Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Setelah Menduda


__ADS_3

Keheningan masih bertahan saat Tiara tetap ada bersama dengan pengantin di sana, pelukan Tiara cukup membuat genggaman Melvin semakin erat dirasakan Bianca.


"Papa," panggil Mika.


"Papa, akan pastikan dia menyesal seumur hidup jika sampai mengacaukan acara ini."


Deva tak bisa berpaling dari Tiara dan pasangan pengantin itu, Deva sudah bersiap dengan langkahnya untuk hal terburuknya.


Mayang tampak berjalan menghampiri, tapi seketika itu Tiara meluruskan tangannya menghentikan Mayang, Mayang pun kembali diam dengan wajah khawatir yang tak bisa dihindarkan.


"Lepaskan Bianca," ucap Melvin pelan.


Mereka di sana mulai bertanya-tanya, kenapa Tiara memeluk Bianca lama sekali, dan kenapa mereka hanya diam saja.


"Wanita itu benar-benar," ucap Sintio yang beranjak dari tempatnya.


"Jangan buat keributan."


Dela menahannya cepat, segila apa pun Tiara, mereka harus bisa untuk tetap menjaga fikiran baiknya.


"Oke, ada apa ini?" ucap MC ragu.


"Tiara, aku minta maaf, aku tidak mengundang mu, aku hanya ...."


"Diam," sela Tiara.


Mereka berbicara dengan nada pelan, Melvin menunduk sesaat, meski pelan tapi Melvin bisa mendengarnya dengan baik.


"Dengar aku baik-baik, aku biarkan pernikahan ini terjadi, bukan karena aku sudah rela dengan semuanya."


"Apa maksud kamu?"


"Maksud aku, aku akan biarkan kamu memiliki Melvin untuk sesaat, karena setelah pernikahan ini selesai, kamu hanya akan merasakan penderitaan, bahkan luka terdalamnya akan kamu rasakan."


"Tiara ...."


"Diam aku bilang."


Bianca memejamkan matanya sesaat, mereka mulai gelisah di tempatnya, Bianca dan Tiara membuat mereka merasa tak dianggap.


"Silahkan kamu nikmati waktu kebersamaan kamu, karena aku tidak akan berhenti untuk kembali mendapatkan Melvin, dengar Bianca, kalian akan berpisah esok lusa, dan aku akan kembali mendapatkan Melvin setelah menjadi duda mu."


Bianca mengernyit, ingin sekali Bianca mendorong Tiara dengan kasarnya, memakinya juga, Tiara sudah berbicara keterlaluan.


"Ingat itu baik-baik, kamu tidak mungkin lupa dengan perkataan Melvin, semakin aku menggenggamnya erat, maka semakin dekat aku dengan kehilangan, dan itu berlaku juga untuk mu, bersiaplah untuk kehilangan Suami mu itu."


Tiara melepaskan pelukannya dan tersenyum seraya mengusap pipi Bianca sekilas, Tiara berpindah pada Melvin di sampingnya.


"Kamu bahagia?"


"Tentu saja, sebaiknya kamu pergi, karena kamu hanya mengganggu kebahagiaan ku saja."


Tiara mengangguk perlahan, dengan wajah datarnya Tiara tersenyum menatap Melvin.


"Pergi."


"Oke, aku akan pergi, aku sadar aku tidak diharapkan disini, tapi aku tidak tahu malu, sehingga aku tetap datang kesini."


"Tiara cukup," ucap Bianca.


Tiara mengedipkan sebelah matanya pada Melvin, mengusap dadanya seraya berjalan meninggalkan keduanya.


"Oke, selesai sudah, jadi apa sekarang, kamu mau dengan lelaki ini?" tanya MC.


Tiara melirik pengantin itu, Melvin tampak merangkul Bianca dan mengecup keningnya, Tiara mendelik melihatnya.

__ADS_1


"Bagaimana?"


"Kita bisa coba," ucap Tiara.


"Wah, jawaban yang cepat dan jelas ya, bagaimana nih Mas, tertarik gak sama wanitanya?"


Lelaki itu tersenyum dan mengangguk, Tiara turut tersenyum dan berdiri di sampingnya.


"Oke, kompak sekali, semoga kalian cocok dan bisa berjodoh, ayo kasih tepuk tangan."


Mereka bersorak seraya bertepuk tangan, Sintio dan kawannya terlihat acuh saja, tak ada satu pun dari mereka yang bertepuk tangan atau sekedar bersuara.


Melvin dan Bianca kembali ke tempatnya, orang tua mereka segera menghampiri dan memastikan semua baik-baik saja.


Begitu juga dengan para tamu undangan, yang kembali menikmati acaranya, Tiara dan lelaki itu berjalan bersama meninggalkan pelaminan.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Mika.


"Aku gak apa-apa," ucap Bianca.


"Apa yang dia katakan?" tanya Mayang.


Bianca diam, tidak mungkin jika Bianca mengatakan semuanya, mereka bisa marah dan mungkin saja sampai tak kontrol.


"Bianca, dia bilang apa?" tanya Deva.


Bianca menggeleng seraya tersenyum, biar saja itu hanya Bianca yang tahu.


"Dia hanya mengucapkan selamat, dia sedikit kesal karena aku tidak mengundangnya."


"Bodoh sekali, sudah tahu tidak diundang, dia justru berani datang," ucap Deva.


"Sudah, tidak perlu permasalahkan ini, semua tetap baik-baik saja, jadi sebaiknya kita lanjutkan acaranya, dan lupakan tentang Tiara.


Sejak mendengar kalimat Tiara, Bianca jadi banyak diam, ia tak lagi bersemangat dengan pestanya, kalimat Tiara terus saja mengusik fokusnya.


----


"Kenapa kita malah keluar, pestanya belum selesai."


"Bukankah kita ada urusan berdua?" tanya Tiara.


Lelaki itu mengangguk, ia mengulurkan tangannya pada Tiara, dan cepat juga Tiara menjabatnya.


"Ronald."


"Tiara."


Jabatan tangan itu dilepaskan, keduanya tersenyum bersamaan, Tiara enggan ada di dalam sana, acara itu sangat membuatnya muak.


"Jadi, ini serius?" tanya Ronald.


"Serius, soal?"


"Mungkin saja kita bisa lebih dekat?"


"Kita coba saja."


Ronald mengangguk, ia lantas mengajak Tiara pergi dari tempat tersebut, semoga saja kali ini Ronald tidak lagi salah mendekati wanita.


"Mau kemana?" tanya Tiara.


"Jalan saja, sambil ngobrol, terserah kamu mau kemana."


"Oke."

__ADS_1


Tiara malas banyak bicara, ia akan ikut saja apa kata Ronald.


"Kamu temannya Bianca?"


"Iya, kamu teman Melvin?"


"Iya, aku teman kerja di Kantor."


Tiara mengangguk, baiklah itu cukup jelas bagi Tiara.


Keduanya menghabiskan waktu sore sampai malamnya, mereka berbincang banyak hal, Tiara mendapatkan banyak informasi, ternyata Ronald adalah teman dekat Melvin.


"Mungkin sesekali, aku bisa datang ke tempat kamu kerja?" tanya Tiara.


"Boleh saja, tidak masalah, asalkan kabari dulu."


"Gampang."


Keduanya tersenyum, Tiara berpaling, dari hal itu Tiara bisa mendapatkan keuntungan sendiri terhadap Melvin.


----


Melvin membawa Bianca memasuki kamar pengantinnya, dengan mata yang terutup, Bianca diturunkan di kamarnya.


"Sayang," panggil Bianca seraya meraba tangan Melvin.


"Sabar dulu."


Mayang memang mengizinkan Melvin membawa Bianca ke rumahnya, tapi hanya untuk satu minggu saja.


"Ayo buka penutup matanya."


"Iya sebentar."


Melvin berjalan menjauhi Bianca, ia mematikan lampunya.


"Sekarang buka."


Bianca melapaskan penutup matanya, perlahan tapi pasti Bianca membuka matanya.


"Kok gelap, Sayang," panggil Bianca.


Melvin tersenyum mendengar panggilan sayang dari Bianca.


"Sayang, lampunya mati, kamu dimana?"


"Surprise," ucap Melvin seraya menyalakan lampu.


Bianca memejamkan matanya sesaat, terang sekali lampunya, ketika mata itu kembali terbuka, Bianca melongo tak percaya, kamar bernuansa putih dan gold itu begitu luas.


Riasan bunga-bunga dan lilin di sana sangat membuat indah ruangan tersebut, Bianca melihat sekitar, ada beberapa ruangan lain di dalam sana, kamar Melvin sudah seperti rumah Bianca saja besarnya bahkan mungkin lebih besar.


"Semoga kamu suka."


Bianca terkejut karena pelukan Melvin di pinggangnya.


"Kamu suka, ini kamar aku."


Melvin mencium pipi Bianca dan bersandar pada pundaknya, Bianca menoleh dan tersenyum.


"Ini kamar kamu sendiri?"


"Kemarin, tapi mulai malam ini, kamar ini milik kita berdua."


Bianca mengusap kepala Melvin, tidak ada yang bisa dikatakannya lagi, itu terlalu mewah bagi Bianca.

__ADS_1


__ADS_2