukan masalah, dan lagi mereka masih harus selesaikan urusan lainnya.
"Baiklah, kalau begitu segera kabari saya perihal kepastiannya."
"Baik Pak, saya akan pastikan secepat mungkin."
"Terimakasih banyak, saya akan bicarakan ini dengan yang lain selagi menunggu kabar."
Keduanya berjabat tangan, kesepakatan yang bagus, itu akan sangat membantu Mayang tentunya.
Deva lantas pamit lebih dulu, ia harus kembali ke kantor untuk mengurusi pekerjaannya lagi.
"Sampai bertemu diwaktu selanjutnya."
"Baik Pak, salam sukses."
Deva berlalu meninggalkan mandor itu, semua sudah jelas, dan tinggal menunggu keputusan akhirnya.
Deva ingin Melvin segera mengurus perusahaan lagi, sehingga semua masalah yang ada saat ini harus segera berakhir.
"Bagaimana dengan kepergian Melvin juga Mika."
Deva melajukan mobilnya sembaring menghubungi Mika, tapi sayang tidak ada jawaban untuk panggilannya itu.
"Mungkin mereka sudah jalan, tapi kenapa tidak ada kabar."
Deva menggeleng, itu hal yang paling tidak disukainya, sesulit apa untuk sekedar mengirim pesan singkat saja.
"Bianca, kamu sudah lihat keadaan bangunan itu?" tanya Mayang.
"Belum Bu, tapi kata Papa sekarang semua sudah bersih."
Mayang mengangguk, mereka benar-benar dilibatkan dalam masalahnya, bagaimana cara Mayang untuk berterimakasih.
"Bu, kita tidak bisa menolak bantuan mereka, kita membutuhan semua ini."
"Ibu tahu, hanya saja Ibu merasa malu dengan mereka, kita baru saja mengenal mereka tapi kita sudah sangat merepotkan mereka."
"Kita bisa balas dengan segala sikap baik yang kita bisa."
Mayang tersenyum dan mengangguk, itu memang benar, hanya itu yang bisa mereka lakukan sekarang.
Bianca mengusap tangan Mayang, mungkin apa yang difikirkan Mayang sama dengan yang difikirkannya juga.
"Kita harus sama-sama Ibu, kita membutuhkan mereka, keadaan ini terlalu menyusahkan kita."
"Kenapa semua ini harus terjadi pada kita?"
"Sudahlah, tidak ada yang mau hal seperti ini terjadi, tapi semua sudah ada yang mengaturnya."
__ADS_1