Bianca Istri CEO, Paling Bahagia

Bianca Istri CEO, Paling Bahagia
Fikirkan Mereka Juga


__ADS_3

Ketika siang datang, mereka berkumpul bersama, Deva terlihat ada di rumah saat ini.


Mayang tampak berfikir keras tentang semua yang dikatakan Deva, lelaki itu menolak dan melarang kalau Mayang berniat menyewa toko baru.


"Tidak apa-apa Bu, bukankah lebih cepat lebih baik, sewa ya sewa saja tapi biarkan Mas Deva mulai membangun ulang tempat itu," ucap Mika.


"Papa memang benar, kalau Ibu hanya fokus pada tempat sewa saja, mungkin butuh waktu yang lebih lama lagi untuk bisa membangun ulang tempatnya, bukankah uangnya harus dibagi lagi untuk membayar uang sewa tempatnya," ucap Melvin.


Mayang melirik Bianca, kalau seperti itu mereka akan sangat merepotkan keluarga Melvin.


Pemikiran Mayang, ia akan berjuang sebisanya terlebih dahulu, tapi ternyata tidak ada dukungan penuh untuk itu.


"Kemarin sewaktu saya ke tempat Reska, saya merasa sedih dengan keadaannya, saya yakin Reska tidak bisa berhenti bekerja terlalu lama, Bu."


"Ada apa?" tanya Mayang.


"Reska menjadi tulang punggung keluarga, orang tuanya sudah renta, Ayahnya tidak bisa lagi bekerja dan Adiknya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Reska yang harus menanggung semuanya itu dan dia hanya mengandalkan gaji yang diberikan Ibu."


"Dan Reska tidak mau mencari pekerjaan baru, jika tempat Ibu akan kembali ada maka Reska akan menunggunya," tambah Melvin.


Mayang kembali diam, wanita itu memang karyawan pertama yang Mayang miliki sejak awal pembukaan tokonya dulu.


Tidak pernah ada keluahan meski saat itu gaji Reska tidak seberapa, wanita itu ikut saja aturan yang dibuat Mayang bahkan meski awal-awal Reska hanya lelah bekerja tanpa hasil yang sesuai.


"Saya rasa Ibu perlu mempertimbangkan itu juga, mungkin saja semua yang bekerja sama Ibu kemarin, masih menunggu Ibu dan tak berniat pergi sama seperti Reska," ucap Mika.


Mayang kembali melirik Bianca, apa yang harus dikatakannya saat ini pada keluarga Melvin.


Niat baiknya memang tidak bisa diingkari, tapi Mayang tetap saja merasa tidak enak hati untuk menerimanya.


"Kalau Ibu merasa malu atau hal lainnya, mungkin Ibu bisa menjadikannya perhitungan diakhir, atau semacam hutang pada Mama dan Papa," ucap Bianca.


"Bagaimana bisa seperti itu, Bianca," ucap Deva.


"Ini hanya agar Ibu bisa lebih mempertimbangkan semuanya, Ibu memang tidak pernah mau dibantu jika tidak ada balas jasanya, bahkan sekali pun itu sulit pasti Ibu akan berusaha."


Deva dan Mika saling lirik, sebaiknya mereka iyakan saja dulu, asalkan Mayang setuju untuk saat ini.


Lagi pula tidak ada pemikiran untuk sampai kesana, tapi jika memang itu yang terfikir oleh Mayang, biar menjadi keputusan Mayang sendiri.


"Jadi, Ibu mau menerimanya?" tanya Melvin.


"Ibu harus mengerti, kita sekarang masuk di keluarga yang kesibukannya sangat berbeda, mereka tidak mungkin mengikuti kebiasaan kita yang terkesan lebih santai, urusan mereka lebih banyak dan bahkan lebih penting," ucap Bianca.


Mayang diam, Bianca menghela nafasnya, semoga saja Mayang tidak tersinggung dengan ucapannya.


Bianca hanya menyampaikan apa yang sempat dikatakan Deva, jika Mekvin harus segera mengurus perusahaan dan tidak bisa terus menerus mengurus masalah Bianca dan Mayang.

__ADS_1


"Kalau Bu Mayang menganggap kita keluarga sekarang, seharusnya Bu Mayang tidak ragu untuk menerima ini semua, kesuksesan keluarga Ibu juga akan menjadi kesuksesan kami, Bianca dan Melvin sudah bersama jadi sudah sewajarnya kita saling membantu," ucap Mika.


"Saya mengerti itu, kalau memang tidak ada pilihan lain, saya ikut saja bagaimana baiknya, tapi maafkan saya kalau merepotkan keluarga Ibu dan Bapak."


"Tidak sama sekali, kami akan merasa bersalah kalau kami hanya diam saja saat Ibu dan Bianca mendapat masalah."


Mayang sedikit tersenyum, fikirannya masih saja tak karuan, Mayang benar-benar tak tahu harus bagaimana sekarang.


Tapi Bianca juga sepertinya mendukung niatan mereka, mungkin memang Mayang juga harus menerimanya saja.


"Kalau Ibu setuju, saya akan kembali bicarakan ini untuk hasil akhirnya," ucap Deva.


"Iya, saya ikut saja, terimakasih sebelumnya."


Mereka tersenyum bersamaan, baguslah itu memang jawaban yang mereka inginkan, itu gunanya keluarga juga.


Bianca mengusap tangan Mayang, bukan tak mendukung Mayang tapi Bianca juga harus memikirkan Melvin sekarang.


Kringg ....


Melvin membuka ponselnya, ada panggilan masuk dari Aldi.


"Iya, bagaimana?" tanya Melvin.


Ia terdiam, panggilan itu lantas diputus, dengan segera Melvin pergi untuk membuka pintu.


Melvin tersenyum, rupanya Aldi dan Reska datang bersamaan.


"Baguslah kalian datang, kita sedang berkumpul, ayo masuk," ajak Melvin.


Keduanya mengangguk dan mengikuti langkah Melvin, mereka dibawa menemui keluarga Melvin di sana.


"Bu Mayang," ucap Reska.


Mayang tersenyum, wanita itu salam pada orang tua di sana.


Hal yang sama juga dilakukan Aldi, ia bertahan saat bertemu tatap dengan Bianca, pasti wanita ini yang dimaksud Melvin.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Mayang.


"Aku sudah lebih baik, Ibu sendiri bagaimana, katanya Ibu kesulitan berjalan?"


"Iya, itu memang benar, tapi sudah lebih baik juga sekarang."


"Syukurlah, aku senang mendengarnya."


Mika mempersilahkan mereka untuk duduk, dan segera memanggil mbak rumah untuk suguhannya.

__ADS_1


Suasan semakin hangat karena bertambahnya orang di sana, Deva paham tentang sosok Reska dan Aldi setelah Melvin menjelaskannya.


"Jadi kalian juga akan menikah?" tanya Deva.


Aldi dan Reska saling lirik, mereka canggung untuk menjawab pertanyaan itu.


"Jangan terburu-buru, sukseskan dulu karir, baru menikah," ucap Mika.


Dengan semangat Reska mengangguk setuju, tapi Aldi justru tampak kecewa dengan kalimat Mika.


"Sabar brooo," ucap Melvin menepuk pundak Aldi.


Aldi hanya tersenyum seraya mengangguk saja menanggapinya, entah harus berapa lama lagi Aldi bersabar untuk bisa menikahi Reska.


 


Rasya berjalan menyusuri halaman rumahnya, ia mondar mandir di sana dengan segala kegelisahannya.


Memang tidak masuk akal, hanya karena Bianca yang tidak menemuinya, Rasya sudah sangat gelisah.


"Papa," teriak Marten.


Rasya menoleh, anak kecil itu berlari dan melompat ke pangkuannya.


"Ayo temui Mama, Papa sudah janji untuk itu."


"Apa harus sekarang, bukankah Mama sedang sibuk bekerja?"


"Ah tidak, dia sedang marah pada ku, jadi dia tidak mau menemui ku, jadi ayo bawa aku menemuinya saja."


Rasya mengangguk, bagaimana cara Rasya untuk bisa mengelabui anak sepintar Marten.


Bocah kecil itu selalu memiliki jawaban untuk membatahnya, dan itu sangatlah membuat Rasya gemas.


"Ayo Papa."


"Iya sabar, kita harus bersiap-siap terlebih dahulu."


"Ah kau lama sekali."


Rasya tersenyum, ia mencubit hidup Marten sekilas, berisik sekali anaknya itu.


Jika saja ibunya masih ada, dia pasti akan sangat bangga dengan putranya itu.


"Papa, cepatlah."


"Oke, tapi sebelum itu, kita harus telepon Mama dulu, kita harus pastikan kalau Mama ada di rumahnya."

__ADS_1


Marten mendengus kesal, kenapa Rasya begitu menjengkelkan baginya kali ini.


__ADS_2