Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Aku Tidak Perduli Itu


__ADS_3

Melvin kembali setelah mengantarkan Tiara dan Ronald, ia melihat Bianca yang tampak sibuk dengan ponselnya.


Melvin duduk dan seketika itu memeluk Bianca dengan eratnya, nyaris saja ponsel yang digenggamnya itu jatuh.


"Apa-apaan kamu hah?"


Bianca mengernyit, memangnya apa, Bianca tidak melakukan apa-apa.


"Kenapa kamu harus meladeni wanita itu, kenapa kamu seperti mendukung untuk dia kembali dekat dengan ku?"


"Mana mungkin seperti itu."


"Tadi kamu menghindar dari aku."


Bianca tersenyum seraya menggeleng, ia melepaskan pelukan Melvin perlahan, dan berbalik menatapnya.


Melvin memang tampak kesal padanya, tapi itu hanya salah paham saja, dan seharusnya Melvin tidak perlu memperbesar soal itu.


"Aku tidak akan mengizinkan dia dekat sama kamu lagi."


"Bohong, tadi kamu menghidar."


"Tapi kamu tetap memilih ku, aku mau dia tahu kalau aku tidak pernah memaksa kamu untuk memilih aku."


Melvin menggeleng, untuk apa Bianca melakukan itu, bisakah ia memikirkan hubungan mereka saja, bukan tentang orang lain.


Bianca tersenyum, ia mengusap pipi Melvin sayang, apa yang dikatakan Bianca adalah yang sebenarnya, jadi apa Melvin akan mendebatnya.


"Kamu gak bisa percaya sama aku?"


"Aku percaya sama kamu, tenang saja, tapi aku tidak suka dengan hal itu."


"Aku minta maaf, aku tidak akan mengulang itu lagi."


"Itu memang sudah seharusnya."


Bianca mengangguk, ia mencium sesaat pipi Melvin, hubungan mereka harus selalu baik meski sampai kapan pun juga.


Sebisa mungkin mereka harus selalu menjaganya, meski mungkin sulit, tapi mereka harus selalu berusaha untuk itu.


"Aku yakin kalau Tiara masih akan berusaha untuk mendapatkan kamu lagi."


"Kenapa harus selalu memikirkan itu, tidak bisakah kamu hanya memikirkan kita saja, aku tidak perduli dengan hal lainnya."


"Bagaimana pun kamu tidak lagi menyukainya, sikap kamu harus tetap baik, kalau kamu bersikap buruk, maka hasil yang akan kamu dapatkan pasti tidak akan baik."


"Aku tahu, tapi mereka yang bisa berfikir pasti mengerti dan bisa menerimanya."


Bianca mengangguk, baiklah terserah pemikiran Melvin saja, Bianca tidak mau berdebat untuk masalah seperti itu.


Bianca melihat jam di ponselnya, bukankah ia harus ke rumah sakit, Bianca sudah sangat merindukan Mayang.


"Aku mau ketemu Ibu sekarang, apa bisa aku pergi sekarang?"


"Kita pergi sama-sama."


Bianca tersenyum, tentu saja itu jadi keinginan terbesarnya, selalu bersama dengan Melvin adalah kebahagiannya yang tak bisa terganti oleh apa pun.


Keduanya lantas bangkit dan segera pergi untuk menemui Mayang di rumah sakit, tidak ada lagi urusan di rumah setelah kepergian Tiara dan Ronald.

__ADS_1


-----


"Kamu kenapa sebenarnya?" tanya Ronald.


"Kenapa apa, aku tidak apa-apa."


"Sikap kamu seperti memiliki niatan lain saat di rumah Melvin."


Tiara diam, kenapa harus berkata seperti itu, tentu saja itu benar, tapi Tiara tidak mau mengakuinya.


Niatnya harus tetap ditutupi agar bisa diteruskan, jadi bisakah Ronald tidak perlu bicara apa pun sekarang.


"Kamu tidak menyukai Melvin kan?"


"Apa maksud kamu, dia suami teman ku sendiri, apa bisa aku melakukan itu?"


"Aku harap memang tidak, tapi aku tidak tahu perasaan orang sepenuhnya."


"Kalau memang kamu tidak percaya padaku, terserah saja itu hak kamu, dan lebih baik aku turun disini saja."


"Tidak, aku minta maaf."


Tiara menghembuskan nafasnya sekaligus, apa yang dikatakan Ronald hanya membuatnya kesal saja, Tiara tidak suka itu.


Mengingat apa yang dilihatnya tadi, sangatlah memuakan, Melvin benar-benar sengaja membuatnya kesal.


Tidak masalah untuk kali ini, Tiara akui mereka sangat waspada, tapi tidak untuk lain waktu, Tiara akan benar-benar membuat mereka bertengkar.


"Tiara, apa kamu akan bisa menyukai ku?"


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Tapi kita baru saja kenal, tidak semudah itu untuk aku memiliki perasaan terhadap lawan jenis."


Ronald mengangguk, sepertinya ia paham dengan kalimat Tiara, dan ia juga tak berniat untuk memaksanya.


Mungkin beberapa waktu ke depan, Ronald akan mengulang pertanyaannya, dan tentu saja memastikan jika Tiara memang mau bersamanya.


Melihat Melvin dan Bianca, ternyata membuat Ronald semakin tidak sabar untuk bisa memiliki seorang istri.


-----


"Asalamualaikum."


Mika dan Mayang menoleh bersamaan, Mayang menjawab salam putrinya, dan membalas pelukan saat putrinya datang dan memeluknya.


Melvin tersenyum dan salam pada keduanya, rupanya Mika masih bertahan menemani Mayang di sana.


"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Mika.


"Tadi ada tamu, makanya jadi terlambat."


"Tamu atau tamu?" tanya Mayang.


"Memang tamu, tadi ada Tiara ke rumah," ucap Bianca.


Mereka diam, itu sangat tidak disukainya, kenapa Bianca harus mengatakan itu pada mereka.


Bianca menggeleng, ia kembali memeluk Mayang, senang sekali melihat Mayang yang sudah semakin membaik.

__ADS_1


"Bianca, Melvin," panggil Mika.


Keduanya menoleh, begitu juga dengan Mayang, panggilan Mika menarik fokus mereka semua.


"Ada apa?" tanya Melvin.


"Papa kamu mau kamu pergi ke Malaysia."


Melvin dan Bianca saling lirik, kenapa seperti itu, apa Melvin akan meninggalkan Bianca demi Deva.


Bianca berpaling, tidak boleh ada pemikiran seperti itu, Melvin tetap harus menuruti orang tuanya meski telah memiliki istri.


"Kenapa seperti itu?" tanya Melvin.


"Karena ada pekerjaan disana, dan Papa tidak bisa kesana dalam waktu dekat, sedangkan pekerjaan itu harus segera diurus."


"Memangnya kapan?"


"Kemungkinan minggu depan."


Melvin kembali melirik Bianca, bukan itu yang ingin didengarnya, bukankah Melvin baru saja menikah, dan ia masih ingin bersama istrinya.


Bianca tampaknya tak lagi melirik Melvin, biarkan saja Melvin dengan pemikirannya sendiri, Bianca tidak boleh menghalanginya.


"Mama berfikir, kamu bisa ajak Bianca kesana, kalian bisa sekalian berbulan madu."


Mayang tersenyum seraya mengangguk, tentu saja itu adalah pemikiran yang paling benar, dan Mayang setuju.


Bianca menggeleng melihat anggukan Mayang, Bianca tidak mau pergi meninggalkan Mayang yang sedang tidak baik-baik saja.


"Bii, kamu mau?" tanya Melvin.


"Aku tidak mau."


"Kenapa kamu tidak mau?" tanya Mika.


"Aku mau merawat Ibu, aku tidak mau meninggalkannya."


Melvin diam, itu jawaban yang sama sekali tidak salah, memang sudah seharusnya untuk Bianca merawat ibunya.


Mereka hanya hidup berdua, dan sudah seharusnya mereka saling menjaga dalam keadaan apa pun.


"Bianca, kamu tidak percaya pada Mama?"


"Itu benar, Ibu bisa jaga diri sendiri," ucap Mayang.


"Tapi aku gak bisa tinggalkan Ibu."


Mayang tersenyum, tangannya terangkat mengusap kepala Bianca penuh sayang.


Mayang memang tidak rela jika Bianca jauh darinya, tapi Mayang harus mengerti jika keadaan sekarang telah berubah.


"Ibu janji akan baik-baik saja, Ibu setuju untuk kalian berbulan madu, tapi syaratnya kalian harus kembali dengan kabar bahagia."


"Kabar bahagia apa?" tanya Bianca.


"Perut kamu harus sudah isi janin saat nanti kembali."


Bianca melirik tangan Mayang yang mengusap perutnya, bisakah seperti itu, apa Bianca bisa semudah itu untuk mengandung.

__ADS_1


__ADS_2