
"Mama, aku ...."
"Kamu sudah memiliki Suami sekarang, apa menurut mu ini bagus?" tanya Mika.
Bianca diam, tentu saja ia tahu kalau itu salah, tapi mau bagaimana lagi karena mengarahkan Marten tak semudah dengan yang difikirkan.
"Ini urusannya anak kecil, apa Papa dan Mama tidak bisa mengerti?" tanya Melvin.
"Kenapa kami yang harus mengerti, bukankah Bianca cukup dewasa untuk memikirkan semua ini, dia harus tahu mana yang pantas dan tidak," ucap Deva.
"Aku minta maaf, aku akan bicarakan ini dengan Pak Rasya."
"Biar kami yang bicara," ucap Mika.
"Mama, sudahlah, ini urusan Bianca biar dia sendiri yang selesaikan," sela Melvin.
Mereka sama-sama diam, Marten mulai bosan ada di tengah mereka, anak kecil itu merengek minta bermain saja.
Bianca jadi bingung sendiri dengan itu, apa yang harus dilakukannya sekarang, tidak mungkin jika Bianca membuat Marten membencinya.
"Kamu keberatan berhenti berhubungan dengan mereka?" tanya Deva.
"Tidak, itu bukan masalah, tapi aku khawatir dengan Martennya sendiri."
"Dia punya orang tua sendiri, dia ada Ayahnya lalu kenapa harus kamu yang repot memikirkan itu, kamu jangan berani merusak nama baik keluarga kami."
Bianca mengangguk paham, ia cukup sadar diri akan hal tersebut, tapi bukankah segala sesuatu juga membutuhkan proses dan waktunya masing-masing.
Melvin menggeleng, kasihan sekali Bianca, wanita itu pasti merasa terpojok saat ini.
"Aku minta maaf."
"Bukan maaf, jangan sampai orang-orang mendengar panggilan anak ini terhadap kamu, Bianca kami tidak bisa menerima ini meski kami sadar kami hanya orang baru tapi kamu harus mengerti kami sekarang," ucap Deva.
"Iya, aku mengerti, aku akan bicarakan ini."
"Selesaikan sekarang, kita ke bawah dan bicarakan ini dengan jelas, tidak ada lagi yang memanggil mu Mama setelah hari ini."
Bianca mengangguk saja, tidak akan ada gunanya terus mendebat mereka, lebih baik Bianca bicarakan itu dengan Rasya.
Mereka lantas turun dan menghampiri orang di sana, Rasya tanpak bangkit dan mengangguk hormat pada mereka yang datang.
"Maafkan saya kalau sudah mengganggu waktu kumpulnya," ucap Rasya.
Jelas saja Rasya menyadari ketidak beresan di wajah mereka, Deva, Mika dan Bianca, itu pasti karena kedatangannya dan Marten.
"Kami tidak tahu kamu siapa, tapi kamu perlu tahu kalau Bianca sekarang sudah memiliki kehidupan baru, sebaik apa pun hubungan kalian sebelum hari ini sepertinya harus diubah, saya tidak suka dengan ini," ucap Deva.
Rasya melirik Bianca, tidak akan salah, ini pasti perihal panggilan Marten pada Bianca.
Rasya mengangguk paham, ia segera mengambil Marten dari pangkuan Bianca.
"Saya sedang berusaha memberi pengertian pada Marten, tapi daya fikir Marten belum dewasa dan dia tidak begitu mengerti dengan keadaan ini, saya sangat mohon maaf."
"Papa, aku mau main sama Mama, kita kesini untuk main sama Mama kan?"
__ADS_1
Rasya tersenyum, ia memeluk Marten dan melirik Bianca.
Kehadirannya saat ini hanya akan jadi masalah untuk Bianca, sebaiknya Rasya pergi saja sebelum masalah jadi makin runyam.
"Bianca, aku minta maaf sekali, aku fikir tidak akan seperti ini."
Bianca hanya mengangguk saja, tidak ada yang bisa dikatakannya sekarang, Bianca merasa serba salah dengan mereka semua.
Rasya lantas pamit dan pergi dari mereka semua, mengabaikan teriakan Marten yang ingin kembali bersama Bianca disana.
"Kami memang egois dalam hal ini, jadi untuk kali ini silahkan kamu yang berusaha mengerti," ucap Deva yang kembali pergi.
"Papa," panggil Bianca.
"Sudah, biarkan saja," sahut Melvin.
Bianca diam, setelah sempat melirik Mika, Bianca lantas menunduk.
"Mama, sudahlah," ucap Melvin.
"Maaf Bu Mayang, tapi untuk kali ini kami keberatan," ucap Mika.
"Tidak masalah Bu, saya mengerti, tolong maafkan Bianca."
"Terimakasih."
Mika turut pergi, tidak ada yang bisa ditutupi dari kekesalannya itu, biarkan saja tidak ada salahnya jika Mika meminta dimengerti kali ini.
Melvin merangkul Bianca, mencium pipinya sekilas, itu bukan masalah besar, Bianca tidak perlu terlalu merasa terbebani.
"Bicarakan saja baik-baik, jangan terlalu menghiraukan Mama dan Papa, nanti aku bantu bicara lagi sama mereka."
Bianca menunduk, sesaat kemudian Bianca memeluk Melvin dan justru menangis begitu saja.
Melvin sedikit tertawa karenanya, kenapa jadi menangis, apa Melvin memarahinya.
"Jangan menangis, kenapa kamu menangis, ini bukan masalah serius."
Melvin balik memeluk Bianca, tubuh mungil itu selalu membuat Melvin gemas saat memeluknya.
"Bii, mereka akan kembali baik, jangan khawatir."
Bianca menggeleng tanpa menghentikan tangisannya, bagaimana bisa Melvin meremehkan keadaan seperti itu.
Melvin kembali tertawa, ia mengangkat tubuh Bianca dan membawanya pergi, Bianca akan semakin merasa malu jika menangis di hadapan mereka.
"Lucu sekali mereka," ucap Aldi.
"Itu cinta, cinta itu menyenangkan bukan menjengkelkan," sahut Reska.
Mayang tersenyum seraya menggeleng, apa dua orang itu akan kembali berdebat kali ini.
"Sudah ayo pulang," ucap Reska.
"Oh iya, ayo pulang, cup cup jangan marah ayo kita pulang sekarang."
__ADS_1
Reska mendengus kesal, dengan sengaja ia menginjak kaki Aldi hingga membuat lelaki itu meringis sakit.
Mayang menutup mulutnya, tidak enak jika ia harus tertawa di depan mereka berdua.
"Galak banget."
"Pulang gak?"
"Iya pulang, ayo pulang."
Aldi bangkit, ia pamit pada Mayang di sana, hal yang sama juga dilakukan Reska pada Mayang.
"Salam buat yang lain, maaf kami tidak pamit pada mereka," ucap Aldi.
"Nanti akan Ibu sampaikan, kalian hati-hati di jalan."
"Iya, permisi Bu."
Mayang mengangguk, keduanya pergi meninggalkan Mayang di sana.
Sekarang Mayang hanya sendiri saja, kasihan Bianca wanita itu pasti merasa terpojok.
"Ini tidak akan lama Bianca, kamu harus tetap tenang menghadapi mereka," ucap Mayang pelan.
Sepanjang perjalanan, Marten tak henti menangis, ia menjerit asal memanggil nama Bianca.
Tak ada yang bisa dilakukan Rasya, Marten memang harus mulai melupakan Bianca.
"Marten, dengar Papa."
"Gak mau, mana Mama, aku mau sama Mama, mana Mama."
"Suttt, kamu harus dengarkan Papa, kamu harus mengerti ucapan Papa."
"Gak mau, Mama," jerit Marten.
Keadaan Marten justru mengingatkan Rasya pada istrinya dulu, kenapa perpisahan harus terjadi secepat itu.
Rasya membawa Marten memasuki rumah, mungkin sebaiknya Rasya membiarkan Marten dengan tangis dan amarahnya saat ini.
"Mama, mana Mama, Mama."
Rasya menurunkan Marten, anak itu berlari meninggalkan Rasya.
"Papa minta maaf."
Rasya duduk, ia memejamkan matanya sesaat, hidup memang dirasa tidak adil untuknya.
Kenapa Marten harus kehilangan mamanya saat dia masih kecil, sekarang Marten justru menginginkan wanita yang jelas bukan mamanya.
"Kenapa kamu harus pergi begitu cepat, apa kamu tidak tahu kalau Marten sangat membutuhkan kamu."
Rasya menunduk, saat seperti ini adalah saat sulit baginya, Rasya seakan ingin menyerah saja dengan kehidupannya sendiri.
__ADS_1